
San Fransisco, California
Setelah perjalanan yang cukup panjang Arnold dan Angel tiba di bandara, sebuah taksi sudah menunggu mereka dan membawa mereka menuju apartemen tempat Angel dan Arnold pernah berdiskusi untuk pertama kali. Arnold menarik nafas lega, ia senang karena pada akhirnya bisa kembali kerumah sedang Angel nampak gelisah.
“Apa yang kau pikirkan?.” Tanya Arnold
“Tidak ada.” Jawab Angel ketus.
Arnold merasa aneh, ketika berada di London Angel terlihat lebih berperasaan sedangkan di California ia kembali menjadi gadis beku yang dingin.
“Ternyata suasana disuatu negara dapat mempengaruhi perasaan orang lain.” Batin Arnold.
Taksi terus melaju tanpa hambatan yang berarti, setelah sampai mereka turun dan segera berjalan menuju lift. Didalam ruangan William, Jacob, dan Selena telah menunggu kedatangan Angel. Begitu pintu kamar dibuka.
“Suprise....” Ujar William dan Selena bersamaan. Sementara Jacob duduk dengan wajah enggan.
“Selena.” Selena mendekati Angel dan langsung memeluknya.
“Maaf aku tidak menjagamu dengan baik, ini smartphone milikmu.” Selena melepaskan pelukan dan mengeluarkan Smartphone milik Angel dari sakunya.
“Kukira akan kehilangan benda ini, terima kasih banyak.”
Beberapa botol wiski dan anggur tersedia dimeja, juga beberapa kotak pizza dan kue. Arnold melihatnya dengan heran.
“Siapa yang memesan semua ini?.”
“Bukankah kau yang meminta Selena untuk menyiapkan pesta penyambutan Angel.” Ujar William.
“Bukan ini, maksudku seperti makan malam.. umm.., maksudku persiapan untuk menyambut musuh kita. Angel sudah kembali, jadi akan ada pergantian misi.” Arnold menjelaskan dengan gugup
“Santai, nikmati dulu tuan. Kami sudah menyiapkan segalanya bukan begitu Jakie.” William merangkul Arnold mengajaknya duduk dan menuangkan wiski untuknya.
Jacob hanya diam tak bergeming, ia memang bukan tipe yang menyukai pesta atau semacamnya baginya semua itu hanya membuang-buang waktu. Selena menutup pintu dan menggiring Angel untuk duduk disebelah Arnold, saat Selena hendak menuangkan anggur Arnold menghentikannya.
“Jangan beri ia alkohol, beri ia soda saja.”
Selena menatap Angel, Angel menyetujui saran Arnold. Angel pernah minum sekali dan itu hampir membuatnya membunuh Arnold, jadi ia bersumpah tidak akan menegak minuman beracun itu lagi.
“Well.” Selena mengambil kaleng soda dan memberikannya kepada Angel.
“Mari kita makan.” William membuka kotak pizza dan langsung melahapnya tanpa ragu, Jacob merasa jijik melihat cara William makan jadi ia menolak ketika Selena menyuguhkan pizza untuknya.
Semuanya terlihat gembira, Selena mengoceh tanpa henti mengenai pengalamannya bertugas bersama Angel. William mendengarkan dengan seksama, Jacob sibuk dengan Laptopnya sementara Arnold hanya memandangi Angel yang nampak asyik mengunyah sepotong demi sepotong Pizza.
__ADS_1
Hari sudah menjelang malam, William, Jacob dan Selena pamit pulang meninggalkan Angel dan Arnold berdua. Angel merasa canggung, keheningan pecah ketika Angel membuka suara dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
“Aku akan pulang ke apartemen, terima kasih atas hari ini.”
“Tidak, kau belum boleh pergi. Tidurlah disini bersamaku.”
Arnold membelai rambut Angel dan mencium lehernya, namun rasa trauma yang ditimbulkan oleh perlakuan Smith tempo hari membuat Angel mendorong Arnold dengan kuat sehingga Arnold terjatuh ke lantai.
“Tenagamu ternyata masih seperti dulu, kau sangat kuat.”
“Berhenti jangan mendekat, aku mohon... Aku mohon jangan mendekat.” Angel berteriak histeris, ia menjambak rambutnya sendiri dan menabrakkan diri ke dinding. Perlahan ia duduk dan mulai menangis.
“Tenanglah Rose, ini aku. Hey, tenanglah.” Arnold berusaha mendekat namun Angel justru semakin histeris.
“Tidakkkk.” Perlahan Angel mulai terkulai lemas, kini ia tidak bergerak.
Arnold panik, ia mendekat dan memegang kepala Angel. Suhu tubuh Angel sangat panas dan bekas jahitan ditangan kirinya membiru bengkak, Arnold mengangkat tubuh Angel membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai menelepon dokter.
Tak lama berselang dokter tersebut datang dan mulai memeriksa keadaan Angel.
“Tidak masalah, ia hanya demam. Itu sebabnya ia berhalusinasi, dan untuk bengkaknya tidak berbahaya besok pagi ia akan baik-baik saja aku sudah memberinya suntikan antibiotik.” Jelas dokter dengan tenang.
