Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Keadaan Almira


__ADS_3

Siti menyodorkan ponsel miliknya pada Arash, tetapi sudah menunjukkan video tersebut, Alvin pun berdiri dan mendekati Arash agar bisa ikutan melihat video tersebut.


Sejenak suasana sepi, tidak ada yang bersuara, hanya suara peralatan cleaning service yang sedang menyapu di dekat keberadaan mereka bertiga.


Kedua telinga Arash serta kedua netranya saat ini sangat menajam melihat video, pria itu memasang telinganya agar tidak satupun kalimat yang tertangkap dalam video itu terlewati, begitu juga dengan Arash.


“Perempuan brengsek!” umpat Alvin agak menyentak dirinya sendiri. Saudara kembar Alvin benar-benar meradang setelah menyimaknya dari awal sampai akhir rekaman tersebut.


Lantas bagaimana dengan reaksi Arash? sudah bisa dipastikan pria itu mengeram, salah satu tangannya saja sudah terkepal, sorot matanya pun terlihat menyalak. Berani berbuat jahat dengan calon istrinya, maka siap siap menerima ganjarannya.


Usia video itu ditonton oleh kedua pria tersebut, Siti bergegas mengambil ponselnya dari tangan Arash, bukannya kenapa-napa ... takut ponselnya bakal melayang ke udara, sedangkan bukti rekaman ada di ponsel miliknya.


“Ternyata benar dugaan ku,  Ana tahu siapa yang melempar batu itu, rupanya temannya sendiri yang berulah. Aku akan mengurusnya segera, ini tidak bisa didiamkan begitu saja dan ini termasuk sudah tindakan sengaja mencelakakan orang!” ucap Arash dengan tegasnya.


“Percuma penampilannya tertutup, ternyata hatinya kotor, buat apa ikut tadabbur alam kalau ternyata melakukan hal yang buruk!” geram Alvin, sama emosinya dengan Arash kepada kedua wanita itu.


Alvin menyugarkan rambutnya dan berkacak pinggang. “Sebenarnya mereka ada masalah apa dengan saudaraku! sampai teganya melempar batu pas di kepalanya!” geram Alvin, kedua netranya mulai memerah menahan emosi serta rasa sedihnya.


Arash beranjak dari duduknya, lalu merangkul bahu Alvin, untuk menenangkan emosi Alvin yang mulai membuncah sambil dia mengendalikan emosinya sendiri. Jika dia ikutan emosi juga, yang ada masalah tidak akan terselesaikan, apalagi dirinya belum tahu dengan perkembangan terbaru keadaan Almira.


“Tenang Vin, nanti kita selesaikan. Sekarang kita tunggu kabar dari dokter terlebih dahulu,” pinta Arash, berusaha menenangkan Alvin, yang usianya jauh lebih muda darinya.


Alvin mengusap kedua matanya yang mulai berembun, kemudian menganggukkan kepalanya pelan.


Klek!


Pintu ruang IGD terbuka, keluarlah wanita yang memakai seragam berwarna putih.


“Keluarga Nona Almira,” kata wanita tersebut.


Arash maju ke depan. “Ya Suster, saya keluarganya, bagaimana keadaannya?” tanya Arash.


“Silahkan masuk ke dalam Mas, nanti akan dijelaskan dengan dokternya. Hanya boleh satu orang saja ya yang masuk ke dalam,” jawab Suster, sembari melihat Alvin dan Siti yang berada di samping Arash.

__ADS_1


“Baik Suster, saya yang masuk,” balas Arash, lalu dia meminta Alvin dan Siti untuk menunggu.


Arash pun masuk ke dalam, dan menemui Dokter yang bertugas. “Bagaimana dengan keadaan calon istri saya Dokter?” tanya Arash ketika sudah digiring ke meja Dokter, belum diantar ke brankar Almira.


“Calon istri Mas-nya mengalami luka robek, jadi tadi kita agak lama karena harus menjahit luka yang ada di bagian belakang kepala, ada empat jahitan. Untuk saat ini calon istri Mas-nya sudah sadar dari bius lokal, tadi sempat kami kasih dengan dosis sedikit saja. Sekarang kami menunggu responnya terlebih dahulu,” kata Dokter yang bername tag Tito di bagian dadanya.


“Begini Dokter, jika saya hari ini bawa calon istri saya ke rumah sakit di Jakarta bisa kan? Karena kami tidak tinggal di sini?” tanya Arash.


“Sebenarnya saya juga ingin menyarankan untuk ke rumah sakit besar, agar bisa melakukan pemeriksaan lebih lengkap lagi, karena benturan dari batu itu bisa menyebabkan gegar otak dan amnesia. Tapi saya berharap tidak terjadi sampai begitu beratnya. Jadi saya akan mempersilahkan untuk pindah rumah sakit tapi menunggu agak membaik dalam beberapa jam kedepan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan jika langsung berangkat ke Jakarta, dan nanti akan saya buatkan surat pengantar hasil pemeriksaan di sini,” ucap Dokter Tito.


“Terima kasih Dokter, kalau begitu bisa saya melihat keadaannya sekarang?” tanya Arash, tidak sabaran.


“Mari saya antar Mas.” Pria berjas putih itu bangkit dari duduknya, dan mengantar Arash kesalah satu brankar yang tirainya masih tertutup, kemudian dia membukanya.


