
Setibanya di hotel Angel bergegas menuju kamar, tangannya serasa membeku. Ia menaikkan suhu kamar sepuluh derajat lebih tinggi dari yang seharusnya, setelah berdiam beberapa menit dibawah selimut barulah suhu tubuhnya kembali normal. Angel bisa menahan semua rasa sakit, dan menanggung semua beban penderitaan, tapi suhu dingin satu-satunya hal yang bisa melumpuhkannya dalam sekejap. Angel sendiri tidak memahami kondisi tubuhnya yang tidak mampu menahan suhu dibawah dua puluh derajat Celcius, ia tidak pernah pergi ke dokter dan yang dilakukannya hanya terus menghindar dari suhu dingin.
Angel menatap langit-langit, pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan Arnold. Pria kekar dan rupawan yang terbaring tak berdaya akibat ulahnya sendiri, Angel merasa gelisah.
“Apa yang terjadi sebenarnya, mengapa tato itu tidak ada disana. Jika memang Arnold pembunuhnya seharusnya dia juga memiliki tato itu, seperti kedua pria yang menembaki Daddy. Selena, Louis. Kalian dimana?, Tidak bisakah salah satu dari kalian menemukan keberadaan ku.” Angel terus mengeluh, hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Dinding-dinding psikisnya sudah berada diambang kehancuran, Angel hampir gila. Tapi masih cukup waras untuk tidak percaya pada siapapun, Angel merasa butuh waktu untuk sendiri. Dia ingin berjalan-jalan sekedar berkeliling dan bermain salju, mungkin dengan begitu pikirannya akan kembali jernih. Angel memeriksa lemari mencari mantel cadangan, dan mengendap-endap keluar dari apartemen. Dilobi depan ia melihat Smith yang sedang menelepon, Angel merasa penasaran namun jaraknya cukup jauh sehingga ia tidak mendengar apapun. Angel mulai mendekat dan mencari tempat aman untuk bersembunyi, samar-samar ia mulai mendengar percakapan Smith.
“Apa pria itu sudah tewas?...., Kerja bagus gadis itu memang bisa diandalkan sayang sekali kita akan menghabisinya tidak lama lagi.”
‘menghabisi, apakah itu artinya membunuh?. Tapi siapa.’ Batin Angel.
“Bagaimana dengan Rachel dia tidak mengacau bukan?...., Bagus, kita harus menghabisi nyawa wanita tua itu juga. Bila perlu hari ini juga tidak masalah, dan akan lebih baik jika Rachel ikut tewas disana.” Smith tersenyum penuh kemenangan, namun ia merasa seseorang mengikutinya dari belakang Smith menoleh. Secepat kilat Angel memutar knop pintu, dan masuk kekamar orang lain.
“Hey, nona apa yang kau lakukan disini. Kau tidak salah kamar kan?.”
Angel menoleh, dan pria itu hampir berteriak begitu melihat wajah Angel.
“Aqi...”
Secepat kilat Angel mendekat dan menutup mulut pria itu.
“Kumohon tuan James, ini demi keselamatan ibumu. Jangan beritahu pada Smith jika aku disini, ah... Sepertinya dia sedang menuju kemari. Aku akan bersembunyi.”
Angel mencari tempat teraman untuk bersembunyi meninggalkan James yang merasa kebingungan, seperti dugaan Angel. Smith datang dan membuka pintu.
“Apa ada orang yang masuk kemari?.” Smith bertanya dengan penuh curiga.
“Tidak ada, memangnya kenapa. Apa ada yang salah?.” James berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa.
“Hanya saja......, Sebaiknya kau kunci pintunya. Kau tidak ingin tewas tertembak bukan.” Smith pergi dengan nada curiga, ia membanting pintu dengan keras.
Setelah memastikan Smith sudah pergi James bergegas mengunci pintu, dan menyuruh Angel untuk keluar dari persembunyiannya.
“Keluarlah, apa kau akan terus bersembunyi dibawah kasur.”
Angel mengintip, setelah memastikan kondisi aman barulah ia keluar dari bawah tempat tidur.
“Apa yang ingin kau katakan, kau bilang ibuku dalam bahaya. Apa maksudmu berkata begitu.”
“Smith, dia pembohong. Apapun yang dia katakan semuanya palsu, aku mendengar percakapannya ditelepon. Dia akan membunuh Rachel dan ibumu, juga Aku.”
James terkejut, tapi dia tidak ingin begitu saja mempercayai Angel. Terakhir kali James mempercayainya, malah berakhir dengan ibunya yang hampir tewas dirumah sakit. Menyadari keraguan James, Angel berusaha menyakinkan.
