
Arnold memandang keluar jendela, pemandangan London dimalam hari memang sangat indah. Tapi entah mengapa tidak cukup untuk menenangkan pikirannya, untuk sesaat ia merindukan California tempat ia dilahirkan.
Arghhhh....
Tangan kirinya masih terasa sakit, meski peluru sudah dikeluarkan dari sana. Memang seharusnya ia masih dirawat dirumah sakit, akan tetapi ia bersikeras menolak.
“Mengapa ia tidak membiarkan aku mati saja, apa yang sebenarnya terjadi belakangan ini. Mengapa ia mengatakan hal seperti itu?.., arghhhh..”
Banyak pertanyaan yang menggema dikepala Arnold, dan dia tidak tahu harus ia memulainya dari mana. Angel, dia telah mengkhianati Arnold, hanya itu kesimpulan yang dapat Arnold ambil. Arnold berjalan menuju pintu, mengambil jas yang tergantung disampingnya. Ia memutuskan untuk pergi ke bar, sekedar melepaskan lelah dengan meminum beberapa botol wiski. Arnold duduk didekat konter, dan memesan wiski terbaik disana, suasananya cukup sepi sangat bertolak belakang dengan pesta kemarin malam. Bar Gong, disinilah semuanya berawal.
“Tunggu dulu, bukankah semalam Angel bersama seorang pria. Mungkin itu pentunjuk yang sangat bagus. Gumam Arnold dalam hati.
Bartender telah menuangkan wiski untuknya, dan Arnold meminta untuk membiarkan botolnya tetap disisinya. Ia ingin menuangkan wiskinya sendiri, Arnold memandangi bartender tersebut, name tag nya bertuliskan Fraco. Dan ternyata ia pria yang kemarin, yang juga menuang wiski untuknya.
“Ah, kau masih yang kemarin ya. Bagaimana pestanya?.” Arnold memulai percakapan dengan ragu.
“Iya tuan, lumayan menyibukkan.” Jawaban singkat yang sederhana, sudah dapat diduga oleh Arnold sebelumnya.
“Bagaimana dengan temanku yang duduk didekat toilet disebelah sana, aku lupa memberinya kunci kamar. Apa dia melakukan hal yang bodoh?.” Arnold berlagak seolah mengenal baik pria yang dibicarakannya “Tidak perlu malu, aku akan merahasiakannya. Aku hanya ingin tahu kekonyolan apa lagi yang dibuatnya kali ini.”
Fraco tertawa sendiri, seolah mengerti kejahilan yang akan dibuat oleh Arnold
“ Seorang pria yang duduk didekat toilet, ternyata teman anda. Dia membuat saya cukup jengkel, pria itu minum terlalu banyak dan mabuk berat. Beberapa kali dia muntah disana, Benar-benar menjijikkan. Bahkan ia tertidur pulas setelahnya, dan berlenggang dipagi hari tanpa rasa bersalah.” Nada bicara Fraco menunjukkan kekesalan.
“Ini salahku, maafkan aku ya Fraco. Seharusnya aku memberikan kunci kamar padanya, agar ia tidak menyusahkan kalian. Benar-benar pria yang bodoh, oh ya. Apa kau lihat gadis yang bersamanya semalam?.”
“Aku tidak terlalu memperhatikan, banyak gadis berkeliaran disini.”
“Ah begitu.”
Beberapa pelanggan mulai berdatangan, sehingga menyulitkan Arnold untuk menginterogasi Fraco lebih lanjut. Arnold mengamati sekeliling dengan seksama, kemudian ia melihat kepinggir pintu. Sebuah mantel tergantung dengan rapi, sedikit memori keluar dari kepalanya. Angel, semalam ia memakai mantel itu. Mungkin ia lupa membawanya saat pergi meninggalkan tempat ini, ah tidak kemarin malam ia cukup mabuk. Mungkin dipagi hari ia juga melupakan mantel, karena gugup telah menembak Arnold dengan sengaja.
Binggo....
