Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Makan siang bersama


__ADS_3

Sesuai dengan ajakan Arash, Siti turut mengikuti mereka berdua masuk ke dalam mobil sport milik Arash. Pria itu membukakan pintu untuk Almira, sedangkan Siti membuka pintu untuk dirinya sendiri.


“Silahkan masuk calon istriku,” ucap Arash begitu ramahnya.


“Makasih Kak Arash,” jawab Almira, pelan. Setelahnya pria itu mengitari mobilnya dan masuk ke dalam mobilnya.


“Sayang, kamu sama Siti sudah makan siang belum?” tanya Arash, sembari mengenakan seatbealnya.


Almira menolehkan kepalanya ke belakang, lalu melirik Siti dengan memainkan kedua alisnya, Siti hanya membalas dengan tersenyum tipis.


“Aku sih belum makan siang Kak, tapi entahlah dengan Almira, Kak Arash,” jawab Siti, padahal sama-sama belum makan siang, hanya makan cemilan saja.


Arash menatap Almira yang masih menatap ke belakang. “Ya sudah kita makan siang dulu ya Sayang, habis itu baru antar Siti ke rumahnya, baru aku antar kamu pulang, bagaimana?” tanya Arash.


Gadis itu menolehkan pandangannya ke depan. “Ya udah terserah Kak Arash aja, tapi jangan makan di restoran yang kemarin,” pinta Almira.


“Almira suka makanan korea, Kak,” sambung Siti yang duduk di belakang.


Arash menekan tombol mesin mobilnya. “Ok, kita makan di restoran korea saja kalau begitu.” Arash menyetujuinya dan kebetulan dia tau restoran korea yang terdekat, mobilnya pun mulai melaju meninggalkan sekolah Almira.


Selang lima menit mobil berwarna hitam turut melajukan mobilnya mengikuti mobil sport yang dikendarai Arash.


“Almira ... cewek tadi teman sekelasmu?” tanya Arash sembari mengemudikan stir kemudi mobilnya.


“Iya Kak, temen sekelas. Soal tadi terima kasih ya Kak, dan semoga Kakak tidak percaya dengan ucapan si Meggi,” ucap Almira sembari menundukkan wajahnya.


“Meggi itu sering membully aku Kak di sekolah, dan Almira yang selalu membela aku. Sebenarnya Meggi sering bikin masalah dengan  Almira, untung saja tadi tidak ada perkelahian,” timpal Siti.


Arash melihat kaca spion bagian tengah, agar bisa melihat lawan bicaranya, kemudian kembali konsentrasi dalam mengemudinya.


“Sayang, jangan khawatir ... Aku tidak akan percaya dengan ucapan si Meggi. Tapi ...,” Arash tidak melanjutkan ucapannya, namun berhasil membuat Almira menoleh dan menatap Arash yang sedang mengemudi.


“Tapi kalau Kak Arash tidak percaya denganku juga tidak pa-pa. Lagian pria yang pertama kali yang cium bibir aku juga Kak Araah, bukan pria yang lain.”


“HAH!” Siti yang mendengarnya langsung kaget, sedangkan Almira tepok jidat karena sudah keceplosan, lupa jika ada Siti di antara mereka berdua.


Arash tersenyum sembringah mendengarnya dan bangga jadi cowok pertama yang cium bibir Almira.

__ADS_1


“Maksud aku, aku tidak percaya kalau kamu tidak suka dengan Ustadz Ridwan,” lanjut kata Arash agak pelan.


Almira dan Siti sama-sama ber-O ria, membulatkan mulutnya.


Gadis itu memalingkan tatapannya ke arah jalanan, tidak menjawab atau menyanggah pernyataan Arash, memang benar yang dikatakan oleh Arash, jika dia menyukai dan mengagumi sosok Ustadz Ridwan, sosok calon suami yang sempurna, akan tetapi dia tidak berharap banyak atau berandai-andai akan berjodoh dengan Ustadz Ridwan.


Arash dalam diamnya menatap  cincin yang dia kenakan di jemarinya saat melamar Almira, kemudian melirik jemari manis gadis itu yang belum mengenakan kembali cincin lamarannya, sepertinya untuk menaklukkan hati Almira, Arash butuh perjuangan.


Selama tiga puluh menit Arash tidak kembali bertanya, hanya mendengarkan percakapan antara Almira dan Siti, lalu mobilnya sudah masuk ke mall yang tidak jauh dari sekolah Almira.


Setibanya di parkiran mall dan Arash sudah mematikan mesin mobilnya, mereka bertiga keluar dari mobil. Arash bergegas meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.


