
Prima dan Ana sudah dibawa ke kantor polisi setempat, Arash memisahkan diri dari petugas polisi tersebut karena harus segera membawa Almira pulang ke Jakarta. Sedangkan untuk kasus kedua wanita itu tetap di proses sesuai laporan Arash.
Arash dan Alvin kembali ke rumah sakit untuk menjemput Almira dan Siti. Sesampainya di rumah sakit, Arash bergegas menyelesaikan biaya administrasi, serta mengambil hasil pemeriksaan untuk data ke rumah sakit di Jakarta.
Pria bertubuh tinggi itu membopong Almira dari ruang IGD sampai ke mobil, sementara Alvin bergegas membukakan pintu mobil bagian depan, agar Arash mudah merebahkan Almira di atas jok mobil.
Bangku yang diduduki oleh Almira, sengaja Arash rendahkan agar Almira bisa tidur sepanjang perjalanan, berhubung posisinya tidak bisa terlentang, Almira memiringkan posisi rebahannya menghadap Arash yang sedang mengemudikan mobilnya.
“Kalau posisinya kurang nyaman, bilang aku ya, sayang,” pinta Arash.
“Iya Kak,” jawab Almira, pria itu mengusap lembut kening Almira saat mengemudikan mobil. Sekarang dia harus menyiapkan mental untuk menghadapi kedua orang tua Almira.
Sebelum perjalanan semakin jauh menuju Jakarta, Arash melirik Alvin dari balik kaca spionnya, lalu berhentikan mobilnya di tempat oleh-oleh. Pria itu mengeluarkan dompet dari saku celananya, lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah.
“Alvin, beli makanan buat kita di jalan, sekalian belikan Siti oleh-oleh buat di rumahnya. Aku tidak bisa ikut turun, harus temani Almira,” pinta Arash.
Kedua netra Alvin langsung terang menderang mendengar perintah Arash, bukan karena dapat uangnya tapi perhatian kecilnya, tahu aja dia tidak bisa kalau tidak ngemil. Diraihnya uang dari Arash. “Ok Kak ... aku siap belanja, ayo Siti turun temeni aku belanja,” ajak Alvin.
“Jangan lama-lama belanjanya ya Vin,” ingat Arash.
“Ya Kakakku,” jawab Alvin semangat saat mau keluar dari mobil.
Arash hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah calon iparnya, kemudian bergerak memiringkan dirinya, lalu merendahkan sandaran joknya menjadi setengah tidur.
Kedua netranya menatap hangat Almira yang sudah mulai tertidur karena habis minum obat sakit kepala, lalu disentuhnya pipi gadis itu dengan lembutnya. “Semoga sakitnya tidak terlalu parah ya sayang,” gumamnya sendiri.
__ADS_1
Almira yang baru tertidur bisa merasakan sentuhan jemari Arash, terasa hangat. Ternyata seperti ini rasanya kalau dicintai dengan tulus, se menolak apapun hati, dia masih berusaha ada disisi kita.
“I Love you Almira, walaupun aku tahu kamu sangat menyukai Ustadz Ridwan, aku akan sabar menunggu mu, dan akan selalu mencintaimu dan menyayangimu. Aku akan berusaha menjadi orang yang lebih baik,” gumam Arash sendiri.
Kata-kata Arash rupanya terdengar ditelinga Almira, namun dia enggan rasanya untuk membuka kedua netranya, tapi ucapan Arash lumayan mengganggu perasaan Almira.
Setelah puas menatap putri tidur, Arash memejamkan matanya untuk membuang rasa kantuknya yang sedari tadi dia tahan, dari jam 2 pagi sampai jam 10 pagi dia belum sempat memejamkan matanya. Jadi sembari menunggu Alvin dan Siti belanja, Arash bisa istirahat sejenak.
Beberapa menit kemudian suasana di dalam mobil terasa hening, hanya suara ac mobil yang terdengar, serta dengkuran pelan yang keluar dari bibir Arash.
Kedua netra gadis itu pun sedikit terbuka untuk mengintip, dan ternyata orang yang sedari tadi bicara sudah tertidur pulas. Sekarang giliran Almira yang menatap Arash karena pria itu sudah tertidur pulas.
