Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Nasihat Tante Vio


__ADS_3

Pertarungan batin Arash dengan dirinya sendiri masih terjadi, selama dia membersihkan diri hingga sudah terlihat rapi penampilan nya dengan gaya berpakaian santainya, hanya memakai celana chinos warna khaki dipadu kaos oblong berwarna putih.


Pria itu turun ke lantai bawah menuju dapur kering untuk mencari minuman penyegar setelah semalaman dia mabuk.


Sang kepala pelayan menyodorkan segelas air jahe dicampur madu dan perasan jeruk lemon. “Silahkan diminum Den Arash biar segar badannya, dan sarapannya sudah saya siapkan,” kata Pak Toni, sembari menyodorkan gelas tersebut. Arash segera meraih gelas yang diberikan oleh Pak Toni lalu menegaknya sampai tandas.


Wajah Arash tampak muram, dengan terpaksa dia menyantap sarapan kesiangannya sembari melihat ke sekeliling ruang dapur kering tersebut.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, dengan langkah kaki beratnya dia kembali naik ke lantai dua menuju kamar kedua orang tuanya. Pintu kamar utama tertutup rapat, sebelum dia masuk diketuknya pintu tersebut baru dia masuk ke kamar utama, setelah ada suara jawaban masuk.


Daddy Erick yang kebetulan duduk di sofa menatap dan melihat siapa yang masuk, namun setelah melihat Arash, pria paruh baya itu membuang pandangan dari wajah putranya. Arash hanya bisa terdiam melihat Daddynya buang muka.


Kaki Arash kembali melangkah masuk ke kamar utama yang begitu luasnya menuju ranjang kedua orang tuanya. Terlihatlah Mommy Alya berbaring lemah di atas ranjang, pria bermata biru itu memelankan langkah kakinya agar tidak menimbulkan suara derit dari kakinya. Sejenak Arash tertegun melihat wajah Mommy Alya yang terlihat pucat, kemudian dia memberanikan diri untuk duduk di tepi ranjang dekat Mommy Alya berbaring.


Indra penciuman Mommy Alya begitu peka dengan wangi parfum maskulin anaknya, dibukalah pelan-pelan kedua netranya lalu menatap Arash yang sudah duduk di tepi ranjang.


Arash nampak canggung, pria itu pun memainkan kedua jemarinya untuk menghilangkan rasa canggung, rasa tidak enaknya dengan Mommy Alya.


Mommy Alya yang masih kesal, kecewa dengan putranya, memalingkan tatapannya ke arah lain.


“M-maafkan Arash, Mom,” kata Arash begitu pelannya, hampir tak terdengar.


Mommy Alya tidak menjawabnya, cukup mendengarnya saja, lagi pula tidak ada daya untuk menegur putra yang agak bandel ini.

__ADS_1


Pria bermata biru itu terdengar menarik napasnya yang begitu berat, dan masih menanti jawaban dari Mommy Alya, berharap jika Mommynya mau menanggapinya.


 “A-Arash sudah banyak berbuat salah sama Mommy, A-Arash minta maaf,” kata Arash kembali, terdengar ucapan permohonan maaf yang diucapkan Arash terasa amat berat, seperti belum ada ketulusan dihatinya.


Mommy Alya tidak menyahuti anaknya, justru wanita paruh baya itu memiringkan posisi tidurnya, memunggungi Arash. Terkadang ada waktunya kita berdiam di saat hati sudah mulai lelah, dan berharap orang tersebut mengerti jika segala sesuatu ada batasnya, walau kesabaran seseorang itu tak ada batasannya.


Arash menundukkan kepalanya di saat dia belum juga mendapat jawaban dari Mommy Alya, malah dia diacuhkan begitu saja. Mau tidak mau dia harus terima sikap Mommy Alya terhadap dirinya karena semua berawal dari dirinya sendiri.


Hampir setengah jam Arash duduk di tepi ranjang, baik Mommy Alya dan Daddy Erick tidak mengeluarkan sepatah kata apapun padanya, baik itu teguran biasa atau memarahinya, ternyata di diamkan oleh orang tua itu rasanya tidak enak, lebih baik dicereweti atau dimarahi, Mommy Alya sudah kembali memejamkan kedua netranya, dan tak lama Vio datang dengan membawa kantong infusan, karena memang sudah waktunya mengisi ulang kantong infusan Mommy Alya.


“Hei, ada Arash ... apa kabarnya?” sapa Vio sekaligus bertanya.


“Baik Tante Vio,” jawab Arash tak bersemangat.


