B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Enam puluh


__ADS_3

Arnold memacu mobil milik William dengan kecepatan tinggi, ia tak ingin membuang waktu. Angel berusaha untuk tetap santai namun matanya memancarkan aura kegelisahan membuat Arnold menambah kecepatan mobil yang membuatnya hampir saja menabrak mobil yang melintas dari arah berlawanan, beruntung ia masih sempat berbelok dan menginjak rem.


Arnold menarik nafas sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan namun kali ini dia lebih berhati-hati.


“Mengapa kita tidak mengajak serta William?” Tanya Angel, bukan tanpa sebab. Itu karena, ia lebih menyukai cara mengemudi William ketimbang Arnold.


“Tidak sayang, dia punya tugas penting disini.”


Suasana hening, kini hamparan kebun anggur yang luas telah berganti dengan dinding-dinding pembatas jalan tol. Sepanjang perjalanan hanya terlihat beton dan beberapa pohon pinus, serta berbagai jenis mobil yang melaju beriringan. Angel masih tampak gelisah, Arnold menarik nafas panjang dan memulai obrolan.


“Jadi? Apa tujuan mereka pergi ke Boston?”


“Aku pun tidak tahu, Louis bilang ia akan menjelaskannya begitu kita bertemu di Sacramento dan aku diminta untuk tidak menghubunginya dulu.”


“Sacramento amatlah luas, kita akan bertemu dimana?”


“Soal itu, aku juga tidak tahu.”


“Astaga”


Arnold menelan ludah karena kesal, jawaban yang singkat dan dingin dari Angel membuatnya gemas. Ingin rasanya mencubit pipinya yang tembam atau sekedar menarik hidungnya, atau mungkin sedikit kecupan di bibir.


Arnold tersenyum geli, hingga saat ini ia belum pernah menyentuh Angel melebihi dari batas wajar. Arnold sadar ia ingin sentuhan lebih, namun tidak pernah ada momen yang tepat untuk hal itu.


“Mungkin nanti.”


“Apa?” Angel memicingkan mata


“Ah, tidak ada.”


Arnold menambah kecepatan mobil, tentu saja dengan tetap mengutamakan keselamatan mereka. Kini mereka telah sampai di pertigaan, Arnold mengambil arah utara menuju Sacramento. Sudah hampir empat puluh menit mereka menyusuri jalan raya, Arnold melirik jam tangan sebelum menambah kecepatan mobil. Sacramento hanya berjarak kurang dari satu kilometer di depan mereka, perjalanan yang seharusnya memakan waktu satu jam lebih empat puluh enam menit atau hampir dua jam, dapat mereka tempuh hanya dalam waktu satu jam.


Tampak banyak sekali mobil polisi berjejer rapi di pinggir jalan, tepat di lampu merah dekat dengan gedung library galeria.


“Sepertinya sedang ada acara yang berlangsung.” Ujar Arnold memecah keheningan.


“Ya, lalu kita kemana?”


“Di sebelah sana ada cafe, aku akan mencari tempat parkir kau tunggulah disana.”


“Baik”


Arnold membiarkan Angel turun dan memesan tempat lebih dulu, sementara ia sendiri mencari tempat parkir yang tepat.


Begitu memasuki kafe tercium aroma roti yang baru selesai dipanggang membuat perut Angel sedikit meronta, karena pagi tadi ia hanya makan sedikit guna mengejar waktu. Interior dalam kafe sangat sederhana seperti kafe pada umumnya, dindingnya berwarna putih dengan langit-langit berwarna biru, meja dan kursi disusun rapi berjejer mengisi ruangan, meja kecil putih dengan kursi berwarna krem khas kayu Pinus. Suasananya cukup ramai karena sudah hampir jam makan siang, Angel melirik sekeliling dan menemukan lokasi ideal, empat kursi dan dua meja yang disusun berjejer di pojok ruangan.

__ADS_1


Arnold masuk dan melihat Angel yang tengah duduk sendirian dipojok.


“Apa kau sudah memesan?”


“Belum, aku menunggumu.”


“Kalau begitu kau ingin apa?”


“Aku pesan avocado klub sandwich dan segelas jus jeruk.”


“Baiklah, tunggu disini.”


Arnold berjalan menuju kasir, ia mengantre sambil memperhatikan daftar menu yang tersedia.


‘Rupanya Rose sudah membaca daftar menunya lebih dulu.’ Batin Arnold


Arnold melamun, kini gilirannya memesan.


“Selamat datang di kafe La bou, ingin pesan apa?” Ujar pelayan dengan nada sopan dan menyenangkan.


