
Hari demi hari berlalu, keluarga Albert dan Erick terlihat semakin sibuk mempersiapkan pernikahan kedua anaknya, berita tentang Arash dan Almira pun sudah berhembus di kedua perusahaan besar tersebut. Dua keluarga sultan digadang-gadang pernikahan anak mereka adalah pernikahan bisnis, yang akan memperbesar jaringan kedua perusahaan tersebut, begitulah netizen yang suka berkomentar miring, padahal semuanya berawal tidak sengaja untuk dijodohkan tapi seiringan waktu berjalan calon pengantin pria justru jatuh cinta dengan calon pengantin wanitanya.
Lalu bagaimana kabarnya keluarga Ana. Wanita berhijab itu sementara bisa dibebaskan bersyarat karena bukan pelaku pelemparan dan juga tidak menyuruh Prima untuk melakukannya, sampai pengadilan dimulai dan memutuskan hukumannya. Saat ini wanita berhijab itu diajak oleh Deddy untuk ke perusahaan Maxindo, dan kebetulan sekali ada Sherina yang ikut serta karena ingin tahu kenapa adiknya bisa mendekam di penjara walau tidak sampai berhari-hari. Siapa wanita yang jadi korban, lalu Pria nya seperti apa? intinya Sherina sangat kepo, selain hatinya bersorak gembira atas nasib buruk adiknya.
Deddy sengaja mengajak Ana dengan misi ingin meluluhkan hati Papa Albert, dan berharap mau kembali berinvetasi di bisnisnya, demi menyelamatkan bisnisnya.
“Aku gak nyangka ternyata anak kesayangan papa bisa melakukan kejahatan juga, plus menginap di balik jeruji. Gimana rasanya enakkan!” ejek Sherina ketika dia berjalan beriringan masuk ke lobby perusahaan Maxindo.
“Dan gara-gara kamu, bisnis papa bangkrut! Keren kan!” ejek kembali Sherina dengan memicingkan lirikan matanya pada wanita berhijab itu.
Ana hanya terdiam saat mendengarnya, tidak bisa dipungkiri bisnis papa-nya sudah goyah, karena semua investasi milik Papa Albert sudah ditarik melalui pengacaranya.
Sementara itu di ruang Papa Albert siang ini, kebetulan Arash dan Almira datang berkunjung untuk mengantar beberapa undangan yang udah tercetak, tapi Papa Albert lupa membawanya padahal akan diberikan ke rekan bisnisnya hari ini juga saat meeting.
“Terima kasih Nak, mau mengantarkan undangannya. Sekarang kalian berdua mau ke mana?” tanya Papa Albert kepada Almira dan Arash.
“Kak Arash minta ditemani kerja di kantor Pah, habis itu pulang,” jawab Almira sembari melirik pria yang ada di sampingnya. Almira sudah tidak diwajibkan untuk ke sekolah, maka dari itu pria bermata biru itu minta ditemani kerja sebelum menjelang tiga hari mereka dipingit.
“Ya udah jangan terlalu kecapekan di perusahaan Daddy,” pinta Papa Albert.
“Iya Pah.”
Baru saja Arash dan Almira mau beranjak dari duduknya tiba-tiba saja sekretaris Papa Albert datang memberitahukan jika Deddy datang ingin bertemu, dan saat ini menunggu di lobby bawah.
“Kalian berdua tetap di sini, temani Papa menerima tamu,” pinta Papa Albert saat mendengar nama yang sangat dia kenal.
“Baik Pah,” jawab Arash, mereka berdua pun kembali duduk berdampingan.
Pintu ruangan terketuk dan terlihatlah Gerry asisten pribadi Papa Albert masuk ke ruangan dan mempersilahkan Deddy dan kedua putrinya untuk masuk ke dalam ruangan.
Arash dan Almira masih ngobrol santai berdua saat menanti tamu Papa Albert, duduk di sofa dan belum melihat ke arah pintu. Sedangkan Papa Albert sudah duduk di kursi kebesarannya.
“Selamat siang Pak Albert, terima kasih mau menerima kedatangan saya,” ucap Deddy terlihat ramah dan sopan.
__ADS_1
Papa Albert terlihat tenang dalam duduknya. “Silahkan duduk Pak Deddy, ada apa Anda datang ke sini?” tanya Papa Albert dengan dinginnya, kedua netranya menatap dua wanita yang berdiri di belakangnya Deddy, dia merasa pernah melihat wanita yang tidak menggunakan hijab.
Kedua netra Sherina dan Ana mengelilingi ruang kerja yang terlihat begitu mewahnya, jauh berbeda dengan ruang kerja milik Deddy, dan disaat yang persamaan kedua wanita itu melihat ada sosok Arash dan Almira.