“Hey, Fraco. Mantel itu milik pacarku kurasa ia lupa membawanya kemarin malam, boleh aku membawanya. Itu mantel kesayangannya.”
__ADS_1
Fraco masih sibuk membuat beberapa minuman, setelah selesai ia mendekati Arnold dengan wajah ramah.
“Ah soal itu, tanyakan pada wanita disebelah sana.”
Arnold tersenyum, dan mengeluarkan beberapa dolar dari balik jasnya.
“Ini, anggap saja uang ganti rugi atas kelakuan bodoh temanku semalam. Sampaikan permintaan maaf ku pada manager dan yang lainnya, saya permisi dulu.”
Arnold menaruh uangnya diatas meja, dan berjalan menuju wanita yang ditunjukkan oleh Fraco. Setelah berdiskusi sebentar Arnold berhasil meluluhkan hati wanita tersebut, dan mengambil mantel yang tergantung dengan bangga. Ia menunduk seolah memberi hormat, dan pergi keluar bar membiarkan wanita yang diajaknya mengobrol memerah karena malu.
Shhhhh..,
Arnold menghirup aroma yang tertinggal dimantel, aroma khas tubuh Angel menyeruak. Memunculkan ide brilian dikepala Arnold, entah mengapa. Ia ingin membeli seekor anjing pelacak untuk mencari keberadaan Angel melalui baunya, sebuah ide yang cukup brilian bukan. Arnold menelpon seseorang, memberi perintah untuk segera mencarikannya anjing pelacak terbaik di London.
Keesokan paginya Begitu Arnold keluar hotel seekor anjing berjenis bloodhound tampak sedang mengibaskan ekornya, telinganya terkulai panjang kebawah, kulit wajahnya terlihat longgar dengan kepak mulut dan leher yang menggelantung, beberapa air liur menetes dari pinggiran bibir anjing tersebut dan ukuran tubuhnya cukup besar dengan bulu cokelat keemasan. Arnold tersenyum senang, ia paham betul kemampuan anjing jenis ini dalam melacak bau.
“Hello buddy, ini enduslah. Jika kau menemukan wanita ini makan aku akan memastikan kau akan hidup dengan layak selamanya.”
Anjing tersebut mengendus perlahan, dan kemudian mengonggong pertanda bahwa ia sudah berhasil menemukannya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, pria yang sedari tadi memegangi tali anjing tersebut pergi menjauh. Meninggalkan Arnold berdua bersama anjing baru miliknya.
“Ayo kita berangkat.”
Seolah mengerti perkataan tuannya anjing tersebut mengonggong, anjing tersebut berjalan mengikuti kemana perginya pemilik aroma tersebut. Beberapa kali tampak bahwa ia sedang menghirup aromanya diudara, dan kembali berjalan menyusuri trotoar. Berbelok ke beberapa gang sempit, hingga tiba disebuah rumah sakit.
“Hey, apa kau bergurau. Ini rumah sakit, mana mungkin gadis itu tinggal disini. Dasar anjing bodoh.”
Arnold sedikit merasa kecewa dengan apa yang ia temui, namun tidak ada pilihan lain selain mengeceknya didalam. Arnold menarik tali anjing tersebut dengan lembut, dan mereka berjalan beriringan memasuki rumah sakit. Barulah tiba di pintu depan ia sudah dihentikan oleh seorang petugas keamanan.
“Mohon maaf tuan anjing dilarang masuk.”
Arnold menatap anjingnya yang menunduk seolah takut ditinggal pergi, kemudian ia berjongkok dan mengelus perlahan kepala anjing tersebut.
“Tidak apa buddy, aku bisa melakukannya sendiri. Tunggu disini dan jadilah anak baik. Aku titip dia, jangan sampai ia lari.”
__ADS_1
Arnold melangkah masuk, ia langsung menuju meja informasi.
“Permisi, apa disini ada seorang pasien atas nama Rose?.”
“Sebentar tuan, akan saya cek..., Mohon maaf tidak ada pasien atas nama Rose, ada hal lain yang bisa kami bantu.”
