B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Tiga puluh lima


__ADS_3

Angel terbangun tanpa mengenali sekeliling, bajunya berantakan dan rambutnya kacau balau. Kepalanya sedikit sakit, ia memeganginya beberapa saat. Angel melihat kearah sofa, ia merasa bingung. Karena hotel tidak pernah menyediakan sofa didalam kamar, seorang pria tidur dengan kepala menghadap keatas dan tangan yang bersandar pada sandaran sofa. Angel masih ingat misinya, ia berjalan mengendap. Mengambil pistol yang tersembunyi dibalik bra-nya, dan menodongkannya kedahi Jack. Angel hendak menarik pistol, seolah tahu bahaya yang sedang mengancamnya Jack bangkit dan menendang pistol Angel keatas hingga jatuh ke lantai.


“Kerja bagus Rose, kau memang seorang penghianat. Tak kusangka, kau tega menghabisi nyawa kolegamu. Apa kau lupa dengan perjanjian kita sayangku.”


Angel mencari celah, ia mengayunkan tinju tangan kanannya ke pipi Jack yang ditangkis Jack dengan cepat. Angel tak seceroboh itu, dia justru mengayunkan tangan kirinya kearah perut membuat Jack merasakan sakit luar biasa pada bagian lambung. Angel berputar, mengunci kedua tangan Jack dan membuat Jack jatuh berlutut. Jack tidak mencoba untuk melawan, ia membiarkan Angel memukulinya. Angel menarik lengan baju kiri Jack dengan sangat kuat, membuatnya robek hingga memperlihatkan lengan Jack yang kekar. Posisi Angel sangat menguntungkan saat ini, Namun satu gerakan dari Jack membuat posisi mereka berubah, Jack melakukan gerakan yang tidak terduga membuat Angel terguling dilantai. Jack menjatuhkan tubuhnya keatas tubuh Angel, memegangi kedua tangan dan mengapit erat kedua kaki Angel. Angel merasa sesak, ia meronta namun tenaga yang ia punya tak cukup untuk melawan kebuasan Jack.


Kulit wajah sebelah kiri Jack terkelupas, dan menjuntai kebawah. Anehnya tidak ada darah mengalir dari sana, justru Angel mulai mengenali pria itu lewat goresan luka dipipinya.


“Tuan Arnold?.”


“Senang akhirnya kau menyadari keberadaanku.”


“Lepaskan aku.”


“Siapa yang memerintahkanmu untuk membunuhku?.”


“Bukan kau, Jackson yang seharusnya kubunuh. Lepaskan aku tuan.”


Angel terus meronta, membuat Arnold menyerigai bagaikan seekor macan tutul.


“Apa kau tahu, Jackson sudah tewas dua hari yang lalu. Aku kemari menyamar untuk mencari pembunuhnya.”


Angel terdiam, pikirannya menerawang jauh. Apakah kali ini dia dibodohi?, Atau justru Arnold hanya mengarang cerita?.


“Aku akan melepaskanmu, tapi pastikan agar kau tidak menyerang ku.”


“Baiklah.”


Arnold melepaskan cengkraman tangannya, dan berdiri menjauh dari tubuh Angel. Angel bangkit dan memilih untuk duduk disamping ranjang.

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya terjadi?.” Raut wajah Arnold terlihat sangat serius.


Angel menatapi pria di hadapannya, ia takut kalau pria ini hanya menyamar dan mengaku-ngaku bahwa dia adalah Arnold. Tapi goresan itu sangat nyata, hanya Arnold yang memilikinya.


“Ah.., kulit ini sangat menggangguku.” Arnold menarik kulitnya yang menjuntai dengan satu tarikan kuat, Angel sedikit ngilu melihatnya. Meski dia tahu bahwa itu hanyalah sebuah kulit palsu, yang dipasang oleh Selena.


Wajah pria didepannya seketika berubah menjadi pria yang begitu ia cintai, Arnold. Ternyata Jack adalah Arnold yang menyamar. Angel terkesima melihat Arnold, namun rasa benci ikut menyeruak. Ia kembali teringat perkataan Smith yang menjelaskan bahwa, DarkRiver bersalah. Mereka telah membunuh ayahnya, dan merenggut semua kebahagiaan yang Angel miliki. Angel melihat sebuah peluang, ia bisa membalas dendam atas kematian ayahnya. Angel mengambil pistol, dengan cepat ia mengarahkannya ke Arnold.


