
Satu detik, dua detik, tiga detik, Almira masih belum menjawab pertanyaan Papa Albert, pasrah lah sudah Arash jika sikap Almira seperti itu. Ingat tidak boleh memaksakan kehendak sendiri.
Sebenarnya Almira sedang bingung sendiri akan memberi jawaban apa, kalau dibilang tidak mau, dia tidak mempermasalahkan jika Arash ikut menginap. Tapi kalau bilang mau, rasanya kok aneh sendiri di dalam hatinya. Sebenarnya hati Almira sudah mulai menerima kehadiran Arash kah? Tidak ada yang tahu, hanya Almira yang tahu!
Papa Albert memicingkan kedua netranya, dan memperhatikan mimik wajah Almira yang masih terdiam di atas ranjangnya, kemudian mengalihkan lirikan matanya ke Arash yang terlihat memelas, dan Papa Albert bisa menyimpulkan sesuatu, serta tidak perlu menunggu jawaban dari Almira lagi
“Arash malam ini kamu boleh temani Almira menginap di sini, tapi bukan hanya kamu saja nanti Alvin akan ikut menginap di sini,” kata Papa Albert.
Mengembanglah senyuman di bibir Arash, karena sudah diizinkan boleh menginap dan menemani Almira oleh Papa Albert walau dia tidak sendiri di rumah sakit.
“Makasih Pa, aku sudah diizinkan,” jawab Arash, wajahnya terlihat sumringah.
“Tania, sepertinya hubungan anak kita berdua sudah ada kemajuan nih,” bisik Mommy Alya
“Sepertinya begitu,” balas berbisik Mama Tania, karena dia juga bisa melihat sikap Almira, kalau dia tidak suka sudah dari tadi bilang tidak mau ditemani sama Arash.
Almira yang masih diam, tiba-tiba menarik sudut bibirnya, samar-samar dia tersenyum tipis melihat ke arah meja makan tampak ada seseorang yang bahagia hanya karena dapat izin dari papanya.
Hati Almira jadi ingin tertawa melihat Arash yang masih tersenyum, hanya dapat izin dari papanya sudah bikin pria bahagia, sesederhana itu bisa membuat hati seseorang senang.
Waktu mulai menunjukkan jam 9 malam, kedua orang tua Almira berpamitan begitu juga dengan kedua orang tua Arash, esok pagi mereka akan kembali datang.
Tinggallah Arash dan Alvin yang sudah kembali ke rumah sakit untuk menemani Almira di rumah sakit.
Alvin sudah merebahkan dirinya di sofa panjang dan mulai memejamkan matanya karena sudah terlalu lelah hari ini buat dirinya, sedangkan Arash masih duduk di tepi ranjang menunggu Almira menyelesaikan minum susu coklatnya.
Arash menatap hangat Almira, tatapannya bikin gadis itu serba salah, sampai dia agak malu untuk menatap pria bermata biru itu.
“Ada lagi yang kamu butuhkan gak?” tanya Arash di saat menerima gelas kosong dari Almira.
“Tidak ada Kak, sudah cukup, aku mau tidur saja. Kakak sebaiknya juga beristirahat, pasti hari ini sangat melelahkan,” kata Almira.
Pria itu mengulurkan tangannya, lalu menyentuh tepi rahang gadis itu. “Aku kan sudah bilang, tidak ada yang lelah buat kamu. Sekarang sayang istirahat biar cepat sembuh ya. Aku mau mandi dulu baru istirahat,” pinta Arash.
__ADS_1
Almira manggut-manggut, kemudian merebahkan dirinya dalam posisi miring karena tidak bisa tidur terlentang, dan Arash merapikan selimut yang dikenakan oleh Almira.
Hati Almira rasanya semakin aneh mendapat perhatian dari Arash, apalagi untuk pertama kali akan tidur dalam ruangan yang sama, rasanya gimana gitu, maklumlah Almira usianya masih muda.
Arash mengambil baju ganti serta alat mandi dari tasnya dan bergegas ke kamar mandi. Lalu Almira mencoba memejamkan kedua netranya.
10 menit kemudian, pintu kamar mandi sudah terbuka, wangi aroma maskulin mulai menyeruak hingga menggelitik di hidung Almira.
