B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Empat puluh Satu


__ADS_3

Ricard menunggu diluar ruangan dengan penuh khawatir, dokter mengatakan bahwa Angel akan baik-baik saja akan tetapi sudah tiga hari lamanya Angel tak sadarkan diri. Ditambah kehadiran Candy yang muncul secara misterius, Ricard berusaha menyelediki maksud kedatangan Candy, sayangnya saat ini pikirannya sedang sangat kacau. Bagaimana tidak, ayahnya sekarat, dan banyak pemberontakan yang terjadi di organisasi BLOOD, ditambah banyak agen terpercaya yang hilang dan ditemukan tewas diberbagai negara.


Ditengah kebimbangan Ricard menelepon satunya orang yang dapat ia percaya.


“Hallo.., Lou kumohon padamu tangani hal ini segera, cari mereka yang masih setia dan jauhkan dari para pembelot......., Tidak jangan langsung dihukum, para pembelot ini., Pasti ada dalang dibelakangnya.., sebaiknya kau cari siapa, dan usahakan untuk tidak terdeteksi.”


Ricard mematikan telepon dan membuang nafas, benaknya bertambah kacau. Kunci dari segala permasalahan tersebut sebenarnya adalah Angel, sayangnya Ricard tidak dapat menyadari hal itu dengan baik. Setelah banyak pertimbangan akhirnya Ricard memutuskan untuk masuk kedalam ruangan tempat Angel dirawat, selang infus dan oksigen terpasang ditubuh Angel yang lemah tak berdaya juga beberapa kabel pendeteksi detak jantung.


Ricard duduk dikursi yang berada di samping tempat tidur, ia menggenggam erat tangan Angel. Tanpa sadar ia hampir meneteskan air mata, kalau saja Candy tidak masuk secara tiba-tiba.


“Ricard, apa kau......” melihat Ricard menggenggam tangan Angel membuat Candy terdiam, seakan mengerti apa yang sedang Ricard rasakan.


“Maafkan aku, seharusnya aku tidak menerobos masuk. Begini, aku punya laporan mengenai seseorang yang selalu menguntit kita. Dan percayalah ia adalah anggota organisasi legendaris dikira London.”


“Begitu ya, tunggu aku diluar. Kita bicarakan ini ditempat lain.” Ujar Ricard tanpa ekspresi.


Candy mengangguk, ia keluar lebih dulu dan menutup pintu secara perlahan. Ricard kembali melirik wajah Angel.


'Aneh.’ Pikir Ricard. ‘Selama ini aku tidak terlalu memperhatikan Angel, ternyata ia sangat manis.’


Ricard tersenyum dan mengecup kening Angel secara perlahan, kemudian pergi keluar ruangan.


“Baiklah, apa kau sudah selesai?. Begini, orang yang.....”


“Bukankah sudah kukatakan Dengan jelas, kita bicara ditempat lain.” Ricard memotong ucapan Candy dengan nada tinggi, membuat Candy sedikit tersentak.


“Ah, baiklah.”


Mereka pun pergi dari rumah sakit dan mencari restoran terdekat untuk berdiskusi sambil menikmati makan siang, namun mereka tidak menyadari. Seseorang yang mengikuti mereka kini sudah selangkah lebih maju, Pria tersebut menyelinap dibalik pohon dan mulai memberi sinyal kepada salah satu komplotan mereka.


“Bos mereka sudah pergi, saatnya beraksi.”


Didalam rumah sakit seorang perawat menyelinap masuk ke ruangan tempat Angel dirawat, tidak ada yang curiga bahwa ia adalah seorang yang sedang menyamar. Saat itu Angel sudah mulai menunjukkan tanda-tanda siuman, akan tetapi begitu selang oksigennya dibuka ia kembali tidak sadarkan diri. Perawat tersebut menutupi tubuh Angel dengan kain putih dan mendorongnya keluar ruangan, ia bertingkah seolah sedang membawa mayat dan terus mendorong ranjangnya menuju mobil jenazah yang sudah menunggunya.


“Cepat masukan dia, sebelum ada yang menyadari hal ini.”


Setelah merasa semuanya aman, Mobil jenazah tersebut berlalu pergi meninggalkan rumah sakit.


