Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Berhenti balapan motor


__ADS_3

Menjelang sore hari, Papa Albert sudah tiba di mansion Daddy Erick, kedua pria paruh baya itu melakukan pertemuan di ruang kerja Daddy Erick, membicarakan mengenai hubungan kedua anaknya.


Sedangkan Mommy Alya yang harus beristirahat, kembali ke kamar ditemani oleh Mama Tania.


“Tania, terima kasih ya, Almira akhirnya mau memberikan kesempatan buat Arash, sejujurnya saya hampir patah arang dengan tingkah laku Arash, sangat jauh berbeda dengan saudara kembarnya, dan saya berharap Almira bisa membawa pengaruh yang baik buat Arash,” kata Mommy Alya, dengan tatapan sendunya. Saat ini Mommy Alya sudah kembali berbaring di atas ranjangnya, dan Vio juga berada di kamar utama untuk menyuntikkan obat antibiotik.


Mama Tania merapikan bed cover yang dikenakan oleh Mommy Alya. “Bukankah tugas kita sebagai orang tua untuk selalu membimbing, bersabar dan mendoakan anak-anak kita. Selalu berharap kebaikan untuk anak kita, dan menyangkut dengan Almira, mungkin ini salah satu doa Mbak Alya yang dikabulkan oleh Allah, meminta Arash untuk bisa berubah dan ternyata hal itu melewati Almira,” balas Mama Tania, sembari tersenyum tipis.


“Semoga kamu bisa menerima Arash jadi menantu mu ya, menerima segala kekurangannya,” ujar Mommy Tania, ada rasa tidak enak sebenarnya, jika Arash masih banyak kurangnya.


Wanita paruh baya itu kembali duduk di tepi ranjang. “Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang sempurna. Begitu juga dengan anak saya, terima kasih Mbak Alya sudah memilih Almira ya mungkin banyak kekurangan juga, apalagi gadis kecil saya itu punya sifat barbar dan kadang ada sifat kanak-kanaknya, semoga aja Arash mampu menghadapi Almira,” balas Mama Tania, berkata apa adanya.


“Saya justru dari awal sudah menyukai Almira, dia sangat mirip denganku saat muda. Apalagi tadi saat dia menjambak rambut Arash, mengingatkan saya dengan suami sendiri waktu belum menikah,” kata Mommy Alya.


“Oh ya.”


Mommy Alya menceritakan sekilas tentang dirinya dengan Daddy Erick kepada Mama Tania, begitu pula Mama Tania menceritakan tentang kisahnya dengan Papa Albert hingga mereka pun tertawa bersama, mengenang masa lalu yang menjengkelkan dengan pasangan masing-masing, namun sekarang sudah menjadi pasangan yang saling mencintai.


...----------------...


Hari demi hari berlalu semenjak Almira menyatakan memberikan waktu satu bulan untuk Arash berubah. Mommy Alya sudah mencarikannya guru privat agama, agar Arash kembali menjalankan ibadahnya sebagai umat muslim. Tapi sudah tentu bukan hanya untuk Arash saja, Arsal dan Nabilla juga ikut bersama-sama menimba ilmu agama, walau kedua anak itu sudah lancar mengajinya.


Jack sohib Arash tampak berkacak pinggang di kantin kampus P. University.


“Arash, gue gak salah dengar. Lo udah gak mau ikutan balapan motor lagi. Lumayan loh hadiahnya 20 juta kalau menang!” seru Jack, salah satu tangannya mengorek telinganya untuk memastikan jika telinganya masih berfungsi dengan baik.


Mulut Arash tampak masih sibuk mengunyah makan siangnya. “Enggak, lo gak salah dengar, gue bakal berhenti total dari balapan motor.”

__ADS_1


Jack menurunkan kedua tangannya dari pinggangnya kemudian menjatuhkan bokongnya ke kursi yang ada di hadapan Arash.


“Hayolah, Lo yang paling jago dari kita-kita kalau soal balapan motor. Lo harus membalas gengnya si Heri yang pernah menjebak lo! Lagian lo kena apa sih sampai mau berhenti! Jangan-jangan lo ketempelan setan ya!” tebak Jack, wajahnya terlihat penasaran.


