B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Tiga puluh Dua.


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan hampir pukul satu kurang tiga puluh malam, Smith mematikan televisi. Memakai baju, menyembunyikan pistol dibalik mantelnya. Setelah merasa dirinya sudah siap, ia segera menelepon seseorang yang berada tak jauh dari tempat mereka menginap.


“Segera persiapkan dirimu, sebentar lagi waktunya tiba........ Bagus, kabari aku jika kamera pengawas sudah dialihkan....................,Tidak, tidak perlu mematikan lampu.........., Baiklah jaga dirimu baik-baik.”


Smith mematikan ponselnya dan beralih menelepon James.


“James, apa kau sudah siap?.......,,,, Ah tentu saja sudah........., Tidak gadis itu menolak aku tak sampai hati memaksanya.......,oh.., Aqila, dia sedang tidur sekarang........, Baiklah jaga dirimu dan lakukan sesuai rencana.” Smith mematikan ponsel dan menyimpannya di saku.


Sementara itu Angel merasa gelisah dalam tidurnya, beberapa kali ia berbalik arah. Smith mencoba untuk melihat kondisinya, ia melihat air mata mengalir menuju pipi gadis itu. Matanya masih terpejam namun Angel menangis terisak-isak, Smith tak tega melihatnya. Ia menyentuh pipi Angel perlahan guna mengusap air matanya, dan berbisik untuk membangunkannya.


“Aqila, bangunlah. Sudah waktunya untuk beraksi.”


Angel melompat dari tempat tidur, membuat Smith terkejut dan mundur beberapa langkah.


“Oh..., Pardon me. Ah..., Maksudku maafkan aku.”


“Tidak masalah, aku juga paham bahasa spanyol. Sekarang bersiaplah, kita tidak boleh terlambat.”


Angel menuju kamar mandi untuk membasuh muka, ia mengambil sekaleng soda dan meminumnya, Wajahnya kembali segar seperti sedia kala. “Baiklah, aku siap.”


“Good job, honey.” Smith melirik jam, waktu sudah menunjukkan pukul satu kurang sepuluh malam. Ia mengambil ponsel dan menelepon.


“ Hey, apa kau sudah siap?....,bagus........, Kami keluar sekarang.”

__ADS_1


Smith dan Angel keluar kamar, mendapati James sudah siap di depan pintu. Mereka pergi menuju tangga darurat, karena jika mereka menggunakan lift. Bisa saja seseorang juga berada di sana, Mereka pun tiba diatas. Dan kamar yang mereka incar hanya berjarak lima pintu dari tempat mereka berdiri, saat mereka hendak maju terdengar suara knop pintu yang hendak dibuka. James langsung mundur, Sementara Angel dan Smith terjebak didepan pintu tersebut. Smith menarik Angel, dan menciumnya dengan kasar. Seseorang keluar kamar merasa kaget melihat sepasang kekasih sedang memadu kasih, tak ingin mengganggu ia memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamar. Angel mendorong tubuh Smith, mereka kembali fokus pada misi.


Smith memutar knop pintu dengan perlahan, tanpa mengeluarkan bunyi sedikitpun. James berdiri di luar sementara Angel dan Smith menyelinap masuk, Angel mendapati seorang pria dan wanita tengah tertidur pulas. Smith mengacungkan pistolnya didahi pria tersebut, membuat pria tersebut hampir menjerit.


“Keluar dari sana cepat, dan jangan menjerit atau kau kuhabisi.”


Smith merasa pria tersebut terlalu lamban, jadi ia menarik selimut dengan kasar. Membuat wanita dan seorang anak kecil terbangun dari tidur mereka, Angel hanya diam terpaku melihat kejadian itu.


“Berlututlah, kubilang berlutut cepat.” Pria tersebut berlutut dihadapan Smith. “ Dan kalian turun dari tempat tidur, pergi kepojokan sebelah sana.” Wanita tersebut turun dari tempat tidur sambil memeluk erat putri mereka.


“Aqila, lihat pria ini. Apa kau mengenalnya?.”


Angel maju beberapa langkah dan melihat sosok dihadapannya, wajahnya tak begitu asing.


“Kumohon ampuni aku, kau boleh membunuhku tapi kumohon jangan sakiti istri dan anakku.” Suara serak pria tersebut membuat Angel bergenyit, suara yang sama saat pembunuh Robert mengajaknya mengobrol.


