
"Penerimanya datang dari sana," katanya sambil menunjuk ke gedung persegi putih besar, dengan logo-logo retailer besar terpampang depannya. Parkiran luas di antara mereka dan gedung besar itu mulai dengan mobil-mobil yang parkir: para pembelanja pagi hari.
"Mereka ada di dalam gedung itu," kata Abel menunjuk ke arah gedung tersebut.
Faith juga mendeteksinya, transaksinya baru sekitar dua puluh menit yang lalu artinya kemungkinan besar mereka masih berada di tempat tersebut.
(Dua puluh menit sebelumnya)
"Ya Tuhan." Ricard menggeleng tidak percaya. Dia menatap sekeliling minimarket, lalu mengulurkan tangannya ke bagian makanan beku dan mengambil bungkusan berisi tiga Paha Ayam Siap goreng dan Panggang ala koki terkenal yang dibungkus sampai menciut. "Ini sungguhan? Makanan sungguhan?"
Angel mengangguk. "Itu? Paha ayam sungguhan? Uh-huh." "Berasal dari yang dulunya ayam hidup sungguhan?" "Tentu saja."
"Ada banyak sekali!" Ricard menggeleng lagi. "Makanan beku ini begitu banyak macamnya!"
“Berhenti terlihat seperti orang bodoh, kau ini manusia gua atau semacamnya. Bahkan makanan beku saja membuatmu heboh.” Louis mulai mengejek Ricard.
“Aku selalu mendedikasikan hidupku untuk organisasi ayahku, dan aku tidak terlalu memperhatikan sekeliling.” Ricard berusaha membela diri.
“Inilah yang terjadi, jika semua kebutuhan dasar hidupmu di atur oleh orang lain. Bahkan jenis makanan beku saja kau tidak tahu, memalukan.”
"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan.” Arnold mengambil paha ayam itu dari Ricard dan menjatuhkannya ke troli belanja. "Harus dimanfaatkan sebaik mungkin, kan?"
“Untuk apa membeli makanan beku? Kita tidak punya kulkas di mobil.”
Angel benar, mereka hanya menaiki sebuah Van tua yang penuh dengan kantung berisi sampah.
“Mungkin kita bisa memasaknya nanti.” Ujar Arnold.
“Jangan konyol.” Angel mengembalikan semua makanan beku yang diambil oleh Ricard, dan mengusulkan agar mereka membeli sejenis ransum atau makanan kalengan dan beberapa air mineral saja.
“Aku sependapat dengan Angel.” Ujar Louis.
Angel dan Louis berjalan menuju tempat makanan kaleng dan minuman kemasan, sementara Ricard dan Arnold saling menatap satu sama lain dengan tatapan kecewa.
"Lewat sini." Angel dan Louis memimpin di depan troli. Arnold dan Ricard mendorong troli dengan patuh.
“Seperti sedang menemani ibu belanja.” Keluh Ricard, Arnold tersenyum simpul.
“Sebaiknya Kita berpencar agar lebih efektif.” Ujar Louis
“Baiklah.”
__ADS_1
Mereka pun berpencar, Louis pergi bersama Ricard dan Angel pergi bersama Arnold
"Ya Tuhan!" Suara Ricard bergema dari lorong sebelah. Sesaat kemudian dia muncul di ujung lorong makanan beku sambil menatap membawa sesuatu di telapak tangannya. Louis melambai memintanya mendekat.
"Ada apa, Ricard?"
Dia bergegas datang dan menjulurkan tangannya. "Apa boleh kita membeli ini?"
Louis menggelengkan kepala, Ricard tampak seperti anak kecil.
Arnold meletakkan lebih banyak kotak-kotak Coco Pops ke dalam troli. Angel menatap kotak-kotak itu.
"Kau sudah punya lima kotak Coco Pops."
"Iya, tapi, kan, lebih baik cari aman daripada menyesal." Dia menyikut lengan Angel. "Lagi pula, kau juga suka."
"Mereka bisa diterima oleh sistem pencernaanku."
“Ah sungguh? Oh, ayolah .. mengaku saja, kau benar-benar suka Coco Pops. Aku pernah melihatmu melahapnya."
"Kandungan protein mereka rendah. Aku membutuhkan Pops untuk menyokong tubuhku."
"Susu itu komponen makanan yang lebih berguna dibanding Coco Pops."
