B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Empat puluh


__ADS_3

Waktu baru menunjukkan pukul delapan lewat, dunia sudah diselimuti oleh kegelapan yang sejuk. Smith berhenti didepan sebuah rumah bergaya Victoria yang keberadaannya tertutup oleh pepohonan pinus, seorang pria membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan masuk.


“Mana Andreas?, Bukankah aku menyuruhnya untuk menunggu disini.”


“Dia ada didalam tuan.”


Smith melenggang masuk , tak lama berselang pria yang ia cari muncul dari balik pintu kamar.


“Salam tuanku, apa yang membuatmu repot-repot untuk datang kemari?.”


“Kita bicara lagi nanti setelah aku bicara dengan mereka.”


Wajah Andreas tidak menunjukkan ekspresi tersinggung, ia paham betul sikap tuannya yang kasar dan suka memerintah.


“Lewat sini.” Andreas berjalan didepan Smith.


Ketika mereka melewati pintu menuju perpustakaan, Smith melihat seorang pria keturunan Asia yang tampan dan ramping sedang bekerja didalam sebuah kamar yang pintunya terbuka lebar, mata Smith disipitkan “ Apa itu Fang Zhu?.”


Andreas berhenti. “Ya. Anda masih mengingatnya dengan baik.”


“Mengapa ia masih disini?.”


“Dia sangat cerdas, sayang sekali menyia-nyiakan pemuda seperti dia. Kau tahu kan tuan, sulit mencari pekerja murah yang mampu meretas komputer dengan baik. Lagi pula dia itu sangat setia.”


“Terserah padamu saja, kaupemilik tempat ini.” Smith tersenyum penuh arti. “Hey Fang, kau sudah mempelajari arti loyalitas dengan sangat baik ya.”


Tepat pada saat itu, pria itu mendongak dan ketakutan yang menjalar, wajahnya berminyak dan licin, dibalik matanya tampak pandangan menjijikkan.


“Tahanan-tahanan itu.” Kata Smith, mengenyahkan pria menyedihkan itu dari benaknya. Andreas mengangguk kecil.


Andreas membawa Smith turun menggunakan lift yang tersembunyi dibalik rak buku perpustakaan, belum jauh mereka berjalan mereka sampai didepan sebuah pintu. Ketika dibuka terlihat jeruji jeruji yang mengurung seorang pria dengan kondisi mengenaskan, kaki-kaki nya terkonyak dan lantai digenangi oleh darah, beberapa bagian dinding juga terdapat cipratan darah, mulut-mulut yang menganga disumpal menggunakan kain yang juga dipenuhi oleh darah, dan mata-mata membelalak yang sudah buta.


“Apa dia masih punya lidah?.” Tanya Smith kepada Andreas, menyadari fakta bahwa pria itu sudah disayat sayat menggunakan pisau dan diobati, kemudian di sayat lagi. Dengan tubuh tertunduk lemas, pria itu hampir tewas.


“Mungkin malam ini terakhir kali kau melihatnya, pria ini benar-benar membuatku jijik. Dia tidak pernah mau berterus terang.”


Smith tidak merasa jijik karena kebrutalan dari hukuman yang sedang berlangsung itu, kalau ia tidak tahu persis bahwa pria inilah yang membuatnya hampir tewas tempo hari.


“Biarkan dulu untuk sementara. Mungkin aku harus menanyainya lagi.”


Andreas menganggukkan kepala, ia melepaskan gumpalan kain yang menyimpan mulutnya. “Apa kau perlu privasi Tuan.”


“Tidak juga, lagi pula ini hari terakhir ia hidup bukan.”


Smith mendekat dari balik jeruji ia mengulurkan sebuah tongkat tepat dikepala pria tersebut.


“Jadi.” Gumamnya. “Kau masih menolak untuk berkata jujur, padahal semua temanmu sudah tewas sekarang tapi kau masih bersikeras. Katakanlah, maka aku akan menyelamatkanmu.”


“Dasar bedebah sialan, seharusnya kau sudah mati. Demi tuhan, aku tidak akan memberikan informasi apapun.” Meski sudah sekarat pria itu tetap bersikukuh.


