B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Du puluh Tujuh


__ADS_3

( Nevada. Carson city, rumah mendiang Mathew.)


Satu jam lamanya Arnold menyetir, melewati Jalan danau Sunset yang indah menuju jalan danau Biru hingga tiba di sebuah bundaran. Pemandangan Pepohonan yang rimbun berubah menjadi rumah disisi kanan dan kiri jalan, Arnold mengambil jalan lurus. Kemudian berbelok ke kiri hingga tiba di kota Carson, Arnold masih harus mengemudi beberapa menit melewati museum Nevada State menuju jalan North Division. Ia terus mengikuti arahan Jessi, hingga Jessi menunjuk ke sebuah rumah berpagar putih yang tertutup dua pohon cemara besar.


“ Kita sudah sampai, anak-anak ayo turun. “


Jessi membantu anak-anak untuk turun dari mobil sementara Arnold terus memandangi rumah itu dengan penuh prihatin, Ia mencoba mengintip dari balik pohon namun tak ada yang terlihat kecuali tumpukan pot kosong dan beberapa bunga layu tergeletak di dekat pintu.


“ Morell, jangan hanya melamun ayolah kita masuk ke dalam. “ Jessi membuka pintu pagar menyuruh anaknya untuk masuk terlebih dahulu, dan Arnold mengekor dari belakang.


Arnold memperhatikan rumah tersebut, sebuah rumah bergaya Amerika dengan cat berwarna abu yang mulai memudar, tampak kontras dengan pemandangan halaman yang di penuhi rumput liar dan daun kering, juga pohon besar yang menutupi dari arah depan. Jessi memencet bel yang terlihat sudah penuh dengan debu, ketika pintu terbuka seorang anak laki-laki berumur sekitar dua belas tahun keluar menyambut kedatangan mereka.


“ Halo, beruang kecil. “ Jessi memeluk anak laki-laki tersebut, yang disambut hangat olehnya.


“ Bibi Jessi, senang sekali kau berkunjung kemari. “ Anak laki-laki tersebut melihat ke arah Arnold dengan tatapan heran.


“ Paman,. “ Noah dan Stephen memeluk anak laki-laki tersebut dengan riang.


“ Perkenalkan, ini Tuan Arnold. Dia adalah adik angkat almarhum ayahmu, memang ini kali pertama dia berkunjung kemari. Dan Arnold perkenalkan ini Anak angkat Mathew namanya Arthur.“


“ Halo nak senang berkenalan denganmu. “ Arnold dan Arthur saling berjabat tangan.


“ Paman, Bibi masuklah. “


Arnold dan Jessi beserta anak anak masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


“ Arthur, siapa yang berkunjung. “ Seorang wanita cantik keluar dari arah dapur.


“ Jessi, senang sekali kau mampir. Maaf tempatku sedikit berantakan. “


“ Tidak masalah, hemmmm.. Aromanya enak kau sedang memasak kue. “


“ Ya.., ayo kita ke dapur, kau harus membantuku memasak. Dan siapa dia, tidak terlihat seperti Mike. “


“ Tentu saja bukan, perkenalkan namanya Arnold. Dia adalah adik angkat almarhum Mathew. Dan dia Alice istri Mathew.“


“ Senang bertemu denganmu, duduklah dulu kami harus segera menuju dapur sebelum kuenya gosong. “


Jessi mengiringi Alice menuju dapur, sementara Arnold duduk manis di ruang tamu. Ia memandangi sekeliling ternyata bagian dalam rumah tak seburuk penampilan luarnya, Sebuah sofa berwarna abu dengan meja berwarna putih, ada sebuah kursi goyang berhadapan dengan sofa, sebuah meja kecil tempat menaruh lampu duduk dan lukisan bergambar angsa di gantung di dinding sebelah kiri sofa, sebuah lampu gantung berwarna hitam menghiasi langit-langit selaras dengan dinding warna putih. Anak-anak bermain di dalam kamar, Arnold tak berani mengusik mereka. Ia hanya ingin tenang sejenak, Gambaran jelas mengenai kematian Mathew kian tertanam begitu ia melihat sebuah foto pernikahan dengan bingkai warna biru di atas meja hias.


Arnold hampir tertidur saat seseorang samar-samar memanggil namanya. “ Hey, bukan waktu yang tepat untuk tidur, pemalas. Ayo ke ruang makan kita makan siang dulu sebelum melanjutkan perjalanan. “


Semua makanan telah ludes disantap, semua anak-anak telah kembali menuju kamar untuk bermain. Menyisakan tiga orang dewasa di ruang makan, Jessi membantu Alice menyusun piring kotor. Suasana hening, Arnold pun memulai percakapan.


