Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Ada yang berubah


__ADS_3

Esok Hari.


Hari Sabtu, hari yang ditunggu karena ada kegiatan yang menyenangkan buat Almira hari ini serta hari esok. Dari semalam gadis itu bersama Siti sudah mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk acara tadabur alam di Mega Mendung – Puncak Bogor, acaranya dua hari satu malam.


Ternyata kemarin, hari yang tidak disia-siakan oleh Almira ketika Arash menjemputnya di sekolah, gadis itu memanfaatkan pria itu untuk mengantarnya ke rumah Siti lalu menunggu Siti berkemas untuk menginap di mansionnya.


Kemudian selesai dengan urusan Siti, baru mereka bertiga ke mansion Almira, tapi sayangnya Arash tidak boleh berlama-lama di mansion karena Almira mengusirnya secara halus dengan alasan dia mau cepat istirahat agar fit saat acara tadabur alam. Akan tetapi sebelumnya pria bermata biru itu menemui Alvin sebelum dia pulang, entah apa yang dia bicarakan dengan saudara kembarnya Almira, tampaknya terlihat rahasia.


Jam enam pagi, Almira terlihat sudah rapi dengan mengenakan gamis berwarna salem dipadu dengan selendang yang menyesuaikan warna gamisnya, sedang Siti juga sama mengenakan gamis berwarna navy dipadu dengan hijab berwarna biru muda. Tas jinjing yang berisikan perlengkapan sudah rapi, siap untuk dibawa.


Sesuai dengan janji Arash sebelum pulang kemarin, bahwasanya dia akan menjemput Almira dan Siti, dan akan berangkat bersama-sama ke Puncak. Ternyata pria itu menepati janjinya, sekitar jam 5.30 Arash sudah tiba, tapi Almira belum tahu kedatangannya.


Disaat Almira dan Siti menuruni anak tangga menuju lantai bawah, kedua netra gadis itu tercengang, melihat sosok yang sangat berbeda, pria yang baru bertemu kemarin, sekarang sedang berdiri dekat tangga menatap penuh damba ke arah Almira.


Celana bahan berwarna hitam, baju koko berwarna putih gading, potongan rambutnya sepertinya agak pendek dan tersisir dengan rapinya, look yang jauh berbeda selama ini Almira kenal dengan pria yang pernah melamarnya.


“Assalammualaikum, sayang,” sapa pria itu dengan mengulas senyum hangatnya.


Almira saat menuruni anak tangga, sudah berulang kali mengedipkan kedua netranya, untuk memastikan jika dia tidak salah lihat, atau yang dia lihat itu adalah hantu. Akan tetapi semakin dia mendekat, barulah kedua netranya amat jelas melihat sosok pria itu.


“W-waalaikumsalam, i-ini beneran Kak Arash?” Kedua netra Almira masih mengerjap-ngerjap hingga berulang kali.


“Kalau aku hantu, mana mungkin bisa kelihatan sama kamu, sayang. Ini aku calon suamimu,” jawab Arash begitu percaya dirinya.


“Syukurlah dikira aku beneran hantu. Paling tidak kelihatan kakinya Kak Arash menapak ke lantai,” celetuk Almira asal, sembari menelisik pria itu m


Sejujurnya jantung Almira jadi berdebar-debar melihat penampilan Arash pagi ini, ternyata hanya dengan menggunakan baju yang berbeda, bisa membuat auranya pun berbeda, sungguh memesona untuk hari ini.


“Anak-anak semuanya, sebelum berangkat sarapan dulu, Mama sudah siapkan sarapan nih,” ucap Mama Tania dari pintu ruang makan, sedikit berteriak.


“Iya Mam, kami otw ke sana,” sahut Almira agak berteriak biar terdengar sama Mama Tania.

__ADS_1


“Kak Arash, Siti, kita sarapan dulu,” ajak Almira.


“Oke,” jawab Siti, gadis itu jalan terlebih dahulu menuju ruang makan.


Sekarang giliran Almira kembali menatap Arash. “Ayo Kak ... kita makan dulu, biar Kak Arash punya tenaga buat nyupirin kita ke Puncak,” ajak Almira.


Arash menarik lengan gadis itu, rasanya gemas melihat Almira. “Pagi ini kamu cantik, sayang,” bisik Arash begitu pelan saat pria itu menundukkan kepalanya, lalu agak mendekat ke daun telinga Almira, sontak saja gadis itu agak menahan napasnya, apalagi suara Arash mampu menggetarkan jiwanya yang sedang tertidur pulas.


CUP


Tanpa permisi, tanpa izin, pipi Almira sudah dikecup dengan lembut oleh Arash. “Semoga aku cepat lulus jadi calon suami kamu ya, dan kita segera menikah,” ucap Arash, sebelum Almira mengeluarkan kalimat protes. Sungguh pagi yang membagongkan buat gadis itu, dan yang membuat Almira aneh, kenapa bibirnya tidak bisa berkata-kata seakan sedang kena hipnotis oleh pria bermata biru itu, padahal di batinnya sudah tersusun kata-kata protes karena Arash kembali berani mencium pipinya.


