
Lita membeku dalam posisi berdirinya setelah mendapatkan teguran, sementara itu ponsel Arash yang berada di atas meja berbunyi dan pria itu pun tersenyum saat melihat layar ponselnya ternyata ada panggilan video call dari calon istrinya. Dengan santainya Arash menerima panggilan telepon dari calon istrinya di hadapan Lita.
“Assalammualaikum, sayang,” sapa Arash saat menjawab panggilan teleponnya. Pria itu mengulas senyum hangatnya ketika melihat wajah cantik Almira di layar ponselnya.
“Waalaikumsalam Kak Arash maaf mengganggu, lagi kerja ya?” tanya Almira sambil membalas senyum Arash.
“Tidak mengganggu kok sayang, memangnya ada apa?aku senang kamu telepon aku?” balas Arash begitu lembutnya.
“Tadi mommy telepon kalau bisa Kak Arash datang sebelum jam makan siang ya, ajak daddy juga. Mommy mau makan bersama sama kita di butik sebelum fiting baju pengantin,” pinta Almira.
Lita yang masih ada di ruangan ikutan mendengar ucapan Almira karena panggilan video call, ada rasa terkejut dihati Lita dan dia sengaja pura-pura batuk.
“Iya sayang nanti aku segera ke butik sama daddy.”
“Kak Arash, sama siapa di ruangan kok kayak ada suara batuk perempuan ya?” tanya Almira agak curiga, tapi tidak terlalu negatif thinking.
“Oh iya ada staf marketing namanya Lita, sayang. Kamu mau kenalan ... semoga aja nasib dia tidak seperti Ana, Prima yang sekarang mendekam dipenjara gara-gara naksir calon suami kamu. Sebentar aku kasih lihat ya, sayang,” ucap Arash. Kamera ponsel pun mengarah ke wajah Lita hingga Almira dan Lita bisa saling bersitatap.
Lita tertegun melihat wajah Almira sangat cantik melebihi dirinya walau tanpa make up, ketimbang dia harus bermake up tebal biar terlihat cantik. Almira tersenyum tipis padanya, begitu juga dengan Lita walau terlihat agak memaksakan.
Dibalik senyum yang memaksa, jantungnya mulai berdebar karena sempat mendengar ada yang dipenjara karena naksir Arash, apa benar begitu.
“Bagaimana sudah lihatkan sayang?” tanya Arash menatap layar ponselnya kembali.
“Iya sudah aku lihat, baik-baik sama rekan kerja ya Kak, kalau kurang berkenan kasih teguran saja, kalau masih nakal juga ya dihempaskan jauh-jauh, di luar sana masih banyak kok yang mau menggantikan posisi kerjanya. Dan ingat janji Kak Arash sendiri sama aku, semuanya aku percayakan pada Kak Arash,” ucap Almira begitu lembutnya.
“Iya Sayang akan aku selalu ingat.”
“Ya sudah selamat bekerja lagi Kak Arash, sampai ketemu nanti,” kata Almira sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
“See You, I love you sayang,” jawab Arash sambil kiss bye jauh, Almira hanya tersenyum lebar.
Lita masih belum beranjak dari ruangan, masih berdiri terpaku di hadapan Arash, sekaligus penasaran, dasar karyawan tidak tahu malu!
“Kenapa masih ada di sini! Silahkan kembali ke mejanya!” pinta Arash, suaranya terdengar dingin dan tegas, sangat jauh berbeda saat menerima telepon Almira.
“Mmm, baik Mas Arash,” jawab Lita agak canggung.
“Sekalian bawa cangkir kopinya!” perintah Arash tegas.
“Maaf Mas Arash kalau boleh tahu yang barusan siapa ya?” tanya Lita tak tahu diri, masih saja ingin tahu.
Arash menajamkan sorot matanya kepada staf yang baru dia kenal dan amat lancang bertanya tentang hal yang pribadi.
“Sebaiknya silahkan keluar dari ruang ini, sebelum saya bertindak lebih. Sepertinya kamu sudah tidak ingin bekerja di perusahaan ini!” sentak Arash tidak main-main.
Lita pun berusaha tidak takut mencoba tetap tenang, dan bergegas mengambil cangkir kopi yang dibawa tadi, kemudian keluar dari ruangan.
Enok yang kebetulan baru balik dari kamar mandi menatap Lita yang baru keluar dari ruangan anak pemilik perusahaan. “Masih usaha deketin anak bos, Lita. Hati-hati loh mending kalau dia suka sama kamu, kalau gak suka ... Ujung-ujungnya kamu yang bakal dipecat. Hati-hati loh dulu ada yang berani godaiin bapaknya langsung dipecat hari itu juga!” tegur Enok sedikit berteriak dengan tatapan tidak sukanya.
