
Hari sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam namun Louis tak kunjung kembali membuat Ricard gelisah, ia terlihat mondar-mandir sambil sesekali melirik jam tangannya. Ia juga sesekali mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ia khawatir jika Louis sedang dalam bahaya.
Sementara itu di markas Blood Louis mulai putus asa, ia berulang kali memeriksa rak berisi kumpulan buku bertema Sherlock Holmes namun tak ada apapun di sana hanya sekumpulan novel biasa.
“Astaga, sudah hampir jam tujuh”
Louis berhenti sejenak, ia menarik nafas dalam. Dan matanya tertuju pada lukisan siluet di pojok kiri pintu, siluet hitam berbentuk manusia yang menghadap ke kiri lengkap dengan topi dan cerutu. Siluet yang sangat mirip dengan penggambaran detektif fiksi Sherlock Holmes.
“Ah, apa jangan jangan?”
Ia berjalan mendekati siluet tersebut, tertulis inisial S.H dan nama di pojok kiri bawah lukisan tersebut tertulis dengan jelas Sir Arthur Conan Doyle. Louis menyentuhnya dan lukisan tersebut bergeser, karena penasaran Louis menurunkan siluetnya dan terdapat brangkas kecil disana. Brangkas tersebut terkunci, dan terdapat banyak tombol disana.
“Sial!! Brangkas ini menggunakan sandi dan sistem yang sulit untuk di retas.” Keluh Louis
Kini ia berusaha menekan tombol secara acak, hingga tersisa satu kesempatan.
“Jika kesempatan ini habis kemungkinan besar akan menimbulkan masalah, bisa jadi akan muncul alarm atau semacam nya. Arghhhhh!!!!”
Louis mengacak-acak rambutnya, ia bingung setengah mati. Ingin rasanya menelpon Ricard namun hal itu akan membuat ia dan Ricard ketahuan, di tengah kegalauan ia teringat akan pesan yang di tinggalkan oleh tuan blood.
“212B, mungkin itu kodenya.”
Louis menekan tombol dengan hati-hati, saat menekan angka dua layar menjadi hijau ia tersenyum puas dan kembali menekan tombol, kini ia beralih ke angka satu, layar masih berwarna hijau, ia menekan angka dua dan dengan ragu ia menekan huruf B jantungnya berdegup kencang. Dan...
Klik.
Brangkas tersebut terbuka, terdapat map tebal dan buku catatan kecil di sana dengan cepat Louis memasukkan buku itu kesaku, dan mengambil map nya. Tak lupa, ia mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Ia menghembuskan nafas lega, dan dengan cepat berjalan keluar meninggalkan tempat tersebut.
Louis yang masih mendapat kepercayaan dari orang-orang yang berada di dalam markas Blood memudahkan ia untuk mengakses semuanya, ia keluar masuk dengan leluasa tanpa ada kecurigaan dari orang-orang di sekitarnya.
Ting....
Lift tiba di lantai dasar, dengan langkah tergesa gesa Louis berjalan menuju pintu keluar hingga seseorang menghentikan langkahnya.
“Kau dari mana saja?”
Louis menoleh menuju sumber suara.
__ADS_1
“Siapa kau?”
“Nelson, kau melupakanku ya?”
“Oh maafkan aku tuan, kau tampak sedikit berbeda.”
“Santai saja sayangku.”
Nelson merangkul pinggang Louis, membuat Louis merasa risih.
“Maaf aku sedang terburu-buru.”
Louis melepaskan diri, ia kembali berjalan namun Nelson dengan sigap menangkap tangannya membuat map Louis terjatuh.
“Oh tidak.”
Louis menunduk dan mengumpulkan kembali kertas yang berhamburan keluar dari dalam map, dan memasukkan nya kembali. Nelson membantunya, saat Nelson hendak membaca salah satu lembaran yang tercecer dengan sigap Louis menariknya. Nelson yang mulai curiga mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
“Jangan bergerak!! Tetaplah merunduk dan berikan map itu padaku.”
Kini seluruh perhatian tertuju pada Louis dan Nelson.
‘Sial!!’ batinnya
“Biarkan aku melihat apa yang kau bawa.”
