B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Tiga puluh Tiga


__ADS_3

Pagi hari dikota London sungguh menenangkan, udara sejuk bertiup terasa hingga ketulang. Tidak ada yang bersedia keluar rumah, bahkan sekedar untuk mengambil koran harian dihalaman mereka. Angel terbangun dari tidur, ia menyadari tubuhnya terasa berat. Ia melihat tangan seorang pria memeluknya dari belakang, ia menoleh dan mendapati Smith lah yang memeluknya. Perlahan ia menurunkan tangan Smith, dan beranjak dari tempat tidur.


Angel berjalan menuju jendela, dan menyibakkan tirai Agar cahaya matahari dapat masuk kedalam. Hampir seluruh kawasan itu tertutupi oleh salju putih yang berkilau di terpa sinar sang Surya, beberapa petugas kebersihan sibuk membersihkan jalanan yang tertutup salju tebal. Angel menyadari ada yang tidak beres dengan perutnya, terasa sakit dan tidak enak yang membuatnya ingin muntah. Angel berusaha mengabaikan hal itu, dan memutuskan untuk mandi.


Air hangat dari shower mengalir dari atas kepalanya menuju sela-sela jari kaki, Angel begitu menikmati setiap tetes air yang mengalir ke tubuhnya. Sambil sesekali menggosok gosok bagian tubuhnya dengan sabun, aroma lavender menyeruak. Begitu harum dan menenangkan, Angel menutup mata sebuah bayangan melintas dipikirkannya. Ia membuka mata dengan cepat, sepertinya terlalu lama bermain air dicuaca dingin dapat berpengaruh terhadap kesehatan. Angel menyudahi mandi, saat ia hendak menggunakan handuk. Suara teriakan histeris membuatnya kaget, dengan cepat Angel memakai jubah mandi, mengikat talinya kesamping, dan pergi menuju pintu guna memastikan apa yang terjadi.


“Mau kemana kau?, Sebaiknya pakai dulu bajumu.” Smith terbangun dan melihat ke arah Angel.


“Ada suara teriakan diluar, akan sangat mencurigakan bila kita tidak ikut keluar untuk melihatnya.”


“Tunggu, biar aku yang keluar lebih dulu.” Smith mengambil baju kaos yang tergeletak dilantai dan memakainya


Smith memutar knop pintu, saat mereka keluar ternyata banyak para penghuni apartemen yang ikut keluar untuk melihat. Smith ogah untuk ikut berkerumun, ia memutuskan untuk bertanya pada salah satu orang yang lewat.


“Permisi, Tuan apa yang sedang terjadi.?”


“Terjadi pembunuhan dilantai atas, satu keluarga tertembak. Seorang pria tewas, sementara wanita dan seorang anak kecil ditemukan sekarat, para polisi sedang mengevakuasi korban Dan membawa mereka menuju rumah sakit.” Ujar salah seorang penghuni apartemen.


“Oh.., anak yang malang.” Angel menunjukkan wajah sedih seperti akan menangis.


“Sudahlah sayang.” Ujar Smith sambil menepuk lembut pundak Angel.


“Terima kasih atas informasinya tuan.”


Pria tersebut mengangguk dan pergi menuju tempat kerumunan.


“Sayang, ayo kita masuk.”


Smith menutup pintu, sebuah senyuman merekah di bibirnya.


“Akting yang bagus Aqila, seharusnya kau sudah menjadi artis sekarang.”


Angel hanya tersenyum menanggapi perkataan Smith. Namun hatinya terasa hancur, ia berharap wanita dan anak tersebut selamat.


“Apa yang akan kita lakukan sekarang?.” Ujar Angel dengan nada datar.

__ADS_1


“Begitu jalanan sudah bisa dilewati kita akan pergi ke hotel Shangri la, ada jamuan pesta yang sedang diadakan disana.”


“Hanya itu?.”


