Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Arash tiba-tiba perhatian


__ADS_3

Almira mendengus kesal setelah tahu jika di saat dirinya tidur, Arash memegang tangannya, entah dengan maksud apa. Berbeda dengan Arash, pria itu bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Tidak lama Arash di kamar mandi, pria itu keluar lalu mengambil makanan yang tadi dibawanya di atas meja bundar, lalu tak selang berapa lama seorang perawat datang membawa makan siang untuk pasien, serta makan siang jatah untuk yang menemani pasien.


Arash dengan wajah datarnya menarik meja lipat khusus pasien, lalu membawa nampan yang berisi makanan, lalu bekal makanan yang dibuat oleh Mommy Alya. Almira hanya bisa mengawasi tindak tanduk Arash tanpa bersuara.


“Loe makan siang dulu,” kata Arash datar. “Tuh udah gue siapin buat loe makan,” lanjut kata Arash.


“Mau gue bantu duduk gak?” tanya Arash dengan tatapan dinginnya.


Cacing Almira yang ada di dalam perutnya sedang berdisko ria sambil berdendang minta diisi makanan, apalagi melihat makanan yang sudah tersaji di meja. Tapi rasanya sungkan minta tolong dengan Arash.


Kemana perginya sih Bude sih? Perut aku lapar nih ... Mana cuma ada si Genderuwo ini aja yang ada dikamar!


Arash masih menatap Almira, menanti jawaban gadis itu.


Krunyuk ... Krunyuk


Tuh kan beneran si cacing dalam perut Almira karaokean sampai terdengar di telinga Arash.


Arash pun berinisiatif menaikkan kepala ranjang Almira agar sedikit meninggi, lalu menyelisip kan tangannya ke punggung gadis itu dengan lembutnya, Almira tak bisa melawan karena tidak boleh asal bergerak atau bergerak dadakan, yang ada akan bergeser kembali tulang rusuknya yang baru di reduksi. Tanpa disadari mereka berdua, tubuh mereka berdua sangat dekat, wajah bertemu wajah, hidung bertemu hidung ... deru napas mereka berdua pun saling terdengar. Wangi musk perpaduan wood menguar dari tubuh pria itu, sedangkan Almira penyuka wangi vanilla rose pun menyeruak sampai di indera pencium Arash.


Ritme jantung Arash mulai bertingkah padahal pria itu sudah berusaha untuk tidak berdebar-debar, akan tetapi si jantung tak bisa diajak kerja sama.


"Mommy Ghina, jantung Arash kok berasa cepat ya ... apa Arash butuh cek ke dokter jantung ya?"


"Mmm ... kasih tahu gak ya."


Arash mendengus kesal ... dan melanjutkan mengurus gadis itu.


Dirasa posisi Almira sudah nyaman, Arash menarik kembali meja makan dorong itu lebih mendekat dengan Almira. “Kalau lapar tuh jangan ditahan, mau nunggu Bude loe bakal kelamaan baliknya, yang ada perut loe yang sakit. Punggung belum sembuh, eh malah perut ikutan sakit, kan ” cerosos Arash, tangannya sibuk menyajikan makanan buat gadis itu.


“Tumben Kak Arash baik hati, lagi kena angin apa?” tanya Almira, heran.


“Udah makan, gak usah banyak tanya lagi. Ini sendok nya, perlu gue suapin gak?” tanya Arash, sembari memberikan sendok makan ke Almira.

__ADS_1


“Gak perlu, aku bisa makan sendiri kok. Mending Kak Arash makan juga, biar gak ikutan sakit,” sahut Almira, mulai menyantap makan siangnya.


“Mmm ... “ gumam Arash. Pria itu mengambil nampan makan miliknya lalu menaruh dimeja yang sama dengan gadis itu, kemudian duduk di tepi ranjang Almira, dan menyantap bareng makan siang mereka berdua.


Nah kalau begini kan adem lihatnya, gak cekcok terus. Makan yang banyak ya Bang Wowo biar kuat menghadapi masa depan.


Arash menaikkan salah satu alisnya. “Bisa gak Mommy Ghina, orang lagi makan jangan di gangguin ... lagi lapar nih Arash,” ucap Arash dengan ketusnya.


