B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Lima puluh Dua


__ADS_3

Mereka masih berada di Jane Cafe, hampir setengah jam mereka diam dan termenung memikirkan cara terbaik untuk menemukan dalang dibalik kekacauan yang dialami. Sayang sekali, tidak ada satu pun ide yang muncul dibenak mereka. Sementara yang lain mencari cara ternyata Angel justru memikirkan hal lain, ia merasa perlu mengetahui situasinya lebih lanjut jadi ia bertanya kepada Arnold tentang pembunuhan yang mereka bahas sewaktu berada dirumah pohon.


Angel menyeruput teh dan memulai pertanyaan. “Tuan Arnold, apa yang sudah kalian ketahui tentang si pembunuh sejak kalian mulai mencari?.”


Ricard dan Louis sedikit kaget, pertanyaan spontan yang bahkan tidak ada hubungannya dengan Kasus yang akan mereka hadapi pikir mereka.


"Wilayah berburunya luas. Dari semua pembunuh yang sudah kami lacak, yang pertama dan kedua di Nevada, yang ketiga di Oregon, yang empat lagi di Arizona. Yang terakhir itu sahabat sekaligus kakak iparku," Arnold tidak akan melupakan bau darah tak berdosa yang seperti perunggu, kegelapan yang memercik ke dinding dan simbol-simbol aneh disecarik kertas


"Dia meninggalkan jenazah-jenazahnya untuk ditemukan?" Angel kembali bertanya.


Arnold duduk tegak, menyilangkan lengan di dada salah satu tangan mencengkeram pergelangan tangan lainnya dengan erat. "******** itu menculik mereka, menyiksa mereka, lalu mengembalikan mereka ke tempat-tempat yang semestinya aman."


"Aku tidak mengerti." Suara Louis terdengar semakin dekat seolah ia mengikuti Arnold dengan mencondongkan badannya ke depan.


Menoleh, Arnold menatap mata Louis.


“Dia melayangkan serangan mematikannya di suatu tempat yang familiar bagi para korbannya. Leher Matthew digorok di hotel tempat ia biasa menginap."


Arnold beralih memandang Angel, Kegelapan menyelimuti mata Angel, menghancurkan bintang-bintang dan hampir berhasil membuat Arnold melupakan amarahnya saking kagetnya. Tatapan yang mengerikan, anehnya Arnold justru melihat kesedihan disana.


“Pembunuhnya sangat percaya diri.” Kata Angel, mengembalikan Arnold dari simpati kepada amarah.


“Dari ketujuh Anggota ku yang dibunuh,” Arnold melanjutkan,


“Yang seorang tewas dirumahnya, seorang ditempat ia bertugas, seorang dimakan keluarganya.” Amarah terhadap kematian yang tak berdasar melanda Arnold. “Yang empat lagi mengikuti pola yang sama, kami tidak pernah menyinggung atau mengusik siapapun. Kami hanya menjual barang dan jasa, tanpa menyakiti apa lagi membunuh orang lain itu sebabnya aku sangat kesal bahkan sekalipun kami tidak pernah menipu.”


Angel kembali menyeruput teh, Ricard mendengarkan dengan seksama dan Louis diam-diam menaruh simpati kepada Arnold.


“Mengapa kalian tidak berbuat apa-apa, kenapa baru sekarang?.” Ricard mulai mengeluarkan pendapat.


“Beberapa alasan, yang paling penting adalah bahwa kejahatan ini ditutupi sedemikian rupa, sehingga tidak ada seorang pun yang tahu kalau ini pembunuh berantai sebelum kami menyelidikinya.”


“Alasan lainnya?.” Ketus Angel.


“Kombinasi dari pilihan korban dan kepatuhan polisi, orang pertama memang bagian dari anggota kami tetapi ia berhenti karena orang tuanya mengetahui hal itu, ketika ia ditemukan tewas orang tuanya mendatangi pihak berwenang, tapi tidak mendapatkan hasil.” Arnold tahu persis mengapa.


“Yang kedua dan ketiga berasal dari anggota terbaik sebagai kurir, namun polisi langsung menarik kesimpulan dan menyatakan bahwa mereka tewas karena kecelakaan. Pembunuhan Yang keempat dinyatakan sebagai ulah seorang buronan dan sudah dijatuhi hukuman, akan tetapi kasusnya tidak berada dalam yurisdiksi polisi dan di tutup.”


Arnold minum sejenak.


“Lalu?.” Ujar Louis penasaran.


