Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Undangan Almira


__ADS_3

Mansion Erick.


Jam 17.30 wib


Sherina minta tolong Jack untuk  membujuk kekasihnya kembali agar nanti malam mau ke clubbing, ternyata keinginannya tidak berhasil, padahal yang membujuk si Jack bukan lagi Sherina, benar-benar mood Arash yang sedang jelek semakin buruk.


Pria bermata biru itu memarkirkan kendaraan beroda empatnya di garasi mobil, lalu dengan langkah kaki yang sedikit terseret masuk ke dalam mansionnya.


Kepala pelayan pun menyambut kepulangan anak majikannya dengan tatapan herannya, karena tak seperti biasanya Arash pulang di saat matahari masih bersinar di langit yang biru, biasanya menjelang malam atau paling banter jam sembilan malam baru dia pulang.


“Tuan muda, mau dibuatkan minum apa?” tanya Deni sang kepala pelayan.


“Bikin yang segar-segar saja, Pak Deni,” jawab Arash asal, sembari melempar tas ranselnya di atas sofa, lalu dia menghempaskan dirinya sendiri di atas sofa panjang itu.


Deni bergegas ke dapur membuatkan orange jus, kemudian mengeluarkan kotak cake dari lemari pendingin untuk di sajikan buat tuan muda. Sekitar sepuluh menit kemudian Deni sudah kembali lagi ke ruang utama dengan membawa nampan.


“Ini Tuan minumannya, dan ini tadi ada kiriman cake katanya buat Tuan Muda sebagai ucapan terima kasih,” kata Deni saat menyajikannya di atas meja.


Arash yang tadinya duduk bersandar, langsung menegakkan punggungnya, kemudian menatap cake yang berwarna hijau itu.


“Cake dari siapa ... Pak Deni?” Arash bertanya dengan tatapan sangat heran, karena seumur hidupnya belum pernah ada yang mengiriminya cake, kecuali ya dari mommy Alya lah.


Kedua netra Deni tampak melihat ke atas, kembali mengingat siapa tadi yang mengirimnya. “Tadi hanya datang sebentar aja sih Tuan, awalnya mau cari Nyonya. Kalau gak salah tadi kayak masih anak SMU, wajahnya cantik agak bule, terus rambutnya dikepang kesamping.” Deni menjawab dengan menyebutkan ciri-cirinya.


“Ooh ... Baru ingat saya, dia sempat bilang katanya anaknya Ibu Tania,” lanjut Deni, mohon dimaklumilah namanya usia udah 45 tahun, ingatan sudah mulai suka lupa.


Arash semakin tegak punggungnya kemudian mencondongkan dirinya, lalu bibirnya melengkung.


“Almira ...” gumam Arash sendiri, tiba-tiba saja mood buruknya agak membaik.


Pria itu mengambil potongan cake berwarna hijau itu lalu menyantapnya dengan lahap.


“Tumben kamu sudah pulang, aneh?” tanya Mommy Alya yang baru saja tiba dan turut berada di ruang utama.


Arash mendongakkan wajahnya agar bisa menatap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan sexy itu, pujaan hati daddy Erick. Arash buru-buru mengunyah cake yang masih ada di dalam mulutnya, lalu baru menjawabnya. “Giliran pulang sore dibilang aneh, giliran pulangnya malam selalu bilang ‘sekalian aja pagi baru pulang',” Arash mengikuti cara mommynya kalau mulai ngedumel.

__ADS_1


Mommy Alya mendaratkan bokong di sofa dekat Arash. “Habisnya kamu tuh memang susah dikasih tahu, sudah dinasihati berulang kali, masih saja tak di dengar, entah sampai kapan kamu mau berubah! Berubah demi kebaikan kamu, bukan demi kebaikan Mommy atau Daddy kamu!” tegur Mommy Alya, mulai kasih kultum.


Arash pura-pura tak mendengarnya, lalu diambilnya gelas orange jusnya kemudian menyesapnya sampai tandas.


Deni kembali lagi ke ruang utama, membawakan secangkir teh hangat buat mommy Alya. “Silakan Nyonya teh hangatnya, dan ini tadi ada yang antar undangan dari anaknya Ibu Tania bersama sekotak cake, Nyonya,” kata Deni, menyodorkan amplop eksklusif berwarna abu-abu muda.


DEG!


Undangan, jangan-jangan benar kata Siti kalau tiga hari lagi Almira akan tunangan dengan Ustadz Ridwan!


Hati Arash kembali berdenyut seperti tadi siang, moodnya kembali nyungsep, baru saja agak naik sekarang terjatuh ke tempat yang sama, namun kali ini ke tempat yang paling dalam.


