
Menjelang sore yang mencekam di ruang utama mansion Albert. Ketiga pria tampan itu duduk berjejer dengan rapi, dan jangan lupa di pipi mereka masing-masing sudah meninggalkan jejak yang mulai membiru.
Almira sudah bagaikan bu guru di hadapan ketiga anak TK itu, tatapan mata yang indah itu kini berubah dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Arash benar-benar hanya bisa terdiam kikuk saat melihat Almira yang terlihat galak.
Alvan dan Alvin memainkan kedua kakinya sembari melirik pria yang lebih tua usianya dari mereka berdua.
“Jadi sekarang siapa yang mau mengakui yang bikin perkara duluan ... Hem!” Almira sudah memegang sapu lidi yang baru saja dia minta dari Titi.
Triple A mulai lagi main lihat-lihatan, Bu Mimi yang sengaja turut duduk di sana jadi garuk-garuk kepala, apalagi kalau Almira sudah pegang alat pamungkasnya, alamat berantakanlah isi mansion.
“Kalau masih ada yang belum mau ngakui, baiklah.” Almira berdiri dengan tangan kanannya memegang sapu lidinya.
Alvan, Alvin langsung beranjak berdiri, Arash kelihatan mulai bingung, akan ada apa sebenar.
“Sebaiknya kita pergi, dari pada kita nanti gak bisa duduk seminggu,” ajak Alvan pada Alvin sedikit berbisik. Alvin pun menyetujuinya dengan anggukan kepalanya. “Biar dirasa tuh cowok!” balas Alvin.
Arash pun ikutan berdiri saat mendengar kata Alvin. Almira sudah menyeringai tipis dan mulai melambaikan sapu lidinya bak nenek sihir.
“KABUR!!” seru Alvan, Alvin mulai berlarian, lah si Arash juga ikutan lari dengan mereka berdua.
“Eeeh ... Eeeh enaknya pada kabur, ayo pada ngaku dulu siapa yang mulai berkelahi!” teriak Almira, mengejar ketiga pria itu.
Sapu lidinya pun mulai menyamber bokong Alvin, kemudian Alvan lanjut Arash.
“Aaww ... Aaww ... Aaww!!” jerit mereka bertiga sambil menutup bokong mereka masing-masing namun tetap aja berlarian dan terjingkat-jingkat mengitari ruang utama yang lumayan luas.
Bu Mimi kembali menepuk keningnya, ya beginilah kelakuan si triple A kalau lagi bertengkar, yang si ade demen banget main sama sapu lidinya, yang si kakak demen banget main lari-larian, sekarang ditambah ada Arash, jadilah mereka berempat main kejar-kejaran di dalam mansion.
“Non Almira, ingat punggungnya baru saja sembuh,” tegur Bu Mimi, agak ngeri-ngeri sedap lihat gerakan Almira begitu lincah mengejar kedua kakaknya, di tambah lagi mengejar Arash.
“Hosh ... hosh ... hosh,” napas Arash udah gak sanggup lagi untuk berlari, belum lagi bokongnya udah sakit kena tepukan sapu lidi. Begitu juga dengan Alvan dan Alvin napasnya sudah tersengal-sengal, akhirnya mereka bertiga tepar di lantai berubin marmer.
__ADS_1
Almira tersenyum penuh kemenangan melihat ketiga pria itu terkulai lemas di lantai. “Masih mau ada yang belum mau ngaku!” kata Almira.
“Bentar Al, kita ambil napas dulu,” jawab Alvin, dia sudah merasa kehabisan oksigen sembari mengibaskan salah satu tangannya ke wajahnya.
Papa Albert, Mama Tania baru saja tiba di mansion, ketika menginjak ruang utama mereka berdua dibuat terjengak, semua bantal sofa sudah melantai, beberapa barang sudah bergeser dari tempatnya, belum lagi melihat tiga orang terkapar dilantai.
“Ada kekacauan apa ini!” suara bariton Papa Albert terdengar menggema di ruang utama. Bu Mimi yang masih duduk, segera beranjak dari duduknya lalu menghampiri Papa Albert dan Mama Tania.
Tiga pria yang terkapar langsung terduduk, tidak lagi berbaring, sedangkan Almira hanya tersenyum melihat kepulangan kedua orang tuanya, kemudian menyalaminya dengan takzim, kemudian di ikuti oleh Alvan dan Alvin, mau tidak mau Arash jadi ikutan, gak mau kalah sama kedua pria itu.