Arash terlihat lebih segar setelah mandi, dengan rambutnya yang masih basah serta pakaiannya yang lebih santai. Dia duduk di tepi bed tambahan yang ada di samping ranjang Almira, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, pria itu tersenyum sendiri saat melihat Almira. Diam-diam Almira yang belum terlalu pulas tidurnya membuka sedikit matanya dan melihat Arash yang sibuk mengusak rambut basahnya.
Kalau dilihat tampan juga. Aduh kenapa aku bilang begitu ya.
Almira kembali memejamkan matanya takut ketahuan Arash, dan berharap segera cepat pagi karena hatinya merasa aneh buat dirinya sendiri.
Arash bangkit dari duduknya, lalu mendekati ranjang Almira, tangan besarnya mengusap kening gadis itu kemudian dia membungkukkan badannya, kemudian ...
DEG ... DEG ... DEG
Almira masih dalam keadaan sadar, hanya matanya saja yang terpejam, jadi dia bisa menghirup aroma tubuh Arash yang begitu wangi segar namun tidak menyengat, serta merasakan sentuhan lembut di keningnya.
Kedua netra Almira langsung terbuka, kemudian tangannya menyentuh keningnya sendiri.
Tapi tak selang berapa lama Arash kembali keluar dari kamar mandi, Almira kembali memejamkan matanya, kemudian pria itu mengambil sajadah dari tasnya lalu digelarnya sajadah itu di sisi bed tambahan itu, dan dia melaksanakan sholat isya.
Blush
Hati Almira terasa mencelos saat kembali mengintip apa yang dilakukan oleh Arash, apalagi mendengar bacaan sholatnya yang terdengar pelan itu. Ada sedikit perasaan kagum mendengarnya, dan gadis itu pun tersenyum tipis.
Sementara itu di kantor polisi di daerah Mega Mendung Puncak, Ana dan Prima tubuhnya bergetar hebat saat menghadapi pengacara atas nama Almira, dari pria paruh baya itu memberikan kartu nama Papa Albert.
“A-Albert Elvano Yusuf, P-Perusahaan Maxindo,” ucap Ana terbata-bata saat membaca kartu nama tersebut. Siapa yang tidak kenal dengan Albert Elvano Yusuf, pengusaha sukses, dan salah satu sultan yang memiliki banyak cabang perusahaannya.
“Gadis yang kalian timpuk dengan batu adalah anak dari Pak Albert, jadi kasus ini akan kami proses secepatnya!” ucap Pak Jerry dengan suara tegasnya.
__ADS_1
Lidah Ana dan Prima terasa keluh, terutama Ana yang masih tidak menyangka gadis yang berpenampilan sederhana itu adalah anak sultan, anak orang kaya yang kekayaannya lebih banyak ketimbang keluarga dia yang tidak ada seberapanya. Bagaimana Ana? Menyesalkah telah memandang orang dari penampilannya saja! Masih mau menyombongkan diri dengan Almira! Silahkan! Yang jelas siap-siap usaha papamu akan goyang!
Lalu bagaimana dengan kedua orang tua Prima dan Ana, sudah tahukah anak-anak mereka sedang berada di kantor polisi, yang jelas sampai malam ini belum ada yang datang mengunjungi mereka.
“Menyesal aku telah membantumu, Ana!” sentak Prima pada Ana.
Ana bergeming tidak bisa berbuat apa pun, dia sudah kalah tegak dengan kehadiran pengacara utusan Papa Albert.
...----------------...
Esok hari.
Rumah sakit H.
Waktu sudah menunjukkan pukul jam 5 lewat, pria bermata biru itu sudah bangun ternyata dan sekarang sudah duduk di tepi ranjang Almira.
“Sayang, bangun yuk, sholat shubuh dulu,” ucap Arash begitu lembutnya. Sembari membangunkan Almira, dia mengusap lembut pipi gadis itu.
“Sayang ... sudah pagi, sholat shubuh dulu yuk nanti baru tidur lagi,” ucap Arash masih berusaha membangunkan Almira.
Suara lenguhan terdengar dari bibir Almira, sembari tubuhnya menggeliat lalu kedua netranya mulai mengerjap-ngerjap.
Blush
Kedua netranya terbuka, dan wajah tampan Arashlah yang dia lihat.
Kok kayak berasa punya suami ya.
“Pagi sayang, sholat shubuh dulu yuk,” ajak Arash.
Almira ingin menangis mendengar kata Arash barusan.
bersambung ...
__ADS_1