“Arash,” gumam Sherina dengan tatapan yang tidak bisa dia jelaskan, lalu dia melirik Ana yang ternyata juga melihat Arash dan Almira.
Tak lama Arash menatap ke arah meja Papa Albert karena ada yang menyebutkan namanya, begitu juga dengan Almira. Pria bermata biru itu agak heran kenapa kedua wanita itu ada di sini, tapi dia menatapnya dengan dingin lalu tangan besarnya menggenggam tangan Almira.
“Kak Arash, mereka kok bisa ada di sini dan datang nya kok bisa berbarengan, apa mereka berdua paling kenal ya?” tanya Almira dengan tatapan herannya.
“Entahlah sayang, mereka’kan tamu papa bukan tamu aku,” jawab Arash.
Ana, jangan bilang kamu menyukai mantanku Arash! Tapi kenapa ada Almira di sini? batin Sherina. Lama kelamaan Sherina baru menyadari jika Pria yang ditemui Papanya ini adalah Papanya Almira, dan hati wanita itu terkejut bukan main jika pria itu investor di bisnis papanya, jadi posisi dia kalah telak dengan posisi Almira, sangat jauh tingkatan hidupnya..
Papa Albert memicingkan matanya ke arah Sherina, dan baru menyadari jika wanita itu pernah mencelakakan Almira di hotel.
“Begini Pak Albert, maksud kedatangan saya ke sini, anak saya ingin minta maaf atas kejadian tempo hari di puncak, itu kejadian yang tidak di sengaja,” kata Deddy.
Deddy melirik ke samping menatap Sherina, sedangkan sedari tadi Ana menahan rasa tidak sukanya melihat keakraban Arash dan Almira.
“Iya dia anak saya yang pertama,” jawab Deddy.
“Arash, kamu kenal dengan wanita ini kan?” tanya Papa Albert tanpa bangkit dari duduknya.
Arash pun beranjak dari duduknya dan mengajak Almira untuk mendekati meja kerja Papa Albert. “Iya Pah, aku mengenalnya namanya Sherina, mantanku dan orang yang pernah mencekik Almira dengan selendang sampai pingsan,” jawab jujur Arash, kedua netranya menatap ketiga orang itu.
DEG!
Deddy langsung teringat kejadian beberapa bulan yang lalu, saat mengurus Sherina di kantor polisi.
“Jadi—,” Lidah Deddy seketika keluh, tidak sanggup berkata-kata lagi, jadi kenyataannya kedua anaknya sudah mencelakakan anak investornya. Sepertinya agak susah untuk bernegosiasi dengan Papa Albert.
“Tentang permohonan maaf! Lihat lah kedua anak Anda yang sama-sama telah mencelakakan anak saya, terutama yang bernama Sherina sudah berulang kali bikin ulah dengan anak saya. Apakah sampai detik ini minta maaf! Yang ada hanya diam saja!” sentak Papa Albert.
__ADS_1
Di sinilah Arash minta maaf kembali pada Papa Albert, karena semua kejadian yang menimpa Almira penyebabnya adalah dirinya tapi tidak menyangka efeknya sebesar itu. Kemudian menyatakan kembali tidak ada hubungan apapun dengan Sherina dan Ana, serta wanita manapun.
Deddy hanya bisa menghela napasnya panjang, dan terlintas kenapa kedua anaknya menyukai pria yang masih berdiri di sisi Papa Albert duduk, ternyata tidak hanya tampan tapi keturunan sultan juga.
“Baiklah Pak Deddy, sepertinya pertemuan kita sampai di sini. Masalah kasus Ana dan Prima tetap berlanjut sampai di pengadilan, dan masalah investasi saya tetap akan saya tarikh, tidak bisa di nègosiasi lagi. Dan untuk Sherina selamat waktu itu saya tidak terlalu mengurusinya, jika saya yang turun tangan mungkin Anda juga saat ini masih berada di balik jeruji, jadi ingatlah sebelum bertindak. Jika berani bertindak, maka harus terima resikonya!” tutur Papa Albert, tegas dan tajam. Dalam pikiran Papa Albert sudah membaca maksud kedatangan Deddy untuk membujuk dirinya agar tidak menarik semua investasinya, sungguh malang sekali nasibmu Deddy.
Ana hanya bisa menundukkan kepalanya, ternyata tidak semudah yang dia bayangkan, begitu juga dengan Sherina yang kini tahu siapa lawannya.
Almira menatap santai kedua wanita itu, sedangkan Arash justru merangkul lengkungan punggung calon istrinya, menunjukkan dirinya sudah memiliki seseorang.
bersambung ... otwlah selanjutnya kita kondangan
__ADS_1