Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Hari Sabtu yang ditunggu


__ADS_3

Hari Sabtu ...


Hari Sabtu yang ditunggu oleh Arash dengan perasaan yang amat menggila buat dirinya sendiri, pria itu jujur bingung ada apa dengannya, yang jelas semua rasa menghinggapi dirinya saat ini.


Pria bermata biru itu sudah tampak rapi dengan setelan jasnya berwarna hitam, ketampanannya semakin terpancar dari wajahnya, yang biasanya hanya mengenakan kaos atau kemeja dibalut jaket kulit sekarang pria itu sangat terlihat jelas sebagai anak pengusaha terkenal.



Mommy Alya dan Daddy Erick hanya meliriknya lalu mereka berdua tersenyum tipis melihat penampilan Arash, yang mau mengikuti perintah Mommy Alya.


“Ayo kita berangkat sekarang sebelum acaranya dimulai, nanti malah ketinggalan acara,” pinta Daddy Erick.


Mommy Alya menepuk bahu Arash, lalu mengusapnya dengan lembut. “Sudah siapkan hatikan buat hadir acara hari ini?” tanya Mommy Alya.


Arash bergeming, tak mampu berucap. Kata yang biasanya terdengar ketus, hari ini tak terdengar, Mommy Alya pun memakluminya. “Anak mommy hari ini terlihat sangat tampan,” puji Mommy Alya sembari merapikan kerah jas yang dikenakan oleh Arash.


Di luar mansion, Asisten daddy Erick serta asisten mommy Alya tampak repot memasukkan beberapa kotak barang yang sudah dihias dengan indahnya ke dalam mobil. Sedangkan Arsal dan Nabilla juga sudah terlihat rapi, dan siap turut ikut dengan kedua orang tuanya tanpa banyak bertanya.


Akhirnya dengan dua mobil mewah mengantarkan seluruh keluarga Erick, termasuk para asistennya menuju hotel Mulia Senayan Jakarta.


...----------------...


Hotel Mulia Senayan, Jakarta


Jam 19.00 wib.

__ADS_1


Di dalam lobby hotel tampak banyak orang dengan penampilan terbaiknya menuju ruang grand ballroom yang sudah di pesan. Termasuk keluarga Erick yang baru saja tiba, wajah Arash terlihat kaku, galau, jantungnya mulai berdebar-debar.


Nabilla sengaja menyenggol bahu kakaknya. “Kakak Arash kenapa mukanya, kok kayak orang gak senang hati aja?” tanya Nabilla mulai ingin tahu.


“Gak pa-pa, biasa aja,” jawab asal Arash, padahal hatinya sedang tak bersemangat.


Arash melihat beberapa karyawan daddy Erick yang sudah tiba di hotel membantu asisten daddynya mengeluarkan barang dari dalam mobil dan membawanya ke dalam hotel menuju ruangan grand ballroom. Pria itu tampak heran kenapa daddy dan mommy nya membawa hadiah sebegitu banyak dalam kotak yang dihiasi pita serta bunga mawar yang masih segar, namun hanya sepintas lalu saja.


Setelahnya daddy Erick meminta keluarganya untuk bergegas ke ruangan grand ballroom.


Ruang grand ballroom terlihat sangat indah dengan dekorasi bunga berwarna putih, namun ada sedikit nuansa bunga berwarna merah mudanya. Meja makan untuk tamu pun sudah tertata dengan rapi, salah satu petugas event organaizer menyambut dan mengarahkan keluarga Erick untuk menempati kursi yang sudah di siapkan dekat panggung acara, bukan ke meja bundar.


Arash menarik sedikit dasi yang dikenakannya di lehernya, rasanya tiba-tiba saja agak sesak. Dia menyesal kenapa harus datang ke acara lamarannya Almira dengan Ustadz Ridwan, karena dia melihat kehadiran pria itu, dan ini membuat hatinya semakin panas.


Kenapa hati gue rasanya begini, gue gak rela kalau benaran ini acara lamarannya Almira.


Ck ... pakai senyum segala... berdecak kesal batin Arash.