Arash menggenggam tangan gadis itu, kali ini tanpa banyak berkata-kata manis, pria itu melangkahkan kakinya menuju ruang makan, Almira yang masih menatap bingung namun terselip tatapan memesona terhadap pria itu, kedua kakinya turut mengikuti langkah kakinya.


“Almira, biasa aja ngeliat Kak Arashnya, sampai ilernya keluar tuh,” celetuk Alvin yang sudah berada di ruang makan.


Sontak saja Almira terbangun dari tidurnya, eeh salah maksudnya lamunannya, dan salah satu tangannya mengecek sudut bibirnya, takut beneran kalau dia sampai ileran, bikin malu saja, tapi untuknya tidak ada.


“Sialan nih Kak Alvin ngerjain aku aja,” gerutu Almira, gadis itu melepas tangannya dari tangan Arash lalu menghampiri kakak kembarnya, untuk menepuk bahu si Alvin.


Tapi eeets ... kedua netra Almira memicing, dan memperhatikan penampilan Alvin. “Kak Alvin mau kemana? Kok pakai baju koko juga?” tanya Almira.


“Kakak kamu ikutan juga tadabur alam ke Puncak,” sambung Mama Tania.


“What! katanya kemarin gak bisa ikut mau ada acara sama temannya, sekarang kok malah berubah,” tanya Almira.


Dengan kembali mengunyah coklat berbungkus emas itu. “Biasa ada pekerjaan sosial yang harus diselesaikan, demi masa depan yang cerah,” jawab Alvin sembari mengedipkan salah satu matanya ke arah Arash duduk.


Kotak coklat kecil yang ada di hadapan Alvin, membuat Almira teringat dengan Arash.


Melihat hal tersebut, Almira langsung menatap Arash, pria itu langsung membuang mukanya pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Jangan-jangan Kak Arash yang minta Kak Alvin ikut juga, ckckck ... tak disangka, batin Almira.


“Ayo, Almira cepetan sarapan nanti keburu kesiangan, nanti malah kena tutup jalurnya pas di Gadog,” pinta Mama Tania yang sudah menyiapkan beberapa menu makanan buat anak-anaknya, sedangkan papa Albert masih ada di kamarnya setelah sholat shubuh kembali tidur mumpung hari libur.


Almira langsung duduk di samping Arash, sedangkan Siti di samping Alvin. Seperti biasa Almira menyiapkan makanan buat Arash tanpa banyak bertanya. Sikap seperti ini bikin hati Arash sedih jika tidak lulus jadi calon suami Almira, dibalik sikap acuhnya Almira masih ada perhatian kecil buat Arash, dan pria itu sangat menyadarinya.


“Makasih sayang, buat makanannya,” ucap Arash.


“Mmm ...,” gumam Almira sebagai jawabannya.


Tiga puluh menit kemudian, mereka berempat berpamitan dengan Mama Tania, dan mereka bergegas berangkat menggunakan mobil yang dikendarai, bukan mobil sport miliknya tapi menggunakan mobil milik daddynya yang lebih cocok untuk dibawa perjalanan jauh.


“Alhamdulillah calon menantuku, sudah ada kemajuan, ternyata tambah ganteng kalau pakai baju koko,” gumam Mama Tania sendiri, saat sudah mengantar mereka berangkat di luar lobby mansion.


Jika semuanya diawali dengan niat baik, serta doa restu dari kedua orang tua, insya Allah akan dimudahkan segala jalannya. Perubahan yang mulai ditunjukkan pelan-pelan oleh Arash bukan hanya karena rasa cintanya dengan Almira, namun adanya dorongan dari hati kecilnya setelah sekian waktu mulai dekat dengan Almira.


Almira sosok gadis yang patut diperjuangkan untuk menjadi istrinya, bukan sekedar menjadi kekasih sesaat seperti Sherina, dan juga bukan sekedar pesona yang akan memudar saat rasa cinta itu tidak ada.


Percayalah pertemuan yang tidak disengaja rupanya menunjukkan sosok masa depannya. Benci jadi Cinta.


Sekarang mereka berempat melakukan perjalanan yang lumayan memakan waktu lama dari Jakarta ke Puncak, Arash sudah kasih kode ke Alvin untuk duduk di bangku belakang bersama Siti, dan pria itu juga memerintah Almira untuk duduk di depan bersamanya, kalau tidak dia mogok gak mau nyetir, padahal ancaman Arash bisa tidak berlaku untuk Almira soalnya sopir papanya juga ada yang bisa mengantarnya. Tapi kembali lagi karena menghargai pria tersebut, Almira akhirnya mau duduk di depan, menemani Arash menyetir mobilnya.


“Tarik Mang, anterin Neng ke Puncak ya Mang dengan selamat dan sentosa, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya, Neng belum kawin masih pengen hidup lebih panjang, tapi jangan pelan juga bawa mobilnya entar keburu si Komo lewat ya Mang,” celoteh Alvin dari belakang.


Sontak saja mereka bertiga tertawa mendengar celotehan Alvin.


“Iiish kok malah ketawain Neng si Mang!” lanjut kata Alvin dengan wajahnya yang nampak polos. Emang si Alvin kadang suka error, harap di maklumi, dia lagi kebanyakan makan coklat.


 bersambung ...


 

__ADS_1


__ADS_2