
"Informasi: Kau berkendara terlalu cepat," ujar Faith. Abel menoleh menatapnya.
"Kecepatanku sesuai," jawabnya.
"Kau berkendara dengan kecepatan yang lebih cepat dari yang ditetapkan di rambu lalu lintas."
Abel memicingkan matanya menatap Faith, lalu kembali melihat ke arah jalan di depan yang diapit oleh tanda-tanda yang mengindikasikan, mengiklankan, dan mengumumkan segala macam hal. Akhirnya sebuah rambu indikator kecepatan berdesis lewat di sampingnya.
"Angka lima puluh lima mengindikasikan kecepatan yang disarankan." Faith berkata dengan nada dingin. "Bukan. Aku percaya yang dimaksud adalah kecepatan maksimal. Kau berkendara lebih dari itu, Hal itu akan menarik perhatian yang tidak diinginkan.”
Abel mengangkat kakinya dari pedal gas, menyebabkan mobil di belakang mengerem mendadak, lalu sesaat kemudian pengemudinya membunyikan klaksonnya dengan marah. Abel melihat ke balik bahunya.
"Kenapa kendaraan di belakang membuat suara itu? Menyebalkan.” Abel mengerutkan alisnya.
Faith mengikuti tatapannya. "Aku yakin dia kesal."
"Kesal," ulang Abel. "Kenapa? Aku tak menyebabkan kecelakaan atau semacamnya, lagi pula aku sudah memberi tanda.”
Faith mengernyit sebentar. "Aku tidak tahu."
Pengemudi mobil itu menyalip mereka, melotot dari kursinya saat melewati mereka.
Mobil patroli NYPD yang mereka curi tengah malam tadi telah diganti dengan mobil lain. Setelah mendengarkan percakapan polisi dari radio, mereka segera menyadari nomor identifikasi mobil di atas atap mobil akan membuat mereka terlalu mudah dicari.
Sebelum fajar menjelang, mereka menggantinya dengan sebuah mobil yang diparkir sendirian di halaman depan yang kosong. Mobil itu kecil dan bentuknya seperti gelembung dan tidak nyaman bagi tubuh besar Faith, juga menyulitkan abel saat dia bergeliang-geliut masuk ke balik kemudi. tapi setidaknya mobil itu tidak akan menarik perhatian helikopter polisi yang memindai jalan besar untuk mencari kendaraan mereka yang dicuri. Tentu saja, baru ketika fajar menyingsing mereka melihat bahwa mobil baru mereka sebuah Volkswagen Beetle- berwarna oranye-jeruk yang mencolok dengan bunga-bunga krisan merah muda yang digambar dengan tangan.
Mereka berkendara dalam diam selama beberapa saat, sama seperti yang mereka lakukan sejak dari Sacramento. Saat dia menyetir, otak Abel dengan hati-hati memilah data yang diperolehnya selama tiga puluh dua jam dua puluh menit terakhir. Bukan informasi yang panjang, tapi jelas sejauh ini sangat membuatnya sibuk.
Abel dan Faith adalah pasangan pembunuh luar biasa, jika dilihat sekilas Abel hanya tampak seperti wanita lemah dengan gaya bak seorang model sementara Faith adalah seorang pria berparas preman yang menakutkan. Tapi justru mereka berbanding terbalik, Abel sangat dingin dan tak berperasaan ahli dalam strategi dan cepat dalam mengambil keputusan, sementara Faith hanya pintar dalam hal bertarung. Faith adalah tipe petarung yang hebat namun lemah dalam hal strategi dan masih memiliki rasa empati terhadap lawan.
Inilah yang membuat mereka menjadi pasangan pembunuh yang unik sekaligus menakutkan, satu satunya tandingan mereka adalah Angel. Pertemuan mereka yang tanpa disengaja saat sedang beraksi ternyata membuat Abel menyimpan dendam, itu sebabnya ia sangat antusias sehingga tak menyia-nyiakan waktu barang sedetikpun.
__ADS_1
Abel memandang keluar ke arah pagi yang sekarang terang dan cerah, langit biru tanpa awan ada di atas mereka. Jalanan macet dengan lalu lintas pagi. Sebuah dunia berisi manusia yang tanpa lelahnya melakukan pekerjaan mereka sehari-hari, bangun dan pergi kerja seakan hari ini hanyalah hari yang lain. Seperti lompatan program yang bekerja tanpa memedulikan peristiwa luar biasa hari sebelumnya. Hidup berjalan sama seperti sebelumnya.
