
Dengan semangat 45, Arash mulai menghubungi nomor ponsel Almira yang baru saja dia dapatkan dari temannya Almira.
Sekali belum diterima panggilan teleponnya.
Dua kali belum diterima juga panggilan teleponnya.
Masih belum pantang menyerah, dia kembali menghubunginya.
“Halo, assalamualaikum.” Suara yang begitu lemah lembut terdengar ditelinga Arash.
“Mmn ... Waalaikumsalam, “ jawab Arash, suaranya tiba-tiba menjadi canggung, kikuk, pokoknya aneh deh.
Almira menarik ponselnya dari telinganya dan kembali memperhatikan nomor telepon yang tidak dikenalnya, apalagi dia mendengar suara cowok bukan cewek. Cowok, jangan-jangan telepon dari orang iseng nih! Batin Almira.
Gadis itu kembali menempelkan ponselnya ke telinganya. “Maaf ingin bicara dengan siapa ya?” tanya Almira sebelum memutuskan panggilan teleponnya.
Arash memutar bola matanya dengan rasa kesalnya. “Ck ... memangnya lo udah lupa sama suara gue ya!” celetuk Arash dengan ketusnya.
Gadis itu terdiam sejenak, lalu mengira-ngira siapa yang meneleponnya. “Siapa ya? Beneran aku tidak ingat?”
Suara mendesah pria itu terdengar jelas ditelepon. “Lo bener-bener ya baru sebulan gak ketemu, udah lupa ama gue!”
“Mmm ... sebulan gak ketemu. Ketemu sama siapa ya? Beneran aku gak kenal sama suaranya,” jawab Almira, sembari menahan dirinya untuk tidak tertawa, karena sudah mulai ingat.
Iiih makin dongkol lah hati Arash, seperti sedang dipermainkan. “Ck ... Gue Arash, masih ingatkan cowok yang mau dijodohkan sama lo!” jawab Arash dengan kasarnya.
“Oh ... Kak Arash, yang suka mabuk-mabukan itu ya. Nah kalau itu baru aku ingat.”
Kembali lagi Arash mendesah sembari mengetuk kemudi mobilnya yang belum dinyalakannya. “Memangnya harus pakai embel-embel mabuk-mabukkan ya. Gak ada ingat yang lain kek!” gerutu Arash dari ujung teleponnya, kesal tidak terima yang diingat tentang dirinya.
“Kan yang aku ingat memang itu kok, gak ada yang lain dan sesuai kenyataannya kan. Oh iya Kak Arash tahu dari mana nomor hpku? Terus ada apa telepon aku?” cerocos Almira.
“Gak perlu tahu, gue dapat dari mana telepon lo. Gue telepon lo karena pengen ngajak ketemuan.”
“Ketemuan! Buat apa? Kayaknya aku tidak bisa ketemuan Kak, kalau mau ketemu nanti pas acara hari Sabtu aja, Kak Arash udah terima undangannya kan? Nanti kita ketemu di tempat acara,” jawab Almira.
“Memangnya lo gak bisa ketemu sama gue dulu sebelum hari Sabtu?”
__ADS_1
“Kak Arash, memang aku gak bisa,” jawab Almira dengan lembutnya.
“Oh begini jadinya, lo gak mau ketemu sama gue karena lo nanti hari Sabtu mau dilamar sama Ustadz Ridwan ya! Jadi lo nya nolak buat ketemu sama gue! Bilang aja begitu, mentang-mentang lo suka sama Ustadz Ridwan! Terus gue diacuhkan ama lo!” Arash terdengar marah-marah dalam sambungan teleponnya.
Almira hanya bisa terdiam saat mendengar pria itu marah-marah yang tak jelas dengan dirinya.
“Sudah marah-marahnya? Jadi Kak Arash telepon aku buat marah-marah saja!” tegur Almira tanpa menaikkan nada suaranya.
Mendengar suara Almira yang masih stabil dan lembut itu, membuat Arash terdiam sendiri.
“Almira!” panggil Alvan saudara kembarnya yang tiba-tiba saja masuk ke dalam dengan kamar saudaranya dengan membawa tas serta barang-barangnya.
Gadis yang dipanggil namanya, menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Sedangkan Arash yang mendengar suara cowok, langsung menegakkan punggungnya.
“Ada apa?” tanya Almira tanpa melepaskan ponselnya ditelinga.
