B.L.O.O.D ( BlackRose)

B.L.O.O.D ( BlackRose)
Lima puluh satu


__ADS_3

“Mawar hitam dan lonceng, bukanlah lambang kami. Setahuku, mawar hitam hanyalah sebuah kode yang sering kami gunakan saat beraksi dan lonceng, kami tidak pernah menggunakannya. Lagi pula bentuk mawar hitamnya sangat berbeda, apa kau ingat tatoku. Mawar hitam kami memiliki daun berbentuk kelopak hati disisi kiri dan kanan, sedangkan ini hanya mawar hitam yang melilit lonceng tanpa daun.”


Arnold terdiam beberapa saat, ia memang berharap bukan Blood pelakunya. Suasana menjadi hening, Angel membuka Smartphone nya dan melihat pesan yang tersimpan dan tak pernah ia buka.


“Ya tuhan.”


“Ada apa?.”


( Pesan masuk dari Louis.)


‘Angel segera respon, agen kita tertangkap. Kate, Andreas, Charli. Mereka semua tewas. Dan masih ada beberapa agen yang belum diketahui keberadaannya secara pasti.’


‘'Angel, kau dimana?. Kami kehilangan lokasimu.’


‘'Angel, Tuan Blood sakit, ia ingin segera menemuimu.’


‘'Angel, jika kau masih hidup telepon aku begitu membaca semua pesan ini.’


Arnold ikut membaca isi pesan dari Louis, Angel menatap Arnold lekat seolah sedang curiga padanya.


“Kau tahu soal ini?.”


“Demi tuhan tidak!, Nelson tidak memberiku kabar apapun dari California. Dan barusan ia menelepon karena ingin tahu lokasiku sambil memberi tahu bahwa Mike dalam masalah.”


Angel berfikir sejenak, ia mulai mengingat sesuatu. Ia pernah melihat lambang itu sebelumnya hanya saja bukan di kertas tapi ditubuh seseorang.


“Smith.”


“Siapa dia?.”


“Orang yang mengaku sebagai teman, tapi ia menjebak aku dan James. Dia memiliki tato itu di lengan kirinya, dan aku ingat sewaktu kecil. Pria dengan tato yang sama juga lah yang membunuh seluruh anggota keluargaku.”


“Keluargamu?.”


Arnold berpikir keras, ia pernah mendengar nama itu sewaktu menyelamatkan James. David mengatakan rumah itu milik Smith pemimpin organisasi Death knell yang ditakuti, artinya Blood tidak terlibat. Selama ini ia salah paham karena tidak mengetahui bahwa ada organisasi lain yang memiliki lambang mawar hitam, seharusnya ia mencari tahu sejak awal jika saja ia tidak hanyut dan terbawa oleh Kasus kematian Matthew.


“Sekarang semuanya sudah jelas, apakah dengan ini kita bisa bekerja sama?.” Tanya Angel.


“Ya, mungkin. Tapi aku tidak bisa sepenuhnya percaya kepada kalian.”


“Terserah padamu.”


Angel berdiri dan menelepon Louis, setelah berdering beberapa kali Louis mengangkat teleponnya.


“Kau masih hidup?.” Teriakan Louis dari balik telepon terdengar jelas, membuat Angel sedikit kaget.


“Bisa pelankan suaramu....., Ada banyak hal yang ingin kubahas denganmu dan Ricard bisa kita bertemu ditempat biasa?.......baik jaga dirimu.”


Angel mematikan telepon.


“Percaya atau tidak, tapi Louis dapat kita percaya. Kita bisa membahas hal ini bersama, semoga saja Ricard bisa ikut karena ia selalu sibuk dengan urusannya.”


Arnold mengangguk, ia setuju dan mereka segera bergegas. Kali ini Arnold yang menyetir, ia memacu kecepatannya sangat tinggi. Hampir melebihi batas maksimal mobil.


Sementara itu,

__ADS_1


Jane Cafe, pukul satu waktu setempat.


