Badboy For Little Girl

Badboy For Little Girl
Divisi marketing


__ADS_3

Ruang CEO


Arsal sudah menuju divisi tempat dia bekerja di ruang operasional, sedangkan Arash belum ada pembagian tugas untuk pertama kalinya.


“Kira-kira kamu mau ditugaskan di bagian apa?” tanya Daddy Erick, sembari menandatangani beberapa surat masuk.


“Berhubung aku ambil jurusan bisnis, mungkin bisa di divisi marketing dulu Daddy, sekalian aku mau cari bahan untuk skripsiku,” pinta Arash, yang kebetulan sudah membaca SOP dari masing-masing divisi.


“Oke kalau begitu Daddy minta Pak Rudi untuk ke sini,” jawab Daddy Erick menyetujui permintaan anaknya.


Daddy Erick mendidik anaknya untuk pertama kali dalam bekerja bukan langsung di posisi atas, tapi harus mempelajari semua divisi sebagai pengetahuan dasar. Setelahnya baru akan menjadi pengganti dirinya, semuanya melewati proses dan bertahap.


Sambil menunggu kedatangan Pak Rudi selaku manajer marketing, Daddy Erick menanyakan kasus yang menimpa Ana dan Prima pada Arash.


“Jadi selama di Puncak, kamu sempat mendiamkan Almira, kemudian Ana berkenalan dengan kamu?” tanya Daddy Erick dengan tatapan heran setelah mendengar kisah panjang Arash selama di Puncak.


“Iya Dad, dan Ana juga sempat mengajak aku untuk taaruf di depan Almira, karena dia menyukai ku dan beranggapan sikap ramah ku karena menyukainya juga, dan karena itu juga sebenarnya Almira juga ingin mengakhiri dan tidak memberikan kesempatan lagi buat Arash,” jawab jujur Arash.


Daddy Erick meletakkan pulpen di atas dokumennya, kemudian punggungnya disandarkannya ke sandaran kursi kebesarannya, lalu menatap dalam wajah putra kembarnya.


“Di dunia ini banyak sekali godaan untuk kita Nak, terlebih dengan embel-embel yang kita miliki dimulai dari fisik yang bisa dibilang sempurna mampu memikat lawan jenis, serta kekayaan yang kita miliki, itu saja sudah menjadi tarik lawan jenis untuk mendekati kita. Kamu harus belajar menguasai diri sendiri untuk tidak tergoda dengan lawan jenis, jika memang berniat menikahi Almira. Jangan pernah mengikuti jejak seperti Daddy mencintai seseorang ternyata mantan kedua istri Daddy gila harta juga, hingga akhirnya bertemu dengan jodoh Daddy yang sebenarnya yaitu mommy kamu, yang melahirkan tiga anak Daddy,” tutur Daddy Erick, bibirnya tersenyum saat mengingat pertama kali bertemu dengan mommy Alya.


“Sejujurnya usia kamu dan Almira masih muda untuk ke jenjang pernikahan, tapi tidak ada salahnya berumah tangga di usia muda. Kamu sebagai pria harus terus belajar lebih dewasa dalam segala apapun dalam bertindak maupun bersikap baik dalam bekerja ataupun hal pribadi. Susah, senang, sehat, sakit, harus bisa dilalui bersama-sama, dan kamu harus pandai bersikap jika godaan itu datang. Ingat wanita tidak mau di duakan, dia ingin selalu menjadi ratu dihati suaminya.”


“Iya Dad, aku akan selalu ingat nasihat Daddy, semoga aku bisa menjaga diri dan selalu awas,” jawab Arash.

__ADS_1


Ketika Daddy Erick ingin melanjutkan ucapannya, Rio datang ke ruangannya bersama Pak Rudi.


“Pak Rudi, saya minta bantuan untuk membimbing anak saya di bagian marketing selama sebulan ini. Jadi mulai hari ini Arash akan bergabung di team marketing,” ucap Daddy Erick.


“Baik Pak Erick, saya akan membantu dan membimbing anak Bapak,” jawab patuh Pak Rudi.


Arash pun mengikuti langkah Pak Rudi dan Rio menuju lantai tujuh tempat di mana ruang marketing berada.


“Perhatian semuanya teman-teman,” ucap Pak Rudi menghimbau kepada semua staf yang ada di dalam ruangan besar tersebut.