Ternyata Harris melihat semua kejadian tersebut dari jarak yang cukup dekat, memang kali ini Harris bergerak cukup lamban lantaran ia menyadari bahwa ada orang lain yang juga mengincar gadis yang ada dirumah sakit. Beruntung ia dapat mengingat dengan baik mobil yang membawa Angel, dengan sigap ia mencari taksi dan memberi perintah kepada sopir untuk mengikuti mobil tersebut.


“Kumohon cepat, sebelum aku kehilangan mereka.” Sang sopir menginjak gasnya dengan lebih keras menimbulkan suara derum mobil yang cukup kuat.


Harris mencari ponselnya dan menelepon Arnold


“Hallo tuan, kurasa kita mendapatkan sedikit masalah. Ada orang lain yang juga mengincar wanitaku........., Tentu saja aku dapat melacak mereka...., Baik tuan.” Harris menyudahi percakapan, dan kembali fokus kearah jalanan.


Sementara itu Ricard dan Candy tengah berdiskusi direstoran terdekat, mereka tidak menyadari bahwa seseorang telah menculik Angel.


“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?.” Ricard memulai percakapan tanpa basa-basi.


“Akhir-akhir ini, ada seseorang yang mengikuti gerak-gerik kita. Aku tidak tahu mereka siapa, dan apa tujuan mereka. Jadi...”


“Jangan bertele-tele.” Ricard berkata tak acuh. “langsung pada poinnya saja.”


“Gadis itu, mereka mengincarnya.”


“Bukankah kau juga sama?.” Cetus Ricard


“Berbeda denganku, tugasku adalah memastikan gadis itu selamat. Dan membawanya menemui pimpinanku, ku katakan sebuah rahasia bahwa dia bukan gadis biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari seorang mafia terkenal bernama Robert.”


“Apa?.” Mata Ricard terbelalak, Robert adalah mafia terkenal yang paling disegani. Mustahil rasanya jika tidak ada yang tahu bahwa ia memiliki seorang putri.


“Bisa kau jelaskan secara rinci?.”


Candy menarik nafas sebelum memulai semuanya dari awal, Candy hanya menjelaskan semuanya secara garis besar mengingat waktu mereka yang singkat. Terlihat Ricard sesekali mengangguk tanda mengerti, postur tubuhnya sedikit berubah dari semula cuek dan tak acuh kini ia mencondongkan tubuhnya pertanda bahwa ia tertarik dengan penjelasan Candy.

__ADS_1


“Bagaimana menurutmu Ricard?.”


“Well, jika demikian adanya maka kemungkinan besar ada organisasi lain yang mengetahui hal ini.” Ujar Ricard sambil meneguk segelas air.


“Tapi bisakah aku percaya padamu?, Maksudku tempo hari aku melihatmu. Hari pertama Angel dirawat dirumah sakit, kau bilang kepada dokter bahwa kau adalah calon suaminya.”


Ricard hampir tersedak mendengar penjelasan tiba-tiba dari Candy, ia merasa geli melihat Candy yang percaya pada kebohongan yang ia buat.


“Bisa dibilang demikian, aku harus menjaganya. Aku pernah hampir kehilangan dia satu kali, dan tidak akan terjadi untuk yang kedua kali. Ngomong-ngomong, dari mana kau mengetahui bahwa Rose ada disini?.”


Suasana hening sejenak Candy merasa bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut, hingga suara ponsel memecah keheningan mereka.


Drrrrttttt... drrrrttttt..


“Halo, ya. Astaga, ku segera kesana.”


Candy yang merasa haus meneguk sedikit air untuk membasahi kerongkongannya, ia memandangi ekspresi Ricard lekat lekat.


“Ada apa?.”


“Kita harus segera kerumah sakit, sepertinya mereka telah menculik Rose.”


Ricard berlari menuju kasir, membayar tagihan dan segera pergi meninggalkan restoran. Candy hanya mengekor dari belakang, jalanya sedikit lambat membuat ia hampir tertinggal. Ricard menghentikan sebuah taksi, dan memerintahkan untuk segera pergi kerumah sakit. Candy masih sedikit bingung, namun perlahan ia mulai menyadari situasi nya.