Lantunan music simfoni mulai terdengar di ruangan, sorot lampu mulai menyorot ke arah pintu masuk. Suara MC acara pun mulai menyapa tamu yang sudah hadir, dan mulai membuka acara. Semua mata tamu menuju ke arah lampu sorot tersebut, tampak hadirlah keluarga yang memiliki acara malam minggu ini.


Papa Albert terlihat sangat tampan dengan setelan jasnya berwarna abu-abu senada dengan gaun malam yang dikenakan oleh mama Tania. Mereka berdua mengapit seseorang yang mengenakan gaun saree India yang begitu indahnya dengan wajah tertutupi dengan kain selendang tembus pandang, namun kecantikan gadis itu masih bisa terlihat walau tertutupi oleh selendang itu. Alvan dan Alvin jalan di belakang kedua orang tuanya dan Almira.



DEG!

__ADS_1


Semakin berdebar jantung Arash dibuatnya, setelah melihat Almira dari kejauhan.


Dan Arash tidak menyadari dan tidak memperhatikan jika warna jas dan gaun yang dikenakan oleh kedua orang tuanya sama modelnya dengan kedua orang tua Almira, bagaikan seragam keluarga. Untung aja Arash gak sadar!


Daddy Erick dan mommy Alya bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan Papa Albert dan mama Tania, Arash yang duduknya diapit oleh kedua orang tuanya ikutan bangkit dari duduknya dengan hati yang panas membara, apalagi hatinya sedang terpesona melihat Almira yang tampak jelas berbeda penampilannya, sangat memesona. Tolong Bang Wowo ingat kedip dulu itu matanya, jangan melongo begitu.


“Daddy, aku mau menikahi anak rekan bisnis daddy itu dong,” seru Arash, isi hatinya keluar juga di saat kedua keluarga tersebut dalam posisi berdiri berhadapan, sedangkan MC yang posisinya ditengah keluarga itu dibuat tercengang begitu.


Dibalik selendang yang menutupi wajahnya, kedua bola mata Almira membulat seketika mendengar ucapan pria yang dia benci. “Papa, aku gak mau nikah sama anak teman papa itu. Masa baca surat Al Fatihah aja gak hapal, gimana mau jadi imam yang baik. Mending aku nikah sama Ustadz Ridwan aja!” jawab Almira.


Meradanglah hati Arash mendengar penolakan Almira.


Berikan aku kesempatan untuk berubah Almira, aku jatuh cinta denganmu, aku ingin menjadi suamimu ... batin Arash.


Kedua orang tua Arash dan Almira tersenyum tipis dan saling memberikan kode masing-masing. Mama Tania meminta Almira untuk duduk di kursi yang telah di siapkan. Namun apa yang terjadi. Emang dasar anak geng motor, Arash bukannya balik duduk ke kursinya, malah nyamperin Almira, lalu berlutut di hadapan gadis itu. Sontak saja adegan dadakan ini bikin tambah tercengang untuk semua yang hadir di acara, termasuk MC ... namun sang MC mendekati Arash, dan mengatakan microphonenya ke Arash.


“Almira, gue ... eh aku ...,” sejenak Arash mengatur degup jantungnya yang begitu cepat karena rasa groginya. “Aku memang bukan pria yang sempurna dalam hal apa pun, masih banyak yang harus aku perbaiki. Aku memang pernah menolak perjodohan kita, tapi beberapa hari ini aku selalu memikirkan kamu. Berikan aku kesempatan untuk merubah diriku, aku ingin menjadi suamimu dan aku ingin kamu menjadi istriku. Sebelum Ustadz Ridwan yang melamarmu, malam ini aku yang melamarmu duluan, aku tidak rela kamu dilamar oleh pria lain, siapapun itu karena AKU JATUH CINTA DENGANMU, ALMIRA!” tutur Arash terdengar tegas.


“Aku ... Arash Zahra Pratama malam ini melamar Almira Kiyan Al Yusuf anak dari Pak Albert, karena aku mencintainya, dan ingin mempersuntingnya sebagai istri.”


Ruang grand ballroom langsung hening sejenak ...


 bersambung .... bagaimana ini? Aduh Arash 🤭


 

__ADS_1


 


__ADS_2