Semua mata pun menatap Pak Rudi, dengan tatapan yang terlihat senang khusus bagi kaum wanita, apalagi wanita yang sudah mengincar Arash saat melihatnya di lobby.


“Perkenalkan ada team baru di marketing, yang mungkin kalian ketahui beliau anak dari Pak Erick yaitu Mas Arash, jadi dimohon kerjasamanya dari semuanya,” kata Pak Rudi.


Wah gak nyangka dia tugas disini, ini kesempatan emas ... Batin wanita yang bernama Lita.


Satu persatu staf memperkenalkan diri pada Arash, dan seperti biasa tatapan pria itu terlihat dingin ketika para wanita memperkenalkan dirinya dengan menunjukkan senyum manis dan menggoda.


“Selamat bergabung di team marketing Mas Arash, perkenalkan saya Lita,” ucap Lita si bahenol, wanita itu sedikit membuka kancing kemejanya sekitar tiga kancing, biar belahan buah ranumnya sedikit mencuat dan bisa diintip oleh Arash.


“Pak Rudi mohon maaf bukankah sejak dulu peraturan perusahaan meminta para karyawan wanitanya untuk berpakaian rapi dan sopan agar tidak menimbulkan pelecehan sek-sual di kantor,” kata Arash sambil menoleh ke arah Pak Rudi.


“Iya betul Mas Arash, memangnya ada apa ya?” tanya Pak Rudi sembari melirik Lita yang masih berdiri di hadapan Arash, dengan kancing kemejanya yang terlepas, dan akhirnya pria paruh baya itu paham dengan maksud kata Arash.


“Tolong diperhatikan kembali Pak Rudi, jangan sampai terulang lagi,” tegur Arash dengan tegasnya, lalu dia menuju ruang kerjanya yang ditunjukkan oleh Rio asisten Daddy-nya.

__ADS_1


Kedua netra Pak Rudi terlihat garang saat menatap Lita, dan reflek wanita itu menutup bagian dadanya dengan salah satu tangganya dengan sikap kikuk nya.


Sial tuh cowok! Sok naif banget lihat dada gue aja, sampai mempermasalahkan penampilan ... ck.


“Perbaiki baju kamu!” tegur Pak Rudi pada Lita, lalu menyusul ke ruangan yang ditempati oleh Arash.


“Lita oh Lita, berani juga tuh!” teriak salah satu rekan kerjanya, dengan tatapan jijiknya.


Lita mendengkus kesal sendiri kemudian dia bergegas menuju kamar mandi. “Awas aja bakal gue kejar tuh cowok, dasar munafik!” gerutu Lita, lalu tiba-tiba saja dia ada ide lagi.


Arash mulai mempelajari beberapa materi serta berkas marketing yang diberikan oleh Pak Rudi, pria itu pun bergerak cepat untuk meriset semuanya, agar bisa mengerjakan tugasnya. Cukup lama Arash menatap layar komputernya, sampai suara pintu ruangannya terketuk.


“Permisi Mas Arash,” ucap Lita dengan membawa nampan ditangannya.


Belum ada izin masuk dari Arash, wanita itu sudah berjalan lenggak lenggok bak peragawati masuk ke dalam. “Saya hanya ingin mengantar secangkir kopi hangat untuk Mas Arash,” kata Lita begitu manis sekali ucapannya, dia menaruh cangkir kopi tersebut ke atas meja kerja Arash.


“Saya tidak minta dibuatkan kopi jadi tolong dibawa kembali cangkirnya,” pinta Arash dengan tatapan datarnya.


“Oh Mas Arash tidak suka kopi ya, mau digantikan sama teh aja?” tanya Lita.


Pria itu tersenyum miring pada Lita. “Jika saya menginginkan minum sesuatu akan saya minta pada office boy, bukan denganmu! Jadi saya harap jangan bertingkah laku terlalu berlebihan jika kamu masih mau lama bekerja di sini, jika sudah tidak mau bekerja di sini ... saya akan hubungi HRD untuk memecat mu!” tegur Arash dengan tenangnya.


Bersambung ...


Hari senin yang cerah jangan lupa kirim VOTE dong buat Almira dan Arash, biar tambah semangat lanjuti ceritanya sampai tamat. Terima kasih sebelumnya Kakak Readers 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2