Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Penangkapan Prima


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Arash, serta mobil patroli polisi telah sampai di  villa.


Pria bermata biru itu menegakkan punggungnya, lalu meluruskan pandangannya ke depan, Arash melangkahkan kakinya dengan tegas memimpin kedua petugas polisi menuju rumah utama.


Semua orang yang melihat kedatangan mobil patroli polisi, sedikit bertanya-tanya ada apa? Kenapa bisa ada dua polisi yang datang ke villa. Ada sesuatu kah?


Arash tidak peduli dengan tatapan yang penuh pertanyaan tersebut, di saat ini yang dia butuhkan mencari wanita yang bernama Ana dan Prima. Jika susah menemui mereka berdua, maka Arash akan bertanya pada panitia.


Kedua wanita yang dicari Arash, ternyata berada di aula yang ada di dalam rumah utama. Ana dan Prima masih menikmati hidangan sarapan pagi sambil bercengkerama dengan peserta lainnya, sesekali kedua wanita itu pun tertawa kecil jika ada hal yang lucu. Tanpa mereka sadari jika ada seseorang yang ingin mendatanginya dan meminta pertanggung jawabannya.


Arash memasuki rumah utama bersama Alvin dan kedua petugas polisi, kedatangan mereka berempat menjadi salah satu pusat perhatian pihak panitia, untung saja pria yang mengantar Arash ke rumah sakit ada di rumah utama itu, lantas dia menghampirinya.


“Maaf Mas, kenapa jadi ada polisi ya?” tanya pria tersebut dengan tatapan menyelidiknya.


Sebelum menjawab, Arash melirik Alvin yang ada di sampingnya. “Alvin masih ingat wajahnya'kan, tolong bantu cari di dalam, aku mau bicara dulu dengan panitia,” pinta Arash.


“Baik Kak, aku masuk ke dalam dulu.” Alvin bergegas menuju aula, kedua netranya mulai menajamkan pandangannya, setiap orang dia perhatikan tanpa satupun yang terlewatkan.


Sementara itu Arash dan petugas yang sudah dihampiri pihak panitia langsung menjelaskan duduk perkara dan maksud kedatangan mereka. Setelah mengetahui semuanya, panitia menyerahkan semuanya dan turut membantu mencari peserta tersebut.


Tidak butuh lama mencari kedua wanita itu, Alvin sudah melihatnya dan dia kembali menghampiri Arash yang masih ada di pelataran depan.


“Kak Arash, yang namanya Ana dan temannya itu masih ada di dalam aula,” lapor Alvin terlihat semangat.


Arash mengangguk pelan. “Kita ke dalam, Pak,” ajak Arash kepada petugas polisi.


Mereka pun sama-sama jalan beriringan masuk ke dalam aula. Arash menunjukkan tatapan datarnya, auranya pun terasa dingin jika melihat sosok pria bermata biru itu.


Semua mata memandang ke arah rombongan Arash, termasuk peserta yang duduk bersama Ana dan Prima.


“Eh kok ada Pak Polisi ya?” tanya salah satu teman Ana, yang duduk di samping Ana.


Ana dan Prima masih terlihat santai menyantap sisa sarapan paginya yang masih ada di piringnya.


“Pak Polisi, mungkin buat pengamanan acara di sini kali,” celetuk Prima, mulutnya masih penuh dengan makanan.

__ADS_1


Rombongan Arash semakin mendekati posisi mereka duduk.


Teman Ana mencolek Ana. “Tapi mereka ke sini,” ucapnya.


DEG!


Ana menghentikan suapannya, lalu menoleh ke belakang begitu juga dengan Prima. Denyut jantung Prima mulai berlompatan dari posisinya, pikirannya mulai negatif thinking karena melihat wajah Arash yang terlihat sangat garang.


Ya benar, tatapan Arash begitu menyalang saat dia sudah melayangkan pandangan pada wanita berhijab hitam lalu ke arah yang berhijab merah marun.


Pria yang memiliki tubuh tinggi dan besar terlihat menegakkan punggungnya. “Untuk wanita yang berhijab hitam bisa berdiri!” suara bariton Arash terdengar tegas, dan ada aura yang menakutkan.


Tak bisa dibohongi jika tubuh Prima mulai gemetaran, sedangkan Ana berusaha tenang ketika melihat Arash menyuruh Prima untuk bangkit dari duduknya.


“S-saya maksudnya, a-ada apa ya?” tanya Prima dengan bibirnya mulai bergetar. Tubuhnya juga terasa agak lemas saat ingin bangkit dari duduknya, sembari melirik Ana dengan tatapan bingungnya.


Pak Polisi yang ada di samping Arash maju satu langkah. “Saudari bisa ikut kami ke kantor polisi, dan menjelaskan perbuatan saudari tentang tindakan kekerasan yang telah  dilakukan kepada saudari Almira,” pinta Pak Polisi.


Kedua netra Prima dan Ana langsung terbelalak mendengarnya. “A-apa! Kekerasan apa Pak, jangan salah menuduh, dan siapa Almira!” seru Prima dengan rasa terkejutnya.