“Dan kabar baiknya, target kita selanjutnya akan ikut dalam jamuan tersebut, sayangnya aku tidak bisa ikut. Kau dan James yang akan pergi, ini data mengenai target kita.” Ujar Smith sambil menyerahkan iPad yang berisi data target.


“Oh ya Aqila, seharusnya kau berdandan dengan cantik. Pilih baju yang kau suka, dan aku akan mengantarmu ke salon.”


Angel menyeringai, memilih gaun secara acak dan mengenakannya.


“Baiklah, aku sudah siap.”


Saat Angel keluar dari kamar mandi, ia mendapati Smith sudah siap dengan setelan kemeja putih dan tuxedo berwarna hitam. Smith mengencangkan dasi, dan menatap Angel dengan kagum.


“Diluar sangat dingin, jangan lupa kenakan mantelnya.”


Angel mengangguk, segera mengenakan mantel dan tak lupa memakai sarung tangan. James sudah berada di mobil terlebih dahulu, namun kali ini bukan dia yang mengemudikan mobil. Angel duduk di kursi belakang terkesima melihat James dengan setelan tuxedo putih, sebuah jam tangan rolex melingkar di lengan James membuatnya terlihat seperti orang penting. Sementara Smith duduk di kursi kemudi, ia memakai topi yang membuatnya terlihat seperti seorang sopir.


“Baiklah, Tuan dan nyonya. Kita akan pergi ke salon terlebih dahulu, agar nyonya terlihat makin menawan.” Ujar Smith sambil melihat melalui spion depan.


Smith mengemudi melewati jalan tol sebelum berbelok ke jalan Abbey, jalanan yang licin membuat Smith harus mengemudikan mobil secara perlahan. Deretan bangunan diseberang jalan terlihat sangan indah dengan salju yang menutupi atap bangunan dan halaman, akhirnya setelah sebelas menit perjalan mereka tiba di Elizabeth Hsieh Makeup Artist , berada tak jauh dari pasar yang berada di jalan maltbey.


“Nyonya, Kita sudah sampai. Sebaiknya kalian segera turun, waktu kita tidak banyak.” Ujar Smith.


“Kau saja yang turun, aku menunggu dimobil.” James memalingkan muka dan membaca sebuah majalah yang terdapat didalam mobil.


Smith turun dari mobil, membukakan pintu mobil untuk Angel dan membungkuk dengan tangan menadah. Seperti pose ketika seorang pria hendak memulai dansa.


“Well, come on miss Aqila. Aku berjanji akan membuatmu menjadi bidadari malam ini.”


“Sorry, aku bisa sendiri.” Angel turun dari mobil dan mengacuhkan Smith.


Angel menatap gedung tersebut, tak nampak seperti sebuah salon, melainkan seperti gedung apartemen murah yang terselip disebuah gang sempit. Pintunya terbuat dari kaca, begitu mereka masuk sebuah tangga langsung menyambut kehadiran mereka. Angel merasa bingung dan beralih menatap Smith, Smith menaiki satu persatu anak tangga tanpa banyak bicara. Angel mengikuti Smith hingga mereka tiba dilantai satu, seorang wanita langsung menyambut mereka dengan baik dan ramah. Smith dan wanita itu bersalaman, tanpa basa basi mereka langsung diantar kedalam ruangan. Wanita tersebut undur diri, membiarkan mereka duduk di kursi yang telah disediakan.


Ruangan tersebut cukup luas, banyak gaun pengantin dipajang dipatung adapula yang digantung berjejer dengan rapi disudut kanan ruangan. Sebuah kursi yang dapat diatur berhadapan dengan meja rias yang dipinggiran kacanya terdapat lampu, sebuah kotak makeup besar yang lengkap, berbagai peralatan penata rambut berada diatas meja rias dan berbagai pernak-pernik seperti kalung, gelang, cincin dan sebagainya disusun rapi diatas patung leher dan tangan, tepat disamping meja rias.

__ADS_1


Seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahunan datang menghampiri mereka. “Ada yang bisa kubantu tuan?.”