Mommy Alya menerimanya. “Makasih ya Pak Deni.”


“Sama-sama, Nyonya.” Deni pun langsung pamit ke dalam.


 Kedua netra Arash melirik curiga dengan amplop yang di pegang oleh mommy Alya. “Undangan apa tuh Mom?” benerkan dia tak tahan pengen tahu.


Dengan santainya mommy Alya menyesap teh hangatnya sebelum menjawab pertanyaan anak gantengnya itu. “Oh undangan ini, kalau gak salah Almira mau dipinang tiga hari lagi, acara di hotel Mulia,” jawab Mommy Alya, suaranya dibuat agak sedih.


“Di pinang itu maksudnya diikat Arash, dilamar sama laki-laki. Mommy jadi sedih padahal pengen banget Mommy punya mantu Almira, tapinya kamu sudah menolaknya. Eeh sekarang malah mau dipinang sama orang lain,” kata Mommy Alya memelas.


Arash bergeming ...


Jadi ini benarkah? Bukan bercanda kan!


Hati Arash terlihat gusar.


Mommy Alya masih memegang undangan tersebut, lalu beranjak dari duduknya namun ujung ekornya melirik ekspresi wajah anaknya yang tiba-tiba saja berbeda. Karena tidak ada tanggapan dari Arash, wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya.


“Mommy,” panggil Arash sembari beranjak dari duduknya.


Mommy Alya menghentikan langkah kakinya lalu memutar badannya. “Ada apa?”


Arash mengusap kedua tangannya ke sisi pahanya seperti orang sedang menghilangkan rasa groginya. “Bisa kita menengok Almira di mansionnya, Mom? Bukankah kita sudah lama tidak tahu kabarnya, sudah sembuh total atau tidaknya?” ucap Arash. Permintaan Arash membuat bulu kuduk mommy Alya merinding seketika, tumben putranya berkata pelan dan tak ketus, lalu satu lagi minta bertemu dengan Almira, padahal sudah jelas diakhir perjumpaan di rumah sakit, wajah anaknya sudah terlihat masam ketika mama Tania basa basi menawarkan berkunjung ke mansionnya.

__ADS_1


“Bukankah kamu tidak mau berkunjung ke mansion Almira, sekarang kenapa minta?”


“Eh ... hanya ingin tahu  keadaannya saja Mom.”


“Ya sudah kalau kamu pengen ketemu Almira, sebaiknya nanti kamu ikut saja saat acaranya, jadi kamu bisa tahu keadaan Almira.”


Bukan begitu Mom, maksud Arash ketemunya sekarang bukan pas acaranya!


Ingin sekali Arash berkata seperti iru, namun sayangnya gengsi masih terlalu kuat.


Arash mengambil tas ranselnya, dengan wajahnya yang terlihat masam serta kecewa, lalu berlalu begitu saja melewati mommy Alya. Sikap Arash membuat mommy Alya menaikkan kedua bahunya.


“Anak sama persis kayak Daddynya,” gumam Mommy Alya, sembari mengulas senyum tipisnya, lalu mengibaskan undangan yang dipegangnya.


Benarkah itu undangan acara tunangan Almira?


...----------------...


Kamar Arash.


Daun pintu yang tak punya dosa, tiba-tiba terbanting hingga meninggalkan suara dentuman yang begitu memekak telinga yang mendengarnya.


“Errggh!!” teriak Arash, sembari mengusak rambutnya lalu menariknya, terasa frustasi.


“Kenapa sih Mommy gak paham kalau gue pengen ketemu sama si Kunti itu sekarang bukan pas acara!” Arash berdecak kesal sendiri, lalu salah satu kakinya menendang kaki kursi, meluapkan emosinya.


“Bener-bener ya lo Almira, mau tunangan secepat ini. Memangnya gak bisa apa nunggu setahun atau lima tahun lagi!” geram Arash sendiri.


Pria bermata biru itu mengepalkan kedua tangannya, garis rahang yang membentuk wajah tegasnya semakin mengetat, mata beningnya mulai memerah menahan perasaannya sendiri, tidak terima jika Almira benar-benar akan dipinang oleh orang lain. Bayang wajah Almira yang sudah mengganggu kehidupan Arash selama sebulan terakhir ini, hingga akhirnya dia mencari keberadaan Almira.


“AAKKKHH!” jerit Arash sekencang-kencangnya.


 bersambung .....


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya, like, komentarnya ...biar tambah semangat.

__ADS_1



__ADS_2