“Ah, aku pesan dua kebab, satu avocado klub sandwich, dua jus jeruk dan secangkir espreso.”


Dengan perlahan sang pelayan mengulangi pesanan Arnold.


“Total nya jadi empat puluh dua dolar delapan puluh lima sen.”


“Sebentar lagi makanannya siap, ngomong-ngomong apa kau sudah menelepon Louis?”


“Belum, dia berpesan agar aku menunggu telepon darinya, ia khawatir jika telepon seluler miliknya sudah disadap oleh seseorang.”


“Begitu ya.”


Seorang pelayan wanita mengantarkan pesanan mereka dengan hati-hati, ia menyusun makanan sedemikian rupa. Angel memperhatikan gerak-gerik wanita tersebut, terlihat jelas bahwa wanita itu menyukai Arnold berulang kali ia mencuri-curi pandang membuat Angel merasa risih. Saat hendak pergi tanpa sengaja wanita tersebut menyenggol cangkir yang berada di dekat Arnold, membuat Arnold refleks menangkap cangkir tersebut agar tidak tumpah. Namun, justru hal tersebut membuat Arnold tanpa sadar memegang tangan wanita tersebut.


Angel menatap enggan, ia terlihat tidak nyaman dengan situasi dihadapannya. Entah memang karena tidak suka atau justru karena cemburu, wanita tersebut meminta maaf sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan mereka


“Apa kau cemburu?” Goda Arnold.


“Sama sekali tidak”


“Bohong, matamu jelas-jelas mengatakan bahwa kau sedang cemburu.”


Angel mengabaikan Arnold dengan fokus pada sandwich dihadapannya.


“Aku yakin bahwa kau sedang cemburu.”

__ADS_1


Belum sempat Angel menjawab tiba-tiba sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke smartphone miliknya.


“Halo, kau dimana?... Kami sedang di kafe tak jauh dari tempat kalian berada.., kafe La bou....., Baiklah kami tunggu.” Angel mematikan smartphone dan kembali fokus pada sandwich nya


“Louis?”


“Ya, dia sedang dalam perjalanan kemari.”


Selang beberapa saat orang yang sedang mereka bicarakan masuk ke dalam kafe, Arnold melambaikan tangan memberi kode kepada mereka agar mendekat.


“Duduklah” dengan sopan Arnold mempersilahkan mereka duduk.


“Tidak ada waktu untuk bersantai, kita harus cepat sebelum mereka melacak kita.” Louis berbicara dengan nada terburu-buru


“Santai sayang, kau ingin pesan apa?” Tanya Arnold


Angel yang tengah makan menaruh sandwich nya ke piring, dan meminum jus nya sebelum akhirnya ikut bicara.


“Seberapa buruk kondisi sekarang?”


“Sangat buruk, Blood sudah tamat dan kita sekarang jadi buronan.”


“Bagaimana bisa?” Arnold menatap heran


“Tidak ada waktu untuk menjelaskan, kita harus cepat.” Ujar Ricard


Angel yang langsung paham dengan kondisi yang ada menyudahi makannya, ia meminum sisa jus jeruk dan langsung bangkit berdiri. Arnold baru saja hendak memakan kebabnya merasa kesal karena belum sempat makan satu gigitan pun.


“Ayolah, aku baru saja memesan ini.”


“Tidak ada waktu.” Angel menarik tangan Arnold, dan langsung berlari menuju pintu keluar.


“Kita akan naik mobil yang baru saja ku beli, cepat ambil barang-barang yang dibutuhkan dari mobil kalian.” Ricard berjalan di depan, dan berhenti di depan sebuah Van yang sudah usang.


“Hey bung, tunggu dulu. Apa kita akan ke Boston dengan kondisi seperti ini?” Arnold menunjuk ke arah mobil


Ricard, Louis dan Angel saling menatap, penampilan mereka terlalu rapi untuk sebuah mobil Van tua.


“Arnold benar, kita harus mengganti pakaian dan menyamar.” Ricard dan Louis mengangguk setuju.


“Rose bukan itu maksudku.” Belum selesai Arnold berbicara yang lain langsung masuk ke dalam mobil Van tua tersebut.


“Sudahlah terserah kalian saja.” Arnold mengangkat bahu dan duduk di kursi belakang, kali ini Ricard lah sopirnya.


“Baiklah, kita akan mencari toko pakaian, serta kosmetik dan memilih penyamaran yang tepat.”

__ADS_1


Ricard menyalakan mesin, deru mesin yang sudah tua terdengar sangat berisik dan menyebalkan. Ricard menginjak gas perlahan dan pergi meninggalkan tempat tersebut.


__ADS_2