Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Dua minggu lagi


__ADS_3

Wajah tampan pria itu masih bengong, kedua netranya tak berkedip sedikit pun saat menatap wajah cantik Almira, sedangkan Almira sudah pasang wajah cemberutnya.


Terpaksa Mommy Alya bangkit dari duduk dan menepuk bahu anaknya hingga Arash tersadar dari bengongnya.


“Jangan lama-lama bengongnya Arash,” tegur Mommy Alya, wajahnya tersenyum hangat pada Arash dan Almira.


“A-Aku tidak salah dengarkan, tadi sayang bilang apa?” tanya ulang Arash, masih belum yakin.


“Kayaknya Kak Arash butuh aqua biar loadingnya lebih cepat otaknya, Mommy Alya,” sambung Alvin.


“Kayaknya seperti itu Vin, kenapa tiba-tiba jadi lemot begini,” balas Mommy Alya sembari menggelengkan kepalanya.


“Ya udah kalau Kak Arash gak mau,” gerutu Almira wajahnya masih ditekuk.


Pria bermata biru itu tersenyum lebar, lalu mengeluarkan kotak kecil yang sempat dia masukkan ke dalam saku celananya dan membuka kotak tersebut. Kemudian dia meraih tangan Almira. “Almira benarkah kamu mau menerimaku jadi calon suamimu?” tanya Arash dengan jantung yang berdegup cepat, kedua tangannya pun mulai berkeringat, ini benar-benar hal yang tidak dia percaya, karena di titik ini dia sudah pasrah dan ikhlas jika dirinya kembali ditolak, tapi ternyata jadi lain ceritanya kali ini.


“Sebenarnya banyak PR yang harus Kak Arash kerjakan, dan semoga Kak Arash mampu menjalaninya. Satu yang aku minta teruslah menjadi pria yang memiliki kepribadian yang baik, dan jadi imamku yang baik pula, yang bisa membimbing ku until jannah, serta jaga hatiku jika memang mencintaiku," jawab Almira.


Hati pria itu terharu, kedua netranya yang sempat memerah karena menahan rasa sedihnya, sekarang justru air matanya terjun bebas begitu saja. “InsyaAllah, aku akan terus memperbaiki diriku demi diriku sendiri dan demi calon istriku,” jawab Arash terdengar bergetar, tangan kanannya juga mulai bergetar saat ingin memasang cincin di jari manis Almira.


“Bismillah, Ya Allah lancar kan hajatku ingin menikahi Almira secepatnya, membangun bahtera rumah tangga bersamanya dan memiliki anak-anak serta menua dengannya ... Almira,” kata Arash saat memasangkan cincin berlian itu ke jari manis Almira.


“Aamiin, semoga disegerakan,” sahut kompak semua yang ada di ruang makan.


Kedua netra Almira jadi ikutan berbinar-binar, tangannya pun dikecup lembut oleh Arash, tapi tak lama tubuhnya dipeluk Arash, haduh  Almira langsung malu dilihat kedua orang tuanya. "Kak Arash ... malu," ucap Almira pelan, tapi sayangnya Arash menghiraukan ucapan gadis itu, saat ini dia hanya ingin memeluk calon istrinya dengan hati yang bahagia.


Tepuk tangan bergemuruh di ruang makan, dan mereka semua beranjak dari duduknya, kemudian memberikan selamat pada Arash dan Almira. Kedua keluarga yang tampak bahagia, akhirnya ada tanda-tanda akan segera berbesanannya.


Mommy Alya memeluk Almira. “Terima kasih nak, sudah mau menerima Arash,” ucap Mommy Alya, terlihat bahagia.

__ADS_1


“Iya Mommy,” jawab Almira dengan tersenyum manisnya.


Arash tak henti-hentinya wajahnya sumringah menatap Almira, tangannya pun merangkul pinggang gadis itu ketika mereka semua sedang berdiri, tidak ada hal yang sia-sia jika terus berusaha dan berdoa, sekarang Arash harus benar-benar menjaga sikap dan prilakunya serta menjaga hati calon istrinya.


“Baiklah karena di keluarga Papa dan Mama dulu tidak ada istilah pacaran, bagaimana kalau sebulan lagi kalian berdua menikah. Bagaimana Pak Erick setuju dengan rencana saya?” tanya Papa Albert pada calon besan.


“Saya sangat setuju, segala sesuatu yang baik lebih baik dipercepat, bagaimana setelah kelulusan Almira, minggu depan?” usul Daddy Erick.


