
Kata orang kalau hati lagi jatuh cinta pasti bawaannya suka senyum-senyum sendiri, usai kirim pesan dengan calon istri kecilnya, sekarang dia bergantian mengeluarkan buku saku oleh-oleh dari Alvin dari saku jaketnya, buku yang bersampul biru dengan tulisan Tuntunan Sholat Lengkap.
Pria bermata biru itu semenjak subuh buta sudah mulai menghafalkan bacaan sholatnya mulai dari niat sholat, doa iftitah hingga tahiyatul akhir. Semangat Bang Wowo, padahal masih ada dikelas, tapi buat dia yang lebih utama adalah mempelajari sholat yang sempat dia tinggalkan.
Waktu mulai menunjukkan jam 11 siang, materi kuliah sudah selesai. Dengan langkah kakinya yang ter buru-buru, sampai menghiraukan panggilan Jack, dia langsung menuju ke parkiran mobil, karena dia mengejar waktu untuk sholat Jumat di masjid dekat sekolah Almira. Komitmen untuk berubah benar-benar dia laksanakan, bukan hanya sekedar ucapan.
“Semoga tidak terjebak macet,” gumam Arash yang sudah mengendarai mobilnya secepat mungkin, dan syukurnya dalam waktu 40 menit dia sudah tiba, lalu Arash bergegas masuk ke dalam masjid, tapi sebelumnya dia kirim pesan dulu ke calon istrinya.
✅Arash
Sayang, aku sudah di masjid Al-Hikmah, dekat sekolah kamu. Nanti tungguin aku ya.
✅Calon istri tercinta
Mmm ...
✅Arash
Sayang, kok jawabnya mmm doang, agak panjang dong.
✅Calon Istri Tercinta
Paaaannnnnnjaaaaaaang
“Astaga!” seru Arash tepok jidat. “Bukan begitu maksudnya!” gumam Arash seorang diri.
“Ehem ...,” laki-laki yang berada di belakang Arash berdehem agak kencang biar terdengar jelas, pria itupun menolehkan ke bahunya.
“Jadi mau ambil wudhu gak Mas, lihat nih kita lagi nungguin Masnya,” tegur pria yang terlihat lebih muda dari Arash.
Arash yang melihat di belakangnya sudah banyak orang yang ngantri, langsung buru-buru masukkan ponselnya ke saku celananya. “Eh ... maaf ya Mas,” jawab Arash, sambil nyengir berdosa dia, gara-gara kirim pesan sama calon istri.
Sementara itu para siswa sudah keluar dari sekolah karena hari Jumat pulangnya lebih cepat dari hari lainnya. Almira tampak cekikikan sendiri melihat ponselnya kemudian melanjutkan makan lumpia basah yang baru saja dipesannya.
“Lagi ketawain siapa sih?” tanya Siti.
“Siapa lagi kalau bukan si Bang Genderuwo,” jawab Almira.
“Ooh calon suami,” sahut Siti.
“Ya begitulah.” Almira mulai menyantap lumpia yang berisikan sayur toge, telur, bengkuang beserta bumbu pedasnya, sungguh jajanan sekolah yang paling nikmat buat Almira dan Siti.
__ADS_1
“Al ... ngomong-ngomong Kak Arash itu ganteng juga loh, 11-12 lah sama Ustadz Ridwan, kira-kira kamu tertarik gak sih sama calon suami kamu, apalagi waktu kejadian di restoran ... Kak Arash benar-benar melindungi kamu?” tanya Siti dengan suara yang begitu pelan, takut terdengar sama siswa yang lainnya.
Mulut Almira masih sibuk mengunyah lumpianya, lalu tangannya memberi kode agar Siti menunggunya sejenak, sampai dia menuntaskan isi mulutnya.
“Masih tahap memantau dulu Siti, masalah suka atau tidak sukanya urusan belakangan, lagi pula aku mau lihat perjuangan dulu. Jangan mentang-mentang anak teman papa, kami harus menikah, memangnya jaman Siti Nurbaya,” gerutu Almira.
Siti mengacungkan jempolnya buat Almira. “Keren, aah aku juga pengen ada yang memperjuangkan jadi istrinya. Kapan ya!” mulai mengkhayal si Siti.
“Berdoa aja, siapa tahu nanti diaminkan sama malaikat yang lewat,” jawab Almira.
“Iya nanti berdoa pas sholat. Eh iya ngomong-ngomong besok aku bareng kamu ya ke Puncaknya,” ucap Siti.
“Iya, besok pagi-pagi aku jemput kamu di rumah, jadi siap-siap aja ya biar kita langsung berangkat, takut kena tutup buka jalur ke atasnya, atau kamu nginap di mansion aku aja, biar enak berangkatnya,” ide Almira.
“Ide yang cemerlang ya udah nanti aku bilang ke ibu deh,” Siti menyetujui ide Almira.