Almira menatap dalam wajah tampan Arash lalu gadis itu mengulas senyum tipis.
Tangan kiri Almira terulur, dengan rasa sedikit takut dia mencoba menyentuh rahang pria itu lalu dia menarik kembali tangannya dari wajah Arash. Beri aku waktu, Kak Arash.
Sementara itu di kantor polisi, Prima masih saja menangis meronta-ronta di hadapan polisi yang bertugas, padahal petugas sedang menanyakan Prima untuk dibuatkan BAP.
Lain hal dengan Ana, wanita berhijab itu terlihat mondar mandir, kesal sendiri karena sudah berulang kali menelepon papanya masih saja belum diangkat.
Wanita itu berdecak kesal, hatinya mengumpat tajam. “Kemana sih Papa, dihubungi gak bisa juga. Masa iya aku harus hubungi Kak Sherina, yang ada aku jadi bahan olok-olokkan dia!” geram Ana.
Kak Arash benar-benar keterlaluan, lihatlah nanti akan aku cari kamu Kak Arash!
Kedua wanita tersebut diminta untuk menghubungi keluarganya masing-masing untuk mengetahui keberadaan mereka, tapi yang jelas Primalah yang paling berat hukumannya sebagai pelaku ketimbang Ana sebagai saksi tapi sudah menutupi kejahatan temannya. Dengan terpaksa kedua wanita tersebut harus menginap di kantor polisi sampai ada perwakilan dan pengacara yang mendampingi mereka berdua.
__ADS_1
“Sudah Prima berhentilah menangis, aku pusing mendengarnya buat apalagi diratapi, ini semua gara-gara kamu yang berulah!” tegur Ana seenak hatinya.
Dengan kedua netranya yang basah, Prima menatap kesal pada sahabatnya. “Kamu bilang gara-gara aku, hei! Aku yang bermaksud membantumu agar kamu bisa dekat pria itu, tapi ternyata kamu menyalahkan aku. Aku tidak menyangka ternyata watakmu ada yang buruk juga rupanya!” pungkas Prima.
Wajah teduh Ana, terlihat mendengkus kesal. “Ck, bisa sekali kamu malah membalikkan kesalahan padaku, aku tidak pernah memintamu untuk melempar batu ya, itu keinginan kamu ... titik!” sahut Ana, suara lembutnya agak meninggi.
Salah satu polisi menggebrak mejanya. “Bisakah kalian berdua berhenti bertengkar, atau sekarang saya bawa kalian ke sel!” tegur pria berkumis tebal itu, seketika itu juga Prima dan Ana langsung bungkam. Please terima nasiblah Prima dan Ana, jangan saling menyalahkan, semuanya karena kalian berdua sendiri.
...----------------...
Hampir tiga jam perjalanan dari Puncak sampai Jakarta, dan saat ini Arash mengendarai mobilnya langsung menuju rumah sakit milik Papa Albert. Setibanya di rumah sakit H, Arash kembali membopong Almira, staf rumah sakit yang mengetahui kedatangan Almira dan Alvin bergegas mengambil tindakan, tanpa menunggu waktu lama.
Sekarang saatnya Arash menghubungi Papa Albert.
“Apa! Kok bisa Almira masuk rumah sakit, sekarang ada di rumah sakit mana? Kamu ini gak bisa jagaiin Almira ya! Papa sama Mama akan ke sana sekarang?” tanya Papa Albert dari sambungan teleponnya, agak marah nada suaranya.
Benar saja dugaan Arash, pasti kedua orang tua Almira akan memarahi dirinya.
“Sekarang sudah aku pindahkan ke rumah sakit H Pah di Jakarta, rumah sakit Papa, nanti aku akan ceritakan sebabnya di sini Pah,” jawab Arash.
“Ya, kamu tunggu di sana,” sahut Papa Albert masih emosi. Ya bagaimana Papa Albert tidak emosi mendengarnya, si bungsu kesayangan Papa Albert tidak boleh ada seorang pun melukai Almira, termasuk Arash juga sudah kena hajar Papa Albert tempo hari. Kali ini juga bisa dipastikan pasti Papa Albert akan memberikan ganjaran berat buat Ana dan Prima, jangan main-main.
bersambung ...
__ADS_1