Bagaimana Jack tidak penasaran, sudah hampir mau lima tahun mereka berteman, baru kali ini Jack mendapat penolakan dari sohibnya.


Arash mendengus, lalu menaruh sendok yang dia pegang ke atas piring. “Iya gue ketempelan setan cantik namanya Almira, calon istri gue,” jawab Arash dengan rasa bangganya.


“WHAT! Gue gak salah dengar, calon istri! Almira calon istri lo!” Jack terkekeh kecil, dengan sedikit ada nada mengejeknya.


“Lo masih aja bilang Almira sebagai calon istri lo, gue gak yakin walau lo udah ngelamarnya, dia tetap mau menerima elo jadi suaminya, lo kan cowok brengsek dan bukannya dia gak suka sama elo ya!” sindir Jack.


Tatapan Arash mulai terlihat tidak enak saat menatap Jack, tersirat kekecewaan dan rasa jengkelnya.


“Bukan suka atau tidak sukanya Almira sama gue. Memang gue ini brengsek tapi gue ingin berubah agar pantas berdampingan dengan calon istri gue, Almira!” jawab Arash dengan tegasnya.


Jack benar-benar dibuat terpukau. “Hebat si Kunti bisa buat si maniak motor berhenti ikutan balapan motor, jangan-jangan si kunti pakai ajian pelet nih buat taklukkan si Arash. Sherina aja gak bisa bikin Arash nunduk patuh kayak begitu,” gumam Jack seorang diri.


Pria bermata biru itu bergegas menuju pelataran parkiran, dan mengabaikan panggilan para penggemarnya yang sudah tahu jika Arash sudah putus dengan Sherina, gosip di kampus memang cepat berhembus, apalagi Arash salah satu primadona kampus.


Dari kejauhan, Sherina tersenyum jahat saat menatap Arash yang sudah masuk ke dalam mobilnya, dan memicingkan kedua netranya. “Aku akan menaklukkan dirimu kembali Arash, aku tak akan membiarkan kamu bersama bocah sialan itu!” kata Sherina dengan sinisnya, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya.


...----------------...


Arash mengulas senyum tipisnya saat menyalakan mobil. “I'm coming calon istriku, tunggu calon suamimu menjemput ya,” gumam Arash sendiri, hatinya yang tadinya sudah kesal dengan Jack, sekarang senyum sumringah setelah dapat izin dari Papa Albert untuk menjemput Almira di sekolahnya melalui pesan whatsapp.


Satu jam kemudian, mobil Arash sudah tiba di gerbang sekolah Almira. Pria itu langsung bergegas turun dari mobilnya lalu menghampiri pos satpam untuk menanyakan sudah jam pulang atau belum, karena terlihat sepi, dan untungnya ternyata belum jam pulang, sekitar lima belas menit lagi bel pulang akan berbunyi.

__ADS_1


Pria bermata biru itu tidak balik ke mobilnya, namun dia berdiri dekat pos satpam. Cie-cie Bang Wowo demi Neng Kunti rela menunggu panas-panasan di luar.


Lima belas menit kemudian, satu persatu para siswa keluar dari gerbang sekolah, Arash jadi pusat perhatian para siswa berseragam putih abu-abu itu, pria itu hanya tersenyum tipis sambil celingak-celinguk mencari keberadaan calon istrinya, apalagi sudah beberapa hari tidak ketemu, hatinya merindu.


“Huft ... dia lagi!” gumam Almira sendiri, langkah kakinya terasa berat setelah dapat pesan dari Papa Albert, jika Arash akan menjemputnya di sekolah.


“Ck ... kenapa sih Papa, pakai ngizinin Kak Arash jemput aku di sekolah!” kesal Almira.


Siti hanya menoleh melihat Almira sedari tadi ngedumel sendiri, lalu melayangkan tatapan ke depan.


“Oooh pantas saja dari tadi ngedumel sendiri, ternyata sudah ada yang menunggu toh,” timpal Siti, sembari merangkul bahu Almira, yang sedari tadi langkah kakinya udah kayak siput ... alon-alon.


 


bersambung ...


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2