“Tidak nona, itu bukan salahku. Kami hanya menjalankan perintah dari seseorang.” Pria iu terus meminta belas kasih Angel.


“Ayahku, apa kau mengampuninya saat itu.”


Pria tersebut menggeleng, ia menatap penuh harap. Smith menyeringai, dan mulai menarik pelatuk.


“ Good job, kalau begitu..., Sampai jumpa di neraka.”

__ADS_1


Dorrr...,


Suara pistol hampir tidak terdengar, namun pria tersebut telungkup kedepan dengan darah segar mengalir dari dahinya.


“Dadyyyyyy..” Anak tersebut teriak histeris, sementara wanita itu menangis pilu.


“Tak perlu menangis nak, ayahmu memang pantas mendapatkannya.” Smith mengarahkan pistolnya kearah anak tersebut, membuat Angel terkejut.


Angel tak pernah sekalipun menyakiti anak-anak, ia segera memprotes tindakan Smith.


“Kita tinggalkan saja mereka, tak ada gunanya membunuh anak-anak.”


“Kau salah, kita tidak boleh membiarkan mereka hidup. Kita bisa ketahuan sayang, jadi. Habisi mereka.”


Angel tercengang, Smith hendak menarik pelatuk. Namun anak tersebut sudah pingsan bersimbah darah.


“Cris....,” belum sempat wanita itu menyelesaikan kata-katanya, sebuah peluru melesat mengenai tubuhnya. Membuatnya jatuh kebelakang.


Smith tidak mengeluarkan satupun peluru, ia menoleh kearah Angel. Ternyata gadis itulah yang menarik pelatuk, sekarang hanya tersisa mereka berdua. Darah segar yang mengalir hampir mengenai ujung sepatu Angel, membuat ia mundur beberapa langkah untuk menghindar.


“Kerja bagus nak, kau belajar dengan cepat. Ayo kita pergi sebelum ada yang curiga.”


Angel mengikuti Smith, James yang sedari tadi menunggu didepan mulai memberi kode. Dengan cepat mereka melesat menuju tangga darurat, dan berlari turun menuju kamar tempat mereka menginap. James langsung masuk kekamarnya, sementara Smith mengantar Angel menuju kamar. Kepala Angel terasa sakit, tubuhnya begitu lemas. Ingatan dikepalanya mulai mengalir, namun Angel masih belum bisa mendapat apapun. Smith menangkap tubuh Angel yang hampir pingsan, dan memapahnya menuju tempat tidur. Smith membantu melepaskan sepatu yang Angel kenakan. Badai salju kiat lebat, Smith menaikkan suhu kamar. Angel mulai memejamkan mata, entah mengapa ia begitu merasa lelah hingga akhirnya tertidur pulas. Smith merasa aneh dengan kondisi Angel dan hanya memandangi gadis itu sejenak. Smith mengunci pintu, membuka sepatu dan baju yang ia kenakan dan menjatuhkan diri diatas ranjang. Ia tidur bersebelahan dengan Angel. Smith menatap punggung gadis di sebelahnya, dan memeluknya dari belakang. Smith menutup matanya perlahan, menikmati hangatnya tubuh Angel. Hingga akhirnya ia tertidur pulas.

__ADS_1


Saat Smith hampir lelap dalam tidurnya, mendadak ia mendengar suara aneh. Suara gemuruh yang cukup kencang, lebih terdengar seperti suara karet sintetis yang bergesekan satu sama lain. Smith menyadari suara tersebut berasal dari Angel, rupanya gadis tersebut sedang buang angin dalam keadaan tidak sadar. Yang merupakan efek dari banyaknya air soda yang Angel minum sebelum tidur, Smith tersenyum geli karena mendapatkan kejadian tak terduga malam ini. Ingin rasanya tertawa lepas, namun ia tak sampai hati jikalau Angel sampai terbangun dari tidurnya. Jadi ia hanya menahan diri, memejamkan mata, dan membiarkan hal ini menjadi rahasia tersembunyi antara dirinya, dan dinginnya salju malam ini.


' Aqila, kau gadis yang unik. benar-benar unik.' Batin Smith, seraya memeluk Angel dengan lebih erat dan bertambah erat dari sebelumnya.


__ADS_2