Lita menyipitkan kedua matanya lalu mengentakkan kedua kakinya, dan berlalu melewati Enok.
“Masih saja gak sadar diri, mentang-mentang punya body sexy, tapi otaknya nol, dasar Lita Oh Lita!” gumam Enok sendiri, sembari kembali ke kubikelnya.
...----------------...
Siang hari ...
Butik Syadekh
__ADS_1
Mommy Alya dan Almira terlihat sibuk menyiapkan makan siang di ruang desain Mommy Alya, sembari menunggu kedatangan Daddy Erick dan Arash yang kabarnya sebentar lagi akan tiba.
Kelar menyajikan makanan, kedua netra Almira mengelilingi tiap sudut ruang desain yang digunakan oleh Mommy Alya bekerja. Satu persatu dia perhatikan baik-baik gaun hasil ranjangan Mommy Alya.
“Setelah lulus sekolah, mau lanjut kuliah kemana, Mira?” tanya Mommy Alya yang sedari tadi memperhatikan Almira menatap manekin satu persatu.
“Aku mau lanjut ambil pendidikan Fashion desainer, Mom. Pengennya sih kuliah di Paris, Mom. Tapi nanti kalau sudah nikah, pasti harus dapat izin dulu sama Kak Arash’kan,” jawab Almira.
Mommy Alya mendekati calon menantunya dan merangkul bahu Almira. “Jika tidak diizinkan ke Paris sama Arash, kamu masih bisa lanjut kuliah di Jakarta kok, sudah banyak fakultas yang membuka jurusan tersebut, jangan langsung patah semangat. Lagi pula wajar kalau nanti suami melarang istrinya sekolah jauh-jauh, apalagi baru nikah. Mommy aja dulu pergi ke Bandung sebentar aja udah langsung di samperin sama Daddy, ngimana nanti kamu yang ke Paris bertahun-tahun, wiih bisa ke bayang galaunya Arash,” ungkah Mommy Alya.
Almira jadi ikutan ngebayangin, sembari tersenyum sendiri.
“Siapa yang mau ke Paris, Mom,” suara pria terdengar dari balik punggung kedua wanita yang berbeda usia itu.
Almira dan Mommy Alya sama-sama memutar balik tubuh nya, dan melihat siapa yang sudah datang. Pria bermata biru itu pun menghampiri calon istrinya, kemudian menggandeng tangan gadis itu. Almira sempat terpesona dengan penampilan Arash menggunakan setelan jas kerjanya, jadi semakin tampan.
Sedangkan Mommy Alya dan Daddy Erick seperti biasa kalau bertemu pasti cium pipi kiri dan kanan kemudian berpelukan. Rasanya hati Arash iri dengan kedua orang tuanya, pengen kayak begitu juga ke Almira, tapi belum jadi pasangan halal, Almira pun menggelengkan kepalanya saat Arash menatap dirinya.
“NO, tunggu kalau sudah sah,” celetuk Almira karena melihat tatapan memohon calon suaminya, dan Arash hanya bisa mendesah serta mengusap tengkuknya.
“Ayo duduk semuanya, keburu dingin makanannya,” ajak Mommy Alya kepada semuanya.
Mereka berempat pun menikmati makan siang bersama sambil berbincang hangat, dan tentu saja Arash cerita tentang Lita salah satu staf marketing. Efeknya Mommy Alya ceramah panjang lebar untuk suami dan anaknya, sedangkan Almira menjadi pendengar yang baik. Buat Almira cukup simpel saja, jika pria tidak tergoda dan bisa menjaga hatinya maka yang namanya pelakor itu tidak ada, tapi sebaliknya jika pria itu masih bisa tergoda maka tidak ada namanya kesetiaan dalam berhubungan.
“Aku tidak berjanji manis padamu, tapi akan berusaha memperlihatkan kesungguhan hatiku,” kata Arash yang masih saja kedua matanya terpukau melihat Almira sedang mencoba salah satu gaun pengantin berwarna putih tulang.
“Kalau Kak Arash sampai selingkuh, nanti burung Kak Arash, bakal aku sunat lagi sampai habis,” ancam Almira sembari menatap bagian pinggang Arash.
Auto kicep Arash, dan langsung mengepit keperkasaannya dengan kedua kakinya. “Sayang, malam pertama aja sama kamu aja belum pernah, masa punyaku udah mau disunat aja,” rengek Arash, raut wajahnya sudah kayak bocah SD.
__ADS_1
Sontak saja Almira jadi tertawa saking gelinya melihat muka wajah suaminya.
bersambung ...