“ Alice, maaf aku tak pernah kemari. “


Alice terkejut mendengar pernyataan dari Arnold, ia hanya tersenyum manis. “ Tidak masalah, aku tahu kau sangat sibuk. Mathew sering bercerita tentangmu saat dia masih hidup, dan justru aku yang berterima kasih. Berkat bantuan dana dari perusahaanmu kami masih bisa melanjutkan hidup. “


“ Tidak, itu belum cukup. Kalian harus hidup dengan lebih layak lagi. “ Arnold memukul meja membuat Alice merasa takut.


“ Morell, hentikan. Kau membuat Alice takut, kau harus bisa menjaga sikap. “ Jessi menyalak kearah Arnold, kemudian ia berbalik memandang Alice. “ Kumohon maafkan adikku, dia memang sedikit tempramental. “

__ADS_1


Alice merenung, kemudian kembali bicara. “ Apa yang kalian inginkan, pasti kalian punya maksud tertentu. Sejujurnya aku sudah merasa aneh sejak kalian datang. “


“ Tidak ada Alice, kami kemari hanya untuk bertanya. Seperti kataku tadi, tentang suamiku. Apa dia pernah kemari sendirian?. “ Jessi mencoba menjawab dengan tenang, meski ia sendiri khawatir tentang suaminya.


“ Mike?, belum. Dia belum kemari sejak kalian berdua mengunjungiku dia minggu yang lalu, memangnya ada apa. Apa ada masalah?. “


Arnold hendak menjawab namun Jessi memberi kode biar ia sendiri yang memegang kendali. “ Tidak, begini. Aku bingung harus memulai dari mana, tapi ini menyangkut keselamatan kita. “


Alice sedikit bingung, ia menaruh sebagian piring di wastafel sebelum akhirnya kembali mendekat. “ Maksudmu?. “


“ Aku takut mengatakan hal ini, tapi Mike menghilang. Ia pamit untuk mengunjungimu, namun sudah dia hari ia tak kunjung pulang. Mike sempat bilang bahwa dia berhasil mendapatkan petunjuk mengenai kematian Mathew, ia berhasil mengungkap pembunuhnya. Namun dia pergi menemuimu untuk mengambil bukti, aku tidak tahu bukti apa yang dimaksud. Tapi mungkin kau punya sesuatu, sebuah benda mungkin. Maksudku kenang-kenangan Mathew sebelum ia pergi. “Jessi menjelaskannya dengan nada tenang dan serius, membuat Alice berpikir.


“ Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang kalian maksud. Kematian suamiku adalah hal terberat, terlebih waktu itu aku dalam keadaan mengandung. Namun aku sudah mengikhlaskan semuanya, jadi lebih baik hal ini tidak perlu di teruskan. “ Alice berbicara sambil meratap, kesedihan di hatinya belum lama hilang. Dan seseorang mencoba mengoreknya kembali.


“ Sebenarnya, Aku menyimpan buku sketsa dan surat wasiat Mathew. Juga beberapa kertas yang kalian temukan di samping jasadnya, aku ingin membuangnya. Karena setiap melihat benda tersebut aku selalu mengingat Mathew dan anakku yang tak terselamatkan. “ Alice mulai menangis, Jessi mencoba menghibur dengan memeluk sambil menepuk-nepuk pundak Alice.


Alice ingat semua kenangan pahit dirinya, kematian suaminya di saat ia tengah mengandung di usia tujuh bulan. Ia shock mendengar berita tersebut sehingga terjatuh dari tangga, membuat ia harus ikut kehilangan anak pertamanya.


“ Maafkan aku seharusnya aku tidak terbawa suasana. “ Alice melepaskan pelukan Jessi. “ Mari ikut aku ke kamar. “


Alice mengeluarkan sebuah kotak penyimpanan sedang terbungkus kain merah dari bawah ranjang, ia duduk di samping ranjang, membuka bungkusannya dan menyerahkan kotak tersebut kepada Arnold.


“ Ini barangkali bisa membantu. “ ujar Alice.


“ Boleh aku bawa pulang?, dan sebaiknya kalian berkemas. Setelah ini aku ada urusan lain. “ Arnold mengambil kotak tersebut tanpa membukanya

__ADS_1


“ Berkemas, mengapa?. “ Alice kebingungan, Jessi kembali menjelaskan semuanya. Awalnya Alice ragu, setelah berpikir panjang akhirnya dia setuju untuk ikut pergi ke tempat persembunyian.


__ADS_2