Alvan mendekati gadis yang duduk di tepi ranjangnya, lalu turut duduk dihadapan Almira.
“Al ... tolongin ... barang ku kejepit nih, tolong lepasin barangku ini,” kata Alvan meringis kesakitan, sembari menunjukkan salah jarinya kejepit resleting tas hingga kulit jarinya menempel di resleting tas.
“ALMIRA!” teriak Arash, namun sayangnya ponsel Almira tergeletak di kasur, karena gadis itu buru-buru mengambil minyak yang biasa dipakai untuk mesin jahitnya.
“AAAWW Al ... Pelan dong ... Barangku sakit nih, pelan-pelan pegangnya, jangan kuat-kuat ... sakit,” rengek Alvan.
“Ini udah pelan-pelan pegang nya, tahan dikit dong. Jadi cowok tuh yang kuat,” sahut Almira yang mulai mengolesi minyak ke jari dan resleting tasnya.
Memerah sudah wajah Arash saat mendengar percakapan yang masih terdengar di sambungan teleponnya. Otak pria itu mulai traveling kemana-mana.
“ALMIRA!” kembali berteriak Arash memanggil nama gadis itu, dengan perasaan marahnya, namun tidak ada yang menyahutnya.
Dengan geramnya pria itu mengumpat, “Siapa lagi itu cowok ... Huh! Ada berapa banyak cowoknya!”
Arash tidak kehabisan akalnya, pria itu keluar dari mobilnya lalu mencari teman Almira yang tadi memberikan nomor ponsel Almira. Ternyata gayung bersambut, Siti dan Tia masih ada tak jauh dari gerbang sekolah lagi antri beli seblak.
“Untunglah kalian berdua masih ada disini,” kata Arash.
Siti dan Tia sama-sama menoleh. “Eeh Kakak ganteng lagi, kirain udah pulang,” jawab Tia.
__ADS_1
“Ada yang tahu alamat rumahnya Almira gak, gue bakal bayar lagi deh,” kata Arash, buru-buru mengeluarkan dompet dari saku celananya.
Siti langsung melirik Tia, dan memberi kode agar tidak memberitahukan alamat rumah Almira, namun Tia pura-pura tidak melihat, Siti pun terlihat kesal.
“Mau dikasih duit berapa lagi Kak?” tanya Tia sembari melihat dompet Arash yang masih terlihat tebal.
“500 ribu,” jawab Arash.
“Sejuta deh, samain kayak yang tadi,” tawar Tia, dasar anak mata duitan.
Arash mengambil sepuluh lembar uang berwarna merah. “Kasih tahu dulu alamat rumahnya,” pinta Arash.
Tia langsung mengambil bukunya, lalau mencatat alamat rumah Almira dengan lengkapnya, karena dia pernah berkunjung ke mansion Almira saat dapat tugas kelompok. Siti hanya bisa menghela napas panjangnya dengan rasa kecewa pada Tia.
“Ini alamat rumahnya, lengkap sama rt rw nya,” kata Tia sembari menyodorkan secarik kertas.
Sebelum Arash memberikan uangnya pada Tia, dia membaca dulu biar tidak merasa di bohongi.
“Tolong catat nomor hp lo juga, kalau gue nyasar ... lo yang gue telepon,” pinta Arash. Tia pun langsung menulis nomor ponselnya. Transaksi pun berhasil dan selesai, senyum Tia semakin lebar, uang yang dia terima dari Arash totalnya dua juta, lumayan.
“Tia, aku kecewa sama kamu. Udah aku kasih kode jangan di kasih tahu, kenapa dikasih tahu juga sih!” gerutu Siti saat Arash sudah meninggalkan mereka berdua.
“Siti, rezeki itu tidak boleh ditolak ya, apalagi cowok itu hanya minta nomor telepon sama alamat rumah doang kok,” sahut Tia.
“Tapi tetap aja itu tidak boleh, apalagi tanpa seizin Almira. Apalagi kita kan gak kenal sama cowok itu, entah baik atau buruk.” Ya Siti sih udah tahu kalau Arash itu anak teman dari papanya Almira tapi tetap saja tidak etis memberikan alamat rumah kepada orang yang tak dikenal.
Tia sudah malas meladeni Siti yang mulai ngedumel, lebih baik menunggu pesanan seblaknya.
bersambung .... panas-panas eeey
__ADS_1