Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Saran Siti


__ADS_3

Usai sholat malam dan mendengarkan ceramah, sambil menunggu waktu sholat shubuh para peserta boleh kembali beristirahat di pondok atau tetap berada di masjid dengan mengisi waktu menunggu sambil membaca Al-Quran.


Sedangkan di luar masjid, panitia sudah menyediakan wedang jahe, teh hangat, kopi, dengan cemilan pisang kukus, singkong rebus dan kacang-kacangan untuk menghangatkan tubuh.


Ana benar-benar sigap mengambil segelas wedang jahe berserta pisang kukus kemudian mencari sosok pria yang sempat dia lihat sudah keluar dari masjid. Pria itu sedang duduk di pelataran masjid, kedua netranya memperhatikan satu persatu wanita yang keluar dari masjid, dan sesekali dia menghubungi seseorang melalui ponselnya namun ponsel yang dihubungi nya tidak aktif.


Dalam waktu yang sama, Almira masih menundukkan kepalanya dengan menangkup kedua tangannya pada wajahnya, segala yang ada dihati dia ungkap’kan dan memohon untuk diberikan petunjuk dalam mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya.


Setelah itu barulah gadis itu merapikan  mukenanya kemudian memperhatikan suasana di dalam masjid, untuk memastikan jika pria itu tidak ada di dalam masjid, dan telah kembali ke pondokannya.


“Al ... kamu kenapa jadi menghindari Kak Arash, padahal nanti kita pulangnya akan bareng sama Kak Arash lagi,” tanya Siti.


Almira kembali menatap Siti, Setelah tadi dia menelisik ke semua sudut. “Bukan aku yang menghindari, tapi dia yang duluan menghindari ku, jadi ya lebih baik menghindar duluan. Sedangkan masalah pulang, tenang saja ... aku sudah telepon sopir papa untuk menjemput kita, jadi tidak perlu pulang barengan dengan Kak Arash,” jawab Almira, tak lama dia menguap karena menahan rasa kantuknya.


Siti hanya bisa mendesah setelah mendengar jawaban dari Almira. “Bukan karena wanita itukan, kamu menghindari Kak Arash? Apalagi kita dengar dia ingin mendekati Kak Arash, kamu tidak sedang cemburu kan? Tapi ngomong-ngomong dia peserta dari mana ya?” cercar Siti dengan banyak pertanyaan, sambil dia berpikir.


“Aku tidak tahu dia dari mana ...  tenang Siti, aku tidak cemburu. Kita kan tahu jika Kak Arash dulu berpacaran dengan Kak Sherina, dan memang sejak awal aku belum ada rasa dengan Kak Arash. Jadi kamu tidak perlu khawatir, lagi pula Kak Arash bukan siapa-siapanya aku, dan aku tidak berhak melarang dia dekat dengan wanita mana pun, kecuali dia suamiku, aku pasti cemburu dan marah," tukas Almira.


Siti meraih tangan Almira yang sudah mendekap tas mukenanya. “Al ... bukan maksud aku ikut campur urusan kamu sama Kak Arash, tapi kalau boleh aku kasih saran. Semalam aku sempat melihat kamu berduaan dengan Ustadz Ridwan, dan aku perhatikan kamu dengan Ustadz Ridwan semenjak kita di sini kamu sering ngobrol dengan beliau. Bisa saja Kak Arash melihatnya dan merasa tidak dihargai sama kamu walau antara kalian berdua tidak ada ikatan. Tapi paling tidak hargailah perasaannya, dan jika memang kamu tidak ada perasaan dengan Kak Arash, sebaiknya tidak perlu kamu memberikan waktu sebulan, tapi cukup kamu tolak Kak Arash secara halus dari sekarang,” tutur Siti begitu pelan tanpa meninggi kan suaranya.


Siti menghentikan sejenak ucapan dan menatap dalam wajah sahabatnya.


“Kita berdua memang belum pernah menjalin hubungan dengan seorang pria, tapi paling tidak kita bisa belajar dari lingkungan sekitarnya. Pria juga punya perasaan, sama seperti kita yang memiliki perasaan. Kamu memang menginginkan calon suami seperti Ustadz Ridwan hingga kamu sering membandingkannya secara terang-terangan, pernahkah kamu berpikir jika akhirnya hal itu menyakitkan hatinya. Sedangkan kamu pasti sakit hati jika dia membandingkan kamu dengan wanita lain.”


Almira bergeming, lalu dia menundukkan wajahnya, rasanya kata-kata Siti amat menohok buat dirinya sendiri.


“Sebelum usaha Kak Arash menjadi sia-sia karena tidak sesuai dengan keinginan kamu, alangkah baiknya cabut omongan kamu, percuma jika Kak Arash sudah berubah, tapi hatimu tidak ada untuk Kak Arash, jangan egois Almira. Dan selesaikan masalah ini secara baik-baik,” lanjut kata Siti.


Gadis berhijab itu mengusap lembut lengan sahabatnya yang sedari tadi menundukkan kepalanya dengan perasaan ibanya. “Maaf jika ada kata yang menyinggung perasaan mu, bukan maksudku seperti itu. Aku sebagai sahabatmu mengingatkan mu jika ada yang salah padamu,” tutur Siti.


“Kata-katamu tidak menyinggung, memang benar. Terima kasih sudah mengingatkan ku,” jawab Almira begitu lirihnya, sebelum dia menegakkan kembali wajahnya, tangannya mulai mengusap matanya yang sudah berkaca-kaca.


Ada rasa tidak enak dihati Siti, karena kali ini dia berkata begitu panjang pada Almira yang sudah banyak berjasa dalam hidupnya.


Almira mengangkat wajahnya yang terlihat sendu, kemudian berusaha untuk tersenyum pada Siti walau agak dipaksakan.


