B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
lima puluh lima


__ADS_3

Dengan berhati-hati Angel dan Arnold berjalan sembari menyelinap, beruntung ramai pejalan kaki membuat keberadaan mereka sedikit tertutupi. Tak lama berselang mereka tiba di lokasi, bertepatan dengan William yang tiba dengan mobil Mercedez abu-abu


Angel dan Ricard masuk ke dalam mobil yang menjemput mereka.


“Kemana?.” Tanya William.


“Apa kau tahu tempat yang aman? Kita juga butuh petugas medis.” Ujar Arnold.


“Baiklah kita ke rumah pamanku.”


Tanpa menunggu persetujuan William langsung tancap gas menjauh dari markas Blood. Melewati jalanan San Fransisco yang mulai ramai karena saat itu memang jam di mana beberapa pegawai pulang dari kantor mereka, dengan kecepatan penuh mereka melewati Bay Bridge menuju perbatasan Nevada sehingga tanpa sadar mulai tampak pepohonan dari taman Nasional Yosemite.


“ Apa kau tahu rose, Yosemite Sekarang mencangkup separuh wilayah Sacramento dan mengelilingi wilayah Napa yang merupakan penghasil anggur berlimpah lalu sampai ke santa rosab di Utara.” Ujar William memecah keheningan, ia menatap lurus ke depan sambil sesekali melirik kaca spion mobil.


“Apa pamanmu tinggal di sana?.” Tanya Angel yang perlahan mulai sadar, sambil memegangi kepala karena pusing akibat terlalu banyak terhirup gas karbon.


“Ya, dia salah satu petani anggur sukses. Kau tahu ia menghasilkan anggur terbaik di daerah itu, bahkan ia mendapat kehormatan di wilayah tersebut. Tapi tidak semua tempat di Yosemite boleh dijadikan pemukiman, hanya wilayah tertentu saja.” Jelas William.


Arnold hanya dia tanpa respon, ia hanya memandangi setiap pepohonan yang mereka lalui. William tak mengurangi sedikit pun kecepatan mobil bahkan saat mengobrol, jelas ia adalah pengemudi profesional yang sudah terbiasa akan hal itu. Perlahan pepohonan tersebut berubah menjadi wilayah perkebunan anggur yang bisa dibilang cukup luas, tak jauh dari san tampak sebuah rumah besar berwarna merah khas peternakan yang terlihat sangat mencolok dibandingkan dengan rumah penduduk di sekitarnya.


“Baik, kita sudah sampai.” William memarkirkan mobilnya tepat di samping rumah besar tersebut, membuat Angel menarik kesimpulan bahwa itu adalah rumah paman William.


“Tak ku sangka kau berasal dari keluarga terhormat Will.” Ketus Arnold.


William yang sudah lebih dulu turun berjalan menuju teras mengabaikan ucapan Arnold, dan ia pun mengetuk pintu. Terdengar suara berisik dari dalam rumah meski begitu tak ada respon dari dalam, William mengetuk sekali lagi hingga mendapat respon terdengar suara teriakan dan langkah kaki menuju pintu.


“Sebentar....”


Perlahan pintu terbuka, tampak seorang pria tua berumur sekitar delapan puluhan. Bertubuh tinggi dengan kulit pucat yang keriput dimakan usia, meski begitu raut wajahnya terlihat rupawan dengan mata hazel dan rambut yang di penuhi uban. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh lima sentimeter, kekar meski tak terlalu berotot. Perutnya yang sedikit buncit menunjukkan kesan bahwa ia hidup dengan makmur disisa umurnya.


“Hallo Will, lama sekali sejak kunjungan terakhir mu kemari.”


Mereka berpelukan sejenak, sebelum akhirnya William memperkenalkan kedua rekan kerjanya.


“Paman, ini reka sekerja ku. Yang pria bos ku Tuan Arnold, dan yang wanita itu bernama Rose.” William mendikte Rose dengan penekanan yang khas.

__ADS_1


“Oh halo.” Pria tersebut menyalami Arnold. “Mereka memanggilku Dough, aku paman William.”


Kini tangannya bergantian menyambut tangan lembut Angel, mata pria tua tersebut sedikit jelalatan memandang Angel dengan penuh gairah, dan senyum mesum terukir di bibirnya.


“Kau sangat cantik, apa pria ini kekasihmu?”


Cup..


Pria tua itu mencium punggung tangan Angel, membuat Angel merasa jijik dan kurang nyaman.


“Ku beri tahu ya, aku punya kemampuan untuk melihat masa depan dan Jika benar aku melihat akhir bahagia untuk kalian.”