“Kau tahu Jack yang kutembak pagi tadi, dia bukan Jack. Dia adalah Arnold, salah satu klien kami.”
“Lalu?. Apa hubungannya dengan ibuku?.”
__ADS_1
“Apa dia mengatakan sesuatu sebelumnya, apa kau tahu mengenai hal ini?.”
“Kurasa tidak. Katakan dengan jelas dan berhenti basa-basi.”
“Begini, sewaktu kerumahmu aku melihat kamera pengawas yang sudah mati. Aku merasa aneh, dan ternyata dugaan ku benar. Kamera itu adalah bom, dan aku mendengarnya tadi. Rumahmu, akan diledakkan hari ini.”
“Berhenti berbohong.”
“Aku berkata jujur, jika kau masih bersikeras. Sebaiknya kita pergi mengunjungi ibumu.”
James berpikir sejenak, ia tidak dapat mempercayai Angel tapi ia tidak ingin ibunya dalam bahaya.
“Baiklah kita akan pergi, hanya sekedar memastikan bahwa kau berbohong.”
“Kau boleh menembak kepalaku jika aku berbohong padamu.”
James membuka pintu, ia keluar dan melihat keadaan sekitar. Setelah memastikan semuanya aman, mereka berjalan menuju parkiran. Angel menyamar dengan memakai baju James, meski terlihat kebesaran Angel tidak kesulitan memakainya.
“Aku lupa, Smith membawa mobilnya. Aku tidak punya kendaraan lain.”
“Aku akan bicara pada seseorang disini barangkali ada yang mau berbaik hati meminjamkan mobil mereka.”
“Kau yakin, kurasa kita naik taksi saja.”
“Ikut aku.”
“Ini sebagai biaya sewanya, jika ada kerusakan kami akan menggantinya dua kali lipat.”
“Tidak perlu begitu, semoga mertua Anda sehat-sehat saja. Berhati-hatilah, jalanan sekarang lumayan licin karena salju.”
“Terima kasih tuan dan nyonya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih.”
James dan Angel melanjutkan perjalanan mereka menuju Yosemite Selatan, meski jalanan terbilang licin James mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi membuat mereka tergelincir dan hampir menabrak trotoar. Beruntung James sempat mengerem, karena takut James menurunkan kecepatan mobil. Sepanjang perjalanan mereka hanya berdiam, Angel mulai merasa kedinginan dan beberapa kali mengusapkan tangan. Smith melihat kegelisahan Angel, merasa tidak tega ia pun memulai pembicaraan.
“Apa suhunya sedingin itu, sejak tadi kau menggigil.”
“Tidak juga.” Angel menjawab dengan ketus membuat James enggan melanjutkan.
Suasana hening beberapa saat.
“Maaf..., Dulu aku berbuat jahat kepada kalian. Aku pikir aku bisa membalaskan dendamku sendiri, nyatanya justru aku menimbulkan dendam bagi orang lain.”
“Kau memang bersalah, tapi ibuku selalu memaafkanmu. Kurasa, ibuku menyukaimu.”
Angel menoleh, ia melirik ke arah James. Dulu pria itu terlihat begitu muda dan bersemangat, sekarang ia nampak begitu letih seolah enggan melanjutkan hidup.
“Bagaimana dengan karirmu sebagai seorang agen federal.”
__ADS_1
“Aku dipecat. Kau mencuri dokumenku yang paling berharga, seharusnya semua mafia sudah dihukum mati sekarang. Tapi kau mengacaukan semuanya.”
Angel menunduk, ia tidak pernah merasa begitu menyesal. Tubuhnya dingin, namun hatinya mulai menghangat. Angel terbayang kebahagiaan dan kehangatan yang diberikan Ms. Taylor kepadanya, meski ia hanya tinggal selama beberapa bulan disana.
“Maafkan aku, jika kau mau setelah semua ini selesai. Aku akan mengembalikan kehormatanmu.”
James hanya diam dan tetap fokus menatap jalanan, salju mulai turun perlahan meski hanya dengan intensitas rendah. Angel menatap salju yang turun, ia teringat kepada gadis kecil yang ia tembak tempo hari. Angel merasa sedih, gadis itu mirip dengannya dulu. Yang ketakutan, dan tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuat oleh orang tuanya sehingga ia mendapat kemalangan.
Tak terasa mereka telah berkendara cukup jauh, jarak mereka hanya beberapa ratus meter dari rumah James. James ingin memarkirkan mobilnya didepan rumah namun dihentikan paksa oleh Angel, Angel meminta James untuk berbelok arah dan memarkirkan mobil cukup jauh dari rumahnya.
