
Ricard berhasil mengelabui Faith, ia berpura-pura berlari masuk ke dalam sebuah toko pakaian besar dan kembali naik ke lantai atas. Padahal yang ia lakukan adalah sebaliknya.
Faith yang kehilangan jejak berlari kecil ke eskalator saat pengumuman dari pengeras suara kembali berkumandang di sepenjuru mal.
"Perhatian, perhatian. pengumuman darurat. Seluruh pengunjung dan staf diminta untuk segera meninggalkan mal. Ini keadaan darurat dan bukan latihan. Segera tinggalkan gedung.”
Eskalator tersentak berhenti di bawah kakinya. Faith bergegas menaiki sisa anak tangga dan menuju ke atas, dia menyapukan pandangannya ke seluruh toko. Dia melihat belasan orang, tujuh dari mereka mengenakan kemeja merah muda yang sama seperti gadis yang sekarat di bawah-dia mengasumsikan kemeja itu adalah semacam seragam. Tak satu pun dari mereka yang menjadi buruannya, ia kehilangan jejak Ricard.
Faith segera mencari tangga untuk turun, ia menyelipkan pistolnya ke pinggang celana jeans-nya dan menyembunyikan pegangannya yang menyembul di bawah jaketnya. Tidak perlu menarik perhatian yang tidak diinginkan, Mereka sudah cukup melakukannya dengan baku tembak di bawah.
Dia bergabung dengan kerumunan orang di lantai atas, yang menghambur keluar dari depan toko-toko. Begitu banyak dari mereka yang berjalan lamban, tidak pasti: tampak tidak yakin apakah ini sungguh keadaan darurat atau latihan, tidak yakin apakah baku tembak beberapa menit mungkin saja hanya anak-anak bodoh yang bermain petasan.
Faith memperhatikan bagian belakang kepala, leher, dan bahu orang-orang itu. Matanya dengan dingin mengevaluasi orang-orang yang bergegas di depannya, satu demi satu dalam rangkaian cepat.
Sial, Ricard berada di tengah kerumunan orang yang berdesak-desakan, kerumunan yang tidak bergerak di atas kedua eskalator yang sekarang berhenti bergerak, yang mengarah ke bawah ke lantai dasar. Seseorang sudah mematikan eskalator. Mungkin itu prosedur untuk kesehatan dan keselamatan saat terjadi evakuasi di mal. Tapi mematikan eskalator itu adalah tindakan bodoh. Akan butuh waktu lama untuk turun. Ricard terjebak di atas, menunggu sepasang orang tua di depannya untuk turun perlahan-lahan.
“Ayolah, ayolah.”
Dia menebak dia pasti yang terakhir dari Louis dan yang lainnya. Mereka mungkin sudah berlari menyeberangi tempat parkir, di sepanjang trotoar ke arah kedai yang hanya berjarak lima blok dari mall tersebut.
Benaknya masih belum memproses apa yang baru saja dialaminya. Bayangan itu ada di dalam kepalanya. Dia hampir ditembak mati.
Seorang wanita mendorong melewati Ricard, melewati pasangan tua di depannya. Sepatu hak berkeletukan di anak tangga logam, pinggul lebar menabrak orang-orang ke samping saat dia merangsek ke depan dan menggumamkan mantra dari kepanikan yang nyaris tidak terbendung.
"Oh Tuhanku, lindungi aku! Oh Tuhanku, lindungi aku!"
Ricard ingin maju seperti dia juga. Tapi tidak melakukannya. Terlalu kasar. Tapi tetap saja....
__ADS_1
Ayolah. Ayo!
Ricard berharap ada Angel bersamanya. Atau bahkan Louis mereka yang sudah terlatih. Dia mungkin hanya terlihat seperti gadis delapan belas tahun, tapi Angel bisa mematahkan leher dan menahan serangan. Lalu Ricard melihat wajah seorang pria yang ia kenal. Hanya saja, tentu saja itu bukan Arnold.
Faith ternyata masih berada dilantai atas mata Faith dan Ricard bertemu tentu saja Faith langsung mengenalinya. Faith menjangkau ke belakang dan mengeluarkan pistol dari pinggangnya.
“Tolong minggir semuanya!" perintahnya pada orang-orang di sekitar hanya saat dia mengarahkan pistol pada targetnya.
“YA-TUHANKU-DIA-PUNYA-PISTOL" teriak seseorang
Itu lebih efektif. Kerumunan itu, yang tadinya saling mendorong untuk menuruni eskalator yang tidak bergerak, sekarang menjatuhkan diri lantai bersama-sama, dan Faith punya jarak pandang sempurna ke arah Richard. Satu-satunya orang yang masih berdiri.
