B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Dua Puluh Delapan


__ADS_3

London, Britania Raya.


James mengendarai mobil Cadillac berwarna Silver, Angel duduk di kursi belakang bersebelahan dengan Smith. Sejujurnya Angel tidak terlalu suka bila berdekatan dengan Smith, namun apa daya, James enggan duduk bersebelahan dengannya. Sepanjang perjalanan Angel mengamati sekeliling, London memang penuh dengan sejarah, banyak bangunan abad pertengahan berjejer di sisi kiri dan kanan jalan. Di sebelah kiri terdapat beragam restoran dengan bangunan tua khas zaman Victoria. Di sebelah kanan pun tak kalah indah, terdapat gedung dengan bunga warna warni di masing-masing jendela. Angel memperhatikan setiap orang yang lalu lalang di sana, banyak turis asing berfoto ria di beberapa sudut kota. Juga terdapat bus tingkat warna merah khas London yang lalu lalang, membawa tak hanya penduduk lokal tetapi juga turis dari penjuru negeri. Mobil terus berjalan hingga tiba di sebuah bundaran, saat itu lampu lalu lintas menunjukkan warna merah yang berarti berhenti. Angel melihat ke arah Alun-alun Trafalgar, tempat yang sangat ramai. Beberapa rombongan turis mulai berfoto, terdapat juga sekumpulan remaja yang bermain gitar sambil bernyanyi ria, tak jauh situ sekumpulan remaja lain memutar musik hip-hop sambil melakukan gerakan aneh yang lebih mirip orang yang tersengat listrik. Tak hannya itu Angel juga melihat beberapa pasangan yang berjalan bergandengan, atau hanya sekedar duduk sambil bercengkerama. Saat lampu berwarna hijau perlahan James berbelok ke kanan, ketika itu dari kejauhan Angel baru sadar bahwa terdapat sebuah patung pria berpakaian seperti Napoleon menunggangi kuda tepat di tengah alun-alun.


“ Apa yang kau lihat sehingga tubuhmu harus berputar?. “ Smith menyadarkan lamunan Angel, ia merasa malu dan canggung.


“ Ini pertama kalinya aku menaiki mobil dengan kaca tembus pandang dengan kecepatan yang rendah, ternyata pemandangan di luar cukup mengesankan. Aku sedari tadi memperhatikan patung yang ada di tengah alun-alun, terlihat gagas perkasa. “ Ujar Angel dengan nada datar. Ia berbohong, bukan cukup mengesankan melainkan sangat menakjubkan.


“ Itu adalah patung yang dibangun untuk mengenang Pertempuran Trafalgar pada tahun 1805, sebuah pertempuran di laut di mana kapal perang Angkatan Laut Inggris memenangkan Perang Napoleon. Dan patung itu adalah Laksamana Horatio Nelson, seorang pahlawan dan pemimpin AL Inggris yang terbunuh dalam Pertempuran Trafalgar. Monumen itu sering di sebut Nelson’s Column.” Smith mendikte dengan ringkas dan rinci, namun mudah dipahami membuat Angel sedikit takjub.


Suasana menjadi hening, hingga mobil berhenti mendadak. Saat memasuki Waterloo, ternyata kemacetan panjang tak terelakkan. Angel yang sedari melamun sedikit terdorong kedepan, membuatnya kaget dan mulai melihat kearah depan.


“ Ada apa James?. “ Smith bertanya dengan nada kesal.


“ Sebentar. “ James membuka kaca mobil dan melihat keluar, ia bertanya pada mobil dengan kaca terbuka yang lewat dari arah berlawanan, yang juga terjebak macet. “ Ada apa bung?. “


“ Biasa, terjadi kecelakaan di depan. Sebuah mobil Cadillac hitam keluar jalur dan saling bertabrakan. “ Sang sopir memberikan informasi dengan singkat.


‘Cadillac hitam. ‘


Kepala Angel terasa sakit, sesuatu kembali melintas dipikirkannya. Namun ia berusaha tetap tenang, dan tidak menunjukkan reaksi apa pun. Beruntung Mobil mereka berhasil melewati kemacetan, dan Kali ini James menginjak gasnya lebih dalam. Membuat mobil berjalan lebih cepat.


“ Apa kau sudah bisa mengingat sesuatu Aqila sayang?. “ Smith bertanya dengan nada merayu.


