Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Pengakuan


__ADS_3

Hampir lima belas menit Arash merenungkan dirinya kemudian beranjak dari duduk bersilanya, dan dia agak terkejut melihat Alvin masih menunggu dirinya.


“Kak Arash kita ke aula yuk, keburu kehabisan lauk nanti nya,” ajak Alvin yang ikutan beringsut dari duduknya.


“Seharusnya tadi kamu duluan aja ke aula, tidak perlu menungguku,” jawab Arash datar.


Alvin hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu. “Ya gak begitu juga dong Kak, masa aku tinggali Kakak begitu saja ... datang barengan, ya pulangnya berbarengan jugalah,” celetuk Alvin.


Arash tak menanggapinya, dia bergerak memakai sandal nya dan Alvin yang mengekornya dari belakang ikutan memakai sandal nya.


“Kak tunggu aku dulu,” cegah Alvin, melihat langkah kaki calon iparnya sudah duluan. Terpaksa Arash memperlambat langkah kakinya.


Alvin bergegas mensejajarkan langkah kakinya dengan kaki Arash. “Kak Arash, lagi marah dengan Almira ya?” tanya Alvin, yang sedari tadi penasaran saat mereka tiba di masjid.


“Tidak,” singkat sekali jawaban Arash dengan tetap menatap ke depan, tidak menoleh ke samping.


“Oh, dikirain lagi marah sama Almira, soalnya tumben Almira tidak disapa,” celetuk Alvin.


Arash hanya bergumam, tidak menjelaskan kenapa dan ada apa.


Apa jangan-jangan Kak Arash lagi cemburu dengan Almira karena dekat dengan Ustadz Ridwan selama disini, batin Alvin.


Baru saja Alvin menduga-duga ternyata yang dibatini umurnya panjang, Ayasha dengan beberapa teman pengajian sedang berbincang dengan Ustadz Ridwan saat Alvin dan Arash masuk ke rumah utama, entah apa yang sedang dibicarakan mereka semua.


Arash yang melihatnya, segera memalingkan wajahnya karena tak ingin berlama-lama melihat Almira, dan dia langsung menuju ke prasmanan khusus pria. Alvin berulang kali hanya bisa bolak balik melirik ke arah Arash lalu berpindah ke arah Almira.


Ini benar-benar aneh, gak biasanya Kak Arash cuek begitu sama Almira. Pasti ini ada apa-apa nya! Batin Alvin.


Si kembar Almira, bergegas menyusul Arash yang sudah berdiri mengantre di meja prasmanan, dan membiarkan Almira yang ada di sana bersama teman-temannya.


Menu makan malam rupanya lauk nya tinggal sedikit karena mereka terlambat datangnya, di benak Alvin bersyukur jika stock lauk pauk tadi siang masih ada di kamar, jadi saat ini dia ambil sewajarnya saja. Namun, dia melihat di piring Arash hanya ada sedikit makanan yang di ambil oleh pria itu. Porsi nasinya sedikit, sayur capcaynya sedikit, ditambah sama sepotong ayam goreng lalu sambel terasi, padahal Arash badannya tinggi dan besar, mungkin pria itu sedang tidak berselera makan pikir Alvin.


Dalam diam mereka berdua mencari tempat untuk menikmati makan malamnya, akhirnya menemukan sudut pojokan untuk bersandar dan duduk bersila, lalu menyantap makan malamnya dengan menu sederhana itu.


Sedangkan Almira dan Siti baru saja mengantre untuk mengambil jatah makan malamnya di bagian prasmanan khusus wanita. Setelahnya mereka duduk bersila bersama dengan teman wanitanya yang lain.

__ADS_1


Kembali lagi ke Arash dan Alvin yang sudah menyelesaikan makannya, berhubung acara akan berlanjut saat tengah malam untuk sholat malam bersama-sama, maka malam ini boleh untuk segera beristirahat atau melanjutkan diskusi kecil dengan beberapa ustadz.


Arash akan memilih untuk beristirahat dan kembali melanjutkan hapalannya di kamar, namun baru saja dia mau meletakkan piring bekas makanannya dan beringsut dari duduk bersila nya, tiba-tiba saja ada yang menyapanya.


“Assalammualaikum, Kak,” sapa wanita yang berhijab pink, dengan paras wajahnya mirip Ayana salah satu model iklan kosmetik dari Korea.


Sesaat pria bermata biru itu terpesona melihat kecantikan wanita yang menyapanya. Wanita itu pun tersenyum manis saat melihat pria itu terpesona dengannya, sampai berulang kali dia mengibaskan tangannya ke wajah pria itu.


“Eeh iya, Waalaikumsalam,” jawab Arash baru tersadar dari terpesona nya.


“Maaf mengganggu ya Kak, boleh kenalan ... Saya Ana, Kakaknya dari majelis taklim mana Ya?” tanya wanita itu dengan suaranya yang begitu lembut.


Alvin yang ada di antara mereka berdua, ikutan terpesona melihat wanita bermata sipit itu, namun dia tetap tersadar karena masih lebih cantik saudara kembarnya, walau belum berhijab.