“Mengapa tidak langsung saja, bukankah ini membuang-buang waktu.”
“Jika ingin selamat percayalah padaku.”
Mereka berjalan kaki menuju rumah James, jalanan yang bersalju sedikit menyulitkan langkah Angel. Mereka berjarak kurang lebih lima puluh meter dari rumah James, Angel melihat sesuatu yang tidak beres dari dalam rumah. Kamera pengawas yang semula mati mulai menunjukkan tanda-tanda, lampu merah kecil menyala berkedip perlahan dan semakin lama semakin cepat. James hampir tiba dipagar, melihat lampu berkedip semakin cepat Angel menarik tubuh James secara paksa membuat mereka tertelungkup diatas trotoar.
Duarrrrrr.........
Ledakan besar yang memekakkan telinga, rumah tersebut hancur lebur. Beberapa potong kayu berhamburan dijalan, ada beberapa yang terpental hingga mengenai mobil dan rumah tetangga. James merasa panik dan syok, ia hendak berlari mendekati rumahnya. Angel tahu mereka dalam bahaya bergegas menarik James menjauh, setelah berada jauh dan hampir tiba kemobil terdengar sebuah ledakan lagi yang berasal dari mobil James, yang terparkir di halaman depan. Angel mendorong tubuh James masuk kedalam mobil, James meronta meski tenaga mereka tidak seimbang Angel tetap berusaha. Ia hanya ingin selamat, agar bisa membalas perbuatan Smith.
“Kita terlambat, bodoh... Aku ini bodoh, seharusnya aku tidak meninggalkan ibu sendirian.” James terus meronta tidak karuan, Angel terus memegangi tubuh James “Kau tidak mengerti, Aku sudah hampir kehilangan sekali dan sekarang dia..... Benar-benar pergi.”
Angel memeluk dan menepuk pundak James perlahan guna menghiburnya, Angel ikut merasa syok. Tubuhnya gemetaran, tapi ia berusaha menahan diri.
“Aku mengerti, kumohon tenanglah.”
“Bagaimana bisa, kau tidak mengerti aku dengan baik. Aku harus keluar, mungkin masih ada peluang untuk melihat ibu tetap hidup.”
James hendak membuka pintu secara paksa, Angel menahannya dan menariknya dengan kuat.
“Jangan melakukan hal yang sia-sia, jika kita ketahuan sulit bagi kita untuk membalas dendam. Percayalah padaku Tuan.”
James kembali memeluk Angel dengan erat, ia menangis. Angel merasakan kesedihan yang mendalam, air matanya ikut menetes.
“Aku tidak pernah menjaganya dengan baik, aku tidak pernah membuatnya bahagia. Aku sering membentaknya, dan sering berbohong padanya. Aku...... Aku selalu membuatnya menderita, aku tidak pernah mengikuti keinginannya. Bahkan aku tidak bisa membawanya berlibur ketempat yang dia inginkan, aku egois..... Dia selalu merawatku dengan baik, meski aku bukanlah anak kandungnya. Dia merelakan diri menjadi perawan tua disisa hidupnya hanya untuk merawat seorang anak sepertiku. Aku ini bodoh, seharusnya aku ikut meledak bersama ibu. Ya tuhan bagaimana bisa aku hidup tanpa ibu di sisiku, ibu.”
“Berhentilah menangis tuan, kau pria yang hebat. Seorang ibu akan merasa bahagia jika melihat anaknya bahagia.”
“Maafkan aku, aku berlebihan. Aku akan membalas pria itu. Smith harus mendapatkan balasannya.” James melepas pelukannya Secara perlahan.
“Jangan terlalu menggebu-gebu, Smith bukan orang sembarangan. Percayalah padaku, aku punya rencana.”
Kali ini Angel yang mengemudikan mobil, mereka harus segera kembali ke apartemen sebelum Smith mengetahui bahwa mereka pergi secara diam-diam dari apartemen. Angel mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ia tidak memperdulikan jalanan yang licin hingga beberapa kali mereka hampir tergelincir. Setelah perjalanan yang penuh dengan aura kesedihan mereka sampai di apartemen, biasanya butuh waktu setidaknya tiga jam tapi kali ini mereka sudah sampai dalam waktu hampir dua jam.
“Malam ini, aku mengundangnya ke kamarku. Jadi bersiaplah, aku ingin kau juga ikut bersembunyi dikamarku. Kita akan menyerangnya bersama.”
James mengangguk setuju, tidak ada yang mampu ia pikirkan selain kesedihan karena ibunya yang tewas akibat ledakan.
__ADS_1