Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Menyelesaikan masalah di mall


__ADS_3

Benar saja dugaan Arash, beberapa petugas security mall menghampiri mereka, apalagi melihat ketiga wanita tersebut tergeletak di lantai dengan meringis kesakitan, ditambah lagi pengunjung yang sedari tadi melihat tidak ada yang mau menolong mereka bertiga untuk bangkit dari posisi tergeletaknya di lantai, yang ada mengejek pada ketiga wanita itu sembari berkata 'rasaiin, syukurin.’


Arash pasang badan buat calon istrinya ketika salah satu security menghampiri mereka, sedangkan yang lainnya membantu ketiga wanita itu untuk beranjak berdiri. Sebelum menjelaskan duduk perkaranya, Arash masuk kembali ke restoran terlebih dahulu untuk menyelesaikan tagihan, sedangkan Siti mengambil barang milik dia dan milik Almira. Setelah itu mereka sama-sama ke ruang manajemen.


Untuk ketiga wanita itu, dipapah dan akan dibawa ke ruangan kesehatan, untuk mendapatkan pertolongan pertama. “Laporkan bocah yang pakai seragam putih abu-abu itu Pak ke kantor polisi, dia telah melakukan kekerasan pada kami bertiga!” teriak Septi sambil mengadu kesakitan pada bagian punggungnya.


Arash menggandeng tangan Almira, sembari menatap tajam ke arah Septi yang masih saja membual dan memfitnah Almira.


“Ibu, Bapak mungkin ada yang bersedia menjadi saksi kejadian tadi, untuk membanru menyelesaikan perkara ini?” pinta Arash kepada beberapa pengunjung mall.


Ada beberapa orang yang mengangkat tangannya dan bersedia untuk menjadi saksi, karena memang melihatnya dari awal.


Sesampainya di ruang manajemen mall, pihak keamanan mulai menginterogasi Almira dan Arash. Tanpa mau bertele-tele, Arash menekan pihak keamanan mall untuk melihat rekaman cctv, yang sempat dia lihat bentukan cctv-nya yang tertempel dekat restoran, dan juga meminta cctv yang berada di dalam restoran, karena percuma saja bercerita panjang lebar jika tetap saja Almira yang disebut pelaku kekerasan terhadap ketiga wanita itu, padahal sudah jelas yang memulai adalah ketiga wanita itu, dan Almira sebagai korban wajar melindungi dirinya.


“Jika Bapak bersikekeh ingin memperpanjang kasus ini ke kantor polisi, malah saya sangat bersyukur sekali karena sudah ada bukti penghinaan serta mengancam keselamatan terhadap calon istri saya, lagi pula Bapak dan Ibu yang menjadi saksi sudah mengatakan apa adanya,” kata Arash penuh penegasan.


Pria yang berseragam putih biru itu terdiam, dan masih menunggu copy rekaman cctv di tempat perkara kejadian.


Arash melirik Almira yang duduk di sampingnya dengan wajah yang begitu tenang. “Apa yang saya lakukan adalah bentuk perlindungan diri saya, tidak bermaksud melakukan kekerasan. Jadi tolong jangan mendengar dari satu pihak saja Pak, dengarkan dari semua pihak dan lihat buktinya, baru mengambil keputusan untuk bertindak!” sambung kata Almira, lembut tapi tegas.


Tidak lama kemudian ada salah satu security masuk dan memberikan flashdisk ke pria yang sedang berhadapan dengan mereka. Flasdisk tersebut dipasangkannya ke CPU komputer, dan mulai mengamatinya. Cukup lama pria itu memperhatikan video cctvnya, dan terkadang pria yang masih terlihat muda itu menatap wajah Almira.


“Bagaimana Pak, sudah jelas duduk perkaranya, siapa yang memulai! Siapa korban dan siapa pelakunya!” ujar Arash, pria bermata biru itu benar-benar memperlihatkan aura yang sangat berbeda.


“Baiklah kasus ini tidak kami perpanjang, Mas dan Mbaknya bisa meninggalkan ruangan,” jawab pria berseragam security itu.


“Terima kasih, tapi sebelumnya bisa saya minta backup rekaman video tersebut, karena saya tetap akan melaporkan ketiga teman saya itu,” pinta Arash, sembari mengeluarkan ponselnya.


“Bisa Mas.” Ponsel pria itu diambilnya dan langsung meng-copy file tersebut ke ponsel milik Arash.