Ricard memasuki kafe dengan lesu, sebenarnya ia enggan pergi namun Louis terus memaksa tanpa alasan yang jelas. Banyak hal yang bisa ia kerjakan sekarang seperti mencari tahu informasi mengenai keberadaan Angel, atau yang lebih penting seperti mengambil alih kekuasaan pasca ayahnya meninggal.


Ting..


Seorang wanita berparas cantik tengah duduk manis di kursi yang berada diujung jauh dari jendela, ia menyesap kopi secara perlahan dan tersenyum manis begitu Ricard menghampiri.


“Hay, senang melihatmu disini.” Louis mempersilahkan Ricard duduk.


“Ada apa?.”


“Kau ingin minum apa?, Teh, kopi.”


“Kopi mocca saja.”


Louis memanggil pelayan, ia memesan dua moccachino dan dua chesee cake. Sebelum melanjutkan obrolan, Louis menghabiskan kopi yang ia pesan sebelumnya.


“Katakan ada apa?.” Tanya Ricard.


“Angel, dia sedang kemari. Tadi sekitar pukul dua belas ia menelepon, dan memintaku untuk mengajakmu bertemu dengannya disini.”


“Dia benar-benar berada di California, sungguh. Apa ia sehat-sehat saja?.”


“Mendengar dari nada suaranya yang dingin seperti biasa, rasanya kondisinya sehat.”


Obrolan terus berlanjut, Ricard tak henti-hentinya bertanya mengenai Angel meski hanya sebuah pertanyaan yang diulang-ulang. Mengenai caranya bisa pulang ke California, pria misterius yang berada bersamanya dan hal lain yang menurut Louis terlalu mengada-ada. Kue dan kopi yang dipesan sudah tiba, Louis menikmati kuenya dengan perlahan sementara Ricard terus melirik jam tangannya sambil mengoceh tidak karuan. Untuk pertama kalinya, Louis melihat Ricard banyak bicara jadi ia hanya mendengarkan sambil memotong kue menjadi potongan-potongan kecil sebelum menyantapnya.


“Hampir pukul dua, kemana Angel?. Apa kau membohongiku?.”


“Tunggulah sebentar lagi, perjalanannya memang cukup jauh. Kurasa kita yang terlalu antusias dan datang dengan terburu-buru.”


“Kau bersikap terlalu tenang Lou, aku khawatir jika....”


“Berhenti mengoceh dan nikmati saja kuenya.”


Ricard terdiam, ia memotong kuenya hingga hampir setengahnya dan langsung memasukkan kedalam mulut.


Jam sudah menunjukkan pukul dua lewat empat puluh, dua jam lebih Ricard dan Louis menunggu Angel membuat Ricard naik pitam dan hampir pergi meninggalkan tempat itu.


Ting...


Gadis yang dinantikan tiba, ia melangkah masuk dan langsung berjalan menghampiri Louis.


“Maaf saya terlambat, apa kalian sudah menungguku cukup lama?.”


“Ya, kau membuatku menunggu selama dua jam.” Ricard berbicara tanpa menoleh.


Louis berdiri dan memeluk erat Angel.


“Aku merindukanmu, kau nampak lebih kurus dari sebelumnya, kemari dan duduklah kau pasti merasa lelah.”


Ting...


Arnold berjalan masuk dan langsung merangkul Angel dari belakang.

__ADS_1


“Dia temanmu, senang bertemu.”


Louis dan Arnold saling bersalaman, Ricard yang merasa familiar dengan suara Arnold langsung menoleh.


“Apa yang dia lakukan disini?.”


“Akan kujelaskan, mari kita duduk terlebih dahulu.”


Louis berpindah dan duduk disamping Ricard, sementara Angel dan Arnold duduk saling berhadapan dengan mereka. Louis kembali memanggil pelayan memesankan kopi dan kue tart untuk Arnold dan Angel.


“Bisa kau pesankan aku teh saja, aku kurang suka kopi.” Ujar Angel.


