
Kini semua sudah tersedia, Ricard yang mendapat giliran pertama untuk di make-up. Arnold tetap mengemudikan mobil dengan alasan efisiensi waktu, di dalam mobil Ricard mengganti pakaian, tentu saja Ricard meminta Angel dan Louis untuk menutup mata agar privasinya tetap terjaga.
Setelah berganti pakaian Angel dengan sigap mendandani Ricard, ia mengoleskan foundation dan menambahkan kulit sintetis dibeberapa bagian wajah, mengubah bentuk hidung dan mengukir ulang alis Ricard. Ia juga menambahkan beberapa kerutan, membuat Ricard terlihat sedikit lebih tua dari usianya.
Louis menjadi asisten Angel, dengan sigap ia memberikan apapun yang Angel minta. Sambil memperhatikan gerakan lembut dari tangan Angel, ini adalah pertama kalinya Louis melihat Angel bermain dengan alat make-up sehingga ia meragukan hasilnya.
“Viola.., selesai. Bagaimana menurut kalian?”
“Waw.” Louis berdecak kagum
“Boleh aku melihat wajahku?”
Angel mengambil kaca dan memberikan kepada Ricard. “ini.”
“Waw, luar biasa. Aku bahkan tak mengenali diriku sendiri.” Ricard melihat wajahnya dari setiap sisi, kini ia tampak berbeda. Ia terlihat seperti pria berumur empat puluhan, padahal umurnya tidak setua itu.
“Sekarang berhenti sejenak, giliran Arnold yang didandani.”
Arnold menepi ke pinggir jalan, ia turun dan pindah ke belakang. Sementara Ricard mengambil alih kemudi, Ricard menyalakan mesin dan mulai melaju. Louis baru ingin meminta Arnold berganti pakaian akan tetapi ia sudah membuka pakaiannya lebih dulu, tubuhnya yang kekar dan sixpack membuat Louis terkagum-kagum. Angel sama kagumnya dengan Louis tapi ia tak ingin menunjukkannya, Angel tetap memasang muka datar tanpa ekspresi.
“Ini benar-benar tubuh seorang laki-laki, luar biasa tidak sepertimu Ricard.” Terdengar nada mengejek dari kata-kata Louis yang membuat Ricard tersinggung.
“Tubuhku jauh lebih bagus darinya, hanya saja aku tak ingin kalian melihatnya.” Ujar Ricard sambil sesekali melirik spion, sejujurnya ia merasa minder sekaligus kagum dengan Arnold yang tak hanya tampan tapi memiliki tubuh yang begitu proposional.
“Kau hanya mencari alasan.”
Kini giliran Angel yang mendandani Arnold, ia sedikit gemetar saat menyentuh wajah Arnold. Namun ia berusaha bersikap profesional, dan menghiraukan semua yang ada di pikirannya. Angel tak banyak merombak wajah Arnold, ia hanya menambahkan beberapa kerutan dan menyuruh Arnold untuk memakai lensa berwarna cokelat. Karena Angel sadar, sangat mudah mengenali Arnold hanya dari sorot matanya yang tajam dan warna matanya yang sebiru lautan.
“Selesai.”
“Cepat sekali.” Ketus Ricard
“Hey, kenapa ia terlihat jauh lebih muda daripada aku. Padahal secara garis besar, ia jauh lebih tua dariku.”
“Karena ia memang tampan, jadi bagaimanapun juga ia tidak akan terlihat tua.” Ujar Louis mengejek Ricard.
Angel tersenyum, ia tidak pernah melihat Louis dan Ricard berlaku demikian. Selama ini mereka selalu tampil dengan sempurna dan penuh wibawa, namun sekarang mereka justru lebih mirip seperti anak kecil yang baru merajak dewasa.
“Angel, kau memperlakukan ku dengan tidak adil.” Ricard cemberut sambil tetap fokus menatap jalanan
__ADS_1
“Bisa kita menepi sejenak, kurasa kami juga perlu mengganti kostum.”
“Lou, kau menyuruh kami untuk mengganti pakaian dengan kondisi mobil yang harus tetap berjalan guna efisiensi waktu. Kenapa kalian tidak melakukan hal itu juga? Kenapa harus menepi?”
“Kalian harus turun dari mobil, karena kami para wanita akan mengganti pakaian.”
“Ah, ini tidak adil. Kami para pria mengganti pakaian di hadapan kalian, sementara kalian menyuruh kami turun dari mobil.”
“Lakukan saja bung” Arnold menyela ucapan Ricard.
Ricard dan Arnold turun dari mobil sementara Louis dan Angel mengganti pakaian mereka, setelah selesai Louis menurunkan kaca mobil, menyuruh mereka kembali masuk dan melanjutkan perjalanan.
