Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Ana dan Sherina


__ADS_3

Wanita yang memiliki wajah teduh itu masih menatap layar ponselnya dengan helaan napas panjangnya.


Sherina Calling ...


“Mau apa lagi dia telepon!” gumam Ana sendiri.


Suara ponselnya masih berdering, ternyata yang namanya Sherina masih berupaya menghubunginya, dengan malasnya wanita berhijab itu menerima panggilan teleponnya.


“Assalammualaikum, “ sapa Ana, terdengar agak terpaksa.


“Lama amat sih angkat teleponnya, kayak orang sibuk aja!” celetuk Sherina dengan kasarnya, dari sambungan teleponnya.


Helaan napas Ana terdengar jelas di sambungan telepon. “Ada apa Kak, telepon aku pagi-pagi begini?” tanya Ana dengan ketusnya.


“Duh adik ku yang cantik gak usah ketus begitu dong, masih pagi loh,” jawab Sherina, raut wajahnya menyeringai tipis.


“Sudahlah Kak Sherina langsung saja pada intinya ada apa telepon aku se pagi ini?”


“Aku butuh duit, tolong transfer 10 juta dong sekarang juga. Kamu’kan selalu dapat uang banyak dari papa, ngiliran aku boro-boro papa transfer ke aku bulan sekarang, aku lagi butuh nih!” pinta Sherina agak kesal.


Ana kembali menghela napasnya, dan ada semburat kejengkelan pada wajahnya karena kakak pertamanya yang selalu saja minta uang darinya dengan segala alasannya. Memang tidak bisa dipungkiri Ana selalu dapat jatah uang bulanan yang lumayan besar dari papa mereka berdua, Deddy, dan Ana anak yang paling di sayang oleh Deddy.


“Eh Ana, kamu dengarkan yang aku pinta!” tegur Sherina, karena terlalu lama menunggu mendapatkan jawabannya.


“Memangnya Kak Sherina gak bisa minta langsung sama papa, aku juga mau beli beberapa baju soalnya dan aku sudah pesan tas kremes keluaran baru,” jawab Ana.


“Yee ilah jadi adik pelit banget, cuma 10 juta yang aku minta, uang kamu kan banyak. Percuma aja kamu punya imej baik suka bantu orang lain, tapi sama kakak sendiri tidak mau bantu. Jangan-jangan hijab kamu itu hanya kedok saja biar terlihat baik di depan semua orang, termasuk biar dapat perhatian lebih dari papa!” celetuk Sherina, agak sinis.

__ADS_1


Ana terdiam sejenak, tapi salah satu sudut bibirnya terangkat dibalik ponselnya, memangnya salah cari perhatian kepada kedua orang tuanya, terutama papanya! Papa mereka berdua memang menginginkan anak perempuannya menggunakan hijab, berpakaian tertutup dan keinginan Deddy di wujudkan oleh Ana, ketimbang Sherina yang selalu berpenampilan sexy.


“Ya udah, nanti aku transfer,” jawab Ana, sudah tidak mau berdebat lagi, nanti ujungnya akan semakin panjang ceritanya. Yang terpenting buat Ana, dia tetap anak kesayangan papanya, mudah mendapatkan apapun yang dia inginkan, berbeda dengan Sherina kakaknya sendiri.


“Bagus, nanti aku tunggu. Thanks ya Ana ... Bye,” Sherina mengakhiri sambungan teleponnya begitu saja.


Sherina dan Ana adalah kakak adik tapi memiliki paras wajah yang berbeda, seperti yang diduga oleh Deddy papa mereka berdua sebelumnya, pria paruh baya itu tidak yakin Sherina adalah anak kandungnya karena istrinya sempat selingkuh sebelum mengandung Sherina, tapi hingga kini Deddy tetap menerima kehadiran Sherina walau ada perbedaan dalam hal perhatiannya terhadap anak-anaknya.


Selama Sherina menjalin hubungan dengan Arash, tidak ada perkenalan ke keluarga masing-masing, maklumlah Arash belum memikirkan ke jenjang yang lebih jauh, tapi pria itu tahu jika Sherina punya adik, namun tidak pernah tahu wujud dan namanya, namun pria bermata biru itu tahu usaha Deddy papanya Sherina yang memiliki tour & travel umroh haji.