Tentu saja itu hanya bualan dari pria tua mata keranjang, sebuah teknik agar ia bisa menyentuh tangan wanita cantik di hadapannya lebih lama.


“Ah ti...”


Tiba-tiba saja Arnold menyentuh bahu Angel, membuat ia tak menyelesaikan perkataannya.


“Ayo masuk, kebetulan kami baru panen besar dan perusahaan wine mengirimkan beberapa peti produk terbaik mereka untuk kami.”


Rumah tersebut terlihat unik, Di dalam nya terdapat perabotan kayu berbahan jati kualitas tinggi, beberapa senapan Laras panjang di tambah beberapa bangkai hewan yang diawetkan, seperti kepala rusa dari berbagai jenis, tenggiling, harimau, kijang, dan beberapa hewan yang tak Angel kenali, terdapat pula kulit beruang dengan kepala yang masih utuh menjadi yang disulap menjadi karpet, menunjukkan bahwa pria tersebut sangat eksentrik namun elegan. Mereka berjalan menuju dapur yang berada di bagian belakang rumah, kursinya terbuat dari kayu pinus disusun melingkar dengan meja bundar di tengah. Peralatan dapurnya disusun sangat rapi sama seperti dapur rumah pada umumnya, dengan sebuah kulkas dua pintu di samping rak piring.


“Duduklah, aku lebih suka kalian langsung duduk di dapur dari pada ruang tengah.”


Pria itu melongok keluar jendela dan berteriak. “ Jane...”


Tak lama berselang wanita yang di teriaki namanya bergegas masuk dari pintu belakang.


“Ya, ayah.”


Seorang wanita manis berumur sekitar dua puluh tujuh tahunan berambut pirang sebahu yang di kuncir kuda, bermata hazel, hidung mancung, bibir berwarna pink dan berkulit pucat, dengan tinggi seratus tujuh puluh sentimeter berjalan mendekati ayahnya.


“Kita kedatangan tamu, perkenalkan ini anakku satu-satunya Jane.”


Jane tersenyum dan sedikit membungkuk saat ayahnya memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


“Cepat ambilkan wine di Rubanah, mereka pasti haus.” Perintah pria tua tersebut.


“Baik, ayah.”


Gadis tersebut keluar dari pintu belakang, dan menuruni tangga menuju rubanah.


Angel kembali mendapatkan reaksi dari gas karbon yang ia hirup, napasnya sesak, kepala pusing dan mual, membuatnya jatuh pingsan. Arnold yang duduk di sebelahnya refleks memegang kepalanya agar tidak jatuh.


“William, kita butuh dokter.” Ujar Arnold.


“Jane seorang dokter, cepat bawa ia ke kamar sebelah kanan aku akan memanggil Jane di bawah.” Paman William bergegas menuju rubanah.


Rubanah atau ruang penyimpanan bawah tanah adalah tempat di mana orang-orang terbiasa menyimpan bermacam-macam, mulai dari benda tak terpakai hingga stok alkohol.


Jane yang tengah memilih anggur untuk dihidangkan dikejutkan oleh ayahnya yang berteriak memanggil meminta bantuan.


“Jane, cepatlah tamu kita ternyata sedang sakit.”


Jane bergegas menaiki tangga dan berjalan menuju tempat para pasiennya biasa diobati, sebenarnya terdapat juga ruangan di lantai atas akan tetapi peralatan medisnya tidak selengkap lantai bawah.


Jane mulai memeriksa detak jantung Angel, dan mengecek tekanan darahnya.


“Dia terlalu banyak menghirup karbon dioksida sebelum kami tiba kemari.” Jelas Arnold.


Jane bergerak cepat ia mengambil tangki oksigen dan memasangkan masker oksigen kepada Angel dan mengatur oksigen melalui flowmeter, perlahan kondisi Angel mulai stabil.


“Beruntung, ia tidak terlalu banyak menghirupnya sehingga kondisinya cepat stabil.”


Tak lama berselang tiba-tiba saja Arnold pingsan dan ambruk.


“Astaga.” Ujar William.


“Sepertinya ia mengalami hal yang sama, cepat baringkan ia ke kasur di sebelah sana.” Jane pun beralih memeriksa keadaan Arnold.


Arnold yang lemas terkulai mendapat bantuan oksigen dengan kadar yang sama seperti Angel.

__ADS_1


“Mereka akan menjalani terapi oksigen selama satu jam lima puluh tiga menit, untuk sekarang kita biarkan mereka beristirahat.” Jane mengajak William keluar dari ruangan tersebut.


__ADS_2