B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Tujuh Puluh


__ADS_3

Angel merasakan embusan hangat udara yang berpindah di pipinya saat tembakan itu berdesing melewati kepalanya. Dia mendengar tembakan itu mengenai sesuatu. Gedebuk pelan diikuti napas yang tertahan.


Dia berbalik untuk melihat gadis itu berlutut di sebelahnya, darah gelap menyebar di depan seragam tokonya. Dia menatap darah itu, lalu beralih pada Angel, kebingungan.


"Aku .. aku .. tertembak..."


Dua tembakan lain meletus, memecah keheningan toko. Baju-baju bayi yang bergantung di atas Angel tersentak dan bergoyang-goyang. Hujan busa meletus dari isi boneka Teddy bear di rak tak jauh dari situ.


Angel masih berjongkok, Arnold di sampingnya. Terdengar suara-suara meninggi di luar toko mainan. Suara seorang pria. Dua orang pria, yang meneriakkan tantangan. Peringatan


Lebih banyak tembakan, kali ini diarahkan ke luar toko.


"Arnold .. pergi!" Itu suara Angel.


"Mereka sedang teralihkan!" bisik Arnold. "Ayo, kita-"


"Tidak!" Angel menggeleng. "Aku bisa memperlambat mereka. Kau pergilah!"


"Memperlambat mereka?" Arnold mencemooh. "Kau bercanda, kan?"


"Bukan melawan mereka ... aku akan bicara dengan mereka."


Lebih banyak tembakan. Satu di antaranya mengenai dinding tak jauh dari mereka, memandikan mereka dengan serpihan cat.


"Kau tidak bicara dengan-"


"Aku mengenal Abel dengan baik, percayalah dia akan mendengarkan."


"Kau benar, tapi tapi mereka menjalankan misi untuk membunuh kita! Kau keluar, mereka akan menembakmu begitu mereka melihat” Angel mencengkeram lengannya. "Arnold... toh, aku yang mereka incar. Kau pergilah dan cari kendaraan untuk kita menuju ke Boston.” Dia tidak perlu menjelaskan hal itu. Arnold sudah memahaminya dengan baik.


“Aku bisa menjaga diri dengan baik.”


“Aku tahu, itu sebabnya aku percaya padamu. Baiklah akan kuikuti perintahmu, dengan satu syarat kau harus keluar dalam keadaan hidup.”


Di luar toko, dua orang penjaga tewas tertembak sementara Ricard dan Louis bersembunyi dibalik tembok pembatas. Hanya sedikit lagi, sedikit lagi bagi mereka untuk menyelinap masuk ke pintu darurat. Kalau saja, kedua orang itu tidak berdiri tepat di seberang mereka.

__ADS_1


Ricard melihat kesempatan untuk kabur, namun ia justru melihat Angel sedang ditembaki dari luar toko.


“Aku akan mengalihkan perhatian salah satu dari mereka, kau larilah.”


“Tidak, kau terluka bagaimana bisa?”


“Lenganku terluka, tapi kakiku baik-baik saja. Sedangkan kau masih harus dirawat dengan baik, kalau tidak kakimu bisa bertambah buruk.”


“Namun...”


“Di saat seperti ini, kemampuan melarikan dirilah yang paling utama. Kau pergilah, aku adalah juara umum dalam kompetensi lomba lari. Aku bisa lari sepuluh meter hanya dengan waktu kurang dari lima puluh detik.”


Tentu saja Ricard berbohong.


Louis mengangguk, Ricard ada benarnya. Sekarang saja kakinya mulai terasa nyeri, sejujurnya ia tak sanggup bila harus berlari lebih lama lagi. Ricard tersenyum dan mulai menarik nafas panjang.


“Hey kalian, sebelah sini!!”


Ricard melambaikan tangan seperti orang gila, Faith menoleh dan mulai menembakinya dari jauh. Ricard berlari dan Faith memutuskan untuk mengejarnya.


"Mengenalmu"


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya!" Angel mendorongnya. "Pergi! Pergilah!"


Angel melirik gadis di sebelah mereka. Gadis itu dalam keadaan syok, wajahnya pucat pasi. Masih hidup, tapi mungkin tidak lama lagi kecuali dia mendapat pertolongan. Baku tembak mulai mereda. Siapa pun itu yang bertukar tembakan dengan kedua orang tersebut, sudah hampir selesai.


"Rose, aku...."


Angel mendiamkan Arnold dengan meletakkan jarinya di bibir Arnold. "Ini bukan perpisahan, Jangan merusaknya dengan mengatakan sesuatu yang bodoh."