“Ckckck ... padahal Mommy ngomongnya lewat hati loh Arash, kamu dengar aja.”


“Mommmmmmmmyy!” serunya.


“Baiklah Mommy melipir kebelakang dulu, monggo dilanjut makannya, sampai habis ya.” Kaburrrrr


Menikmati makan siang bersama hanya berduaan rasanya sangat syahdu ya buat pasangan yang sedang jatuh cinta, tapi jangan berharap dengan pasangan Bang Wowo dan Neng Kunti, mereka makan dalam keadaan hikmat tak bersuara hanya suara denting sendok dan piring saling beradu, tapi jangan salah lirikan mata Arash begitu maut disela-sela makannya, sedangkan Almira fokus dengan makanannya tak sekali pun menatap pria ganteng kayak sekuteng itu.


Usai menyelesaikan makan siang, Arash kembali ke meja bundar lalu mengambil gelas dan menuangkan air dari dispenser, kemudian memberikannya ke Almira.


“Ini minum dulu,” kata Arash, menyodorkan gelas itu, kemudian merapikan bekas makan mereka berdua serta meja dorongnya.


Tanpa disadari Arash, jika dirinya tiba-tiba saja perhatian dengan Almira walau wajahnya terlihat datar dan dingin.


...----------------...


Hari demi hari dilalui oleh mereka berdua di rumah sakit, Arash yang hatinya sering dongkol melihat Ustadz Ridwan yang selalu datang tiap hari ke rumah sakit, ya walau dia tahu jika pria itu datang untuk mengajar gaji. Tapi tetap saja pria bermata biru itu tak suka.


Padahal Arash sudah datang pagi-pagi biar tidak keduluan si ustadz ganteng itu tapi tetap aja terlambat. Dan yang paling mengesalkan buat Arash, ketika Almira mengetes dirinya untuk baca surat Al-Fatihah di depan Ustadz Ridwan, yang ada wajah Arash memerah menahan rasa malunya karena dia tak hapal baca surat Al Fatihah, padahal sejak kecil pria itu masuk TPA, namun lagi lagi pria itu lalai dan lupa akan ibadahnya semenjak dia tinggal di Australia tanpa pengawasan kedua orang tuanya.


Kak Arash untung aku sudah menolak rencana orang tua kita untuk dijodohkan, kalau enggak aku ngelus dada kalau punya suami seperti Kak Arash.


Saat itu juga kedua tangan Arash terkepal dengan kuatnya, rahang yang mengukir wajah tegasnya pun mengetat. Dia benar-benar tidak suka dengan ungkapan Almira.


Hari ini adalah hari kelima Almira di rawat di rumah sakit, dan hari ini juga Almira sudah di izinkan pulang ke rumah. Gadis itu terlihat senang, senang karena tidak akan melihat wajah Arash. Sedangkan Arash hanya terdiam saja.


Mama Tania, Mommy Alya dan Bu Mimi tampak sibuk merapikan barang bawaan Almira yang akan dibawa pulang. Arash hanya bisa melihatnya sambil membalas beberapa pesan dari Sherina melalui ponselnya.

__ADS_1


“Tania, kapan-kapan kita makan malam bersama ya,” kata Mommy Alya, sangat berharap jika pertemuan anak mereka bukanlah yang terakhir.


“Insya Allah Mbak Alya, nanti saya undang makan malam di mansion saya,” jawab Mama Tania.


“Saya tunggu undangannya Tania, biar nanti saya ajak Arash sekalian.”


Mama Tania mengulas senyum tipisnya, seakan paham maksud dari rekan bisnisnya itu.


“Nak Arash, terima kasih ya sudah menemani Almira selama di rumah sakit, kapan-kapan mampir ke mansion Tante, ajak Mommy nya sekalian,” kata Mama Tania saat mendekati ranjang Almira.


“Sama-sama Tante Tania, nanti deh kalau ada waktu senggang mampir saya ke mansion,” jawab Arash berdusta.


Ck ogah banget ke mansionnya buat ketemu si Kunti! ... batin Arash.


Aku juga gak mau ketemu sama Bang Wowo ... batin Almira.


 


bersambung ...


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komentar



 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2