Angel membuat Louis tampak seperti wanita Eropa, sementara Angel mendandani dirinya sendiri seperti wanita india. Yah, Angel menyadari wajahnya yang cenderung lebih mirip orang Asia ketimbang Amerika. Jadi ia merasa, dandanan khas wanita India akan sangat cocok dengan kulitnya yang berwarna madu.
“Kalian tampak cantik, terutama kau rose.” Pujian dari Arnold membuat Angel tersipu.
“Hey, Louis juga tampak anggun. Dia mirip sekali dengan ratu Elizabeth.” Tentu saja Ricard serius dengan perkataannya, namun Louis menanggapinya dengan berbeda.
“Kau sedang mengejek atau memuji?”
“Ya, aku berkata jujur. Apa itu salah?”
“Apa katamu? Kau ternyata lebih mirip nenek sihir ketimbang seorang ratu.” Ucap Ricard kesal.
“Bisakah kalian berhenti bertengkar?, Sejak kita berada di Sacramento kalian selalu saja meributkan hal-hal kecil.”
Louis dan Ricard terdiam, Ricard memilih untuk membaca buku sementara Louis memanyunkan bibirnya. Arnold menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua orang tersebut.
Suasana menjadi hening, dan matahari mulai terbenam. Louis tampak kelelahan, sesekali ia hampir terjatuh karena menahan kantuk. Melihat hal tersebut Arnold merasa kasihan dan membuat keputusan sendiri.
“Hari mulai gelap, kita akan mencari penginapan. Selain itu, kita juga hampir kehabisan bahan bakar.”
“Kau benar, sepertinya beberapa dari kita mulai kelelahan.” Ricard setuju dengan keputusan Arnold.
“Tidak bisa, kita akan tetap melanjutkan perjalanan. Lagi pula kita bisa menyetir secara bergantian.” Ujar Louis
“Kurasa itu ide yang bagus, kita juga butuh obat-obatan untuk mengobati kaki Louis jika tidak akan semakin bertambah buruk.” Angel juga setuju dengan keputusan Arnold.
“Kau terluka? Kukira hanya lenganmu” Ricard mulai menunjukkan sikap lembut.
__ADS_1
“Hanya bengkak, tidak begitu parah hanya perlu di kompres.” Louis mengelak, padahal kakinya yang terluka membuatnya sedikit tersiksa.
“Baiklah, kalau aku tidak salah di persimpangan berikutnya terdapat penginapan. Meski aku tak yakin penginapan macam apa, namun setidaknya kita bisa beristirahat.”
Ternyata Arnold benar, terdapat sebuah penginapan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Mungkin karena letaknya yang kurang strategis, dan jarang dikunjungi oleh para pelancong.
“Kuharap bagian dalam tidak seburuk bagian luarnya.”
Louis berjalan dengan sedikit pincang, membuatnya harus dipapah oleh Angel. Ternyata di samping penginapan tersebut terdapat bar yang juga sepi pengunjung.
“Ada yang bisa kami bantu tuan?”
“Pesan dua kamar untuk empat orang.”
“Baiklah, ini kuncinya.”
Arnold memberikan salah satu kuncinya kepada Angel, kamar mereka bersebelahan terletak di sebelah Utara lobi penginapan. Angel membuka pintu, ternyata kamar tersebut kurang terawat, kasurnya sudah kempes di beberapa bagian dan terdapat sarang laba-laba di langit-langit kamar.
“Benar benar buruk, wajar saja harganya sangat murah “ Keluh Louis.
Angel hanya diam, ia membantu Louis duduk dan memeriksa kakinya.
“Bengkaknya cukup parah, aku akan ke lobi meminta obat-obatan dan juga air hangat. Kau berbaringlah dan jangan kemana-mana.”
Selang beberapa menit Angel kembali dengan membawa kompres dan beberapa obat pereda rasa sakit, ia kembali memeriksa kaki Louis dan mengompresnya.
“Sepertinya kaki mu terkilir karena terjepit badan mobil, untung saja hanya cidera ringan.”
“Kau melihat beritanya?”
“Tentu saja, mobilmu rusak parah. Aku khawatir kau terluka parah atau lebih buruk dari itu.”
Angel memberikan obat kepada Louis , Louis tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
“Tidurlah, semoga besok kondisimu jauh lebih baik.”
“Kau memang sahabat terbaikku, selamat malam Rose.”
Angel tersenyum dan berbaring di samping Louis, Louis tertidur karena efek samping dari obat yang ia minum. Sementara Angel tetap terjaga.
__ADS_1