“Sulit sekali untuk mencari tahu siapa yang berani menentang kekuasaanku,, baiklah kalau begitu. Andreas, biarkan saja ia mati dan tangkap lagi yang lainnya besok. Tangkap mereka sebanyak mungkin, aku ingin BLOOD hancur.”


Andreas mengangguk, Smith sudah sering menangkap agen BLOOD namun mereka memiliki agen yang sangat setia, bahkan hingga titik darah penghabisan tak ada satupun yang memberikan ia informasi, yang ia inginkan. Mereka berjalan keluar dan mengunjungi pintu lainnya, kali ini James lah yang sedang disekap atas kesalahan yang ia buat kemarin malam.


Ruangannya biasa saja, tidak seperti ruangan sebelumnya yang penuh dengan darah tempat ini cukup bersih. Hanya saja James dibiarkan diikat tanpa pakaian, terlihat beberapa bekas sabetan cambuk yang membuat kulitnya memar dan memerah.

__ADS_1


“Halo James, senang melihatmu. Andreas buka penutup mulut dan matanya, biarkan kami bicara berdua.”


“Ya, tuan.”


Setelah memastikan bahwa Andreas sudah pergi dari ruangan tersebut Smith tersenyum dan tertawa penuh kemenangan.


“Hahaha, lihat dirimu sekarang. Kau tahu aku tak pernah berniat membunuh wanita itu, jika kau mengikuti setiap perintahku.”


“Dasar iblis, lepaskan aku.” James meronta dan terus berusaha meloloskan diri, meski pada akhirnya semuanya sia-sia.


“Apa yang wanita itu katakan hingga kau berani menghianatiku?.”


“Kau yang penghianat.” James meludah kearah Smith meski meleset.


“Beraninya kau meludahiku.” Smith memukul wajah James dengan kuat, membuat hidungnya mengeluarkan darah. “Wanita itu pantas mati, kau seharusnya berterima kasih kepadaku. Seharusnya aku membunuhmu juga, tetapi kau akan berguna nanti.”


Smith berjalan mendekat, ia memegang wajah James dengan kasar.


“Seharusnya, kau tidak perlu mengetahui apapun. Dasar bodoh, sekarang nikmatilah permainan ini.”


Smith berjalan keluar ruangan, ia membiarkan James yang terus-menerus mengeluarkan berbagai umpatan kasar. Didekat lift Andreas sudah menunggunya, Andreas tersenyum melihat kedatangan Smith.


“Sudah selesai, ngomong ngomong apa yang pria itu lakukan sehingga kau mengurungnya. Apa ia anggota Blood?.”


“Bukan, tapi keberadaannya justru mengancam masa depan organisasi kita. Dan saranku untukmu, jangan ikut campur masalah ini. Mengerti.”


“Baik tuan.”


Dilain tempat, pada jam sembilan malam, Arnold duduk dipinggiran air mancur. Pemandangan Alun-alun Trafalgar dimalam hari cukup menarik, meski langit sudah gelap masih ada beberapa orang yang lewat. Ditemani anjing baru miliknya Arnold mengamati setiap pejalan kaki yang lewat, biasanya Arnold selalu mendapatkan semuanya dengan mudah. Cukup dengan menelepon, dan duduk manis sambil meminum wiski. Tapi kali ini ia harus melakukan semuanya sendiri dan turun langsung kelapangan seperti yang ia lakukan dulu.


“Mathew, apa kabarmu?. Apa kau baik-baik saja disana, sekarang aku melakukan semuanya sendiri kuharap kau ada disini untuk membantuku.” Arnold memandang langit dan bergumam sendiri, seolah sedang berbicara dengan seseorang.


“Kemarilah, arah jam dua belas.”


Pemuda tersebut berbelok dan melihat kedepan, ia berjalan mendekati Arnold dengan langkah sedikit terburu-buru.


“Maafkan aku tuan, aku terlambat.” Ujar pemuda tersebut sambil mengatur nafas.


Arnold melirik jam untuk memastikan keterlambatan pemuda tersebut.


“Tidak, sepertinya anda tepat waktu tuan...”


“Harris, namaku Harris. Aku sudah mendengar cerita tentang anda dari tuan David, dan boleh kukatakan bahwa aku sangat bangga bisa berkerja untuk pria sehebat anda.”