“Baiklah.” Louis segera merubah pesanan.


Suasana agak canggung, Angel mulai menjelaskan semuanya. Mulai dari penculikan ketika ia berada di London, pertemuan dengan Smith. Pembunuhan berantai para anggota Dark river serta hubungannya dengan kasus yang dialami Blood sekarang, Angel menjelaskan bagian secara rinci dan sistematis. Sesekali Louis mengajukan pertanyaan dan langsung dijawab Angel, kini Louis paham dengan kondisi yang mereka alami dan setuju untuk bekerja sama dengan Dark river.


“Tapi, apa kita bisa melakukannya. Maksudku Blood sekarang sudah jatuh ketangan Dark river, mungkin aku akan setuju tapi sebagai gantinya kembalikan organisasi itu kepadaku.” Ricard mulai buka suara.


“Aku tak pernah merebutnya dari kalian, bahkan sekarang ini banyak sekali pembelotan yang terjadi di organisasi kami.” Jelas Arnold.


Ricard menatap lekat wajah Arnold, ia tidak berbohong. Arnold mengatakan kebenaran, itu artinya ada seseorang yang mengaku sebagai pemimpin Dark river ia tak hanya mengambil alih Dark river. Tetapi juga mengambil alih Blood dengan men-kambing hitamkan Arnold.


“Bagaimana kondisi Tuan Blood, kau mengirim pesan bahwa ia sedang sakit.” Angel mengalihkan pembicaraan.


“Sayangnya, Tuan meninggal dunia dua hari yang lalu.” Louis merenung dan hampir meneteskan air mata.


“Mustahil, kau pasti berbohong.” Mata Angel mulai berkaca-kaca.


Ricard dia seribu bahasa dan mengunyah kue dihadapannya, Arnold sama terkejutnya dengan Angel tetapi ia cukup pandai menyembunyikannya.


Suasana mulai hening seolah mereka sedang mengheningkan cipta, Angel menahan air matanya agar tidak mengalir dan menutupi kesedihannya dengan memasang wajah tanpa ekspresi. Arnold memahami perasaan Angel melalui gerak tubuhnya, dan berusaha mencari topik baru untuk mengalihkan perhatian.


"Jadi, kapan kita akan mulai bertindak?." Arnold menyeruput kopi dihadapannya.


Louis memahami maksud Arnold. "Entahlah, butuh rencana yang matang dan banyak orang tentunya."


"Aku punya beberapa orang yang masih setia, tapi sebelum balas dendam bantu aku menemukan keberadaan Anggotaku."


Ricard memainkan sendok, ia masih berpikir sebelum angkat bicara.


"Kami hanya berdua, tapi Louis masih punya akses untuk masuk ke gedung Blood karena ia pandai berakting."


"Bagaimana denganku?, Mereka tidak ada yang mengenalku bukan. Maksudku para pembelot itu, aku adalah agen rahasia Blood." Angel menatap Ricard.


"Tidak, terlalu beresiko. Kau belum sepenuhnya pulih, bahkan lenganmu masih membutuhkan perawatan khusus." Ketus Arnold.


Louis menatap Angel seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya.


"Kau terluka?, Bagaimana bisa?."


" Kalau yang itu tidak ada kaitannya dengan masalah ini, jadi apa yang harus aku perbuat. menunggu seperti seekor ******?."


"Tenanglah Rose, Kau bisa membantu. sebaiknya kita atur strategi dulu, jika yang kalian katakan benar aku sendiri yang akan pergi ke gedung Blood. Aku adalah pimpinan tertinggi Dark River, dan aku baru saja pulang dari London tanpa sepengetahuan mereka."


"Ah, itu dia. Aku butuh akses ke komputer milikku, disana ada banyak data tersimpan. data yang bisa membuat kita membalikkan keadaan, aku bisa mencari tahu siapa yang mencuri data kita dan mengambil kembali apa yang sudah menjadi hak kita."

__ADS_1


__ADS_2