B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Tujuh puluh enam


__ADS_3

Arnold, Ricard dan Louis berlari melewati para pejalan kaki, bahkan Arnold sempat menabrak salah satu pejalan kaki. Ia sekedar membantu berdiri dan meminta maaf sebelum akhirnya kembali berlari, hanya tersisa satu blok lagi dan mereka pun sampai di kedai yang dimaksud Arnold. Sebuah kafe modern dengan konsep minimalis dan elegan.


“Apa ada tanda-tanda dari mereka?” ujar Louis sambil menghembuskan nafas, ia sedikit bergenyit karena pergelangan kakinya yang belum sepenuhnya pulih.


“Kurasa belum.” Ricard mengatur nafasnya sambil berjongkok.


“Apa kalian melihat Angel?”


Louis dan Ricard saling menatap kemudian menggelengkan kepala.


“Aku harap gadis itu baik-baik saja.” Arnold mulai terlihat cemas.


“Bukannya aku tidak merasa khawatir. Tapi, Angel jauh lebih hebat dari yang kau kira.” Ketus Louis.


“Kuharap demikian.”


Tinn...


Tin...


Sebuah klakson panjang dari sebuah mobil jenis SUV berwarna silver berhenti disamping mereka, kaca mobil terbuka dan membuat semua orang terkejut.


“Kau!!!”


“Masuklah, kita hampir terlambat.”


Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil, terdengar suara gesekan roda mobil ketika Angel menginjak pedal gas.


“Waw, luar biasa dari mana kau mendapatkan mobil ini.” Ricard berdecak kagum.


“Aku menemukannya tak jauh dari mall.”


“Kau mencurinya?”


“Mungkin, tapi aku meninggalkan ponselku di pinggir jalan. Dan, Ku rasa itu impas.”


“Kau tidak waras.”


“Bukan waktu yang tepat untuk membahas hal ini, Louis kau masih menyimpan ponselmu?”


“Ya, ini.” Louis menyerahkan ponselnya.


“Bagaimana denganmu Ricard?”


“Ada, ini.”


Angel mengadahkan tangan kirinya, Louis dan Ricard menaruh ponselnya ke tangan Angel. Angel membuka jendela mobil dan melemparkan ponsel tersebut ke jalan.


“Hey, ponselku apa yang kau lakukan.” Teriak Ricard.


“Sekedar antisipasi, tuan Arnold apa kau menyimpan ponselmu?”


“Tentu, kau ingin membuangnya?”

__ADS_1


“Tidak perlu, kita akan membutuhkannya.”


“Angel bisa kau jelaskan rencanamu kali ini?” Louis bertanya.


“Tidak ada.”


“Lalu, mengapa kita membuang ponsel.” Ricard terlihat kesal, Angel bisa melihatnya dengan baik dari kaca spion.


“Sudah ku bilang hanya sekedar antisipasi, menurutmu kenapa kita bisa ketahuan?”


"Mereka pasti mengunjungi bus kita dulu,” Ujar Louis.


"Bagaimana mereka bisa tahu yang mana mobil kita?" Angel benar Sudah ada beberapa mobil di tempat parkir. Bahkan mungkin lebih banyak lagi sekarang.


"Ponsel kita." Ricard menoleh pada Louis. "Ponsel kita memancarkan sinyal nirkabel yang membuat kita terlacak ."


Louis mengangguk. "Mereka pasti mengikuti sinyal ponsel kita, terlebih ponsel kita dibuat khusus."


“Terutama milik Angel.”


Louis menatap pantulan mata Angel dari spion. “Menurutmu?"


Dia menggeleng. “Aku tidak tahu. Mungkin saja."


“Juga jaringan yang aku pasang, koneksi dari laptop yang aku bawa dan ponselku. Mungkinkah mereka mengeceknya?”


Angel kembali fokus menatap jalanan.


“Sejauh yang aku tahu, Faith memiliki kemampuan hampir setara denganmu Ricard. Meski ia juga sangat ceroboh.”


“Sewaktu di supermarket aku mendapat sinyal bahwa ada seseorang yang mengunjungi mobil kita, namun saat aku hendak menelepon Angel tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari nomor yang tak di kenal. Aku mengabaikan dan mencoba menghubungi Angel tapi tetap saja panggilan tersebut masuk, saat aku melihat ke depan seorang pria berkulit hitam tersebut sambil memainkan ponselnya dan mengacungkan pistol ke arah kami. Saat itulah aku baru sadar bahwa kita sedang diikuti.”


“Dan pria itu adalah Faith.”


“Kau benar.”


