Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Acara tadabbur alam - 1


__ADS_3

Almira berusaha terlihat tenang saat Arash begitu telatennya menyuapi dia makan, padahal jantungnya sedang jedag jedug di dalam, entah kenapa. Namun, berbeda hal dengan sikap Arash, pria itu sangat menikmati moment langkah tersebut, satu sendok berdua dari bibir Almira lalu dipakai ke bibir dirinya, bukan istilah sepiring berdua lagi.


Alvin tumben kali ini tidak berkomentar melihat kegiatan yang sangat romantis di depan matanya, padahal mulutnya suka cerocos saja, tapi untuk kali ini aman karena mulutnya lagi disumpel sama rendang dan ayam bakar, wajah tampan Alvin mulai bercucuran keringat sebiji jagung sangking menikmati makan siangnya yang begitu mantap.


“Sayang, mau nambah lagi gak makannya?” tawar Arash melihat sudah dua bungkus nasi mereka habiskan berdua.


“Kalau aku cukup Kak, perutku sudah penuh,” tolak Almira.


“Alhamdullilah kalau calon istriku sudah kenyang,” sahut Arash, tangannya mulai merapikan kotak dan plastik bungkusannya.


“Biar aku yang rapikan Kak,” ucap Almira, yang mengambil alih bekas makan mereka berdua, rasanya tidak enak jika sedari tadi dia berpangku tangan. Pria itu mau tidak mau membiarkan gadis itu membantunya.


Pas Almira turun dari mobil untuk membuang sampah, pas pula orang pesantren dengan menggunakan motor menghampirinya, melihat hal itu dari dalam mobil, Arash turut keluar dari mobil, maklum dia gak suka ada cowok yang mendekati Almira.


“Sayang, siapa mereka?” tanya Arash, kedua netranya mulai menatap bak detektif menatap kedua pria yang masih terlihat muda itu.


“Oh ini Kak, orang pesantren yang akan menunjukkan arah ke villa,” jawab Almira. Sorot mata Arash seketika berubah menjadi bersahabat dengan kedua pria itu, dikiranya orang yang mencoba mengganggu Almira.


“Mari Mas, jika sudah siap ... langsung kami antar, kebetulan rombongan busnya sudah mulai mendekat,” ajak salah satu pria tersebut, sembari menunjukkan ada bus kecil yang mulai mendekati mereka.


“Ayo sayang, kembali ke mobil,” pinta Arash sambil meraih tangan Almira, gadis itu pun menuruti perintah Arash.


 Motor tersebut mulai bergerak mendahului mobil milik Arash, lalu mereka pun jalan beriringan bersama bus kecil, serta ada beberapa mobil yang termasuk rombongan pengajian.


Memasuki wilayah Mega Mendung- Bogor dengan jalanan yang tidak terlalu lebar, mereka mulai menelusuri belokan dan jalan yang berkelok-kelok, awal pemandangan disuguhi rumah-rumah penduduk, namun semakin dalam menelusuri lebih jauh, maka akan menemukan panorama yang indah kemudian bangunan villa-villa. Mobil yang dikendarai oleh Arash mulai menanjak ke jalanan yang mulai meninggi sesuai arahan motor yang ada di depannya. Hingga tibalah di gerbang yang sangat lebar dan telah terbuka, karena tahu akan menerima tamu.

__ADS_1


Siapapun yang datang ke villa tersebut pasti rasa dihati sangatlah berbeda, melihat tanaman yang tertata rapi, kemudian rumput yang menghijau lalu ada beberapa pohon pinus berdiri menjulang tinggi dan kokoh. Wilayah tersebut amatlah sangat luas mungkin ada sekitar tiga hektar, saat masuk gerbang saja sudah kelihatan ada masjid yang cukup besar, lalu beberapa pondokan  berukuran kecil mungkin ada sekitar 20 pondokan, lalu ada satu rumah sangat besar bertingkat satu. Bangunannya pun tidak semuanya terbuat dari batu bata sebagai pondasi, tapi ada struktur kayunya sebagai ciri khas rumah model perkampungan.


Mobil Arash sudah diarahkan ke tempat parkir, setelah terparkir rapi barulah mereka turun dari mobil. Arash begitu sigapnya membawa tas jinjing bawaan Almira, sedangkan Alvin dan Siti saling main tatap-tatapan, karena saudara kembar Almira minta tolong sama Siti untuk dibawakan barang dia karena tangan dia sudah penuh dengan bawaan belanjaan yang belum dia habiskan.


“Al ... Saudara kembarmu sangat menjengkelkan,” celetuk Siti.


“Harap maklum ya Siti, dia memang begitu orangnya, makanya sebenarnya malas kalau ajak Kak Alvin jalan, bikin orang repot,” sahut Almira, gadis itu mengelus dada lihat kerempongan kedua tangan si Alvin.