Terlihat Almira berbaring di atas brankar dalam posisi miring, kepala bagian belakangnya terlihat perban ukuran 4x4 cm menempel. Hati Arash tidak tega melihatnya dan pilu.


“Sayang,” panggil Arash, saat melihat kedua netra Almira mulai mengerjap-ngerjap.


Kedua netra Almira melirik kearah Arash. “Kak,” suara Almira begitu memilukan.


“Sakit Kak,” keluh Almira, memelas.


“Maafkan aku ya sayang, siang ini kita balik ke Jakarta. Tapi tunggu kamu agak membaik dulu ya. Sekarang apa yang dirasa?” Pria itu mengusap lembut kening Almira.


“Pusing.”


“Sabar ya sayang, kamu masih ingat nama aku gak?” tanya Arash begitu lembutnya.


“Mmm ... Kak Arash,” jawab Almira.


“Alhamdulillah, ternyata masih ingat. Sayang, mau sarapan apa biar aku belikan dulu?” tanya Arash dengan tatapan yang begitu hangat, hatinya bersyukur jika Almira tidak mengalami gangguan ingatan.


“Apa aja Kak, yang bisa dimakan,” jawab Almira pelan. Entah kenapa hati Almira terasa hangat saat dapat perhatian yang amat lembut dari Arash. Pria yang dari awal tidak terlalu dia sukai, ternyata masih ada disisinya saat dia terluka terlepas dari kejadian Sherina yang hampir menghilangkan nyawanya. Namun, di saat keadaan seperti ini, ada rasa kagum yang menggelitik di hati kecilnya.

__ADS_1


Pria itu kembali menatap hangat Almira, sembari mengusap pipi mulus gadis itu. “Aku beli sarapan dulu ya, di luar ada Siti nanti aku minta ke sini buat menemani kamu. Gak pa-pa kan aku tinggal sebentar?”


“Iya Kak.”


Setelah dapat izin dari Almira, barulah dia keluar dari ruang IGD untuk membelikan sarapan dan meminta Siti untuk menemani nya sebentar.


Alvin turut mengikuti Arash membeli  sarapan buat Arash, dan ternyata buat mereka bertiga. Kedua pria itu menelusuri sepanjang jalan dekat rumah sakit, mencari pedagang makanan. Di mata Alvin, sekarang sikap Arash bagaikan kakak laki-lakinya, ada aura yang terlihat berbeda pada Arash. Mungkin dengan mengalami beberapa kejadian bisa menunjukkan sisi seorang yang berbeda,  dan sejatinya sudah ada di dalam dirinya, namun sudah tertutupi dengan sisi yang lain.


“Nanti setelah selesai mengurus Almira sarapan dan kita sarapan, kita berdua kembali ke villa. Aku ingin menyelesaikan masalah ini, dan nanti biar Siti yang menemani Almira di rumah sakit,” kata Arash saat mereka kembali ke rumah sakit, dengan menenteng beberapa makanan yang mereka beli.


“Iya Kak Arash , tapi kira-kira kabari papa dulu gak?” tanya Alvin.


“Nanti dulu Alvin, jangan bikin orang tua khawatir di rumah, ada aku di sini yang bertanggung jawab dan akan menyelesaikannya. Jika semua sudah beres, baru kita beri tahukan papa sama mama,” jawab Arash dengan tenangnya.


Alvin hanya bisa mengangguk patuh, walau bagaimanapun Arash lah yang paling tua dari segi umur di antara mereka berempat, dan kepada Arash lah Papa Albert dan Mama Tania menitipkan kedua anaknya, jadi kali ini Alvin jadi anak yang patuh dulu, dan biarkanlah Arash berusaha menyelesaikan semuanya.


Sementara itu di villa ...


Ana tampak semakin cantik pagi ini setelah membersihkan badannya, dan rencana nya dia akan membelikan beberapa makanan untuk dibawanya ke rumah sakit.


“Ceritanya masih berusaha nih, belum pantang menyerah Ana, setelah tahu tuh cewek calon istrinya Kak Arash?” tegur Prima, yang sedari tadi memperhatikan Ana sibuk bersolek.


“Ada pepatah mengatakan selama janur kuning belum melengkung di depan rumah, berarti belum ada ikatan sah dong. Dan sah-sah saja untuk berjuang kan. Lagi pula aku sangat percaya diri jika aku lebih baik dari calon istrinya. Baik dari penampilannya, wajahnya, ilmu agamanya, serta satu lagi dia pasti dari keluarga yang biasa-biasa saja. Kamu lihat sendirikan style nya yang kurang sepadan dengan Kak Arash yang kelihatan high class.”


“Iya juga sih, aku doakan semoga kamu sama Kak Arash berjodoh deh. Ya udah kita sarapan dulu yuk, keburu gak kebagian nanti,” ajak Prima, dia beringsut dari duduknya di tepi ranjang.


“Tunggu, aku ambil ponselku dulu,” jawab Ana, menuju nakas yang ada di dekat ranjangnya.


Derrt ... Derrt .... Derrt


Sherina Calling


Ana mendengus sebal, melihat siapa yang meneleponnya di pagi hari.

__ADS_1


bersambung ...


__ADS_2