__ADS_1


Urusan dengan pihak mall sudah selesai, sedangkan untuk masalah ketiga wanita itu, Arash menghiraukannya, mau diobati ke rumah sakit atau ke tukang pijat, bukan tanggung jawab Arash dan Almira. Namun, Arash tidak lupa dengan kebaikan beberapa orang yang bersedia menjadi saksi mereka, dengan ringannya Arash mengeluarkan beberapa puluh lembar uang merah dari dalam dompetnya.


“Ini sekedar ucapan terima kasih, mohon diterima, anggap saja saya sedang traktir ibu dan bapak,” kata Arash begitu sopannya.


“Enggak usah Mas, kita ikhlas kok nolongin,” jawab salah satu ibu berkerudung hitam, sembari mendorong tangan Arash yang mengulurkan uangnya.


“Ambil saja Bu, gak pa-pa. Ini rezeki buat Ibu dan Bapaknya,” sambung kata Almira sembari mengulas senyum tipisnya.


Dengan rasa sungkan akhirnya mereka semua mau menerima uang dari Arash, lumayanlah buat satu orang kebagian 500 ribu.


Arash sudah merasa lega, masalah yang dia hadapi kali ini bisa dia selesaikan dengan baik tanpa harus melibatkan kedua orang tuanya dan orang tua Almira.


“Waktunya kita pulang sudah sore,” ajak Arash, pria itu kembali menggandeng tangan Almira. Siti hanya mengikuti mereka berdua saja. Sesuai dengan janji Arash, mereka mengantar Siti ke rumahnya terlebih dahulu baru mengantar Almira.


“Kak Arash,” panggil Almira saat pria itu mengemudikan mobilnya.


“Kak Arash yakin mau melaporkan teman Kak Arash itu ke kantor polisi?”


Kali ini Arash melirik  Almira sejenak lalu kembali menatap ke depan. “Ya haruslah, mereka harus diberikan pelajaran, apa lagi ada buktinya. Dan aku yakin pasti mereka disuruh sama Sherina. Sherina itu memang dari dulu suka menghempaskan cewek-cewek yang mau mendekatiku,” jawab Arash dengan mudahnya.


Almira mendesah, lalu menempelnya kepalanya ke jendela mobil. “Kak Arash sudah lama berpacaran dengan Kak Sherina?”


“Mmm ... lumayanlah, ada kali tiga tahunan.”


“Ooh ... pantas.”


Arash kembali menolehkan wajahnya ke samping. “Kenapa bilangan seperti itu?”


Almira tersenyum getir. “Pasti Kak Sherina sangat cinta sama Kak Arash, apalagi sudah tiga tahun. Dan selama tiga tahun itu Kak Arash dan Kak Sherina pasti sudah—,” Almira tidak melanjutkan kata yang menjurus ke anuan.

__ADS_1


Arash sudah mulai tidak enak hati mendengar ucapan Almira, untung saja mobil yang dia kendarai sedang terjebak lampu merah, jadi Arash bisa kembali memegang tangan gadis itu yang terpangku di atas tasnya, namun sayangnya Almira menarik tangannya dari tangan Arash.


“Kamu marah denganku kah, sampai tidak ingin dipegang lagi tangannya lagi?” tanya Arash.


“Tidak aku gak marah, cuma lagi gak ke pengen pegangan,” jawab Almira tanpa menatap lawan bicaranya.


Arash menghela napasnya dengan kasar, mulut bisa berkata tidak marah tapi melihat gestur tubuh Almira mencerminkan jika dia sedang marah, atau bad mood.


“Almira, kata kan apa yang kamu pikiran saat ini. Aku tidak mau ada kesalahpahaman di antara kita, tolong ajari aku agar bisa memahami kamu,” pinta Arash.


Ujung ekor Almira melirik Arash yang tampak serius, dan mulai kembali mengendalikan kemudian mobilnya.


“Wanita pasti akan sakit hati jika tiba-tiba hubungannya putus dengan pacarnya, sedangkan diantara mereka berdua tidak ada masalah. Apalagi selama tiga tahun pacaran, pasti Kak Arash dan Kak Sherina sering melakukan—.”


Arash tiba-tiba ngerem mendadak mobilnya, namun tangannya sudah terbentang di hadapan Almira, agar badannya tidak terbentur dasbord.


Jantung Almira hampir saja copot, dan kedua netranya pun menatap Arash, sambil mengusap dadanya.


 


bersambung ...


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2