Tangan Vio sibuk menggantikan kantong infusan sembari tersenyum tipis pada anak temannya. “Kamu kok kelihatan lesu, sedang sakitkah? Tante periksa ya?” tanya Vio, usai selesai menggantikan kantong infus, Vio mendekati Arash.


Vio menepuk lembut bahu Arash. “Temeni Tante ngopi yuk,” pinta Vio, sejujurnya Vio tahu permasalahan Mommy Alya dengan Arash karena Mommy Alya suka berkeluh kesah jika mereka bertiga suka berkumpul di butik bersama Lili, kali ini dia ingin mencoba menyelami perasaan anak temannya.


Tanpa menjawab, Arash bangkit dari duduknya dan menuruti teman dekat Mommy nya, Daddy Erick hanya menatap sekilas ketika mereka berdua melewatinya.


...----------------...


Ruang Tengah

__ADS_1


Pak Toni sedang menghidangkan dua cangkir cappucino dan beberapa potong brownis keju. Vio dan Arash sama-sama menyesap cappucino yang masih terasa hangat itu.


Vio sudah mengenal Arash semenjak lahir, dan turut mengurusi bayi kembar Mommy Alya dan Daddy Erick saat itu.


“Menjadi Mommy Alya itu sangatlah tidak mudah Arash, sejak muda beliau berjuang dengan kerasnya. Semua beban ada dipundaknya sejak usianya baru 18 tahun, berjuang mencari nafkah untuk keluarganya, berjuang agar karyawan butiknya tetap bisa bekerja dengannya walau hampir saja mengalami kebangkrutan,” tutur Vio mulai membuka pembicaraan.


“Beliau mengorbankan kebahagiaannya sendiri dengan menerima menjadi ibu pengantin dari mantan istri daddy mu, demi 100 orang karyawan butiknya yang hidupnya bergantung pada beliau. Mommy kamu, berjuang mengandung kalian berdua, menangis dan terpukul saat hampir kehilangan kamu dan Arsal saat kalian berdua berada dikandungnya. Begitulah saking beliau mencintaimu semenjak berada dikandungan. Jika Tante berada diposisi mommy kamu, mungkin Tante sudah benar-benar menyerah,” lanjut kata Vio, kedua netranya mengamati raut wajah Arash.


Arash mendengarkan dan menyimak cerita Vio, yang benar-benar tidak dia ketahui. Dia hanya tahunya jika Mommy Alya hanyalah istri ketiga Daddy Erick yang kini jadi satu-satunya, tapi tidak tahu perjuangan saat Mommynya masih muda.


Vio menatap dalam Arash bagaikan anaknya sendiri. “Pernahkah kamu memahami perasaan mommy kamu, dia tidak meminta kamu berjuang seperti dirinya saat masih muda. Mommy kamu hanya minta jadilah orang yang memiliki pribadi yang baik seperti dulu, membuang hal-hal buruk. Pikirkanlah Arash, usiamu akan semakin bertambah, tidak akan selamanya kamu tenggelam di dunia gelap kamu, sebagai pria suatu saat kamu pasti akan berumah tangga, dan harus menjadi kepala rumah tangga. Belum lagi Daddy kamu pasti menginginkan anak-anaknya menjadi penerus perusahaannya, tidak selamanya orang tua sibuk bekerja dan panjang umur.”


Arash memalingkan pandangannya dari Vio, untuk mengusap kedua netranya yang mulai berembun, rasanya malu kalau sampai meneteskan air mata di hadapan Vio.


Seorang anak terkadang butuh ditegur oleh orang lain yang sebaya dengan orang tuanya, dan itu pun orang yang sangat mengenal dirinya. Seperti yang Vio lakukan saat ini, kadang ada anak yang bisa mendengarkan nasehat orang tuanya tapi ada juga anak yang lebih bisa menerima nasehat orang lain. Arash tipe anak yang seperti apa?


Vio menyesap kembali cappucino nya. “Maafkan Tante jika jadi berbicara panjang lebar denganmu, tapi ini demi kebaikanmu. Kasihan mommy kamu sampai drop begitu, semoga kamu tidak tersinggung ya,” ucap Vio. “Jika kamu sayang sama mommy, tolong pikirkan apa yang Tante bicarakan,” lanjut kata Vio.


“Ya Tante Vio,” jawab Arash, sembari menganggukkan kepalanya.


 


bersambung ...

__ADS_1


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komen, poin, VOTE, makasih sebelumnya 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


 


__ADS_2