“Yang kelima dan ketujuh merupakan orang yang tertutup, mereka pria dengan kelainan seksual. Mereka memang anggota terbaik dalam urusan penyediaan barang, tapi seperti kataku mereka penyendiri tanpa keluarga ataupun teman. Jadi ketika mereka menghilang tidak ada yang menyadarinya sampai aku sendiri lupa bahwa mereka adalah Anggotaku. Korban yang keenam tewas pada waktu yang bersamaan dengan pembunuhan brutal oleh Seorang mantan perwira yang berkeliaran di wilayahnya, jadi polisi menduga ia juga tewas karena hal itu, namun setelah kami selediki, tidak diragukan lagi pelakunya adalah predator yang sama.”


“Lalu ada Matthew.” Ujar Angel.


“Itu adalah kesalahan terbesarnya.” Arnold merasakan emosinya mulai naik, seolah iblis didalam jiwanya meronta-ronta.

__ADS_1


“Begitu kami menemukan polanya dan menemukan kasus lain yang mulai terlupakan, kami mulai berburu. Kami juga sudah meminta anggota lainnya untuk tetap dalam kondisi siaga, meski sekarang terjadi hal diluar dugaan tak ada satupun yang dapat dipercaya selain tiga rekan pilihanku, dan rekan lamaku dari luar negeri.”


Semuanya terdiam, Angel tidak tahu harus mengatakan apa, Arnold memutar badannya hingga menghadap Angel. “BLOOD, entah mengapa seseorang menuntun kami kepada kalian.”


“Mengapa kalian yakin kalau pelakunya adalah Blood?.” Ricard memukul meja, Louis mencoba menenangkan Ricard.


“Awalnya Begitu, aku mencurigai kalian. Akan tetapi Rose menghancurkan keyakinanku, justru aku merasa kalian juga korbannya.”


“Sekarang, ceritakan mengenai kematian Agen kita. Apakah memiliki kesamaan antara pembunuhan yang dialami agen kita?.” Angel mengalihkan pembicaraan.


“Tidak, mereka semua diculik sebelum akhirnya dibuang dengan kondisi mengenaskan. Mereka juga tidak mengalami luka tembak, hanya sayatan dalam jumlah yang banyak.” Louis menjelaskan.


“Aku tidak bilang mereka ditembak bukan?, Justru polanya sama. Dan kematiannya yang disebabkan oleh jumlah sayatan yang banyak, membuat korban kehabisan darah dan tersiksa sebelum akhirnya meninggal. Mereka semua tewas dengan cara yang sama, hanya Matthew yang tidak mengalami hal demikian. Meski pada akhirnya ia tewas karena kehabisan darah.” Arnold menyela.


Angel sedang berusaha menarik kesimpulan, jadi ia kembali bertanya.


“Bagaimana kondisi Matthew bisa berbeda?.”


“Aku sedang bersama Mike saat firasatnya berkata bahwa ada sesuatu yang tidak beres, kami pasti tiba di hotel tak lama setelah sang pembunuh beraksi.” Yang Arnold lihat di sana sudah cukup untuk membuatnya percaya bahwa iblis adalah makhluk hidup yang bernafas.


“Smith, semua ini adalah ulahnya. Arnold apa kau ingat bagaimana kondisi James saat kita menyelamatkan nyawanya?.” Arnold mengangguk tanda mengerti. “Penuh dengan luka sayatan, bahkan ia hampir tewas karena kehabisan darah jika kita tidak tepat waktu.” Sambung Angel.


“Siapa Smith?.” Ricard menatap bingung.


“Pemimpin organisasi Death knell.” Ujar Arnold


“Bukankah Jonathan pemimpin mereka?, Aku baru tahu jika mereka berganti pemimpin.” Ricard meminum kopinya yang mulai dingin.


“Bagaimana kalau kita mulai dengan menyelinap ke gedung Blood?, Tuan Arnold. Meski kau bilang banyak pembelot diorganisasi Dark River, akan tetapi para pendukung Dark river di gedung kami hanya mengetahui bahwa kaulah pemimpin Dark River .” Louis mencondongkan tubuhnya kearah Arnold.


“Apa benar kami sudah menguasai Blood?, Aku tidak pernah tahu dan sejujurnya aku tidak yakin. Tapi baiklah aku akan menemui Nelson disana, semoga aku bisa mendapat penjelasan.”


“Aku ikut.” Angel mengatakan dengan spontan.


“Well, berhati-hatilah.”


