B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
enam puluh dua


__ADS_3

“Halo, Jack maafkan aku. Sepertinya aku akan datang sedikit terlambat, ada sedikit masalah disini.”


Wajah Jacob langsung pucat setelah mendapat telepon dari William, pikirannya kalang kabut membuatnya kurang fokus dan hampir melewati cafe tempat mereka bertemu.


“Maaf tuan, apa disini tempatnya?”


“Ah iya, maafkan aku. Aku sedikit melamun tadi.”


Setelah membayar ongkos taksi, Jacob berjalan masuk menuju cafe. Ia memesan dua cangkir kopi espreso dan mengambil tempat duduk di dekat jendela, ia menyesap kopi sambil memandang keluar. Tubuhnya gemetar padahal saat itu cuacanya hangat, pikirannya menerawang. Menduga-duga hal buruk apa yang akan terjadi pada William, sesekali ia mengecek ponsel. Ia ingin menelepon William, namun khawatir justru itu akan menganggunya.


“Ya tuhan, apa yang sudah ku perbuat.”


Jacob merenung, meratapi nasibnya.


Andai saja orang tuanya masih hidup.


Andai saja adiknya tidak depresi.


Andai saja dia tidak terlilit hutang.


andai saja ia tidak bertemu Nelson.


dan andai saja dia tidak menyebut nama William.


Dilain tempat.


William yang diikuti dari belakang, terus mengemudi secara zig-zag dan berkelok-kelok. Ia mencari cara agar tidak tertangkap, jadi ia melintasi lorong-lorong sempit. Beruntung ia sangat memahami kondisi jalanan san Fransisco, membuatnya lebih mudah mencari jalan pintas.


“Sialan!!!”


Namun rupanya, ada sebuah mobil lagi yang mengikutinya. Membuatnya kewalahan, hingga akhirnya ia terkepung di sebuah gang. Tidak ada jalan keluar, dan orang yang berada didalam mobil pun keluar. Mereka berjalan mendekati mobil William, William hampir putus asa ia memperhatikan sekeliling dan mulai mendapatkan ide.

__ADS_1


William mengemudikan mobilnya mundur dengan kecepatan tinggi, membuat orang-orang tersebut menghindar. William sengaja menabrakkan mobilnya, membuat bamper belakangnya ringsek. Kini ia melaju dengan kecepatan tinggi, dan setelah itu kembali mundur membuat mobil yang menghalanginya terdorong ke belakang dan terbalik. Dengan lincah ia mengoper gigi dan memacu mobilnya, seolah tak peduli dengan kondisi mobilnya yang rusak parah.


William memarkirkan mobilnya cukup jauh dari Jane cafe, ia sengaja memilih berjalan kaki karena takut orang yang mengikuti tadi mengetahui keberadaannya.


“William, kau baik-baik saja?” Jacob berdiri dan mempersilahkan William duduk.


“Apa yang ingin kau bicarakan? Katakanlah?”


“Begini tuan Arnold menghubungi ku, dia meminta kau dan aku menyusul ke tempat ia berada sekarang.”


“Maksudmu Nevada? Memangnya kenapa?”


Belum sempat Jacob berbicara, sekelompok pria yang tadi mengikuti William datang dan masuk ke dalam cafe. Mereka menatap tajam William dan langsung menghampirinya, William kaget. Kini tatapannya beralih ke Jacob yang tampak resah, William tersenyum dalam hati.


William melawan dan mencoba kabur, ia bangkit dan melempar kursinya mengenai salah satu dari mereka. Perkelahian tak terelakkan, meski jumlah mereka tak sepadan. Awalnya William berhasil berlari menuju pintu, tetapi ternyata beberapa dari mereka sudah berjaga didepan.


“Sial!!” Teriak William


Salah seorang dari mereka menyerang dari belakang, memukul William tepat di tengkuk nya yang membuat William pingsan seketika. Jacob yang menyaksikan keadaan tersebut tidak dapat berbuat apa-apa, ia sudah tahu bahwa William akan di bawa secara paksa oleh Nelson.


Jacob menarik nafas panjang, kini ia sama gilanya dengan sang adik. Ia merasa depresi, dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia memukul meja, dan hampir menangis. Dengan santai ia berjalan menuju kasir, melewati patahan material yang ada. Memberikan beberapa puluh dolar, dan kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut. Bertepatan sekali dengan datangnya polisi, dan kerumunan wartawan yang ingin meliput kejadian yang baru saja terjadi.


Di dalam mobil William mulai sadarkan diri, ia memegangi tengkuknya yang terasa nyeri, kepalanya pusing dan ia mulai memperlihatkan sekitar.