“Awas aja Kak Sherina, aku aduiin ke papa kalau masih suka minta uang sama aku, biar sekalian tidak di kasih uang,” gumam Ana sendiri kesal setelah memutuskan sambungan teleponnya.


Sementara itu di rumah sakit, Arash meminta Alvin dan Siti sarapan terlebih dahulu sedangkan dia mengurus Almira yang masih beristirahat di ruang IGD. Pria itu begitu telaten menyuapi Almira makan padahal gadis itu sudah menolak untuk disuapi oleh Arash, namun pria itu bersikekeh untuk menyuapinya, mau tidak mau Almira menurutinya.


“Nanti aku harus balik ke villa dulu, sayang. Setelah urusan selesai aku jemput kamu di sini,” ujar Arash sembari menyuapi nasi uduk ke Almira.


“Tadi kamu sudah mengeluh pusing, aku gak mau nanti kamu kenapa-napa di sana. Jadi tunggu aku di sini ya,” pinta Arash dengan berkata lembut.


Andaikan Almira tidak mengeluh pusing dan sakit kepala, Arash sudah bisa memastikan jika Almira pasti akan memberikan pelajaran buat Ana dan Prima.


Kedua bahu Almira melorot, wajahnya memelas karena tidak dapat izin dari Arash, padahal kaki sama tangannya sudah gatal rasanya, namun benar dengan yang dikatakan oleh Arash jika kondisi dia memang sedang pusing.


Arash mengusap bibir Almira dengan jempolnya karena ada sebutir nasi yang masih menempel di sana. Hati Arash dan Almira tiba-tiba berdesir, kemudian terpaku dalam beberapa detik, lalu mereka berdua tiba-tiba menjadi canggung.


“Mmm ... ada nasi yang nempel di bibir kamu tadi,” ucap Arash pelan, takut Almira marah kayak tempo hari.


“Iya Kak,” jawab Almira sembari memalingkan tatapannya. Agar tidak merasa canggung, Arash melahap sisa makanan bekas Almira.

__ADS_1


“Permisi Mas Arash, pihak kepolisian nya sudah datang,” ucap Dokter Tito yang tiba-tiba menghampiri mereka berdua, dengan salah satu pria yang berseragam coklat.


“Oh iya Dokter,” jawab Arash, dia menaruh wadah bekas makannya di atas nakas lalu beranjak dari duduknya untuk menghampiri petugas polisi.


Sesuai permintaan Arash sebelum mencari sarapan, pria itu kembali menemui Dokter untuk dibuatkan surat visum dan minta dihubungi pihak kepolisian setempat, untungnya pihak rumah sakit sudah terbiasa menangani masalah kekerasan atau pun penganiayaan.


Arash berbicara dengan petugas dekat brankar Almira, dan menceritakan semua kronologi kejadian serta menunjukkan video rekaman yang sudah tersimpan di ponselnya. Selanjutnya pihak kepolisian melihat keadaan Almira dan sedikit menanyakan kejadiannya pada gadis itu.


Almira tak menyangka Arash seserius itu ingin menyelesaikan perkara pagi ini dan tidak main-main.


“Baik Mas Arash, perkara ini bisa dibilang kasus penganiayaan, dan bisa kita tindak sekarang. Mungkin sekarang kita bisa mendatanginya langsung,” kata pria berseragam coklat itu.


“Terima kasih Pak, kalau begitu kita bisa sama-sama ke villa,” ajak Arash.


Namun sebelum dia pergi, pria itu menghampiri Almira yang masih ada di atas brankar.


“Aku tinggal sebentar ya sayang, nanti Siti akan ke sini. Alvin ikut temani aku ke villa,” pamit Arash, tatapannya begitu teduh melihat Almira


“Iya Kak Arash, semoga cepat selesai masalahnya, dan terima kasih ya,” jawab Almira, kali ini nada bicara gadis itu begitu lembut. Ah hati Arash jadi semakin hangat mendengarnya.


Dikecupnya kening Almira dengan lembutnya oleh Arash sebelum meninggalkan ruang IGD, dan Almira kali ini tidak memberontak atau marah dengan Arash. Tumben? Selanjutnya Arash, Alvin dan petugas polisi bergegas menuju villa.


 Bersambung ...


 


 

__ADS_1


__ADS_2