Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Rencana bulan madu


__ADS_3

Tiga hari berlalu, Arash dan Almira menikmati liburan dan menginap di Bogor hanya berdua saja karena kedua keluarga besarnya sudah kembali ke Jakarta dan tidak ingin mengangguk aktivitas pengantin baru sejak dua hari yang lalu, dan sekarang mereka berdua harus kembali ke Jakarta.


“Masih sakit gak sayang rumahnya si dede?” tanya Arash ketika Almira sedang merapikan isi kopernya milik dia dan suaminya.


Almira mendongakkan wajah dan menatap kasihan suaminya, sudah dua hari pria itu puasa karena dia mengeluh bagian feminimnya perih, dan benar saja dua hari yang lalu Arash minta di kasih tahu obat buat bagian feminim Almira ke Mommy Alya, hingga seluruh keluarga tertawa saat sarapan di restoran, semakin kesal lah Almira sama Arash. Salah Arash juga sih kenapa ber tanya di tempat umum, bukannya via wa kek. Tapi melihat Almira merajuk, Arash selalu berusaha membujuk Almira, tidak ada rasa putus asa.


Almira melirik jam di dinding masih jam 8 pagi, waktu cek out hotel jam 1 siang jadi masih ada waktu untuk berlama-lama di hotel sebelum mereka berdua pulang ke Jakarta.


Arash ikutan duduk di tepi ranjang dan memeluk pinggang Almira. “Sayang, kok pertanyaan ku belum dijawab. Marahnya jangan lama-lama dong, aku kan sudah minta maaf, aku juga gak kuat kalau didiamkan lama-lama,” rengek Arash, wajah Arash mulai menggusel-gusel tengkuk Almira. Bayangkan saja selama di hotel setelah Almira malu karena Arash, wanita itu benar-benar mendiamkannya, dan saat tidur Arash hanya bisa memeluk istrinya tapi tidak boleh minta yang lebih. Dan sekarang merengeklah pria itu, iman dan aminnya sudah melambaikan tangan, gak kuat kalau dekat Almira.


Sebenarnya Almira juga gak tega, tapi mau bagaimana lagi dia kesal sama suaminya, tapi kali ini dia melonggarkan rasa kesalnya. Wanita itu membiarkan suaminya merangkul pinggangnya dan mencoba membangkit hasratnya, tanpa menjawab pertanyaan Arash, wanita itu mengikuti tindakan Arash, dan terbitlah senyum lebar dari pria itu.


**


Mansion Albert


Jam 3 sore, mobil milik Arash sudah tiba di kediaman Albert, pria yang wajahnya sudah berseri-seri kembali karena sudah dapat sumber vitaminnya keluar dari mobilnya diikuti oleh Almira, kopernya serta oleh-oleh makanan dari Bogor sudah dibantu dibawakan oleh kepala pelayan yang telah siapa siaga.


“Akhirnya pengantin baru pulang juga, dikirain masih lama bulan madunya,” celetuk Alvin yang menyambut kedatangan mereka berdua.


“Maunya sih begitu, nanti aku sama Almira mau bulan madu ke raja ampat,” balas celetuk Arash.


“Ikut ya, Kak Arash,” jawab Alvin dengan kedua matanya berbinar-binar.


Arash mendesis melihat raut wajah iparnya itu, kenapa bisa terlihat polos begitu. “Tenang Kak Alvin, nanti ke Raja Ampatnya rame-rame kok, semuanya ikutan sekalian liburan keluarga,” timpal Almira dengan mengedipkan salah satu matanya pada suaminya.


Arash tergelak kaget mendengar semuanya akan ikut bulan madu bersama mereka berdua dari mulut Almira.


“Sayang kok begitu?” tanya Arash merasa tidak setuju, pria itu lalu mengejar istrinya yang sudah menaiki tangga.

__ADS_1


Arash mengejarnya lalu mengangkat tubuh mungil istrinya dan membawanya ke kamar yang ditempati oleh Almira.


“Kak Arash,” pekik Almira sembari menepuk bahu suaminya karena mendadak dirinya digendong, dan malu dilihat sama para pelayan mansionnya.


Pria itu membiarkan dirinya dipukul manja oleh Almira, setibanya di kamar, pria itu langsung merebahkan Almira di atas ranjang dan mengunci kamarnya dan kembali ke atas ranjang.