Ricard mendorong wanita berbadan besar yang berjongkok di depannya, mati-matian mencoba melewatinya. Tapi wanita itu terlalu besar untuk membuat ruang di eskalator. Ricard mendapati dirinya memanjat punggung wanita itu.
"Ow! Tuhan tolong aku! Aku diserang!" teriak wanita itu. "Minggir!!! Aku harus lewat" sahut Ricard. "Aku harus lewat.”
Ricard berdiri dan memutuskan dia cukup jauh untuk menuruni eskalator, jadi dia memutuskan untuk melompat ke samping. Dia mendarat di atas semak tropis dari plastik yang ditancapkan di hamparan batu kerikil. Bukan pendaratan paling lembut. tapi mungkin lebih baik dibanding lantai marmer mal. Dia ter gopoh-gopoh berdiri lagi dan orang-orang di sekelilingnya menjerit ketakutan saat beberapa tembakan lain terdengar di serambi depan.
"Keluar, keluar!" Ricard berteriak pada orang-orang yang berdesakan dan saling berebut keluar dari pintu putar dan pintu darurat di kedua sisinya.
Faith berjalan ke arah susuran pengaman di aula atas yang mengarah ke eskalator. Dia melihat targetnya di lantai dasar, bergumul dengan orang orang, menarik-narik mereka untuk membiarkannya lewat. Dia membidik lagi dan menembak dua kali, mengosongkan magasinnya. Di bawah. lebih banyak kaca yang meledak dan jeritan di sekitar Ricard meninggi luar biasa.
Faith memanjat susuran eskalator dan membiarkan dirinya menggelincir turun. Dia mendarat lima meter di bawah lantai keras, seperti seekor kucing yang mendarat di kakinya, kaki-kakinya menahan benturan seperti sok breker modifikasi sebuah monster truck.
Dia menjangkau ke pinggangnya untuk menarik magasin terakhirnya. Targetnya- Ricard berada tepat di depannya, terjebak karena satu-satunya jalan keluar dijejali orang-orang yang saling berebut dan terlalu ketakutan untuk menenangkan diri mereka. Dia tersenyum saat dia memasukkan magasin terakhirnya ke dalam pistolnya.
Dua tembakan meleset, mengenai kaca besar dan memecahkannya. Membuat Ricard bisa keluar dengan leluasa, Faith melihat Ricard berlari zig-zag di antara kerumunan. Polisi bersenjata sudah siap sedia, akan sangat bodoh bila Faith mengejarnya sekarang. Ia pun membiarkan Ricard kabur dan berlari masuk ke dalam guna mencari jalan keluar lain.
__ADS_1
Arnold menahan pintu keluar agar yang lain bisa keluar dengan mudah, setelah merasa semuanya beres ia pun mengembalikan gadis kecil itu kepada ibunya. Ia terkejut saat berjalan melewati tempat parkir, Louis sudah berada di luar dan ternyata sedang bersama seorang satpam.
Arnold berlari dan langsung memeluk Louis. “Sayang, kau baik-baik saja? Apa kau terluka? Ya tuhan, noda darah apa ini?”
“Permisi apa kau keluarganya?”Tanya satpam tersebut
“Ya, aku ayahnya namaku Mark Webber dan ini putriku.” Mereka pun saling berjabat tangan.
“Tapi, wajah kalian bahkan...”
“Tidak mirip? Ya begitulah, dia mirip dengan ibunya. Ibunya orang India asli.” Arnold berakting dengan sangat meyakinkan.
Satpam tersebut merasa lega, ia sudah mencatat nama dan nomor telepon Louis yang tentu saja semua itu adalah sebuah samaran.
“Baiklah nona Chelsea, maaf untuk kejadian tadi. Lain kali berhati-hatilah.”
Mereka pun berpamitan dan mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut, dari kejauhan Louis melihat Ricard yang Melompat keluar dari sisa-sisa pecahan kaca gedung.
“Itu Ricard.”
Ricard langsung berlari ke arah mereka.
“Ayo, jalan.”
“Apa?”
“Kita duluan, ayo.”
__ADS_1
Mereka berlari melewati parkiran menuju trotoar jalan, dan berlari secepat mungkin agar tiba di kedai yang berada lima blok dari mal tersebut, berharap Angel sudah tiba di sana lebih dulu.