Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Hanya terobsesi bukan cinta!


__ADS_3

Sekitar setengah jam Almira menghabiskan makanan yang dipesan oleh Arash, mubazir jika tidak dihabiskan, dan sekarang menu penutup sudah terhidang semangkok kecil ice cream dengan berbagai rasa dengan toping strawberry dan kacang mede, emm sungguh nikmat, karena ice cream makanan kesukaan Almira.


Almira menghiraukan tatapan Arash yang tak pernah berpaling darinya, selalu saja meliriknya.


“Kak Arash, tidak bosan apa dari tadi lihat aku terus,” tegur Almira tanpa menatap pria itu, dia masih fokus dengan mangkok ice creamnya.


“Bukankah wajar jika aku menatap wajah calon istrinya,” jawab Arash santai.


Almira menghentikan suapannya, dan meletakkan sendok kecilnya di samping mangkok ice creamnya.


“Baiklah sudah saatnya kita membicarakan kesalahpahaman ini,” tutur Almira menunjukkan ekspresi seriusnya, begitu pun juga dengan Arash.


“Aku yang terlebih dahulu bicara,” pinta Arash, karena memang dia yang ingin berbicara.


“Silahkan,” Almira mempersilahkan.


“Masalah kita berdua, aku ingin minta kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku memang salah sudah memiliki kekasih tapi malah melamarmu sebelum mengakhirinya, tapi jujur aku jatuh cinta denganmu,” kata Arash bersungguh-sungguh.


“Almira berikanlah aku kesempatan, aku akan menunjukkan keseriusanku, aku akan berubah seperti apa yang kamu minta,” kata Arash kembali sembari memohon.


 Kali ini Almira benar-benar memberanikan diri menatap lawan jenisnya. “Kesempatan! Kakak memintaku untuk diberikan kesempatan, tapi urusan Kakak sendiri belum terselesaikan. Lagi pula jujur hatiku sangat sakit atas perkataan Kak Sherina dan hampir saja aku kehilangan nyawa sendiri! Dan bukankan sejak awal Kakak selalu ngejekku, dan ingatkah pernah berkata tidak ingin memiliki istri yang masih bocah sepertiku, dan menginginkan pasangan yang seumuran, cantik, pintar dan sexy. Semua kriteria yang diinginkan Kak Arash tidak ada di diriku.”


Arash terdiam ...


Almira menyandarkan punggungnya dan masih menatap pria bermata biru itu. “Usia Kak Arash lebih tua dariku, dan pasti pikirannga lebih dewasa daripada aku yang masih anak SMU, yang masih bocah ini. Kak Arash sebenarnya tidak mencintaiku, tapi hanya obsesi terhadapku, dan tak ingin aku bersama pria lain.”


Pria itu menggelengkan kepalanya, tidak menyetujui penuturan Almira.


“Aku memang sebenarnya tidak menyetujui lamaran kemarin, semua aku lakukan karena menghargai kedua orang tuaku. Sejujurnya aku tidak ada perasaan dengan Kak Arash, dan sejujurnya juga aku memang menginginkan calon suami seperti Ustadz Ridwan bukanlah Kak Arash. Manusia mungkin punya rencana, tapi Allah lah yang mengabulkan, contohnya jalan kita memang harus terpisah karena pertemuan yang tak sengaja dengan Kak Sherina.”


Rahang tegas pria itu mulai mengetat, urat nadi yang berada di sisi kedua telinganya berkedut menahan rasa cemburunya, hanya karena sebuah nama Ustadz Ridwan! Serta kata jujur Almira yang amat pahit rasanya. Tapi bukankah setiap perkataan harus jujur!


Sorot mata Arash tampak menajam, begitupun Almira. “Aku memang cowok brengsek, sangat brengsek! Dan aku memang tidak sesempurna Ustadz Ridwan, pria yang kamu banggakan itu!” seru Arash, suaranya mulai meninggi.

__ADS_1


Arash melempar serbet yang dia pegang ke atas meja, hampir saja menutupi mangkuk ice cream milik Almira.