Sambil menghabiskan lumpia basahnya, tiba-tiba saja ponsel Almira berdering.
Kak Arash caling ...
“Assalammualaikum, sayang ada di mana? Aku sudah di luar masjid nih?” tanya Arash di sambungan teleponnya.
“Waalaikumsalam, Kak Arash jalan 100 langkah ke sebelah kanan dari mesjid nanti lihat ada gerobak biru yang bertuliskan LUMPIA BASAH, aku lagi ada di situ,” jawab Almira.
“Eeeh maksudku 100 meter, pokoknya gak jauh dari sana deh, aku tunggu di sini, lagi nanggung soalnya,” pinta Almira.
“Ooh ok, aku ke sana sekarang,” jawab patuh Arash, sebagai calon suami yang baik harus jatuh dengan calon istri ya Bang Wowo.
Sesuai dengan arahan Almira, akhirnya ketemulah gerobak berwarna biru itu, dan jangan ditanya lagi kehadiran Arash mampu menghipnotis para siswi yang sedang mengantre memesan lumpia basah.
“Sayang,” sapa Arash, pria itu mengulas senyum di wajah tampannya. Almira yang melihat kedatangan Arash dengan panggilan sayang, membuat gadis itu menutup wajahnya dengan tas ranselnya, karena orang-orang melihat kearahnya.
“Duh kenapa juga Kak Arash panggil sayang sih,” gumam Almira sendiri.
“Sayang, kok malah ditutupi wajahnya?” tanya Arash, agak heran.
Astaga masih aja dia panggil sayang.
Terpaksa Arash menarik tas Almira dari tangan wanita itu. “Iish ....,” mendesis lah gadis itu.
“Bisa gak sih Kak Arash jangan panggil sayang kencang-kencang, aku kan malu dilihat sama yang lain!” gerutu Almira pelan saat pria itu membungkukkan dirinya. Sesaat pria itu melirik ke Arash sekitarnya, dan benar saja kehadiran dia jadi pusat perhatian.
__ADS_1
“Aku suka kok panggil kamu sayang, karena aku sayang dan cinta kamu, Almira. Dan biar orang tahu jika aku milik kamu, jadi tidak ada yang berniat ingin menggodaku,” jawab Arah begitu lembut, namun terdengar jelas di telinga para siswi yang menatap Arash dengan tatapan memesona.
Almira langsung menepuk lengan Arash saking kesalnya, kenapa tambah jadi gombalannya. Siti yang melihat hanya terkekeh kecil.
Pria itu mengusak rambut Almira dengan gemasnya. “Makan lumpianya sudah selesai belum, sayang?” tanya Arash, melihat piring yang ada dihadapan Almira masih ada isinya.
“Belum,” jawab ketus Almira, dia melanjutkan makannya, sedangkan Arash ikutan duduk di samping Almira, lalu menatap gadis itu makan.
“Makanannya enak ya?” tanya Arash.
“Kak Arash mau cobaiin, ini jajanan yang sehat, buatku sangat enak,” kata Almira.
Arash mencondongkan dirinya agak lebih dekat dengan Almira. “Suapin aku dong sayang, pengen cobain,” pinta Arash.
DEG!
Jantung Almira terasa mau copot, gak salah dengarkan telinganya, pria itu minta disuapin.
“Ayo sayang, aku cobain dong, lihat kamu makan aku jadi ngiler?” pinta Arash.
Dengan rasa sedikit malu, Almira menyodorkan sendoknya yang berisikan lumpia ke mulut pria itu, Arash pun menerima dengan senang hati, perdana dong disuapi sama Neng Kunti.
Pria itu mulai mencecap rasa makanan yang belum pernah dia coba di dalam mulutnya.
“Gimana Kak, enak kan?” tanya Almira.
“Sayang, aku pesankan satu tapi jangan sepedas punya kamu ya,” pinta Arash ternyata jajanan Almira cocok di lidahnya, maklum lidah orang yang lama tinggal di luar negeri agak susah susah menyesuaikan makanan di Indonesia, kecuali masakan Mommy Alya.
Almira segera memesannya kembali, sambil menunggu pesanan jadi terpaksa sesekali gadis itu menyuapi lumpia miliknya ke mulut Arash.
Hati Arash begitu hangat rasanya, ternyata makanan sederhana bisa membuat mereka berdua semakin dekat. Ingat tidak semua hal yang mewah membawa kebahagiaan, terkadang hal yang sederhana justru membawa kenangan indah. Ini perdana Arash nongkrong untuk makan dipinggir jalan di dalam tenda kecil, dengan kekasih hatinya.
Duh jadi ingat jaman SMA, pokoknya jajan apa aja ok asal makannya berduaan sama ayang beb, gak peduli dengan tatapan orang lain, dunia serasa milik berdua yang lain pada ngontrak 😂😂.
bersambung ...
__ADS_1