“Tolong jangan melepaskan tanganku,” pinta Arash yang melihat Almira menatap tangannya, gadis itu hanya bisa menghela napas. Kemudian mereka bertiga masuk beriringan ke dalam mall menuju salah satu restoran korea.


Mobil berwarna hitam terparkir rapi dekat mobil milik Arash, sang pengemudi itu pun turun dari mobilnya sembari menelepon seseorang.


“Ok, berarti waktu kita kebetulan sekali, kita ketemu di dalam. See you,” kata wanita itu, mengakhiri panggilan teleponnya, lalu mengunci mobil kemudian masuk ke dalam mall.


Jangan berbahagia dulu kalian berdua, aku tidak rela Arash direbut! Arash tetap milikku.


Wanita cantik itu yang memiliki body goalnya yang sexy melangkahkan kakinya dengan cepat, dan mencari keberadaan Arash yang baru saja masuk ke mall.


Restoran Korea.


Sebagai calon suami yang masih dalam tahap penilaian Almira, berusaha menunjukkan sikap perhatiannya, seperti saat ini dia menanyakan Almira mau makan apa dan segera memesannya, serta tak lupa menanyakan menu makanan ke Siti.


Arash dan Almira duduk berdampingan, sedangkan Siti duduk berhadapan dengan Almira. Selama menunggu pesanan datang, Arash masih saja betah menggenggam tangan gadis itu, dan membiarkan Almira berbincang dengan Siti.


“Al ... nanti hari Sabtu dan Minggu jadi ikut tadabur alam kan ke Puncak dengan pengajian kita?” tanya Siti.


“Insya Allah jadi, aku kan udah daftar ke Aisyah,” jawab Almira.


“Ya kali aja calon suami gak mengizinkan,” celetuk Siti tanpa melirik Arash yang ada di samping Almira.


“Yang penting itu izin dari mama dan papaku. Kalau izin calon suami itu belum sah!” tukas Almira, Arash pun langsung mencondongkan dirinya lebih dekat ke Almira. Ah mulai lagi deh Arash.


“Sayang, pengajian kamu itu yang gurunya Ustadz Ridwan ya?” tanya Arash, mimik wajahnya terlihat serius.

__ADS_1


“Guru gajinya banyak Kak, bukan hanya Ustadz Ridwan, ada Ustadzah Ayu, Ustadz Abdul, Ustadz Faraz,” jawab Almira tanpa melirik ke arah Arash, takut ada adegan lima detik lagi, gak lucu kalau sampai terulang kembali pikir Almira.


“Tapi tetap ada Ustadz Ridwan nya kan, terus kamu mau pergi dua hari dengan dia kan?” tanya Arash, hatinya mulai menggebu-gebu karena pikirannya sudah kemana-mana. Memangnya mau kemana si Bang Wowo?


Almira agak memiringkan tubuhnya, barulah menatap wajah Arash yang sudah mulai memerah. “Aku gak berduaan Kak Arash, Siti aja ikut dan masih banyak yang ikut kok. Kenapa Kak Arash jadi kayak orang marah begitu sih,” jawab Almira, sembari mengernyitkan keningnya.


“Kalau begitu daftarkan aku juga. Aku harus ikut, takut nanti kamu kenapa-napa di puncak, nanti aku minta ijin sama papa dan mama,” perintah Arash,  nadanya agak memaksa.


Kedua mata Almira dan Siti sama-sama membulat mendengar anak geng motor mau ikutan tadabur alam.


“Kak Arash gak salah mau ikutan tadabur alam, itu kegiatan mengaji dan menikmati keindahan alam agar lebih mensyukuri nikmat Allah loh,” kata Almira menjelaskan, takut Arash salah pengertian.


Tadabur alam merupakan sarana pembelajaran untuk lebih mengenal Allah SWT yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Tadabur alam akan membersihkan diri dan jiwa kita dari energi-energi negatif yang mungkin telah bersemayam di hati dan fikiran kita dan sebagai rasa syukur atas karunia Allah yang maha luas.


“Pokoknya aku tetap mau ikut, kemana pun kamu pergi, “ jawab sekekeh Arash, teguh pada pendirianya.


Aduh Bang Wowo bilang aja kamu takut Neng Kunti dekat dengan Ustadz Ridwan, tapi gak pa-pa juga sih ikutan tadabbur alam, sekalian ikutan pengajiannya, biar tambah jadi calon suami yang Sholeh.


Arash menajamkan kedua matanya. Mommy Ghina bisa gak, jangan bongkar perasaan Arash!


Etis ... ternyata Bang Wowo masih bisa dengar kata batin Mommy Ghina ... kabur ah.


bersambung ...


Kakak Readers jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, loke, komentarnya, dikasih kembang, nonton iklan juga boleh 😊.


 



 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2