Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Jangan mengambil keputusan apapun!


__ADS_3

Angin menjelang pagi di Puncak, semakin dingin sampai masuk ke dalam pori-pori kulit, walau sudah menggunakan baju sweater tetap saja menembus ketebalan bahan sweater yang dikenakan Almira.


Gadis itu masih mengusap cincin yang dikenakan dijari Arash, lalu diangkatnya jemari besar itu, akan tetapi Arash langsung mengepalkan tangannya sendiri seakan tahu jika gadis itu ingin mengeluarkan cincin yang dikenakannya.


Almira akhirnya menarik tangannya dari jemari Arash, kemudian kembali menatap wajah pria itu.


“Aku sadar tak sengaja ... dalam segala tindakanku seperti tidak menghargai perasaan Kak Arash,” ungkap Almira.


Gadis itu kembali tersenyum tipis pada Arash. “Agar tidak berlarut-larut dan akhirnya kita saling menyakiti. Aku tarik ucapanku memberikan waktu sebulan untuk Kak Arash, aku tidak akan melanjutkan lagi. Sepertinya jalan kita berbeda, aku tidak ingin lagi memaksakan kehendakku, yang seharusnya aku belajar bisa menerima kelebihan dan kekurangan Kak Arash.”


Arash menatap nanar gadis itu. “Bisakah jangan mengambil keputusan terburu-buru dalam keadaan emosi, Almira?” tanya Arash, diraihnya tangan gadis itu yang terasa dingin, lalu menggenggamnya. Almira menundukkan kepalanya dan menatap tangan Arash. Tak lama pria itu mengajaknya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di taman.


“Saat ini sejujurnya aku juga sedang bimbang, bingung dengan diriku sendiri setelah mengikuti acara di sini, Almira,” kata Arash saat mereka sama-sama duduk di bangku panjang tersebut.


“Tiba-tiba aku ingin diam, menjauh darimu sampai aku tidak menyapa mu.” Arash mengalihkan pandangannya ke arah yang berbeda. “Selama ini betapa aku menjadi manusia yang banyak kekurangannya, manusia yang selama ini lalai dalam hal ibadah. Timbullah rasa di hati ini jika aku tidak pantas bersanding denganmu, ditambah aku sering melihatmu selalu tersenyum hangat pada Ustadz Ridwan. Dan benakku sempat berbisik harus kah aku menyerah berjuang mengejarmu, apalagi aku tahu jika kamu tidak ada cinta untukku, itu juga karena sikap ku dari awal yang buruk denganmu,” lanjut kata Arash terdengar menyesal, kemudian dia menundukkan kepalanya sejenak.


Genggaman tangannya masih erat menggenggam tangan mungil Almira, rasa dingin yang sempat dia rasakan di tangan gadis itu sekarang sudah menjadi lebih hangat.


“Dan sekarang kamu ingin menarik ucapan mu sendiri, apakah semua ini karena Ustadz Ridwan yang telah mengungkapkan perasaannya padamu, dan dia tahu jika lamaran aku sudah ditolak olehmu?” cecar Arash tanpa meninggi kan suaranya.


Almira menghembuskan napas panjangnya, lalu menoleh untuk menatap Arash yang tidak menatap dirinya. Gadis itu baru teringat saat Ustadz Ridwan menyatakan perasaannya semalam ada Arash di belakangnya saat dia membalikkan badan.


Almira diam sejenak ... lalu Arash menatap sendu gadis itu.


“Pak Ustadz memang mengungkapkan perasaannya padaku,” Almira menjeda ucapannya karena merasakan tangan Arash begitu erat menggenggamnya, seakan takut dilepaskan oleh Almira.


“Tapi bukan karena hal itu aku seperti ini, memang karena masalah pada diriku sendiri. Dan aku juga melihat Kak Arash memang lebih baik dengan wanita lain yang lebih bisa menerima Kak Arash,” lanjut kata Almira.

__ADS_1


Arash menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan napasnya pelan-pelan.


“Aku melihat Kak Arash lebih cocok dengan wanita yang barusan Kakak peluk,” ucap Almira kembali, tangannya pun berusaha lepas dari genggaman Arash, lalu dia memalingkan pandangannya dari tatapan pria bermata biru itu.


“Almira.”


Gadis itu tidak menatapnya, tetap menatap ke depan.


“Kamu jangan salah paham dulu, aku jelaskan ... tadi itu kejadian tidak disengaja, dia hampir jatuh saat mendekati ku, dan aku reflek menangkapnya,” jawab Arash, pria itu menyentuh dagu Almira, agar gadis itu kembali menatapnya.


“Sayang, aku tidak sengaja memeluknya dan jujur aku sangat takut saat kamu tersenyum melihatku di depan masjid. Hatiku sakit ... aku tidak bermaksud mendekati wanita itu, tapi dia yang mendekati aku.” Arash berusaha menjelaskan.