Wajah putih, mulus, cantik kemudian berhijab ditambah suaranya sangat lembut bagaikan kapas jika bisa disentuh dengan tangan.


“Saya Arash, dari majelis Al Baliyah,” jawab Arash ramah pada wanita itu.


“Oh dari Al Baliyah, saya dari majelis Al Imran yang ada di Jakarta Pusat, senang bisa berkenalan dengan Kakaknya,” jawab Ana, wanita itu hanya memperhatikan Arash, tidak dengan Alvin.


Ck ... kayaknya Kak Arash pengen dicoret dari calon suami Almira nih, batin Alvin.


Namun tidak lama ada teman Ana yang menghampiri Ana dan ikut berkenalan dengan Arash, alhasil mereka pun berbincang sejenak, tanpa terasa Arash larut dengan sikap pembawaan Ana yang jauh berbeda dengan Almira yang masih berusia muda.


Tanpa sengaja dari kejauhan di saat Almira beranjak dari duduknya karena sudah menyelesaikan makan malamnya, dia melihat Arash sedang ngobrol dengan beberapa wanita dan dilihat lah salah satu wanita yang menatap Arash memiliki paras yang cantik dan berhijab, wajahnya begitu teduh saat dipandang, belum lagi terlihat agak dewasa. Almira tersenyum tipis dan memutar balik badannya, melakukan apa yang sedang tertunda.


Syukurlah jika Kak Arash menemukan teman baru, batin Almira.


Siti yang mengekori Almira sempat melihat Arash yang sedang asik ngobrol dengan wanita itu dan kembali melihat Almira yang tampak tenang.


“Siti, aku keluar duluan ya,” ucap Almira setelah menaruh piring bekas makannya di wadah piring kotor.


“Eeh tunggu aku,” cegah Siti, gadis itu buru-buru mengejar Almira yang sudah berlalu. Di saat Almira melewati Arash, pria itu sedikit pun tidak melihatnya atau pura-pura tidak melihatnya, atau sudah mulai terpesona dengan Ana. Sepertinya Bang Wowo mau cari penyakit sendiri!


Untung saja Almira belum jatuh hati dengan Arash, mungkin jika dia sudah jatuh hati dia akan mendekati pria itu dan akan bilang pada wanita itu jika pria itu sudah melamarnya, dan sebulan lagi mereka akan menikah.

__ADS_1


Langkah kecil Almira membawanya ke salah satu lapangan hijau yang sudah diterangi oleh lampu hias, dari tempatnya dia berdiri, kedua netranya bisa melihat gemerlapnya kota Jakarta dan begitu kecil dipandang saat dilihat dari tempat yang paling tinggi.


Ketika Siti ingin menyusul Almira, tiba-tiba kakinya berhenti, saat melihat dari kejauhan ada Ustadz Ridwan sudah mendekati Almira.


Ada apa ini! Batin Siti, yang tak jadi menghampiri sahabatnya.


“Pemandangan dibawah sana sangat indah ya di lihatnya,” kata Ustadz Ridwan.


Almira langsung menoleh ke samping, dan agak terkejut siapa yang berada disampingnya.


“Pak Ustadz,” sapa Almira.


Pria itu tersenyum hangat lalu kembali menatap pemandangan kota Jakarta. “Saya tidak menyangka kamu sudah dilamar orang,” ucap Ustadz Ridwan.


DEG!


Almira kembali menoleh kesamping, namun pria itu tetap menatap pemandangan itu.


“Sebenarnya saya ada niat ingin meminang mu saat kamu sudah lulus dari sekolah, tapi ternyata saya sudah ke duluan orang lain,” lanjut kata Ustadz Ridwan, suara beratnya terdengar serius.


Irama jantungnya gadis itu mulai berdegup cepat, demi apa dia mendengar kata-kata Ustadz Ridwan yang begitu pribadi, padahal sedari tadi mereka ngobrol tidak sekali pun membicarakan hal yang sangat pribadi.


“Maaf jika saya lancang berkata seperti ini Almira, saya juga pria normal yang memiliki perasaan dan menyukai seseorang, tapi sayangnya saya telat mengambil keputusan, dan tidak bergerak cepat, padahal saat acara yang diundang oleh keluargamu waktu itu, saya sudah berniat ingin memintamu dengan kedua orang tuamu, Almira,” sambung kata Ustadz Ridwan, sekarang dia menoleh ke samping untuk bisa menatap dengan jelas wajah Almira.


Lidah Almira begitu keluh untuk berbicara, dia masih tak percaya dengan apa yang dibicarakan oleh pria itu. Bolehkan Almira bahagia mendengarnya? bolehkah dia berharap dengan pria yang dia kagumi itu menjadi jodohnya, suaminya. Bukan dengan pria yang dijodohkan oleh orang tuanya.


Sementara itu dari kejauhan Arash dan Ana yang berniat ingin melihat pemandangan kota Jakarta dari lapangan hijau itu, tiba-tiba pria itu menghentikan langkah kakinya dan menatap nanar ke arah kedua orang itu.


 bersambung ... sepertinya jodoh Almira bukan Arash 🤔🤔


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2