“Sayang, bukankah kukatakan untuk tidak menyerangku. Apa yang salah denganmu?.”


“Kau yang bersalah tuan Arnold, teganya kau merenggut nyawa keluargaku.”


“Apa maksudmu, siapa yang membuatmu jadi seperti ini?.”


“Smith sudah menceritakan semuanya, DarkRiver. Kalian memang kejam, apa kau lupa kejadian lima tahun yang lalu tuan Arnold. Kau membunuh satu-satunya keluarga yang aku miliki.”


“Sampai jumpa di neraka dasar bedebah.”


Angel menarik pelatuk, dan.


Dor....


Angel menjatuhkan diri kelantai, ia memandang Arnold dengan berurai air mata. Ia menangis, meski suara pistol hampir tidak terdengar. Hatinya terasa begitu pilu, seolah suara pistol terngiang di telinganya. Angel merasa sangat takut, tapi tidak ada pilihan lain. Ia terpaksa melakukannya. Ketika dihadapkan dengan sebuah pilihan antara rasa benci dan cinta, Angel berusaha untuk tidak memilih keduanya. Sekarang dia hanya menunggu, berharap Arnold dan Blood tidak bersalah.


“Aku bukan gadis bodoh, aku sudah tahu. Kuharap kau lebih bisa memahami, dan aku tidak ingin ada kebohongan darimu tuan Arnold, ini demi kebaikanmu. aku hanya ingin membalas dendam atas kematian ayahku. Maafkan aku.”


Angel mengusap air matanya, bukan hal baik jika ia keluar dengan berlinang air mata. Begitu Angel keluar dari kamar hotel, ia langsung disambut oleh James yang berada didepan pintu.


“Bagaimana?.”

__ADS_1


“Sudah beres, pria itu tewas.”


“Aku ingin melihatnya.”


“Kurasa tidak perlu Tuan James, kita masih memiliki beberapa tugas dari tuan Smith. Kita harus segera pergi.”


James mengangguk setuju, mereka berdua pun pergi dari hotel. Begitu sampai dipintu depan Angel baru sadar, ia meninggalkan mantelnya di dalam bar. Sekarang ia kedinginan, tidak ada pilihan lain selain menahan hawa dingin yang menyelimutinya. Angel bergegas masuk kedalam mobil, ia sadar dia tidak akan mampu bertahan pada suhu dingin seperti sekarang.


“James, giliranmu mengemudi. Aku ingin duduk dan mendengarkan cerita Angel.” Smith keluar dari mobil dan masuk ke pintu belakang.


“Justru itu yang kuinginkan Smith.” James mengatakan dengan senang hati.


James mengambil alih kemudi, sementara Smith duduk di sebelah Angel. Mesin mobil mulai menyala, dan berjalan perlahan menyusuri jalanan yang licin.


“Honey, bagaimana tadi. Apa kau menikmati pestanya?.”


“Kurang lebih begitu, Tuan Smith. Bisakah kau mampir ke kamarku malam ini?.”


“Wah.., wah.., apa ini sebuah ajakan. Aku terkejut, tapi sepertinya kau mulai menyukaiku bukan.” Smith membelai pipi Angel dengan lembut.


Angel hanya diam, suhu dimobil sudah cukup hangat. Tapi hatinya terasa begitu dingin, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Meski tembakannya meleset dan menyisakan kehidupan tujuh puluh perbanding tiga puluh bagi Arnold, tetap saja ia takut. Bukan tidak mungkin jika tidak ada yang menyadarinya, Arnold tetap akan tewas kehabisan darah didalam kamar hotel.


“Tuan Smith, boleh aku minta soda seperti kemarin?.”


Smith menoleh kearah Angel, senyum nakal nan licik tersungging di bibirnya.


“Jangankan soda sayangku, wine termahal di dunia pun akan kuberikan untukmu.”


“Terima kasih.”

__ADS_1


__ADS_2