“Ternyata kau pandai memuji orang lain, baiklah ikut denganku akan kujelaskan hal apa yang harus kau lakukan. Tapi sebelum itu ceritakan tentang dirimu, aku tahu cafe yang enak didekat sini.”


“Oh cafe yang disebelah sana ya.” Ujar Harris sambil menunjuk kearah cafe yang mereka maksud. “Tuan bukankah tempat itu sudah tutup, lihat sekarang jam sembilan lewat lima menit. Bagaimana kalau kita ke Thai Square, tempatnya hanya dua menit dari sini. Dan kujamin kau pasti menyukainya.”


“Baiklah, kita pergi kesana. Apa perlu memesan taksi?.”


“Tidak perlu, jaraknya sekitar lima ratus kaki, hanya perlu dua menit jika berjalan kaki, Ayo.”


Merekapun berjalan kaki, lampu jalanan menerangi setiap langkah mereka melewati beberapa bangunan khas London, udara malam ini tidak dingin seperti sebelumnya. Angin yang berhembus cukup hangat, pertanda bahwa musim semi akan segera tiba. Mereka berhenti sejenak, menunggu aba-aba untuk menyeberang jalan. Tempat yang akan mereka datangi berada disebelah kiri di jalan Warwick, sebuah bangunan khas kota London berkolaborasi dengan ukiran logam khas Thailand terlihat menawan diterangi lampu jalan.


Dipintu depan terdapat lambang perisai ditengahnya terdapat singa yang memegang kapak, dan bagian atasnya terdapat mahkota kerajaan yang merupakan salah satu lambang Britania raya. Dibagikan atas pintu juga terdapat patung perunggu seorang kesatria yang tengah menghujamkan pedangnya ketanah, dan terdapat tulisan besar Thai Square yang terbuat dari perunggu pada kaca etalase dan pintu masuk. Begitu masuk desain interior yang glamor membuat siapapun berdecak kagum, tangga spiral berwarna keemasan yang menghubungkan lantai utama ke area mezzanine terlihat elegan senada dengan kursi kayu jati dan meja bundar yang dihiasi taplak meja putih bersih dan Bunga mawar yang indah, juga dinding botani dan dekorasi bunga menghiasi jalur keluar masuk menambah kesan glamor restoran ini.

__ADS_1


Mereka mencari tempat kosong dan segera duduk begitu menyadarinya.


“Kau ingin pesan apa?, Hari ini aku yang traktir.” Ujar Arnold sambil melihat-lihat menu.


“Benarkah, kalau begitu aku pesan Grilled scalops dan chicken satay, dan minumannya sebotol sampanye laurent perier.” Ujar Harris dengan menggebu-gebu.


Pelayan mencatat pesanan Harris dan kemudian berbalik menatap Arnold.


“Kau pandai memesan juga ternyata.” Pernyataan Arnold membuat Harris sedikit tersipu, Arnold tersenyum melihat Harris. “Well, aku pesan prawan dimsum, untuk minumannya aku ingin wiski terbaik disini. Dan jangan lupakan desertnya.”


Pelayan kembali mengulangi pesanan yang mereka pesan. “Apa semuanya sudah benar?. Dan kalau boleh tau desert seperti apa yang anda sukai.”


“Berikan saja yang terbaik.” Arnold tersenyum, dan membiarkan pelayan berlalu pergi.


“Baiklah, Harris. Akan kujelaskan tugas yang harus dilakukan.”


Arnold menjelaskan setiap detail secara rinci, Harris mencondongkan tubuhnya kedepan dengan antusias ia mendengar setiap rinciannya. Percakapan mereka terhenti begitu pelayan datang menyajikan pesanan mereka, dan setelah pelayan tersebut pergi Arnold kembali bercerita. Sembari bercerita Arnold memperhatikan gerak-gerik Harris yang terlihat kelaparan, namun tak berani menyentuh makanan didepannya. Ia hanya meneguk sampanye yang ia pesan secara perlahan, merasa tak enak Arnold pun menyelesaikan instruksinya.


“Well, kau sudah mengerti bukan?.”