“ Kurasa hampir, sayangnya memori lama dikepalaku masih belum berfungsi dengan baik. “ dan Lagi, Angel berbohong. Beruntung ia selalu mampu menutupi perasaannya, ternyata pelatihan bertahun-tahun sebagai pembunuh hampir membuat perasaannya membeku.


Mobil telah berjalan cukup jauh, saat mobil berbelok ke jalan Avenue pemandangan sekeliling mulai berubah dari berbagai bangunan maupun gedung bertingkat menjadi pepohonan yang rindang. Angel memandang sekilas, memori mengenai perjalanannya bersama Arnold mulai melintas. Angel ingin menghapusnya namun gagal, jadi ia membiarkan semua kenangan itu mengiringi perjalanannya. Setelah Tiga jam lebih perjalanan akhirnya mereka tiba di Yorkshire selatan, James memarkirkan mobil ke pinggir jalan.


“ Kita sudah sampai, kalian boleh turun. “ Ujar James.


Smith dan Angel turun terlebih dahulu, disusul oleh James yang membanting pintu dengan keras. James berjalan masuk ke sebuah rumah tanpa pintu pagar dengan sebuah mobil terparkir di halaman.


“Ibu.., Aku pulang. “


Seorang wanita membuka pintu, berumur sekitar dua puluhan, tinggi seratus tujuh puluh sentimeter dengan rambut pirang, kulit pucat dan mata berwarna hazel. “ Ya..., anda mau mencari siapa?. “


“ Rachel, biarkan James masuk. “ logat Smith yang khas ternyata masih diingat baik oleh Rachel.


“ Oh... Tuan, silahkan masuk. “


James masuk lebih dulu, diiringi oleh Smith dan Angel. Seorang wanita berteriak dari dalam kamar.


“ Rachel, apa dia James?. Kumohon suruh dia ke kamar. “

__ADS_1


Mereka pun masuk kekamar yang berada di pintu sebelah kiri. Tampak seorang wanita berumur sekitar enam puluh tahunan tengah merajut sambil ditemani musik karya the Beatles.


“ Mom..., “ James segera memeluk ibunya. “ Apa kau baik-baik saja?. “


“ Tentu saja, beruntung kekasihmu merawatku dengan baik. Seharusnya kau pamit dulu sebelum berangkat tugas. “ Ms. Taylor mengusap kepala James, James sedikit terkejut. Namun dia tidak mau ibunya mengetahui yang sebenarnya, jadi dia hanya mengangguk pelan.


Angel merasa sedih melihat wanita tua di hadapannya, ia mendekat. Wajah Angel terlihat indah di terpa cahaya yang masuk melalui jendela. Seakan mengerti isi pikiran Angel, wanita tersebut meminta mereka hanya ditinggalkan berdua.


“ Apa kau benar..., huh. James, Rachel. Bisakah kalian meninggalkan kami, dan ajak serta temanmu untuk keluar. Aku hanya ingin bicara berdua dengan gadis ini. “


Semua orang keluar, James menutup pintu dengan rapat. Saat semua orang keluar Angel mulai menitikkan air mata, untuk pertama kalinya. Dia menangis di hadapan orang lain.


“ Aqila, itu pasti kau. Matamu, hanya kau yang memiliki mata indah itu. Kemari. “ Angel mendekat. “ Duduklah, ambil kursi yang ada di sebelah sana. “ ujar Ms. Taylor sambil menunjuk ke sebuah kursi yang berada di dekat meja rias.


Angel, tak tahu harus memulai dari mana. Ingatannya masih kabur, namun kesedihan yang mendalam melihat kondisi mengenaskan wanita disampingnya. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dari kesalahannya di masa lalu.


“ Kemari, peluklah ibumu. “


“ Mom...., “ suara Angel terdengar seperti rintihan anak kecil, yang merindukan ibunya.


“ Maafkan aku, telah membuat keadaanmu seperti sekarang. Kau boleh menghukum diriku. “


Ms. Taylor menepuk lembut pundak Angel. “ Tidak nak, jangan seperti ini. Ini bukan keinginan mu, Tuhan yang telah memberiku penyakit ini karena kesalahanku sendiri. “


“ A.. Aku hanya ingin menawari kalian teh. “


“ Dimana James dan Smith?. “


“Mereka ada di kebun belakang. “ Angel mengamati gadis didepannya, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Wajah yang tenang, namun sorot mata penuh ketakutan.