“Lalu bagaimana wanita itu bisa mengenalimu?” Arnold menatap Angel.


“Ponselku, ia menyadarinya saat mata kami bertemu.”


“Penyamaran yang sia-sia.” Arnold menyandarkan tubuhnya ke belakang.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Ricard.


“Boston.”


“Kau yakin?”


“Tidak ada pilihan lagi, aku harus secepatnya menjadi pewaris dari organisasi ayahku. Dengan begitu semua masalah akan jadi jauh lebih mudah.”


“Kau yakin?”


“Ya, sangat yakin. Aku sudah melakukan riset mengenai para anggota SnowDancer dan mereka adalah orang-orang yang sangat loyal dan dapat diandalkan.”

__ADS_1


Suasana menjadi hening sejenak, kini mereka sudah tiba di Boston. Itu bisa dipastikan dari sebuah papan nama bertuliskan selamat datang di Boston, Angel menepikan mobil.


“Ricard boleh aku minta alamatnya?”


“Ah tentu saja.” Ricard mengeluarkan kartu nama dari balik jaketnya dan menyerahkan kepada Angel.


“Aku tidak mengenal jalanan disini, adakah yang mau menggantikan aku?”


“Biar aku saja.” Arnold turun dari mobil dan bertukar kursi dengan Angel, kini Arnold yang mengambil alih.


“Beritahu aku jika tujuannya hampir sampai, kira-kira sepuluh meter dari tujuan kita.”


“Untuk apa?”


“Nanti kau akan tahu, sekarang mengemudilah dengan baik. Louis, Ricard sebaiknya lepaskan penyamaran kalian. Kita sudah tidak membutuhkannya.”


Arnold mengemudi dengan baik melewati deretan toko dan rumah-rumah dengan gaya khas masing-masing, tak disangka ternyata Arnold mengenali jalanan Boston sangat baik. Angel menyimpulkan bahwa ia sangat sering berkunjung kemari.


Mereka hampir sampai, Arnold memandangi sekeliling dengan tatapan aneh seolah ia sangat merindukan tempat itu dan sudah lama tidak kembali.


“Kalau boleh tahu, siapa nama orang yang akan kita temui?”


“Memangnya kenapa?”


“Kau tahu, aku sering berkunjung kemari. Menemui saudaraku, sayangnya ia sudah meninggal berbulan-bulan yang lalu.”


Angel melihat mata Arnold yang tampak berkaca-kaca.


“Kita sudah tiba di jalan harrow.”


Arnold menghentikan mobil, Angel bergegas untuk turun begitu pun yang lainnya. “Tidak! Biar aku sendiri yang pergi.”


“Kenapa?” Louis menatap heran


“Aku khawatir bahwa ada orang lain yang sudah tiba lebih dulu atau, ada orang lain yang menyusul kita. Aku ingin kalian berjaga-jaga di sini, saat melihat bahaya mengemudi secara perlahan mendekati rumah yang aku kunjungi, bunyikan klakson mobil tiga kali sekencang mungkin agar aku bisa bersiap.”


Tidak ada yang berani menentang keputusan Angel, mereka semua hanya bisa patuh seperti seekor hewan peliharaan. Angel pun turun, yang lainnya masih bisa melihat Angel dari dalam mobil sebelum akhirnya Angel menghilang dibalik tikungan.


“Gadis yang keras kepala.” Ujar Arnold.


Suasana menjadi hening, mereka sudah membersihkan wajah dari kulit sintetis yang dipasang Angel. Ricard pun terlihat bosan, dan kelaparan.


"Hey bung, kau sering kemari ya?"


"Yah, rumah sepupu ku tak jauh dari sini."


"Benarkah? di mana?"


"Tak jauh dari belokan di depan sana, tempat Angel pergi."


"Itu dekat, bisakah kita mampir dan meminta beberapa potong roti? kau tahu aku sangat kelaparan."


"Ricard, berhenti bersikap bodoh." Louis terlihat kesal melihat tingkah laku Ricard.

__ADS_1


"Aku kelaparan, Arnold dan Angel sudah sempat minum kopi tadi. sementara aku belum makan apapun sejak pagi, bahkan stawberry yang kita beli tak sempat kita bawa."


Arnold tersenyum geli melihat Ricard, dibalik wajahnya yang tegas dan lugas, juga otaknya yang sangat brilian. Tersembunyi sifat kekanak-kanakan yang polos dan aneh dalam diri Richard, Louis tak ingin meladeni Richard jadi ia hanya diam dan memandang ke luar jendela.


__ADS_2