“Yah, tenang saja. Aku pasti memberikan yang terbaik untukmu tuan, eheemmm kalau boleh...” Harris memandangi makanan dimeja.


“Sudah kuduga, kau pasti kelaparan. Silahkan makanlah.” Arnold tersenyum geli melihat kelakuan pemuda dihadapannya.


“Asyik.” Ujar Harris yang terlihat seperti anak kecil.


Setelah malam mereka selesai, merekapun keluar dan Arnold memesan sebuah taksi.


“Mau kemana pak?.” Ujar sang sopir.


“Hotel shard.”


Taksi melaju meninggalkan Harris yang berdiri didepan pintu restoran, sebuah senyum aneh tersungging di bibirnya. Harris menyukai tuannya, dan dia pasti akan melakukan apapun untuk Arnold.


Harris melangkah meninggalkan restoran, ia berjalan perlahan menuju sebuah gang sempit. Sebuah tangga besi menempel diluar dinding sebuah bangunan, hanya dengan satu lompatan ia meraih tangga tersebut dan memanjatnya. Ia terus mendaki hingga tiba disebuah jendela dengan lampu yang menyala, dengan sekali sentakan jendela tersebut terbuka dan Harris menyelinap masuk kedalam.


Sebuah kamar yang penuh dengan beraneka peralatan, mulai dari komputer dan beberapa benda elektronik tergeletak dimana mana, sebuah meja belajar dengan lampu dan beberapa buku catatan tertata rapi disebelah kanan, dan sebuah kasur berada tepat dibawah jendela. Harris melepas dan melempar sepatunya sebelum masuk kedalam, setelah itu ia melompat dari jendela dan langsung berbaring di kasur. untuk sesaat tempat inilah yang bisa ia sebut rumah, meski sempit dan terkesan tak layak untuk dihuni, setidaknya kamar inilah tempat sewanya yang paling murah diantara yang lain.


setelah berbaring beberapa saat, Harris bangkit dan duduk didepan komputer. ia mulai mencari data mengenai target yang akan ia selidiki, tak lupa pula ia mencari data mengenai tuannya. Yah, bukannya ia meragukan Arnold. Hanya saja, Harris tidak mudah percaya pada siapapun. Ia pernah dikhianati sekali oleh majikan lamanya, jadi ia tidak mau hal itu terulang kembali. Jari jemari Harris dengan lincah memainkan keyboard bak seorang pianis profesional, sesekali matanya menyipit begitu mengetahui data mengenai target. Hingga semuanya selesai, dan tiba giliran data Angel yang akan ia cari. berulang kali Harris membobol data, tak ada satupun data mengenai Angel.


"Black Rose, siapa dia?. tidak ada catatan tentang dia, huaaaa..." Harris menguap dan mengangkat tangannya keatas.


"Huh, mengapa pria itu tidak memberi tahuku nama asli wanita ini. Dia juga tidak memberi foto yang bisa aku gunakan, bagaimana caraku menemukan wanita ini?. Masa iya, aku harus melihat satu persatu lengan kiri wanita di London." Harris terus mengeluh, terus mencari hingga ia merasa lelah.


"Sebaiknya aku istirahat dulu, besok saja melanjutkannya."


Harris mematikan komputer, berbaring di kasur dan mulai menutup mata hingga ia tertidur dengan lelap.


drrrrttttt...


"Ah, siapa lagi yang menelpon semalam ini?."


Harris mencari ponselnya, ia pun mengangkatnya dengan rasa enggan lantaran mengantuk.


"Ya, siapa?.....Oh tuan David........, kondisinya baik..........,tidak sejauh ini tidak ada masalah, dia benar-benar pria yang baik tapi sepertinya terlalu bodoh, hingga mudah percaya dengan mudah ..........., ah.., maafkan aku......., baik tuan."

__ADS_1


"Bodoh, jika kau khawatir tentang pria itu mengapa tidak langsung meneleponnya." Harris menggerutu, dan melempar ponselnya keatas meja.


kini ia kembali mencoba untuk tidur, perlahan tapi pasti udara yang masuk melalui jendela membuat matanya kian berat, hingga akhirnya ia kembali tertidur.


__ADS_2