Dengan terpaksa Louis menyerahkannya, Nelson mengambil map tersebut membuatnya sedikit lengah. Melihat peluang, Louis dengan sigap mengambil pistol dari tangan Nelson dan membalik keadaan. Satu dari orang yang berada di dekat mereka ikut menodongkan pistol namun Louis menembaknya lebih dulu, kini suasana menjadi sedikit menegangkan.
“Kembalikan map itu.”
Tanpa perlawanan Nelson memberikan map tersebut, Louis mengambilnya dan berjalan mundur perlahan. Tampak beberapa orang bersiap dengan senjata yang jauh lebih hebat dari pistol yang di pegang Louis, namun Nelson memberikan aba-aba agar mereka membiarkan Louis pergi. Louis tercengang, ia bergegas berlari keluar dari gedung menuju mobil. Louis menyalakan mobil dan segera tancap gas.
Louis sudah pergi, meninggalkan Nelson yang berdiri dan beberapa pengikutnya terlihat bingung dengan sikap tuanya.
“Tuan, kenapa kau membiarkan Louis pergi? Bukankah kau bilang bahwa ia adalah salah satu penghianat?”
“Tenanglah, aku hanya ingin tahu ke mana ia pergi. Mungkin saja orang yang kita cari sedang bersamanya, sekarang cepat siapkan mata-mata terbaik yang ada dan ikuti ke mana dia pergi.”
__ADS_1
Louis memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, nafasnya sedikit terengah-engah. Sesekali ia melirik ke arah spion, barangkali ada yang mengikutinya dari belakang. Dan ternyata dugaannya benar, Louis menarik nafas dan membiarkan dirinya untuk tetap tenang. Ia menurunkan kecepatan mobilnya, dan mengemudi dengan santai seolah tidak menyadari ada mobil yang mengikuti nya. Dengan sengaja ia membiarkan dirinya diikuti hingga tiba di hotel tempat Ricard menunggunya, ia memarkirkan mobil dengan santai dan berjalan tanpa rasa gugup.
Memang mobil yang mengikutinya tidak sampai parkir ke dalam hotel tapi Louis tahu betul bahwa mereka masih berada disekitarnya, ia masuk ke lobi dan menaiki lift.
Sementara itu di dalam kamar hotel Ricard masih mondar-mandir.
Tok..tok..tok
Mendengar suara ketukan pintu ia sedikit khawatir, bisa jadi itu adalah orang-orang suruhan dari markas Blood. Karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, seharusnya ia sudah pergi dan bukannya masih menunggu Louis.
Ricard berjalan dan mengintip dari lubang pintu, ia melihat Louis berdiri di sana dengan cepat ia membukakan pintu.
“Lou, kau lama sekali? Apa kau mendapatkannya?”
“Bukan waktu yang tepat untuk bertanya, kita harus bergegas.”
“Ada apa?”
Louis menutup pintu dan memberi tahu bahwa ada yang mengikutinya.
“Ini jebakan, mengapa kau?”
“Stttt..., Diamlah, aku sudah tahu cara mengatasinya. Kau harus menyamar dan kita akan berpencar, ini dokumennya. Kita akan bertemu lima blok dari sini.”
Louis menelepon pihak hotel dan meminta layanan kamar, tak lama berselang seorang pemuda datang mengetuk pintu. Louis membiarkannya masuk dengan cepat ia menutup pintu dan memukul pemuda tersebut dari belakang. Louis melucuti pakaian pemuda tersebut dan menyuruh Ricard untuk memakainya.
“Kau serius? Ini berbahaya bagaimana kalau kau terluka?”
“Tidak akan, mereka mengikutiku agar tahu siapa yang aku temui. Kau jangan khawatir, aku akan turun lebih dulu dan mengecoh mereka.”
“Baiklah jaga dirimu”
Di luar hotel dua orang pria kekar berkulit hitam memperhatikan gerak gerik Louis.
“Lapor, target keluar dari hotel ia berjalan sendirian menuju mobilnya, ia masih membawa dokumen tersebut.”
“Cepat ikuti dia” ujar suara dari ujung telepon.
__ADS_1
Pria tersebut mengangguk dan kembali mengikuti Louis dari belakang.
Melihat kondisi yang sudah aman, Ricard keluar dari pintu karyawan. Ia berjalan mengendap-endap menuju tempat ia dan Louis akan bertemu.