
Berhubung waktu sudah jam lima sore, Almira berpamitan untuk mandi sore. Sedangkan Mama Tania sedari tadi sudah berpamitan untuk masak makan malam, Papa Albert ke kamar utama untuk membersihkan dirinya.
Tinggallah ketiga pria berinisial A berada di ruang utama, pikir Arash dengan dia menerima ajakan makan malam, bisa ngobrol berduaan sama Almira, ternyata di luar ekspetasinya. Alvan dan Alvin benar-benar tidak kasih celah untuk mendekati atau berbicara dengan Almira. Pria bermata biru itu hanya bisa tersenyum kecut saja.
“Ngapain dari tadi lihat-lihat Almira!” tegur Alvin, setelah gadis itu meninggalkan ruang utama.
“Siapa yang lihat Almira, lagi pula gue punya mata, ya wajar dong gue melihat ke seluruh arah,” sangkal Arash, tak mengakuinya, padahal sudah jelas Alvin melihatnya sedari tadi.
“Aku gak usah ditipu deh Kak, dari tadi matanya melirik Almira. Ingat ya Kak Arash itu bukan pacar Almira ... gak usah pakai ngaku-ngaku, jadi tolong dijaga matanya!” balas Alvin ketus.
“Tapikan gue dijodohin sama daddy dan Pak Albert, buat jadi suaminya Almira,” balas Arash, agak sewot.
“Sepertinya ada yang lupa, bukannya Kak Arash dan Almira sudah menolak perjodohan itu ya kata Papa. Jadi jangan dibahas lagi. Lagian Almira juga sudah ada calon yang lain kok,” sambung Alvan sambil melirik Alvin kembarannya.
“Jadi gak usah ngaku-ngaku lagi!” seru Alvin ikut memprovokasi.
Ck ... ngapaiin juga sih diungkit-ungkit lagi. Lagian gue kok jadi ngomong masalah perjodohan, emang gue gak suka sama Al—
Arash pun bergeming, setelah perang batinnya sendiri.
Waktu terus berjalan, adzan maqrib pun berkumandang. Alvan dan Alvin kembali ke kamarnya masing-masing untuk bersiap-siap melaksanakan ibadah shalat maqrib. Arash ditinggal seorang diri di ruang utama.
Tak selang berapa lama kemudian, Almira turun ke bawah telah menggunakan mukena, begitu pun Alvan dan Alvin sudah memakai kain sarung, serta peci dikepalanya.
“Kak Arash,” panggil Almira saat melewatinya ruang utama.
Arash pun berdiri melihat Almira begitu cantik menggunakan mukena di kepalanya.
“Ya ... Almira,” jawab Arash, jantungnya berdebar-debar.
“Ayo ... ke musholla, kita sholat maqrib berjamaah,” ajak Almira.
Alvan memberikan sarung dan peci kepada Arash. Sungguh membagongkan pria itu dibuat terdiam.
Aduh bagaimana ini, di suruh shalat berjamaah, gue udah lama gak shalat. Masih hapal gak ya bacaannya. Malah ada Pak Albert lagi ... mulai ketar ketir batin Arash.
“Mari Nak Arash, kita ke musholla untuk shalat maqrib berjamaah,” ajak Papa Albert sembari menepuk bahu Arash yang masih terlihat tercegang.
“Eh ... iya Om Albert,” jawab Arash agak terbata-bata, lalu mengikuti langkah kaki semuanya menuju mushola yang ada di belakang dekat taman bunga.
__ADS_1
Haduh bagaimana ini, mana gue juga udah lupa cara berwudhu.
Sambil jalan menuju musholla, Arash membuka mbah google dan mencari cara berwudhu, sumpah demi apa dia mencari cara berwudhu? Takut, malu dengan Almira kah? Atau sama Papa Albert dan Mama Tania.
Sembari berjalan melihat ponselnya, akhirnya Arash bertubrukan dengan Alvin, karena si Alvin ngerem mendadak.
“Aduh!” ringis mereka berdua, karena jatuh berduaan juga.
“Loh kok bisa pada jatuh!” tegur Almira saat menoleh kebelakang.
“Kak Arash nih jalan gak lihat-lihat, pakai nabrak aku dari belakang,” seru Alvin sembari bangkit dari jatuhnya.
Almira bukannya menolong Arash, malah menolong ponsel Arash yang ikutan jatuh.
“Cara mengambil wudhu,” gumam Almira, saat melihat layar ponsel Arash.