“Tapi Kak Arash menanggapi nya dengan ramah, jadi salah paham apanya? aku tidak salahkan jika tersenyum melihatnya. Dan aku tidak harus marah dengan Kak Arash kan, bukan hakku untuk marah dengan Kak Arash. Tapi setidaknya Kak Arash paham akan diri sendiri jika memang sangat mencintaiku dan ingin hatiku untukmu, seharusnya Kak Arash semalam tidak jalan keluar dengannya. Sedangkan apa yang Kak Arash lihat semalam denganku, juga hal yang sama ... aku tidak ada niat untuk jalan berdua dengan Ustadz Ridwan, tapi beliau yang mendekati aku. Dan selama aku berbincang dengan Ustadz Ridwan, aku selalu bersama dengan teman yang lain, kecuali saat malam tadi,” Almira menarik napasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


“Aku juga tidak menyapa Kak Arash, karena aku juga bingung melihat sikap Kak Arash, aku pikir Kak Arash marah denganku karena aku menegur agar Kak Arash tidak emosi selama ada di sini, maka dari itu aku pun diam. Padahal aku tidak melarang Kak Arash untuk menyapa ku atau menegur ku jika salah tapi tidak pakai emosi. Tapi ternyata malah bertemu berkenalan dengan yang lain.”


“Maafkan aku jika salah atas sikapku, sayang,” ucap Arash begitu lirihnya.


“Akulah yang harusnya minta maaf jika semuanya tidak sesuai dengan harapan Kak Arash," balas Almira.


“Sayang, please jangan memutuskan apapun. Jika kamu butuh ruang untuk sendiri, aku akan menjauh, tidak akan mendekati mu untuk sementara waktu. Tapi tolong jangan seperti ini, iya aku akui salah yang menanggapi wanita itu,” ujar Arash yang sangat memohon.


 Sementara mereka berdua berbicara dari hati ke hati, dari kejauhan tampaklah Ana dengan Prima.


“Ana, tuh cowok yang kamu cari dari tadi,” kata Prima saat melihat sosok Arash sambil menunjukkan jari telunjuknya. “Tapi kok duduk berduaan ya, sama siapa ya?” tanya Prima, sembari memicingkan matanya karena lampu penerbangan jalan kurang terang.


Ana yang penasaran setelah melihat sosok pria yang dia kaguminya, mempercepat langkah kakinya mendekati bangku taman itu.

__ADS_1


“Kak Arash,” sapa Ana.


Almira dan Arash langsung mendongakkan wajahnya, lalu menatap wajah cantik wanita itu. Ana melihat dengan jelas jika pria yang dia incar duduknya sangat berdekatan, tak ada celah sedikit pun, ditambah tangan Almira digenggam oleh Arash.


Ana tersenyum tipis saat menatap kedua orang tersebut, wanita berhijab itu pun memindai Almira dari ujung kaki sampai ujung kepala dan menilai Almira wanita biasa saja, tidak seperti dirinya yang mencerminkan wanita bersahaja, dengan gamis yang sangat indah dan terlihat sangat mahal jika dilihat dari model dan bahannya.


Almira terlihat biasa saja saat ditatap oleh Ana, sedangkan Arash tidak melepaskan tangan calon istrinya.


Setelah menatap Almira, Ana beralih ke Arash. “Maaf Kak Arash kalau mengganggu, bisa minta waktunya sebentar ... saya ingin bicara ada hal yang penting,” pinta Ana dengan nada yang begitu lembut.


Almira berusaha melepaskan tangannya dari tangan Arash dan ingin beranjak dari duduknya, agar bisa meninggalkan Arash dengan wanita itu, namun tidak bisa.


“Ingin bicara apa?” tanya Arash pada Ana dengan nada biasa saja.


“Mmm ... bisa bicara berdua saja, soalnya sangat pribadi,” pinta Ana dengan melirik kan mata sendunya ke arah Almira, berharap gadis itu pergi.


“Kak Arash sebaiknya aku kembali ke pondok,” kata Almira, berharap tangannya dilepas.


Ana terlihat tenang melihat interaksi Almira dengan Arash, karena hatinya yakin jika Arash belum menikah.


“Silahkan bicara Ana, atau tidak usah bicara sama sekali dengan saya,” sahut Arash dengan tegasnya.


 bersambung ...


Mohon maaf hari ini agak telat up-nya, karena berita terbaru tentang kebijakan di sini untuk penulis nya, bikin mood langsung down.


Kakak Readers kalau sekiranya saya pindah ke PF sebelah adakah yang mau temenin saya di sana??? Karena ada beberapa pertimbangan yang semakin menyulitkan di sini.

__ADS_1


 


__ADS_2