“Syukurlah, terima kasih.”
Keesokan paginya Arnold telah menyiapkan sarapan, ia hendak membangunkan Angel tapi tidak tega jadi ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Angel terbangun oleh aroma menyengat dari arah dapur, apartemen Arnold memang sangat minimalis dimana jarak antara dapur dan tempat tidur tidaklah jauh. Angel bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur untuk mematikan kompor. Arnold keluar dari kamar mandi, hidungnya langsung menangkap aroma gosong ia melihat Angel tengah berdiri di dekat kompor.
“Maaf aku melupakan sausnya, seharusnya aku mematikan kompor terlebih dahulu. Ngomong-ngomong, apa kau sudah merasa lebih baik?.”
Angel mengangguk, bahkan ia tidak ingat apa yang terjadi semalam. Angel ingin bertanya akan tetapi ia ragu, jadi ia memutuskan untuk diam. Mereka mulai sarapan, mulanya Arnold ingin menyajikan spaghetti akan tetapi sausnya gosong jadi ia hanya bisa menyajikan sandwich berisi selai strawberry dan coklat.
“Cepat selesaikan sarapanmu kemudian pergi mandi, kita akan pergi ke suatu tempat hari ini. Seseorang sudah menunggumu disana.”
Angel menyelesaikan sarapan, mandi dan berganti pakaian. Setelah itu Arnold dan Angel pergi keluar, saat berjalan menuju tempat parkir Arnold menjelaskan beberapa hal berbahaya yang mungkin menimpa Angel jadi ia hendak mengajak Angel pergi menuju tempat persembunyian rahasia keluarga morrel.
“Jadi disana kau akan aman, dan kita bisa mengatur strategi dengan lebih baik.”
Angel mengangguk. “Ya, kau benar. Kemana?.”
Arnold merogoh saku celana dan jaket, benda yang ia cari tidak ada disana.
“Mencari ini?.” Ujar Angel.
“Kunci, berikan padaku.” Arnold mengulurkan tangannya.
__ADS_1
“Tidak.” Angel sudah cukup mengalah dan mengikuti kemauan banyak orang, dan kali ini ia tidak mau mengikuti perintah Arnold. “Aku yang mengemudi.”
“Dasar keras kepala.” Arnold tertawa dan memutari mobil hingga kesisi penumpang. “Kali ini, kau yang berwenang. Rose sayang.”
Setelah Angel masuk dan menyalakan mesin, Arnold berkata “Ambil jalur kiri dijalan.”
“Kita mau kemana?.”
“Sudah kukatakan, kita ketempat yang aman.”
Arnold mengarahkan Angel ke Bay bridge dan melewati Oakland. Mereka sampai ditepi hutan belantara yang berbatasan dengan Stockton dan terus melaju. Pepohonan menjadi semakin lebat, memberitahu Angel kalau ia sudah memasuki wilayah hutan Yosemite yang luas. Bahkan dengan laju mobil yang cepat sekalipun, ia sudah mengemudi hampir tiga jam sewaktu Arnold menyuruhnya berhenti.
“Apa kau yakin kau mau aku berhenti disini?.” Angel tidak melihat apa pun selain pepohonan.
“Ya.” Arnold turun.
Tidak punya pilihan lain, Angel menyusul.
"Apa yang kita lakukan ditempat seperti ini?."
"Takut?." Pertanyaan itu dibisikkan ke telinga Angel
Kecepatan Arnold lumayan. Ia memutari bagian belakang mobil dan menghampiri Angel dalam sekejap mata. "Tidak, Aku anggota terbaik Blood, ingat?. Aku hanya dibuat bingung oleh logika dari situasi ini."
"Mungkin aku membawamu kesini untuk melakukan perbuatan-perbuatan bejat." Tangan Arnold diletakkan di lekuk pinggul Angel.
"Kalau mau menyakiti ku kau bisa melakukanya dengan mudah saat aku tertidur semalam." Angel bertanya-tanya apakah ia harus menyatakan keberatannya atas tangan yang diletakkan di pinggulnya atau tidak, tapi entah mengapa Angel menyukainya.
Tangan Arnold dinaikkan ke lekuk pinggangnya.
"Hentikan." Angel mendorong Arnold.
"Mengapa?."
"Kelakuan seperti ini tidak pantas." Angel mengucapkan setiap katanya dengan tenang, hanya cara itulah yang ia miliki untuk melawan apa yang dilakukan Arnold kepadanya. Tidak terbiasa dengan sensasi, Angel sudah hampir menjadi budaknya. Ia sering mendapatkan perlakuan yang sama dari Smith mungkin itu sebabnya kali ini ia merasa gerah.
'Ia kembali bersikap dingin, seperti biasa. gadis yang unik.' Batin Arnold.
Arnold langsung menjauh. "Kau terdengar kembali seperti semula."
"Apa yang salah?, seperti inilah aku."
menatap mata hitam Angel, kegelapannya menakutkan, Arnold mendapati dirinya berkata "Gunakan perasaanmu." Sebelum Angel bisa menanggapi, ia mulai berjalan.
__ADS_1
" Ikuti aku."