“Kamu mau menunggu di sini sampai azan shubuh atau mau balik ke pondokan?” tanya Siti, mengalihkan suasana yang serius itu.

__ADS_1


“Aku mau tidur sebentar di pondok,” jawab Almira, sembari beranjak dari duduknya di lantai.


“Kalau begitu aku ikut balik juga,” sahut Siti, ikutan beranjak dari duduknya.


Sementara itu Ana yang sudah membawa segelas wedang jahe serta makanan kecilnya tampak sembringah ketika melihat Arash ternyata berada di luar pelataran masjid, langkah kaki kecil Ana terlihat lincah dalam berjalan, tatapannya pun tak lepas memandang wajah tampan Arash.


“Kak Arash!” panggil Ana dari kejauhan, wajahnya tersenyum manis.


Pria itu menolehkan wajahnya, dan melihat wanita yang ingin menghampirinya, namun apa yang terjadi ..


BUGH


Kaki Ana tersandung batu ketika dua langkah lagi menghampiri Arash, badannya terhuyung ke depan, ke arah pria bermata biru itu berdiri.


Arash yang melihat Ana kehilangan keseimbangan, refleks menangkap Ana hingga terjadilah pelukan di antara mereka berdua.


DEG!


Arash dan Almira tak sengaja beradu pandang, dan mereka saling mengunci pandangan dalam hitungan beberapa detik. Sungguh kebetulan sekali! pas sekali Almira keluar dari masjid.


Sedangkan Ana yang masih terkejut karena hampir mau jatuh, tersenyum tipis karena Arash menangkap tubuhnya dan memeluknya, sejenak dia menikmati moment yang tak diduga itu. Kalau Almira sudah pasti memberontak jika pertama kali, namun berbeda lah dengan Ana.


Arash masih terpaku dengan tatapan Almira, apalagi gadis itu tersenyum padanya, tapi hati Arash amat sakit melihatnya, dan Arash masih belum menyadari jika dirinya belum melepaskan Ana dari pelukannya.


“Ayo Siti,” ajak Almira pelan, dia memutuskan tatapannya dengan Arash, lalu langkah kakinya tergesa-gesa menuju pondok nya agar cepat sampai. Sedangkan Siti yang melihat adegan pelukan itu, jadi mengelus dada sendiri.


“Kak Arash,” ucap Ana pelan.


Arash baru tersadar karena terkesiap dengan tatapan Almira dan bergegas  melepaskan Ana dari dekapannya. “Maaf tadi kamu hampir jatuh, aku tidak bermaksud memelukmu,” kata Arash tanpa menatap Ana, lalu dia meninggalkan Ana begitu saja.


Pria itu langsung berlarian mengejar Almira yang sudah menjauh. “Damn! Pasti ini akan semakin rumit!” gumam Arash, menyesal kenapa dirinya harus memeluk Ana, tapi hal itu tidak disengaja.


Ana yang ditinggalkan begitu saja hanya bisa melongo, dan sudah tentu dia sangat kecewa, seharusnya Arash tidak meninggalkan dia begitu saja.


“ALMIRA!” panggil Arash dari kejauhan, sambil terus berlarian menyusul gadis itu.


Gadis yang namanya dipanggil terus berjalan dan menghiraukan panggilan itu, tapi langkah kaki pria itu semakin mendekati Almira, lengan gadis itu pun di tariknya hingga Almira membalikkan badannya dan menabrak tubuh Arash.

__ADS_1


Napas Arash masih naik turun karena habis berlarian dalam kegelapan, sedangkan Almira hanya diam setelah tahu tubuh siapa yang ada di hadapannya sekarang.


Sesaat mereka berdua saling diam, tangan Arash masih memegang lengan Almira.


“Almira, kita butuh berbicara,” kata Arash, napasnya masih ngos-ngosan dan berusaha mengatur nya.


“Ya kita butuh bicara,” jawab datar Almira tanpa menatap wajah Arash.


“Almira.”


“Kak Arash.”


Mereka berdua sama-sama memanggil, namun suasana mereka berdua tampak ada rasa canggung.


“Sayang, duluan yang bicara,” pinta Arash.


Almira mundur satu langkah agar tidak terlalu dekat dengan Arash dan terlepas dari tangan Arash, tidak enak jika dilihat oleh orang lain, apalagi Arash habis memeluk Ana.


“Kak Arash, aku minta maaf jika selama ini ada kata ku yang kurang mengenakan, atau ada kata ku yang kasar.” Almira mulai berkata namun tak mampu menatap wajah pria itu.


“Mungkin aku terlalu banyak keinginan dalam kriteria memilih suami hingga aku menuntut Kak Arash untuk berubah, sampai aku lupa dengan diriku sendiri yang masih banyak kekurangan. Mulai hari ini aku tidak menuntut apapun dari Kak Arash, harusnya aku sadar diri ... apa kelebihan aku hingga meminta Kak Arash untuk berubah.”


Ayasha mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap pria yang ada berdiri di hadapannya lalu tersenyum tipis. “Kak Arash berhak memilih pendamping yang lebih baik dariku, yang sepadan dan dewasa dengan Kak Arash. Dan mau menerima segala kekurangan dan kelebihan Kak Arash, tidak seperti aku yang banyak menuntut Kak Arash untuk berubah seperti Ustadz Ridwan.”


“Maksud kamu apa?” tanya Arash, bibirnya mulai bergetar.


Almira menundukkan kepalanya, dan menatap cincin yang masih dikenakan oleh Arash, lalu disentuhnya jari itu dan mengusap cincin lamaran itu. “Sudah saatnya dia tidak ada di sini lagi, Kak Arash,” ucap Almira begitu lirih.


bersambung ...


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2