Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Tangan yang digenggam


__ADS_3

Kedua pasangan yang baru terikat dalam ikatan lamaran, dengan menunjukkan senyuman terbaiknya mereka berdua menyapa tamu undangan yang turut hadir, kebanyakan mereka adalah rekan bisnis, karyawan dari daddy Erick dan papa Albert, serta teman-teman mommy Alya dan mama Tania yang datang.


Arash tampak berusaha meraih dan menggenggam tangan Almira, namun sayangnya selalu ditepis oleh gadis itu, tapi Arash pantang menyerah hingga dia berhasil menggandeng tangan calon istrinya.


 Arash tersenyum lebar saat berhasil menggandeng tangan Almira, dan Almira menunjukkan wajah garangnya tapi tetap terlihat cantik.


Menggemaskan calon istriku ini ... batin Arash.


“Selamat ya Arash, Almira ... Semoga dimudahkan dan dilancarkan sampai menjelang hari pernikahannya,” ucap Ustadz Ridwan ketika menghampiri mereka berdua di atas panggung.


Ayasha menatap teduh wajah Ustadz Ridwan, hatinya amat terasa sedih karena tak berjodoh dengan pria yang dikaguminya.


“Terima kasih Pak Ustadz,” jawab Arash datar dan dingin, sedingin kulkas empat pintu.


Ayasha yang ingin menerima uluran tangan Ustadz Ridwan, langsung dihalau oleh Arash saking hatinya cemburu. Gadis itu hanya bisa tersenyum kecut, dan untungnya Ustadz Ridwan bisa memahaminya.


Setelah Ustadz Ridwan meninggalkan mereka berdua, tangan Arash begitu erat menggenggam tangan Almira. “Ingatlah aku tidak suka melihat kamu dekat dengan Ustadz Ridwan,” bisik pria itu.


“Gak peduli, itu urusan Kak Arash! Suka atau tidaknya!” balas Almira ketus.


Arash berusaha untuk tidak menunjukkan rasa kesalnya karena masih ada tamu yang menghampiri mereka berdua. Selesai menerima ucapan selamat dan fotografer mendokumentasikannya bersama para tamu, sekarang mereka berdua bergabung dengan dua keluarga mereka untuk menikmati makan malam bersama.


Arash tetap menggandeng tangan Almira, menunjukkan kepada orang lain jika dia pemilik Almira bukan pria lain. Jangan takabur dulu Bang Wowo! Bang Wowo belum jadi pemilik hatinya Almira.


“Ngapaiin sih pakai gandengan tangan segala, kayak mau menyeberang aja!” kesal Almira, sembari berusaha melepaskan tangan Arash dari tangannya, namun lebih kuat tangan pria itu.


Arash menoleh ke samping. “Kamu tuh calon istri aku, wajar kalau aku gandeng tangan kamu,” balas Arash.


Cie Bang Wowo udah aku kamu, bukan lo gue lagi ... ehm


Apa sih Mommy Ghina, terserah Arash dong!


Arash menarik salah satu bangku yang kosong untuk Almira, dan membantu merapikan gaun bagian bawah gadis itu agar bisa duduk dengan nyaman, setelah itu baru Arash duduk dibangku sebelah Almira duduk, lalu pria itu agak menggeser bangkunya agar lebih dekat dengan calon istri kecilnya.


Ujung ekor mata Almira melirik tajam. “Ngapain pakai geser segala bangkunya, gak usah dekat-dekat!” tegur Almira, agak pelan namun penuh penekanan.

__ADS_1


Arash sepertinya harus kuat menghadapi Almira dalam mode galak. “Sayang, aku kan mau duduk dekat kamu,” jawab Arash pelan.


Kepala Almira langsung menoleh ke samping, lalu kedua matanya membulat dengan tatapan nyalangnya, kemudian dia mencondongkan dirinya agar lebih dekat dengan Arash. “Gak usah panggil aku Sayang, Sayang Kak Arash itu kak Sherina, bukan aku!” kata Almira begitu lembut namun tajam.


Untuk kedua kalinya Almira menyebutkan nama Sherina, dan selalu saja Arash terdiam, tak menjawab.


Pria bermata biru itu mendesah, dan mencoba untuk tidak terpancing emosi karena ucapan Almira, memang benar dia masih ada hubungan dengan Sherina, dan dia tidak menyanggahnya.