“ Berikan padaku, dan pastikan kau tidak berada di depan pintu. “ Angel mengeluarkan sebuah pistol kecil dari balik sepatu boots nya. “ atau Kau mati tertembak. “


Rachel pergi dengan rasa takut, Sebelum masuk Angel tanpa sadar mengamati langit-langit rumah. Sebuah benda bulat berwarna hitam terpajang dipojok kanan, yang tidak lain adalah sebuah kamera pengawas.


‘ Aneh bukannya kamera itu sudah mati, mengapa masih di biarkan terpasang.’ BatinAngel.


“Atau jangan-jangan... “


Angel membawa nampan tersebut masuk, meletakkannya di sebuah meja kecil di samping tempat tidur. Ms. Taylor bercerita banyak tentang Rachel, mengenai kemampuan memasak serta mengurus rumah. Juga karena gadis itu sangat cantik. Angel menyimak segalanya sambil berpikir, ia merasa curiga dengan Rachel.


“ Mommy, mengapa kau memasang kamera pengawas yang sudah mati.? “


“ Oh, bukan aku. Rachel meminta tukang untuk memasang kamera di ruang tengah dan di halaman, juga dikamar ini. “

__ADS_1


Angel melirik kearah atas, memang benar ada kamera pengawas di pojok kiri, namun kondisinya sudah mati.


“ Kau tahu nak, ternyata Rachel tertipu. Semua kameranya rusak, kami sudah tidak punya uang untuk meminta tukang untuk melepasnya. Jadi kami biarkan saja, hingga James pulang. “ Sambung Ms. Taylor.


Angel mengerutkan dahi, ia melihat kearah telinga Ms. Taylor. Ternyata mereka memakai anting yang hampir serupa, Angel melepaskan antingnya. Sekilas cahaya merah bersinar dua kali, ia juga meminta Ms. Taylor untuk melepaskan anting miliknya.


“ Mom.., kita bertukar anting. Tapi jangan beritahu siapa pun termasuk Rachel, oh iya apa mommy punya alat tulis?. “


“ Di laci bawah, ada notes kecil dan sebuah pulpen. “ Ms. Taylor menunjuk ke laci di bawah meja.


Angel mengambil notes dan mulai menulis beberapa kata, setelah itu dia menyobek bagian yang sudah ia tulis.


“ Anting ini pemberian temanku Selena, mungkin dia akan kemari dan meminta anting itu. Saat dia kemari berikan surat ini, jangan biarkan seseorang pun membacanya termasuk mom sendiri. Dan aku akan menyimpan anting milik ibu sebagai kenangan, agar aku bisa kembali kemari. “ Angel memberikan kertas yang sudah terlipat menjadi empat bagian, Ms. Taylor menerimanya dengan perasaan bingung.


“ Nak, apa maksudnya?. Aku tidak mengerti. “


“ Mom, aku pernah menyakiti mu sekali. Dan tidak ada yang boleh menyakiti mu lagi, aku hanya ingin mom selamat. Kumohon berjanjilah dan bersumpah tentang hal ini. “


Ms. Taylor adalah seorang yang taat pada agama, jadi ia tahu betul bahwa bila sudah berjanji dan bersumpah atas nama sang pencipta. Ia tidak boleh melanggar nya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


“ ibu, apa kalian sudah selesai. ?“


“ Oh.. James, Masuklah. Kami sudah selesai. “


James masuk diiringi oleh Smith.


“ Bagus, Aqila sebaiknya kita bergegas. Masih ada tempat yang harus kau kunjungi. “ Nada suara Smith terdengar seperti perintah, membuat Ms. Taylor tidak menyukai perangai pria itu.


“ Mom, aku pamit. “ Angel kembali bicara dengan nada datar.


“ Ibu, aku akan pulang jika pekerjaanku selesai. Jaga diri baik-baik. “ James mengecup kening Ms. Taylor.


Saat keluar ruangan James berpapasan dengan Rachel.


“ Terima kasih sudah merawat ibuku. “ James mencium punggung tangan Rachel, membuat Rachel tersipu malu.


Mereka bertiga sudah berada di dalam mobil, dan James kembali menyetir.


“ Bagaimana Aqila?, apa ingatanmu mulai pulih?. “ Tanya Smith.


“ Hampir. “


“ Kita pulang dulu ke Apartemen, Setelah itu. Akan kutunjukkan sesuatu yang dapat menarik cepat ingatanmu. “

__ADS_1


“ Aku tak sabar menunggu hal itu. “


__ADS_2