“Apa mau kalian?”


Semua orang hanya diam, dua orang pria berkulit hitam duduk di sisi kanan dan kirinya. Dua orang lagi duduk di kursi depan, yang satu berkulit putih bertugas sebagai pengemudi dan satunya lagi berkulit sedikit gelap.


William menarik nafas dan membiarkan dirinya dibawa menuju tempat mereka, William memperhatikan jalan ia sadar bahwa jalan yang mereka lewati menuju satu tempat yaitu markas rahasia Blood.


Setelah mengetahui tujuan para penculik, ia merebut pistol yang ada disaku salah satu pria disampingnya. Dan langsung menembak pria di samping pengemudi, ia juga dengan sigap menembak dua pria disampingnya. Kejadian terjadi dengan sangat cepat, kini hanya tersisa ia dan sang sopir.

__ADS_1


“Belok ke kiri cepat.” Ujar William sambil menodongkan pistolnya ke kepala sang sopir, membuat sang sopir hanya mampu menuruti keinginannya.


William mengarahkan sopir menuju jalan raya yang ramai kendaraan dan pejalan kaki, tujuannya adalah agar ia dapat kabur dengan lebih mudah.


Namun sayang, William lupa bahwa ada mobil lain di belakang mereka yang sepertinya menyadari tindakannya. Kini mobil yang mereka tumpangi mulai ditembaki dari belakang, refleks William menunduk dan melindungi dirinya dari serangan peluru.


“Sial!!!” Sang sopir terlihat kesal, ia mengemudi zig-zag guna menghindari hujaman peluru.


Na'as, sang sopir justru tertembak dengan kondisi mobil yang masih melaju kencang. Tentu saja, tabrakan tak terelakkan. Mobilnya menabrak lampu jalan dan rusak parah, meski begitu untungnya kecelakaan tersebut tidak langsung menghilangkan nyawa William, hanya saja William mengalami luka cukup parah pada bagian kepala. Kini ia merangkak keluar dari dalam mobil, darah segar mengalir dari kepalanya dan juga dari tubuh orang-orang yang sudah mati. Kini ia tak sanggup lagi untuk bangkit berdiri, ia hanya mengatur nafas perlahan dan berbaring di jalan.


Beberapa orang berhamburan keluar dari dalam mobil, juga tampak beberapa pejalan kaki yang melihat kejadian tersebut menelepon ambulance dan mendekati William guna membantunya.


Mobil yang tadi mengikuti dan menembaki mereka tak dapat mendekat karena ramainya kerumunan massa, mereka pun turun dari mobil dan salah satu dari mereka melepaskan tembakan ke udara. Membuat orang yang semula berkerumun ketakutan dan menundukkan kepala.


“Pergi kalian!! Jangan ikut campur urusan kami.” Ujar salah seorang dari mereka


Orang yang berkerumun pun mulai perlahan mundur, ada pula yang langsung pergi menjauh. Pria berkulit gelap, berbadan kekar yang menggunakan setelan jeans coklat dan jaket kulit berwarna hitam tersebut mulai mendekat. Dan sisanya berdiri sambil memegang senapan.


Wiuwww..wiuw....


“Polisi, ayo kita pergi.”


Mendengar sirine mobil polisi membuat mereka ketakutan dan memilih untuk pergi membiarkan William yang mulai kehabisan darah. Beberapa polisi sudah bersiap dengan senjata mereka, dan ambulance juga sudah siap untuk menolong William.


William yang sudah tidak kuat menahan rasa sakit pada bagian kepalanya kini pandangannya mulai kabur, semuanya terasa buram dan perlahan matanya tak lagi dapat menangkap cahaya. Semuanya menjadi gelap gulita, dan para medis tampak sibuk menolongnya.


“Dia hampir kehabisan darah, kita harus bergegas.”


“Tuan, kau akan baik-baik saja bertahanlah. Cepat masukan ia ke dalam ambulance, bagaimana dengan kondisi yang lainnya.”


“Mereka semua sudah tewas, sepertinya terdapat luka tembakan yang menewaskan mereka lebih dulu.”

__ADS_1


“Bawa jenazah itu dan lakukan autopsi.”


Kini para wartawan mulai berdatangan, guna meliput kejadian mengerikan tersebut. Banyak spekulasi mengenai kejadian tersebut, ada yang melibatkan hal ini dengan kekejaman dunia para mafia, ada pula yang menyebut ini adalah serangan *******, dan beberapa juga menganggap bahwa itu adalah kejahatan biasa.


__ADS_2