Pria itu buru-buru merampas ponselnya dari tangan Almira. “Apaan sih pakai dilihat segala,” celetuk Arash, tidak suka.
Almira menatap Arash dengan tatapan menyelidik. “Jangan bilang Kak Arash lupa sama cara berwudhu!"
“Apaan sih, siapa bilang gue lupa cara berwudhu, gue cuma lihat lagi caranya, kembali mengingat ... memangnya salah,” jawab Arash dengan kasarnya.
Alvin yang masih berdiri dekat Arash, menautkan kedua alisnya. “Kalau lupa bilang aja Kak Arash, Almira gak suka sama cowok pembohong,” tegur Alvin.
Arash mengusap tengkuknya, dia tak bisa berbohong untuk kedua kalinya dengan Alvin. Mau tidak mau dia mendekati dirinya ke Alvin lalu berbisik. “Tolong ajarin gue ambil wudhu, gue udah lupa caranya. Tapi tolong jangan ceritaiin ke Almira ya.” Kali ini Arash tidak bisa pakai cara memberikan uang, gak akan berguna, lawannya juga anak orang kaya, gak butuh uang!
“What!” Badan Alvin agar mundur sedikit, lalu kembali bibirnya nyengir kuda.
Di saat Arash melihat reaksi Alvin, rasanya pengen jitak tuh kepalanya saudaranya Almira, untuk ingat kalau enggak beneran di jitak kepalanya Alvin, yang ada mereka berdua bisa adu bela diri lagi.
Semua manusia yang beradab menolong orang dalam kebaikan itu besar pahalanya, dengan senang hati Alvin membantu Arash membimbing mengambil air wudhu.
“Ya udah kita ketempat wudhu,” ajak Alvin, Arash untuk kali ini harus jadi murid yang penurut dulu, sedangkan Alvin sedang menjadi guru yang baik.
Semua orang sudah berkumpul di musholla, tinggal menunggu kehadiran Alvin dan Arash. Setelah guru dan murid dadakan itu masuk, shalat magrib berjamaah pun dimulai dengan diimami oleh Papa Albert.
“Tahu bacaan niat shalat magribnya, gak,” bisik Alvin pas ditelinga Arash.
“Gak tahu,” balas berbisik Arash.
__ADS_1
Si Alvin kembali nyengir kuda namun langsung membimbing Arash melafadzkan niat shalat magrib.
Untuk kali ini bergetar hati Arash saat mengikuti shalat magrib berjamaah dengan keluarga Albert, padahal keluarganya pun sering melakukannya namun dia malas untuk mengikutinya dengan berbagai alasan. Sedangkan di mansion Albert, dia memaksakan dirinya, demi harga dirinya namun ternyata bisa menyentuh hatinya yang paling dalam.
Usai shalat berjamaah, mereka saling berjabat tangan, namun tidak dengan Almira, dia menarik dirinya dari Arash ... duh wajah Arash jadi terlihat sedih, apalagi setelah melihat Almira mencium tangan Alvan dan Alvin, pria itu rasanya ke pengen tangannya dicium kayak Alvan Alvin.
Alvin menepuk bahu Arash. “Bukan muhrimnya, gak boleh cium tangan. Udah jangan mengkhayal melulu!” celetuk Alvin.
Astaga ini bocah kok tahu, jangan-jangan peramal nih! ... Batin Arash curiga.
“Bukan peramal, tapi barusan dikasih tahu sama Mommy Ghina tuh!” celetuk Alvin, sembari bangkit dari duduk bersilanya
“Astaga dia tahu lagi!” Melongo Arah dibuatnya.
Nah ngitu dong kalau sama calon kakak ipar itu harus akur, jangan hanya bisa berkelahi aja, kan adem lihatnya.
Apaan sih Mommy Ghina ini ... ketus jawabannya Arash, sambil membulatkan kedua netranya yang berwarna biru.
Bang Wowo tambah ganteng deh kalau abis shalat magrib, kalau gak percaya tanya deh sama Neng Kunti.
Arash langsung menoleh kebelakang lalu melirik Almira yang sudah membuka mukena, lalu melipatnya.
“Ck ... boro-boro dia mau lihat Arash, Mom,” gerutu Arash kecewa, dirinya kembali di acuhkan oleh Almira.
bersambung ...
Selamat pagi, selamat hari Senin Kakak Readers, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, biar tambah semangat nulis kelanjutannya 😊
__ADS_1