“HUH!” terkejut Almira mendengarnya, benar-benar kedua orang tua ini dari awal melamar memang menginginkan Arash dan Almira cepat menikah setelah lulus sekolah.


“Mau ya sayang, biar kita gak jauhan sayang, aku udah gak bisa jauh dari kamu,” ucap Arash, menyetujui rencana daddy Erick.


“Astaga!” semakin melongo Almira.


Kalau sudah begini Almira pasrah saja dengan permintaan kedua orang tua dirinya dan Arash. Apalagi untuk mengurus wedding party bagi kedua keluarga sultan itu adalah hal yang kecil, dengan menyentikan jari bisa segera beres.


Alhasil keputusan final karena di siang hari itu juga langsung rapat keluarga, dua minggu lagi Arash dan Almira akan menikah.


...----------------...


Setelah sholat shubuh, Arash bergegas membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap untuk perdana kerja di perusahaan Daddy Erick. Wajah Arash berseri-seri dan sudah tentunya semangat dengan rasa yang baru kali in dia rasakan, hidupnya sekarang sudah ada tujuannya.


“Assalammualaikum sayang, calon istriku sudah bangun tidur kah?” tanya Arash melalui sambungan teleponnya.


“Waalaikumsalam Kak, udah dari tadi ... ini lagi mau siap-siap ke sekolah,” jawab Almira.


“Hari ini aku tidak bisa antar ke sekolah ya, soalnya perdana kerja di kantor daddy, Tapi nanti kalau pulang sekolah aku usahiin jemput sebentar,” kata Arash.


“Gak pa-pa kok Kak kalau gak bisa antar, nanti sopir yang antar jemput, lagi pula aku cuma sebentar ke sekolah, kan sudah gak belajar lagi. Lagi pula nanti siang mau ke butik mommy mau fiting baju pengantin, Kakak lupa ya,” ujar Almira.

__ADS_1


“Eh iya aku lupa, untung kamu ingatkan. Ya udah nanti siang kita ketemu di butik mommy ya. Sayang jangan lupa minum obatnya ya. Hati-hati juga di jalan, kalau sudah sampai di sekolah kabari aku ya, sayang,” cerocos Arash.


“Iya Kak Arash yang cerewet nanti aku kabari,” jawab Almira, gadis itu tak menyangka jika calon suaminya cerewet sekali.


 “Sampai ketemu nanti ya, I love you sayang,” masih berlanjut Arash berkata-kata.


“Iya Kak Arash,” balas Almira, sambil menggelengkan kepalanya, mau heran tapi ya senang juga dapat calon suami perhatian.


...----------------...


Perusahaan Pratama


Mobil mewah berwarna hitam yang membawa Daddy Erick bersama kedua putranya tiba di luar lobby perusahaan, pihak keamanan bergegas membukakan pintu mobil tersebut.


Keluar lah satu persatu pria yang memiliki wajah tampan tersebut dari dalam mobil, ketiga pria itu mampu menyihir mata siapapun yang menatap mereka bertiga, Erick Triyudha Pratama, Arash Azhar Pratama dan Arsal Kashif Pratama.


Ketiga pria itu dengan setelan jas kerjanya berwarna hitam, tampak semakin gagah ketika melangkahkan kakinya menuju lift.


“Wah anaknya Pak Erick ganteng semuanya. Mau dong jadi menantunya,” ucap salah satu karyawannya.


“Aku juga mau dong, apalagi yang baru datang itu, ganteng banget. Ah aku nanti mau coba deketin, siapa tahu dia ditempatkan di bagian marketing, jadi ada peluang lah, jadi istrinya anak sultan,” celetuk salah satu karyawan.


“Emangnya kamu aja yang mau, aku duluan juga yang naksir!” seru yang satunya lagi.


Arash memasang wajah datar dan dinginnya saat melewati ketiga wanita tersebut dan mengikuti langkah kaki Daddy Erick dan Arsal menuju lift khusus petinggi perusahaan.


“Sumpah demi Tuhan, ganteng banget pas tadi lewat, udah begitu wangi nya aduh gak tahan, pasti harga parfum nya mahal banget,” salah satu kembali berkomentar. Di antara mereka bertiga ada sorot mata yang agak berbeda saat mengikuti keberadaan Arash hingga masuk ke dalam lift.


Gue harus bisa menaklukkan salah satu anak pemilik perusahaan ini, lagi pula gue punya kelebihan wajah yang cantik dan tubuh yang sexy. Jadi pria mana yang tidak akan tergoda dengan gue!

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2