Arnold mengangkat bahu sambil berlalu. "Ah, ya." Dia mengamati kotak sereal lain yang berjajar di lorong. "Hei lihat, Rose. Kau bahkan bisa makan Coco Pops dengan bentuk beruang Teddy merah muda." Dia mengambil korak sereal itu dan mengamati dari dekat desain yang terlalu berwarna warni. "Menurutmu beruang Teddy kecil ini dibuat dari apa?”
Angel membersut tidak setuju. “Kemungkinan bukan dari apa pun yang bernutrisi.”
"Mungkin bukan, tapi kelihatannya menyenangkan." Arnold menjatuh kan kotak sereal itu ke dalam troli. Dia tersenyum pada Rose. "Kau ingat menyenangkan itu kan?"
“Apa?” Angel menyeringai. "Aku bisa memberikan definisi dan beberapa ribu referensi budaya terhadap kata itu termasuk-"
"Lupakan saja."
Arnold berlalu begitu saja melewati Angel, meninggalkan Angel yang berdiri mematung menatap kotak-kotak sereal yang ada di depannya. Angel bahkan bisa mengingat pertama kalinya ia mencicipi sereal coklat tersebut di rumah Jessi, sejak saat itu ia sangat menyukainya. Tanpa sadar, Angel tersenyum.
“Hey, apa kau mau Coco pops nya lagi?”
“Tidak, terima kasih.”
“Kalau begitu ayo, jangan hanya berdiri disana. Kita bayar dulu barang-barang ini, lalu kita bisa mencari kopi atau semacamnya.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan Ricard dan Lou?”
“Aku yakin mereka bisa mengatasi hal ini, lagi pula mereka bukan anak kecil.” Arnold merangkul pundak Angel dan menuntunnya menuju kasir.
Ini adalah pertama kalinya Arnold bersikap benar-benar santai dan hangat kepada Angel, Angel bisa merasakan hal tersebut dengan baik.
“Hey, bukankah terlalu banyak strawberry yang kau ambil?” Louis mengeluarkan beberapa pack stawberry yang baru saja di masukkan Ricard ke dalam troli.
“Kau seperti ibu tiri, ayolah. Aku hanya ingin memakannya.” Ricard merengek seperti anak kecil, hal yang belum pernah Louis lihat sebelumnya. Kini beberapa pengunjung mulai melihat ke arah mereka.
Louis menyadari penyamaran mereka, ia kini tampak seperti seorang remaja berumur delapan belas tahun sementara Ricard seperti seorang pria berumur empat puluhan.
“Ayah, berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil. Aku tidak terlalu suka stawberry.”
Ricard terdiam sambil menatap heran, Louis menarik tangan Ricard dan mulai berbisik.
“Bodoh, penampilanmu sekarang seperti seorang pria dewasa. Tak bisakah kau bersikap layaknya pria berumur empat puluhan?”
“Sial, aku lupa. Kalau begitu belikan aku tiga pack ya."
"Baiklah."
Ricard tersenyum bahagia, ia seperti seorang yang baru saja memenangkan lotre.
"Oh ya, Kita sudah berkeliling tapi mengapa kita tidak berpapasan dengan Angel. kira-kira kemana mereka pergi?"
“Entahlah, aku juga kurang tahu. Sebaiknya kita membeli beberapa minuman kemasan lalu pergi dari sini sebelum kau melakukan hal konyol lainnya.”
Setelah mengambil beberapa minuman kemasan, dan beberapa botol bir Louis malah memutuskan untuk kembali berjalan mencari kebutuhan lainnya.
“Oh ya ngomong-ngomong, aku tidak punya uang cash. Bagaimana denganmu?” Richard menatap Louis dengan tatapan bingung.
“Sudah kuduga, tenang saja aku masih menyimpan cukup banyak uang cash. Kau tidak perlu khawatir.”
“Syukurlah kalau demikian, kau memang selalu bisa diandalkan."
"Yah, begitulah diriku. kau seharusnya menyadarinya dari awal."
Kini suasana diantara mereka menjadi hening, Louis sedang asyik memilih-milih produk yang akan dibeli sementara Ricard sekarang bertugas sebagai pendorong troli belanja.
'Benar-benar seperti sedang menemani ibuku berbelanja, ternyata semua wanita sama saja.' Batin Ricard.
__ADS_1