Alvin yang duduk di samping  Arash melirik mereka berdua sambil mengunyah steak golfnya. “Selamat ya, akhirnya berhasil ngelamar saudaraku. Tapi ingat jika berani menyakiti Almira, Kak Arash harus menghadapi kami berdua!” ancam Alvin, kali ini kata-kata Alvin tidak main-main.


Arash menatap piring steak Alvin, dan melihat bagaimana anak SMU itu memotong daging tersebut dengan kasarnya.


“Ingat itu, berani menyakiti dan selingkuh, siap siap burung Kak Arash gak akan bisa masuk sarangnya!” gertak Alvin kembali secara halus, lalu menujukan pisau yang tertancap di daging.


GLEK!


Pria itu menundukkan kepalanya untuk menatap bagian benda pusakanya yang masih perjaka ting-ting, kemudian dia mengambil gelas minumnya lalu menegaknya sampai tandas, setelahnya mengiyakan ucapan Alvin. Arash lupa jika calon istri kecilnya itu memiliki dua bodyguard yang handal dan sudah teruji.


Almira terlihat tenang ketika menikmati makan malam yang sudah dihidangkan oleh waitres, dan dia menghiraukan Arash.


“Jadi kira-kira tanggal berapa kita akan menikahkan Arash dengan Almira?”tanya Daddy Erick pada calon besannya.


“Berarti sekitar dua bulan lagi, bagaimana kalau di pertengahan bulan Juli saja?” kembali bertanya Daddy Erick.


“Boleh pertengahan Juli, nanti kita rundingkan tepat tanggalnya,” jawab Papa Albert.


Hati Arash sorak bergembira, tapi tidak dengan Almira, hatinya kesal dan sedang merutuki calon suaminya.


Dua jam berlalu, acara lamaran pun telah selesai, para tamu yang datang mulai berpamitan. Keluarga Almira kebetulan menginap di Hotel Mulia Senayan, sedangkan keluarga Arash tidak menginap di hotel, tapi sepertinya akan menginap di hotel, karena papa Albert, daddy Erick ada rapat mendadak dengan rekan bisnis mereka karena ada sesuatu hal yang harus diselesaikan, apalagi ini mengenai proyek dua keluarga tersebut.


Mama Tania yang melihat Almira sudah kelelahan, meminta Almira untuk kembali ke kamarnya, dan tentu saja Arash langsung bangkit dari duduknya dan menawarkan diri untuk mengantar ke kamarnya.


Almira mendengus kesal lihat Arash, dan terpaksa harus menerimanya. Dari dalam ruang grand ballroom, Arash kembali menggandeng paksa tangan Almira.


“Kak Arash lepasin gak tangan aku!” pinta Almira, gak suka tangannya digandeng, apalagi sekarang mereka sudah ada di luar ruangan dan tak ada keluarga mereka.

__ADS_1


“Gak akan aku lepaskan!” sentak Arash, tidak menyukai permintaan Almira.


“Apa yang tidak akan dilepaskan, Arash!” suara wanita yang sangat dikenal oleh Arash, tiba-tiba terdengar.


Arash pun mencari sumber suara tersebut, hingga akhirnya dia bersitatap dengan wanita yang mengenakan kebaya berwarna merah dengan sanggul kecil di kepala wanita itu.


Wanita itu memicingkan kedua netranya pada Arash dan Almira yang tampak bergandengan tangan, lalu memindai penampilan Arash yang terlihat gagah dengan setelan jasnya, lalu penampilan Almira bak pengantin India.


Tangan Arash terlepas dari tangan Almira, dan Almira tersenyum kecut di saat tangannya telah dilepaskan oleh pria itu, calon suaminya.


Wanita berkebaya merah, mampu membuat Arash melepaskan genggaman tangannya dengan Almira, padahal pria itu baru saja melamarnya dan menyatakan cintanya di depan kedua orang tuanya dan di depan orang banyak.


Almira mengangkat rok gaun sareenya lalu memutar balik badannya, dan kembali melangkahkan kakinya menuju lift.


Arash masih diam ditempatnya menatap wanita berkebaya merah itu dan tak menyadari jika Almira sudah meninggalkannya.


 


Bersambung ...


 


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya biar semangat menghalunya. Makasih


Lope-lope sekebon 🌹🌹🌹🌻🌻🌻🍊🍊🍊



 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2