"Mereka bersikap seolah tidak ada sesuatu yang tidak biasa terjadi kemarin." kata Faith seakan membaca pikiran Abel. "Menurutmu, kenapa begitu?"
"Pola sikap pascatrauma," jawab Abel singkat.
"Menyibukkan diri supaya mereka tidak perlu menghadapi apa yang mereka saksikan kemarin?" Faith menyalakan rokoknya
"Benar. Pengalaman dan rekoleksi adalah data yang berguna. Menyangkalnya sangatlah tidak masuk akal."
"Kurasa aku menyukai gagasan itu, hanya saja itu terdengar sangat... Kau tahu sulit untuk mengatakannya."
Abel mengabaikan Faith, kini ia kembali fokus ke jalanan. Faith tampak kurang nyaman, ia mematikan rokok dan sedikit bergeliat.
“Kita sudah berkendara tanpa henti. kau tahu, kita butuh istirahat mobil ini membuat pinggangku mati rasa.” Keluh Faith.
“Kalau kau mau beristirahat, sebaiknya kirim surat pengunduran diri saja.”
“Ayolah, kau selalu saja begini. Dasar wanita gila.”
Abel kembali diam tanpa merespon, ia mengarahkan mobil ke pinggir jalan dan berhenti mendadak di sebuah persimpangan jalan. Di mana terdapat sebuah motel dan kedai kecil tempat para sopir biasa istirahat.
“Apa kau benar-benar sudah gila?” Teriak Faith.
“Kita berhenti sejenak di sini untuk mengisi bahan bakar, lagi pula aku harus meninjau ulang data yang aku dapatkan.”
“Terserah kau saja.”
Mereka turun dari mobil, setelah mengisi penuh bahan bakar Abel mengusulkan agar mereka sarapan dikedai. Mereka duduk bersebelahan dengan meja yang langsung menghadap ke jalan sambil tetap memperhatikan sekeliling.
“Menurut data mereka terakhir berada di Sacramento, aku berharap salah satu dari mereka menggunakan kembali kartu kreditnya.” Abel menyerahkan laptop kepada Faith, dan Faith menerimanya dengan sedikit kesal.
__ADS_1
“Harusnya kita ke Nevada, bukankah itu yang dikatakan temannya. Dan jalan ini bukanlah menuju Nevada.” Ujar Faith kesal.
“Fokus saja melihat datanya, lagi pula kita tidak bisa mempercayai orang lain.” Abel menyuapkan sepotong pancake ke dalam mulutnya.
Faith memakan sandwichnya sambil mengotak-atik laptop, Mendadak Faith berputar di kursinya untuk menatap Abel. "Aku mendapat sinyal."
Mereka beradu pandang dan Abel mengangguk. Selama satu detik, kurang dari itu, mereka berdua menangkap sinyal penggunaan kartu kredit. GPS menunjukkan lokasi mereka, melewati tikungan yang mengarah ke bangunan-bangunan besar berbentuk kotak dengan parkiran luas di depannya.
dengan cepat Faith dan Abel menyudahi makan mereka, saat hendak menuju ke mobil mereka melihat mobil Van tua terparkir didepan motel.
"Bukankah ini mobil yang disebutkan oleh salah seorang penjaga toko?"
“Sebaiknya kita periksa.”
“Hey, mungkin ini bukan milik mereka.”
Abel berjalan menuju mobil tua tersebut Faith berjalan di sebelahnya. Dia mengeluarkan pistol dari pinggang celana joging yang dikenakannya, dicuri dari pelari malang yang rasanya terjadi di satu kehidupan yang lalu.
"Mungkin mereka di sini," Abel memberi tanda bahwa Faith harus membuka pintu mobil.
Faith mengangguk dan menjangkau pegangan pintu mobil itu. Tidak bisa dibuka. Dia memecahkan kaca mobil, dan membuka kuncinya dari dalam, pecahan kaca berserakan didalam mobil. Dia menarik pintu itu dan masuk ke dalam Van yang tersentak pelan di bawah berat badannya.
Di dalam, dia melihat kekacauan dari kantung sampah dan kantung plastik yang ditumpuk di kursi belakang kendaraan. Ia juga membuka bagasi mobil dan menemukan hal serupa.
“Menjijikkan, pemiliknya pastilah orang gila.”
“Kita tidak punya waktu untuk memeriksa sampah ini, sebaiknya kita bergegas menuju lokasi yang ditunjukkan.” Abel berjalan masuk ke mobil lebih dulu, dan duduk di kursi kemudi.
Faith masih memandangi Van tua tersebut dengan tatapan menyelidik.
“Bergegaslah!!”
__ADS_1
“Ya, tunggu aku.”