“Ini, simpan kembaliannya.” Setelah melempar beberapa dolar kepada sopir taksi Ricard segera berlari menuju meja informasi. Ia mengamuk tidak karuan, membuat sekeliling merasa terganggu.


“Jelaskan padaku, bagaimana ini bisa terjadi.”


Melihat keadaan yang kacau seorang petugas keamanan berusaha untuk menenangkan Ricard, yang malah menarik kerah bajunya.


“Kau, kemana kau. Mana gadisku, dasar keparat.”


Bukkk...


Ricard mengayunkan tinjunya kepada petugas keamanan, Candy berusaha melerai tapi malah didorong dengan keras oleh Ricard. Beberapa pukulan pada wajah petugas tersebut membuat hidungnya mengeluarkan cairan merah, Candy kembali maju. Kali ini ia menarik tangan Ricard, membuat Ricard menghentikan aksinya.


Ricard menghembuskan nafas, dan pergi meninggalkan area tersebut. Candy membiarkan Ricard pergi dan menolong petugas keamanan tersebut berdiri.


“Maafkan temanku, dia hanya frustasi. Apakah anda baik-baik saja tuan?.”


“Tidak masalah, aku dapat memahami perasaannya.” Petugas tersebut memberi aba-aba bahwa ia dalam keadaan baik.


“Begini, kalau boleh. Aku ingin melihat rekaman cctv-nya, aku ingin tahu jam berapa gadis itu menghilang.”


“Tidak bisa, kita harus menunggu petugas kepolisian.”


“Dan membiarkan gadis itu mati?, Biarkan ini menjadi masalah pribadi kita aku akan bicara dengan direktur kalian.”


Petugas itu berpikir sejenak, Candy pun diajak untuk menemui pihak terkait. Dan setelah berdiskusi cukup panjang, akhirnya Candy diizinkan untuk ikut memeriksa rekaman Cctv. Petugas keamanan memegang alih komputer, sementara Candy memicingkan mata. Memperhatikan setiap gambar dengan seksama, semuanya terlihat normal pada awalnya.


“Bisa dipercepat sedikit?.”


Rekaman dipercepat, dan Candy melihat sesuatu yang mencurigakan.


“Berhenti, ini dia. Dia mendorong sesuatu, seperti mayat. Tapi dia keluar dari ruangan Rose, artinya Rose lah yang ia bawa. Bisa perlihatkan rekaman pintu keluar masuk pasien yang sudah meninggal?.”


Kini rekaman beralih, rekaman kembali dipercepat.


“Berhenti, tolong perbesar gambarnya.”


Rekaman dihentikan dan gambar diperbesar, sayangnya kualitas gambarnya tidak terlalu bagus sehingga sulit mengindentifikasi tersangka.


“Platnya tidak terlihat, sial. Well, terima kasih atas bantuan kalian. Aku harus memberitahu temanku dulu.”


Candy berjalan keluar dari ruangan Cctv, kini ia mencari Ricard. Dari kejauhan ia melihat Ricard tengah duduk melamun di tempat parkir, dengan segera Candy mendekatinya.

__ADS_1


“Hey, aku dapat info menarik. Kurasa kita bisa melacaknya.”


Ricard hanya diam tanpa suara, tatapannya kosong.


“Hey, kau tidak mendengarkan ya!.”


“Ah, maaf.” Hanya satu kata yang terlontar dari bibir Ricard.


Candy menghembuskan nafas, ia merasa iba melihat kondisi Ricard. Jadi ia menariknya, membawanya menuju mobil yang terparkir.


“Apa-apaan ini?.”


“Mobilku, sejujurnya aku kemari menggunakan mobil. Cepat naik, kita akan mencari gadismu.”


“Bodoh.”


Candy mengabaikan gumaman Ricard dan duduk di kursi kemudi, ia menginjak pedal gas dan pergi meninggalkan rumah sakit. Ia mencoba setiap kemungkinan yang ada, dengan berkeliling di sekitar blok rumah sakit. Sejujurnya lebih tepat disebut sebagai berkeliling tanpa tujuan.


“Sebaiknya kita pulang saja.”