“Ah, tidak apa mungkin ia tidak berada disini. Terimakasih.”
Arnold melenggang pergi, tidak ada pilihan lain selain mencarinya sendiri dengan berkeliling rumah sakit. Arnold melewati beberapa lorong mengintip setiap kamar yang ia jumpai, ia melihat banyak orang tua dan beberapa pemuda yang sedang dirawat namun tidak ada satupun wanita disana. Arnold mulai naik ke lantai berikutnya, ia kembali mencari namun belum juga mendapatkan hasil.
“Mungkin akan lebih baik jika anjing itu berada disini.”
Arnold yang putus asa memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit, ketika ia hendak keluar anjingnya yang semula berbaring dilantai langsung melompat girang karena bertemu kembali dengan tuannya.
“Hallo lagi buddy, seharusnya kau ikut denganku tadi. Aku kesulitan.” Ujar Arnold sambil mengelus kepala anjingnya
Mereka berjalan kembali menyusuri jalan yang mereka lewati, hingga mereka tiba di depan sebuah apartemen. Dari kejauhan ia melihat seseorang yang tidak asing baginya, seorang pria dengan tubuh tinggi dan kekar memakai kacamata dengan tatapan mata yang khas.
“Astaga, bukankah itu Ricard.” Batin Arnold. “Tak kusangka dia menginap diapartemen tak jauh dari tempat aku menginap, tapi apa yang ia lakukan di London. Dan siapa gadis yang sedang bersamanya.”
Arnold memicingkan mata, berharap dapat melihat sosok wanita tersebut dengan lebih jelas. Namun sayang sebuah mobil melintas dihadapannya, dan mereka berdua telah menghilang dari pintu depan apartemen.
“Pasti mereka sudah masuk, aku harus meminta seseorang untuk menyelidiki mereka.”
Arnold mengambil ponselnya dan menelepon satu-satunya orang yang dapat ia percaya untuk saat ini.
“Hallo David, bisakah kau menolongku?......., Tidak, kau tidak perlu kemari. Apa kau punya kenalan di London yang dapat dipercaya dengan baik?......, Bukan untuk membunuh hanya untuk menjadi detektif...., Baiklah jika kau sudah menghubunginya segera beritahu aku......., Untuk bayaran seperti biasa..... Baiklah aku mengandalkanmu.”
Arnold mematikan ponsel, bernafas dengan berat dan kembali berjalan menuju hotel. Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati, Kamarnya nampak berantakan, tumpukan sampah bekas makanan cepat saji menumpuk didekat pintu dapur, beberapa sepatu yang terlempar entah kemana, ditambah puluhan kaus tergeletak dilantai. Kamar hotel yang semula mewah kini kehilangan daya tariknya, bukan tidak ada petugas hotel yang datang untuk membereskan semuanya, akan tetapi Arnold tidak dapat mempercayai siapa pun. Membuat ia menolak semua layanan kamar yang disediakan dan lebih memilih mengunci pintu rapat-rapat tanpa ada yang diizinkan masuk. Arnold duduk bersandar disebuah sofa yang ia pesan sebagai layanan khusus, barulah matanya hendak terpejam getaran ponsel disaku jasnya membuat ia kembali terjaga.
“Arnold, aku sudah mengirim nomor ponsel pemuda yang bersedia menerima tawaranmu. Kau bisa meneleponnya sekarang.” Suara David dari balik telepon terdengar seperti perintah, biasanya Arnold akan mengerang jika diperlakukan demikian. Akan tetapi tidak ada pilihan lain, ia tak membalas dengan sepatah kata pun dan langsung mematikan ponsel. Kini ia beralih menelepon calon agen yang akan ia perkerjakan.
“Jika kau menginginkan pekerjaan ini temui aku nanti malam di alun-alun kota.”
'Sekarang aku hanya sendirian, Mike. Apa kabarmu sobat, kuharap kau baik-baik saja.’
__ADS_1