Arnold mengambil kunci mobil dan pergi meninggalkan kafe, Angel mengiringi dari belakang. Ricard melihat kedekatan Arnold dan Angel entah mengapa ia sedikit merasa kurang nyaman, rupanya Louis menyadari hal tersebut dan melempar pertanyaan spontan.


"Kau cemburu?."


"Tidak, aku hanya khawatir. Angel belum pernah mengenal orang luar selain kita, dia wanita yang mudah percaya pada siapapun. aku khawatir bagaimana kalau ini hanyalah strategi Arnold, berpura-pura menjadi korban padahal semua ini adalah idenya."


"Kau mungkin ada benarnya, tetapi aku tidak melihat kebohongan dimatanya. Ia benar-benar marah dengan pembunuhan itu, ia terluka sama seperti kita, sama seperti saat kau menyaksikan kematian ayahmu."


"Ya, kematian ayahku tidak akan ku maafkan. Siapapun pelakunya, akan kuhabisi dia."


Louis menegak ludah, ia bisa melihat amarah dan kengerian yang terpancar dari tatapan Ricard. Arnold tidak berbohong, justru Louis lah yang berbohong. Louis menyimpan sebuah kebenaran yang hanya disimpan olehnya, dan karena itu Louis takut.

__ADS_1


Bagaimana jika semuanya terungkap?


Bagaimana jika Mereka tahu yang sebenarnya?


Apa yang bisa mereka perbuat?


Akankah semuanya akan kembali seperti sediakala?


Louis bingung, ribuan pertanyaan muncul dibenaknya. Seandainya kontrak itu tidak dibuat, seandainya mereka hanya melakukan tugas seperti biasanya, seandainya Angel tidak pernah terlibat. Semuanya tidak akan terjadi, tidak ada kerumitan, tidak ada malapetaka, tidak ada kehancuran, tidak ada ketakutan dan tidak akan ada yang terluka diantara mereka. Pikiran Louis melayang, bahkan membuat ia tidak menyadari apa yang terjadi disekitarnya.


Dorrrr.....


Louis....


"Louisss...., cepatlahhh."


Semua pengunjung panik, mereka berteriak panik dan tidak ada pilihan selain bersembunyi di bawah meja. Louis tersadar, ia melihat sekeliling, situasinya sudah kacau dan Ricard sedang memeluk untuk melindunginya. Ricard mengajak Louis untuk ikut menunduk, Louis mulai menyadari hal yang sedang terjadi dan memahami kode kode yang diberikan oleh Ricard.


Dua orang pria bertubuh besar, dan salah seorang dari mereka bertubuh kecil dengan membawa pistol berdiri didepan pintu, salah seorang dari mereka berteriak.


"Ini perampokan, jangan ada yang melawan dan serahkan semua harta benda kalian."


'Cih.' Ricard membelakangi para perampok tersebut dan mengeluarkan pistol yang ia sembunyikan dibalik jaket.


"Apa yang kau lakukan cepat berdiri."


Ricard berdiri, ia berbalik dan....


Dorrrr....


Dorrrr..


Dorrr...


Louis ikut bangkit dan menyerang pria lainnya, gerakan yang cepat dan efektif. ia menendang ************, meninju wajah dan memukul bagian belakang pria itu dengan sikunya. seseorang yang bertubuh lebih kecil berjalan mundur, Louis tidak membiarkan ia kabur ia mendorong hingga tubuh lawan menabrak tembok. Louis menarik masker yang menutupi wajah lawan.


"Ternyata kau seorang wanita, heh... sialan. sebaiknya kau cari pekerjaan yang lebih sesuai dengan wajah cantikmu." Ricard mendekat dan memandang wajah wanita dihadapannya.


Louis dan Ricard beranjak pergi, sementara beberapa pengunjung tercengang melihat kejadian tersebut. Salah seorang pengunjung menelepon polisi , namun ada salah seorang dari mereka yang menelepon orang lain.


"Halo tuan mereka sudah pergi, melihat dari caranya berkelahi dia bukan wanita yang bersama Ricard di London."


seseorang dari dalam mobil melihat Ricard dan Louis dari kejauhan.


"Apa wanita kalian berhasil mendapatkan scan retina mata Ricard..., kerja bagus..., kita membutuhkannya untuk mengakses data di gedung Blood."


Salah seorang pengunjung mendekati wanita yang menjadi tersangka perampokan dan mengambil sesuatu dari balik kerah baju wanita itu.

__ADS_1


"Sayang sekali wanita secantik dirimu harus membusuk di penjara."


tak lama berselang, polisi datang dan mengamankan tempat kejadian.


__ADS_2