“Nak Arash, sejak kapan datangnya?” tanya Papa Albert, agak terkejut melihat kedatangan anak temannya.
“Satu jam yang lalu Om Albert,” jawab Arash, sembari merapikan rambutnya yang berantakan kemudian kemeja bajunya.
Mama Tania agak heran melihat penampilan kedua anak laki-lakinya serta Arash yang seperti habis berkelahi.
“Coba kalian semua duduk kembali! “ pinta Papa Albert sebelum bertanya satu-satu. Triple A semua pun patuh untuk duduk di sofa walau bokong mereka agak pedas rasanya saat duduk.
Almira mulai buka suara. “Jadi begini Pah, tadi Mira lihat Kak Alvan, Kak Alvin sudah berkelahi sama Kak Arash di luar gerbang mansion, entah apa sebabnya. Makanya dari itu Mira tanya siapa yang duluan, mereka bertiga malah saling main tunjuk,” pungkas Almira.
Mama Tania menarik napasnya dalam-dalam seraya menggelengkan kepalanya, tak habis pikir, padahal mereka bertiga belum saling mengenal kenapa sudah berkelahi.
“Begini Om Albert, maksud kedatangan saya ke sini ingin menjenguk Almira, tapi yang keluar kedua cowok ini dan mengaku-ngaku Almira milik mereka berdua, lalu saya di usir suruh pulang, ya saya gak terima dong Om Albert. Om Albert kan tahu saya pernah dijodohkan sama Almira, sedangkan mereka kan tidak. Ya mereka nantangi, saya tantangi juga!” jawab Arash menjelaskan penuh percaya diri.
Sebentar Papa Albert mengerutkan keningnya sejenak, dan mencerna penjelasan Arash begitu juga dengan Mama Tania. Tak lama ...
“Hahaha ...,” Papa Albert dan Mama Tania tertawa menahan rasa gelinya sendiri. Wajah Arash malah tampak heran, kenapa malah ditertawakan.
“Begini Nak Arash, sepertinya di sini ada kesalahpahaman, coba kamu lihat kedua cowok di sampingmu serta Almira,” pinta Papa Albert, sambil menunjukkan ke triple A si kembar. Arash pun mengikuti arahan Papa Albert, lalu diperhatikannya dengan baik-baik.
DEG!
__ADS_1
Loh kok wajahnya agak miripnya mereka bertiga, apa jangan-jangan mereka bertiga? Astaga!
Arash mulai canggung dan auto kicep sendiri, kemudian kembali menatap kedua orang tua Almira.
“Bagaimana Nak Arash, sudah diperhatikan dengan baik-baik?” Papa Albert bertanya.
“I-iya Om Albert, m-mereka bertiga kembar ya Om,” ucap terbata Arash dengan nada menyesal, dan sedikit menundukkan wajahnya.
Alvan dan Alvin pun tertawa, menertertawakan Arash yang baru menyadari kesalahannya. Cemburu boleh saja, tapi lihat dulu orangnya Bang Wowo.
Papa Albert tersenyum lebar. “Sepertinya dari awal Nak Arash sudah salah paham, mereka berdua kembarannya Almira. Anak Om kembar tiga.”
Aah semakin memerah wajah Arash menahan rasa malunya, mau ditaruh di mana mukanya itu, diumpetin juga gak bisa.
“Maaf ya Om, Tante, saya benar-benar tidak tahu dan tidak teliti terlebih dahulu,” kata Arash, mengakui kesalahannya.
“Dan kalian berdua Alvan, Alvin masih saja suka ngerjain orang lain. Ayo sekarang kalian berdua minta maaf sama Kak Arash,” pinta Mama Tania.
Alvan sebagai laki-laki gentlemen mengulurkan tangannya duluan. “Peace ya Kak, kita damai tapi tetap Almira punya kita berdua,” ejek Alvan sembari nyengir kuda.
Arash kembali menaikkan salah satu alisnya dan menerima uluran tangan Alvan. “Sorry juga,” jawab Arash, selanjutnya Alvin pun mengikuti Alvan.
“Nah urusan salah paham sudah selesai, berhubung Nak Arash ada di sini, sekalian makan malam di sini ya sebagai ucapan terima kasih waktu itu,” pinta Mama Tania.
Merasa dirinya diterima kedatangannya oleh kedua orang tua Almira, Arash bersedia untuk ikut makan malam bersama di mansion Albert. Namun sayangnya wajah Almira terlihat acuh dengannya.
bersambung ...
__ADS_1