“Ya, perkenalkan ini Aqila sahabatku. Kami ingin pergi kepesta, bisakah kau ubah penampilannya sayang.”


“Oh.., Aqila. Senang berkenalan, namaku Elizabeth kau bisa memanggilku Eliza.” Eliza dan Angel bersalaman, kemudian Eliza menarik tangannya seraya berkata. “Kemarilah sayang, duduk disini. Biarkan Eliza yang menghiasimu.”


Angel menurut, ia duduk dikursi dan membiarkan Eliza mendandaninya tanpa perlawanan.


“Kami hanya punya waktu setengah jam, dia harus benar-benar berubah. Kalau tidak, kau pasti tahu apa yang akan kulakukan.” Smith berbicara dengan nada mengancam.


Eliza menelan ludah, ia bukan penata rias sembarangan. Ia sudah profesional, banyak model terkenal yang sudah didandaninya dengan baik. Eliza memulai dengan membersihkan wajah Angel, memakaikannya pelembab, pondation, membentuk tulang pipi, hidung dan dagu menggunakan teknik countur, dan menutupinya dengan bedak. Mengukir alisnya sedikit menukik keatas menggunakan alis berwarna hitam, memakaikan eyeshadow dengan kolaborasi warna coklat nude dan hitam, bulu mata palsu, maskara dan eyeliner. Dan terakhir blush on berwarna peach dan mengoleskan lipstik merah maroon. Rambut Angel yang lurus dan panjang di blow, sehingga menimbulkan efek bergelombang yang indah.


“Selesai, huh... Ternyata masih tersisa dua menit, sebaiknya aku memakaikanmu sedikit parfum terbaikku.” Eliza menyemprotkan parfum beraroma khas yang belum pernah dicium oleh Angel.


“Bravo.., kerja bagus Eliza. Ini cekmu, dan rahasiakan ini dari siapa pun.” Smith memberikan cek kepada Eliza.


“Terima kasih tuan, tenang saja. Kau bisa mempercayaiku “


Smith dan Angel keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke mobil, sesampainya di mobil James hanya diam tanpa melihat perubahan yang terjadi pada Angel ia hanya berkata dengan nada datar.


“Smith, apa ada tempat lagi yang akan kita kunjungi?.”


“Kurasa tidak, kita akan langsung pergi ke hotel Shangri la. Tenang saja jaraknya hanya beberapa menit dari sini.”


Smith menyalakan mobil, menginjak pedal gas dan pergi meninggalkan tempat itu. Di perjalanan Smith sesekali mencuri pandang menatap Angel dari spion depan, Angel menyadari hal itu hanya memalingkan wajah kearah jalan. Empat belas menit berlalu, Sebuah gedung berbentuk kerucut yang menjulang tinggi menyambut mereka dari kejauhan. Setiap kaca dibangunan itu berembun, dan pinggiran trotoarnya dipenuhi oleh salju. Angel dan James turun dari mobil, Smith pergi begitu mereka menginjakkan kaki diatas karpet merah menuju pintu depan. Resepsionis hotel dan pegawai lainnya sangat ramah, salah satu pegawai dengan senang hati mengantarkan mereka menuju bar yang terdapat dilantai lima puluh dua tempat pesta diadakan. Saat berjalan Angel menggandeng tangan James, berlagak seolah mereka adalah pasangan suami istri yang membuat James merasa jijik.


“Bisakah untuk tidak bersikap berlebihan, jangan menyentuhku seperti ini.” Bisik James.


“Jika kau pikir aku bersedia, anda salah tuan. Aku hanya sedang berakting, bila kita sudah tiba diatas aku tidak akan menyentuhmu lagi.” Balas Angel dengan ketus.


“Mari tuan dan nyonya, akan kutunjukkan tempatnya.” Seorang pemuda pegawai hotel mengantar mereka menaiki lift menuju lantai lima puluh dua.


Selama didalam lift mereka hanya diam tanpa suara.


Ting.....

__ADS_1


Lift perlahan membuka, dan mereka pun sampai.


__ADS_2