“Ternyata percuma aku merendahkan diri padamu, kamu benar-benar tidak mau memberikan kesempatan padaku. Baiklah aku rasa cukup! Aku mengemis padamu, jika memang kamu menginginkan semuanya berakhir, baiklah akan aku turuti!” kata Arash penuh emosi, pria itu mengeluarkan 10 lembar uang berwarna merah dan meletakkan begitu saja di meja. Tak lama pria itu bangkit dari duduknya dan meninggalkan Almira seorang diri.


Almira hanya bisa tersenyum getir, melihat Arash meninggalkannya seorang diri, namun tak apa, dia tidak mau memusingkannya. Gadis itu kembali menghabiskan ice creamnya lalu memanggil waiters untuk meminta billnya.


Sedangkan Arash dengan langkah kaki penuh emosi dia benar-benar meninggalkan Almira,  menuju mobilnya.


BRAK!


Dentuman suara pintu mobil yang dibanting begitu menggema di basement.


“BRENGSEK LO ARASH!” umpat Arash pada dirinya sendiri, dan berulang kali dia memukul stir kemudinya, tak peduli dengan rasa sakit ditangannya akibat memukul stir kemudi mobilnya.


 Sudahlah tidak perlu lo ngemis sama Almira, masih banyak wanita yang lebih cantik dari dia. Lagi pula banyak wanita yang menginginkan lo, mungkin benar lo hanya terobsesi dengannya, bukan karena cinta! Hasut batin Arash.


“Ya mungkin gue hanya terobsesi saja, bukan karena mencintainya. Oke ... semua sudah berakhir! Gue gak akan pernah mengejar Almira lagi,” kata tekad Arash dengan sorot mata yang tajam ke depan.


Berhubung kantor papa Albert dekat dengan restoran, Almira ingin mampir ke sana, dan dia memilih untuk memesan ojek online.


Arash yang belum jauh mengendarai mobilnya, otaknya masih memikirkan Almira yang dia tinggalkan begitu saja.


“Sialan!” umpatnya sembari memukul kemudinya. Arash bergegas memutar balik kendaraannya dan kembali  menuju restoran.


Dari kaca mobilnya dari kejauhan, Arash sudah melihat Almira masih berdiri di depan restoran, laju kemudinya dia percepat, namun sayangnya kecepatan terkalahkan dengan ojek online yang sudah menghampiri Almira.


“EERGH!” teriak kesal Arash di dalam mobilnya, sia-sia dia memutar balik mobilnya untuk menghampiri Almira, karena gadis itu sudah pergi dengan abang berjaket hijau itu.


Dia yang memilih meninggalkan Almira, namun dia sendiri juga yang kesal, semuanya karena emosi, maka dari itu jangan suka mengambil keputusan yang cepat saat masih emosi.


...----------------...


Perusahaan Maxindo

__ADS_1


Ruang CEO


“Tumben nak, kamu ke kantor Papa?” tanya Papa Albert, saat melihat kedatangan putri bungsunya. Gadis itu salim dengan papa Albert, dan ternyata ada daddy Erick juga.


“Kebetulan tadi Mira makan sama temen di restoran yang gak jauh dari sini, jadi sekalian aja mampir ke sini,” jawab  Almira, sembari tersenyum dengan daddy Erick.


“Siang Om Erick,” sapa Almira, saat bergantian salim dengan daddy Erick.


“Jangan panggil Om, Mira. Panggil aja Daddy,” pinta Daddy Erick.


Almira tampak canggung panggil Erick dengan sebutan Daddy karena sudah bukan calon menantunya, papa Albert mengangguk pelan pada Almira.


“Iya ... Daddy,” kata Almira, agak kaku.


“Papa lagi meeting ya, kalau begitu Mira keliling kantor aja ya?” tanya Almira.


“Kami baru saja selesai, sekarang lagi ngobrol santai, sebaiknya kamu duduk dulu. Kebetulan kita ketua, ada yang ingin Daddy tanyakan sama kamu?” pinta Daddy Erick.


Almira menjatuhkan tas ranselnya disalah satu kursi yang kosong, lalu bergabung duduk di sofa dengan kedua pria paruh baya itu.


“Ingin bicara apa Daddy?” tanya Almira penuh rasa ingin tahu.


 Bersambung ... Daddy Erick mau bicara tentang apa?




 


 


 

__ADS_1


__ADS_2