Angel mendengar suara teriakan, suara orang yang ia kenali.


'Ricard, apa yang ia lakukan.’ Batin Angel.


Setelah teriakan Angel mendengar kembali suara tembakan yang jelas-jelas meleset, Arnold mendengar langkah kaki di dalam toko. Berat, langkah penuh tujuan yang mendekat.

__ADS_1


Lalu, sambil memaki dirinya sendiri karena menjadi seorang pengecut karena meninggalkan Angel, dia merangkak melewati lorong-lorong mainan plastik, di bawah deretan mantel anak-anak bertudung bulu dan berak-rak sepatu bot warna-warni, yang sempurna bagi kaki-kaki mungil untuk menjejak genangan hujan di musim gugur. Arnold terus merangkak dengan tangan dan lututnya sampai dia akhirnya menemukan eskalator.


Angel menunggu sampai Arnold tidak terlihat, lalu berdiri, tangannya terangkat. Abel mengacungkan senjata mereka ke arahnya. Angel melihat dua satpam pria tergeletak berdarah akibat tiga luka tembak tak jauh dari Abel berada, salah satu tertembak di kening. Aliran darah gelap mengucur di antara alis tebalnya, terus ke samping hidung dari lubang menganga yang ada di atas matanya. Itu tembakan mematikan sempurna.


"Mana yang lain?” tanya Abel.


“Bukankah kau mencari ku?”


“Aku pikir kau wanita hebat, ternyata kau seorang pengecut. Rasanya pengejaran ini berakhir sia-sia.”


Angel merasa diremehkan, tapi ia hanya diam dan menunggu momen yang tepat. Ia melirik sekeliling, banyak orang bersembunyi dibalik rak dan di sudut toko. “Aku rasa kau benar.”


Angel berjalan maju mendekati Abel, Abel tersenyum puas. Ingin rasanya menembak mati gadis di hadapannya, kalau saja dia tidak diperintahkan untuk dibawa hidup-hidup.


“Tapi kurasa, kau ceroboh. Karena menyerangku di keramaian.”


Dengan sigap Angel melempar setumpuk pakaian yang tergantung ke wajah Abel, membuat Abel kehilangan fokus. Angel berlari keluar toko, Abel menyingkirkan semua baju diwajahnya dan menembaki Angel. Angel menghindari tembakan dengan sangat baik, saat tiba di belokan koridor menuju toilet ia membalas tembakan tersebut sambil bersembunyi dibalik tembok.


Ada sekelompok orang yang juga bersembunyi di sana, beberapa di antaranya adalah manula yang tak sanggup lagi untuk berlari. Angel mengabaikan mereka dan sebisa mungkin untuk menghemat peluru.


Dorrr


Dorr


Dorr


Semua peluru yang ia tembakkan meleset, kini hanya sebuah peluru yang tersisa. Angel mendengarkan dengan baik, sepertinya Abel sudah kehabisan peluru. Itu merupakan kesempatan yang baik untuk melawan.


Dorr...


Satu tembakan mengenai lengan Abel, Angel kembali berlari. Dan bergabung bersama pengunjung lain menuju pintu darurat, ia menerobos kerumunan agar bisa masuk ke tangga darurat lebih dulu.


Eskalator membawa Arnold pelan-pelan ke lantai atas toko; Pakaian Bayi dan Balita. Toko masih sepi, masih begitu tenang. Yang bisa dia dengar hanyalah dengung pelan mesin eskalator dan alunan lembut musik mal di luar. Masih merangkak, dia untuk menengok satu kali terakhir. Arnold mengangkat kepalanya untuk melihat dari atas kaca buram di samping eskalator, dari atas pinggiran karet hitam susuran tangga dan dia melihat Angel, berdiri hanya beberapa meter di depan kedua unit pendukung itu. Tangannya diangkat tanda menyerah .. tapi perlahan-lahan menurunkannya seakan tanda menyerah sudah tidak dibutuhkan lagi.


Angel sedang mengatakan sesuatu, samar-samar Arnold bisa mendengar suaranya, rendah dan tidak jelas. Tapi jelas Angel yang sedang bicara.

__ADS_1


Selama sesaat di situ, hanya sesaat, Arnold membiarkan dirinya percaya untuk sekali ini saja bahwa sesuatu mungkin berada di pihak mereka. Lalu Angel melempar setumpuk pakaian dan pergi, tak terlihat. Saat eskalator membawanya melewati etalase dan dia akhirnya tidak bisa melihat Angel lagi, dia mendengar empat atau lima tembakan susul-menyusul. Lalu, satu tembakan eksekusi terakhir.


__ADS_2