Arash menyeringai dan menajamkan tatapan bagaikan burung elang. “Tidak perlu sok terkejut begitu!” balas Arash ketusnya, lalu dia beralih menatap Ana.


Ana masih terlihat tenang, dan bangkit dari duduknya. “Maaf Kak Arash, maksudnya apa ya? Saya tidak tahu apa-apa loh,” sanggah Ana, sebenarnya pikiran langsung mengarah ke masalah pelemparan batu tersebut. Dia sendiri tidak menyangka kenapa Arash bisa menuduh Prima, pada lah dia sudah memastikan tidak ada cctv, serta tidak ada orang lain yang tahu kecuali Ana sendiri.


“Pak Polisi tolong jelaskan dulu, kenapa teman saya harus ke kantor polisi, jangan asal tuduh dan  tangkap saja, jika buktinya tidak ada,” ucap Ana berusaha membela temannya.


“Iya Pak betul kata teman saya,” timpal Prima.


Semua orang yang ada di aula, mulai ada rasa ingin tahu apa yang sedang terjadi dan akhirnya mengerumuni mereka semua.


“Kami sebagai petugas kepolisian tidak mungkin meminta saudari untuk ke kantor polisi jika tidak ada bukti. Mungkin Mas Arash bisa menunjukkannya,” kata Pak Polisi.


Kedua tangan Prima mulai berkeringatan, irama jantungnya juga mulai cepat bagaikan orang sedang berlarian.


Tanpa banyak basa basi lagi, Arash mengeluarkan ponselnya lalu dia menunjukkan rekaman video Prima saat menghubungi Ana. Runtuh lah dunia Prima saat itu juga, wanita berhijab hitam itu melorot ke lantai dengan rasa sesak yang tak terhingga. Sedangkan Ana membeku di tempat dia berdiri.

__ADS_1


Arash dan Alvin masih menatap tajam kedua wanita berhijab itu. “Salah apa calon istri saya dengan kalian berdua, Almira tidak mengenal kalian berdua! Tapi kamu!” telunjuk Arash menunjuk wanita yang sudah terduduk dilantai. “Dengan sengaja kamu melemparkan batu ke bagian kepala calon istri saya, dan itu bisa menyebabkan hal yang fatal pada kesehatan calon istri saya!” menggelegarlah suara Arash, yang sedari tadi dia tahan untuk tidak murka.


Prima menggelengkan kepalanya, dia masih tidak percaya jika ucapan dia sendiri menjadi biang kerok buat dirinya sendiri, lalu kenapa bisa ada yang mengetahuinya. Menyesalkah! Itu sudah pasti.


Ana yang masih membeku ditatap oleh Arash. “Sedangkan kamu Ana! Ternyata hatimu tidak sebaik wajahmu yang terlihat teduh, yang terlihat seperti orang baik-baik, kamu membiarkan teman kamu berbuat buruk demi mencapai keinginanmu sendiri! Kali ini kamu juga harus bertanggungjawab! “ gertak Arash.


“Tidak, aku tidak bersalah. Aku tidak melakukan apapun. Yang salah adalah Prima, bukan aku, dan hanya dialah yang harus bertanggungjawab,” jawab Ana, mulai mencuci tangannya.


Prima semakin menggelengkan kepalanya, ternyata temannya lepas tangan. “Tolong Kak, Pak ... jangan tangkap saya, tolong Kak Arash jangan bawa saya ke kantor polisi. Apa kata kedua orang tua saya, mereka berdua pasti malu. Saya benar-benar tidak sengaja melakukannya, semuanya spontan, “ kata Prima memohon, kedua tangannya pun mengatur.


Arash berdecak kesal. “Kamu bilang orang tua kamu akan malu, lalu bagaimana dengan orang tua calon istri saya, mereka pasti sedih melihat anaknya terluka!” bentak Arash pada Prima.


“Sudah Pak, bawa mereka berdua ke kantor polisi, saya tetap akan memprosesnya, tidak ada ceritanya berdamai!” pinta Arash kepada Pak Polisi.


“TIDAK ... tolong maafkan saya, jangan bawa saya ke kantor polisi!” teriak Prima dengan berderai air mata.


Kedua polisi tersebut dengan terpaksa membawa Prima dan Ana dibantu oleh panitia.


“Kak Arash kenapa saya harus ikut juga!” teriak Ana tak terima, karena ikutan diminta ke kantor polisi juga.


Arash mengacuhkan Ana, dan dia kembali jalan bersama Alvin keluar dari aula. Semua peserta tadabbur alam yang menyaksikan hanya bisa mengelus dada atas apa yang baru terjadi, ternyata ada kejadian yang sangat memilukan di antara sesama peserta, tidak ada yang menyangka terutama teman pengajian Ana dan  Prima, orang yang selalu baik ternyata bisa melakukan hal kejahatan. Ingat bisikan setan  itu sangatlah dekat, dia ada di hati kita sendiri. Setan yang selalu menggoda manusia untuk berbuat tidak baik.


bersambung ...


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2