“Sayang, kok tadi bilangnya seperti itu ke Alvin. Rencana bulan madunya kan hanya kita berdua, kenapa semuanya jadi ikutan,” kata Arash tidak setuju, pria itu menatap wajah Almira.


Wanita itu tersenyum agak nakal, lalu mengusap rahang suaminya. “Jalan rame-rame denan keluarga itu seru Kak Arash, lagi pula kita bulan madunya juga di kamar kan, bukan di luar kamar kan?” Almira menatap menggoda suaminya.


“Kalau Kak Arash tidak setuju, jangan harap si dede bisa masuk ke dalam rumahnya lagi,” lanjut kata Almira agak mengancam, wanita itu mengusap bibir suaminya dengan sentuhan jemarinya yang lembut, bikin Arash kembali naik hasratnya.


Kalau sudah urusan menyangkut dede sama rumahnya lebih baik pria itu menuruti kemauan istrinya dari pada puasa lagi. “Baiklah istriku yang cantik, kita bulan madunya ajak semuanya,” jawab Arash pasrah, tak lama dia kembali menyerang istrinya yang sudah berani menggodanya.


“Ampun Kak Arash,” teriak Almira sambil tertawa.


“Duh dasar pengantin baru, masih sore tetap lanjut terus, dijoss terus sampai lecet,” celetuk salah satu maid.


“Aaww ... sakit Kak Arash ... gak kena nih!” teriak Almira dari dalam kamar.


Kedua maid itu bulu kuduknya mulai merinding dengarnya.


“Hush, kayak gak pernah muda aja, ayo cepat ke bawah, yang ada telinga kita ikutan rusak dengarnya,” jawab salah satu maid sambil terkekeh, dan menggelengkan kepalanya karena ikutan merinding.


Sedangkan di dalam kamar Almira ternyata kedua orang tersebut lagi main kejar kejaran sambil bawa bantal, astaga Bang Wowo Neng Kunti di luar sana orang lagi mikir pada bikin adonan anak.


...----------------...


Menjelang malam

__ADS_1


Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan, terlihat Mama Tania dan Almira menyiapkan makan malam untuk suaminya masing-masing. Almira belajar cepat cara mengurus suaminya dari Mama Tania, paling tidak walau umurnya masih 18 tahun bisa bersikap seperti wanita dewasa dan sebagai istri.


“Jadi kalian ada rencana mau honeymoon ke Raja Ampat kata Alvin?” tanya Papa Albert pada Arash dan Almira.


Arash melirik iparnya yang duduk di seberang mejanya, ternyata tuh ipar cepat banget mengadu ke Papa Albert. “Iya Pah rencana mau ke sana,” jawab Arash.


“Kebetulan sekali Papa sama Daddy memang ada rencana mau kesana, mengunjungi salah satu resort yang mau kami beli. Jadi nanti kita serombongan aja berangkatnya sekalian liburan ke sana, kamu juga sekalian bisa bantu pekerjaan Papa sama Daddy disana, ” balas Papa Albert.


“Iya Pah,” jawab patuh Arash, sembari melirik istrinya yang sedang menaruh beberapa lauk di piringnya. Ternyata honeymoon yang direncanakan oleh Arash memang tidak boleh jalan berdua saja, harus mengajak banyak orang.


Almira yang ditatap oleh Arash hanya bisa tersenyum simpul, dia tahu pria itu ada sedikit rasa kecewa yang ingin menghabiskan waktunya berdua saja saat honeymoon, tapi mau apa dikata, apalagi di sana dia harus bantu pekerjaan kedua papanya kata papa Albert.


Wanita itu mengusap paha suaminya. “Dimakan dulu makannya biar kuat nanti malam,” bisik Almira sengaja menggoda Arash.


Kalau sudah dipancing begitu, Arash langsung tersenyum dan semangat lagi, nanti malam mau dapat jatah lagi dari istrinya padahal belum tentu, batin Almira tertawa melihat perubahan wajah Arash yang begitu cepat.


Ya begitulah pasangan muda masih menikmati manisnya gelora asmara, perjalanan rumah tangga pun dimulai. Almira belajar memahami karakter suaminya, begitu juga dengan Arash yang belajar memahami karakter istrinya. Menikah itu bukan hanya penyatuan  dua orang saja, tapi penyatuan dua keluarga besar dengan karakter yang berbeda-beda.


 


bersambung ...


 


Kakak Readers mampir yuk ke karya Author Chika Ssi dan Author Santi Suki ceritanya menarik loh.



__ADS_1


__ADS_2