“Tapi, siapa tahu mereka masih disekitar sini.”


“Itu adalah satu kemungkinan yang tidak perlu, sekarang cepat pulang.” Nada bicara Ricard sedikit naik, membuat Candy hanya menuruti keinginannya.


sesampainya di apartemen, Ricard bergegas menuju lift. Memencet tombol dengan terburu-buru, bahkan hampir membuat Candy tertinggal.


Ting....


Lift perlahan terbuka, ia segera keluar setengah berlari menuju kamar.


"Kunci pintunya, jangan biarkan siapapun masuk."


Candy mengunci pintu, ia hanya memandangi Ricard dengan tatapan heran. Sementara Ricard mengambil laptopnya, dengan lihai ia memainkan jari jemarinya diatas keyboard. pemandangan yang membuat Candy berdecak kagum, ia merasa takjub sekaligus heran karena keahlian Ricard yang luar biasa. Ricard mulai memasukkan kode kode unik, dan muncul beberapa panel dilayar laptopnya. Candy tidak mengerti apa yang dikerjakan oleh Ricard, ia juga tidak melakukan apapun selain berdiri seperti orang bodoh.


"Binggo.." Ricard tersenyum penuh kemenangan.


"Kita mendapatkan lokasinya, ayo bergegas sebelum kita terlambat."


"Apa maksudnya?." Ujar Candy.


"Rose, aku menemukannya. Dia berada sekitar delapan ratus meter dari sini."


"Bagaimana bisa?. kau.." Candy sedikit tergagap.


"Chip GPS, aku memasangnya kedalam tubuh Rose. Bukankah sudah kukatakan aku tak ingin kehilangan dia.". Ujar Ricard sambil menyalin data GPS kedalam smartphone.


"Tak kusangka kau bisa melakukan hal seperti itu, jangan jangan kau psikopat."


"Simpan kata-kata mu itu untuk nanti, apapun kau menyebutku atau berpikir tentang ku. Itu tidaklah penting buatku."


Data sudah tersalin seratus persen, Ricard segera mematikan laptop dan menyimpannya kembali. Sementara Candy masih berdiri kaku, beragam spekulasi aneh dan mengerikan mengenai Ricard bermain dipikirannya. Untuk sesaat pikirannya tidak fokus, membuat ia melamun dan membual tanpa arah.


'Pria aneh, memasangkan GPS pada tubuh pasangannya agar wanita tersebut tidak bisa lari ataupun bersembunyi. Bisa dianggap sebagai sebuah perhatian, atau justru penyiksaan. Benar benar pria yang mengerikan.' Batin Candy.


"Hey kau, kau ingin membantuku atau hanya berdiri disana seperti patung bodoh. Jika kau tidak bisa diandalkan sebaiknya pergi, dan jangan pernah kembali.". Ricard membanting pintu, membuat Candy cepat-cepat menghilangkan pikiran anehnya dan lari mengejar Ricard.


Sesampainya di tempat parkir.


"Biar aku yang mengemudi, sesungguhnya kau orang yang paling payah yang pernah aku temui." Ujar Ricard dengan nada sinis.


Candy sangat membenci sifat sombong dan egois yang ada pada diri Ricard, namun ia tidak punya pilihan lain untuk menemukan Rose selain mengikuti perintah Ricard.


"Dimana tempatnya?." Tanya Candy.


"Jangan berisik, dan biarkan aku yang mengambil alih. Kau sebaiknya diam."

__ADS_1


Candy menggerutu kesal, darahnya seakan mendidih, tangannya mengepal, dan wajahnya merah padam. Ricard melirik sejenak, kemudian mengabaikannya. Candy menarik nafas panjang sekedar untuk menenangkan diri, ia harus pandai mengontrol emosi. Karena ia sadar, satu satunya orang yang dapat membawanya menuju Angel hanyalah Ricard. Meski itu artinya, ia harus menerima perlakuan tak menyenangkan.


Ricard fokus menatap jalanan dan mengikuti setiap instruksi yang keluar dari smartphone miliknya, sekarang mereka hanya berjarak tiga ratus meter dari lokasi Angel. Dan tak lama lagi, perang akan dimulai.


__ADS_2