Tak mau dikerjain sama saudaranya, Almira menyapa teman-teman pengajiannya, disusul sama Siti namun sebelumnya. “Nih enak aja masa cewek bawa barang cowok sih, gak ke balik apa!” gerutu Siti, dan benar saja tas Alvin ditaruhnya di atas tanah..


“Duh, Siti jangan begitu dong, nanti aku bagi coklat sama roti isi coklat, mau gak!” seru Alvin sedikit berteriak kepada gadis berhijab itu yang sudah menjauhi dirinya.


Arash yang masih berdiri di samping Alvin pura-pura tidak mendengar dan melihat Alvin, pria bermata biru itu bergegas meninggalkan saudara kembar Almira, lebih baik menyusul calon istirnya.


“Loh kok aku ditinggalin sih! Kak Arash bantuin aku dong, nanti aku bagi kripik tempe deh sama bantuin Kak Alvin deh!” teriak Alvin minta tolong, sembari menghela napas panjang setelah melihat barang bawaannya begitu banyak. Arash hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang.


“Huft ... ,” mendesah Alvin seorang diri.


...----------------...


Arash ikut membaur dengan Almira berkenalan dengan teman-teman pengajian Almira dari semua kalangan dari yang muda sampai yang tua, hingga sampai akhirnya bertemu kembali dengan rival.


Pria bermata biru itu tampak cemburu melihat Almira mencium tangan Ustadz Ridwan, belum lagi nada suara Almira begitu lembut saat menyapa pria yang sama gantengnya dengan Arash.


“Assalamualaikum Mas Arash, kita bertemu kembali, dan selamat bergabung dengan acara majelis kami,” sapa ramah Ustadz Ridwan, sembari mengulurkan tangannya kepada Arash, untuk berjabat tangan.

__ADS_1


“Waalaikumsalam Ustadz Ridwan, terima kasih saya diberi kesempatan untuk ikut acara ini,” jawab Arash berusaha terlihat ramah kepada rivalnya dan terima uluran tangan Ustadz Ridwan, karena dia mendapatkan lirikan maut dari calon istri kecilnya, yang berada di sisi Ustadz Ridwan.


“Oh iya Almira nanti Masnya tolong diarahkan ke panitia ya untuk tempat menginapnya, seperti biasa kalau pria dan wanita tempatnya dipisah,” ucap Ustadz Ridwan saat menoleh ke samping.


“Baik Pak Ustadz, nanti saya akan kasih tahu ke pihak panitianya,” jawab Almira, kedua alis Arash sudah agak mengerut saat mendengar kata dipisah.


“Kalau begitu silahkan beristirahat dulu, nanti kita ketemu kembali di aula,” ucap Ustadz Ridwan begitu ramah dan senyumnya begitu hangat pada gadis cantik itu, sungguh ciptaan Allah yang sempurna.


“Ya Pak Ustadz,” jawab singkat Almira membalas senyuman pria berkulit putih itu.


Sungguh batin Arash sudah memanas menahan gejolak cemburunya, namun dia berusaha untuk tidak emosi.


Setelah Ustadz Ridwan berpamitan, pria bermata biru itu mengikis jaraknya dengan Almira. “Sayang, bisa gak kalau ngomong sama Ustadz suaranya biasa saja, jangan dilembut-lembutin begitu, terus gak usah pakai senyum-senyum begitu, biasa aja wajahnya.” Arash langsung komplain dan merasa kesal. Almira mendongakkan wajahnya dan menatap dalam pria yang sorot matanya terlihat cemburu, sembari memperbaiki selendang yang ada di kepalanya.


“Tidak boleh marah ya, aku hanya bersikap sopan dan santun pada guru-guru yang ada disini, ingat disini kita datang untuk menggaji bukan buat bertengkar,” jawab Almira begitu lembut namun tegas.


“Lagi pula aku juga gak komplain sama Kak Arash yang sedari tadi dilirik sama peserta wanita di sini, jadi Kak Arash gak boleh emosian di sini. Kalau sampai Kak Arash marah-marah, sebaiknya Kakak pulang saja,” lanjut kata Almira agak pelan.


“Tapi sayang, aku cemburu lihatnya,” sahut Arash.


“Hush ...,” Almira meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri, tanda Arash tidak boleh komplain.


Arash hanya bisa mendesah, lalu mengikuti langkah kaki calon istrinya. Ayo Bang Wowo mending tahan rasa cemburunya biar tetap ikutan acara tadabur alamnya, atau emosian tapi disuruh pulang sama calon istrinya?


 bersambung ...

__ADS_1


 


__ADS_2